Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Penafsiran Ayat-Ayat Konflik Nabi Musa Dengan Bani Israil Dalam Tafsir Fî Zhilâlil Prayoga, Muhammad Abdy; Sulthoni, Akhmad; Rokhani, Siti; Yaqin, Muhammad Ainul
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i1.68

Abstract

Alasan penulis mengangkat kisah konflik Nabi Musa dengan Bani Israil ini adalah menghindari sifat-sifat tercela yang sudah menjadi hal biasa di khalayak umum. yakni meremehkan serta mengubah syariat agama sekehendak dirinya sendiri, Kemudian alasan memilih tafsir ini karna tafsir ini dilengkapi dengan takhrij hadist dan indeks tematik, sehingga sangat mudah dipahami. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini dapat di kategorikan sebagai library research (penelitian kepustakaan). Penelitian ini menggunakan metode maudhu’i (tematik), sumber daya primer dari penelitian ini adalah kitab Fî Zhilâlil qur’an. Sedangkan sumber sekundernya diambil dari buku-buku yang relevan dengan tema yang di bahas. Konflik Nabi Musa dengan Bani Israil dalam qur’an menurut tafsir Fî Zhilâlil qur’an adalah Meminta dibuatkan patung untuk sesembahan, Enggan memasuki baitul maqdis, Menyembah patung anak sapi, Tuduhan kepada musa, Mengubah perintah allah. Kemudian Ibrah dari konflik ini adalah kita Harus memiliki sikap, adab yang baik kepada allah dan rasul, serta tidak menganggap remeh syariat, karena Iman yang lemah dapat merusak kesempurnaan ibadah.
Menzalimi Diri Sendiri Dalam Al-Qur’an (Studi Penafsiran Ayat-Ayat Zhalim Li Nafsih Dalam Tafsir Al-Misbah) Alirman; Sulthoni, Akhmad; Saputra , Akhmadiyah
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i2.166

Abstract

Tyranny is often known in society as a form of crime against others. Islam discusses zhalim in the Qur'an not only aimed at the perpetrators of crimes against others, but also at oneself. The Qur'an also mentions three groups of Allah's chosen ones as the inheritors of the book that will be put in heaven. One of the 3 verses in the verse is the group of zhalim li nafsih or tyranny of oneself, thus raising the question, how to interpret the verses of zhalim li nafsih, so that the zhalim is also sometimes interpreted as including the inhabitants of heaven. So the author is interested in discussing the interpretation of zhalim li nafsih in Tafsir Al-Misbah as a contemporary book of tafsir. This research aims to find out the meaning of zhalim li nafsih in the Qur'an based on the perspective of Tafsir Al-Misbah, as well as its implementation in life applications. The results of this study are zhalim li nafsih according to M.Quraish Shihab are people who mistreat themselves due to arrogance, disbelief, arrogance, committing many sins and mistakes or lack of charity and its implementation contains the urgency to stay away from self-tyranny and continue to try to be better in living life.
Karakteristik Orang-orang Munafik dalam Surat Al-Munafiqun (Studi Tafsir Ibnu Katsir) Sulton, Ghofari; Sulthoni, Akhmad; Parwanto
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i2.171

Abstract

In the Qur'an there is a classification of humans based on their aqidah in three groups: believers, disbelievers, and hypocrites. The hypocrites are those who believe in Allah and the Last Day, but their faith is only in their mouths, while their hearts disbelieve. This research is a literature research with an analytical descriptive approach. The primary data source is Tafsir Al-Qur'an Al-Azhim by Ibn Katsir. While secondary data is the book of tafsir and other books that have relevance to the discussion of this research. This research uses documentation method and maudhu'I or thematic as data analysis technique. Ibn Katsir interpretation of Surah Al-Munafiqun is that hypocrites have an attractive appearance, but their hearts are full of hatred for Allah, rejecting advice, and Allah confirms that they will get curse, and delaying good deeds is a characteristic of hypocrites. Allah, the Almighty, explains that the characteristics of hypocrites in Surah Al-Munafiqun include disbelief and hatred of the truth, instability in faith, inclination towards lies and falsehood, laziness and indifference towards obedience, fear in practicing religion, and indifference towards the guidance of Allah, the Almighty.
Penafsiran Lafadz Rahmat dalam Tafsir Al Maraghi Khoiriyah, Khoiriyah; Sulthoni, Akhmad; Amrulloh, Muhamad
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i2.214

Abstract

This research examines the interpretation of the term "Rahmat" (blessing) according to Ahmad Musthofa Al Maraghi in his Tafsir Al Maraghi. Tafsir Al Maraghi is one of the most renowned contemporary commentaries on the Quran, known for its detailed and profound approach to understanding the Quran and its interpretations. The study aims to analyze the concept of Rahmat as presented in Tafsir Al Maraghi, focusing on the interpretations of several relevant verses. The analysis reveals that in Tafsir Al Maraghi, the term "Rahmat" is interpreted as Allah's mercy towards His servants. This mercy manifests in various forms. Firstly, it is seen as the ultimate reward of paradise, which represents the highest benefit that believers can attain. Secondly, it is understood as the sending of Prophet Muhammad as a messenger with the message of Islam, aimed at bringing benefit to both the world and the hereafter. Thirdly, it is associated with the role of the Prophet Muhammad in guiding humanity, which is a fundamental aspect of his prophethood. Additionally, it is interpreted as paradise again, emphasizing the ultimate reward. Lastly, it is seen as seeking goodness, encouraging actions that lead to a sense of love and compassion among Muslims. This interpretation highlights the multifaceted nature of Allah's mercy in Islam as understood through Tafsir Al Maraghi.
Interpretasi Kepemimpinan Perempuan dalam Pemikiran Kontemporer Salsabila, Rayhanah; Sulthoni, Akhmad; Novitasari, Fajar
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 2 (2024): December 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i2.243

Abstract

The role of women in puclic has always been a debate on the table topic, both among scholars and Muslim intellectuals, particularly in the terms of women leadership in. The reality that currently happening is undeniable that many of women qualified to be a leader and can perform their duties on an equal footing with men. The development of views and perspectives in society is capable to change the meaning of gender roles that were previously solely designated for males. This research aims to reinterpret leadership of women in contemporary thoughts. Similar to how other interpretations of verses, the pros and cons of women's leadership also supported by various sources of arguments and their evidences, one of them is surah An-Nisa' verse 34. In general, scholars firmly believe that the interpretation of this verse is a justification that only men are worthy of carrying out duties in the public. Referring to a number of tafseer literature, the definition qowwam is leader, person in charge, regulator, protector, and educator. This interpretation is strengthened by two reasons for the superiority of men over women. First, the ability to provide a living (wahbiyun) and, second, the ability to strive and work (kasbiyun).
Tadabbur Alam dalam Al-Quran (Studi Penafsiran Ayat-Ayat Tadabbur Alam dalam Tafsir Al-Azhar) Archie Hardinagoro, Mohammad; Sulthoni, Akhmad; Wirastho, Edy
Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Isy Karima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/bunyanalulum.v1i1.235

Abstract

Segala sesuatu yang ada di jagat raya ini adalah ciptaan Allah Swt. Alam semesta beserta isinya, matahari yang setiap hari memberi sinarnya, juga bulan bintang yang terlihat dimalam hari, semua adalah ciptaan-Nya. Semua hal tersebut perlu dipikirkan, direnungkan, dihayati oleh manusia. Memikirkan, merenungkan dan menghayati ayat-ayat Allah Swt tersebutlah yang peneliti maksudkan dengan tadabbur alam. peneliti ingin menggali makna Tadabbur alam dalam penafsiran Buya Hamka tentang ayat ayat mengenal Allah dengan memperhatikan Alam dalam alquran dan pengimplementasikannya di dalam kehidupan sehari-hari dengan merujuk pada penafsiran Buya Hamka dalam tafsir Al-Azhar. Penelitian ini merupakan library research dengan metode deskriptif analitis. Pendekatan kajian dilakukan dengan metode tematik atau Maudhu’i. Hasil penelitian didapatkan bahwa penulis menemukan 7 surat yang di dalamnya terdpat ayat tadabbur alam. Diambil dari tafsir al azhar karya Buya Hamka bahwa tadabbur adalah memikirkan keteraturan ciptaan Allah, sehingga dapat mengetahui adanya Tuhan yang menciptakan segala apa yang ada di alam ini. Serta Seseorang harus selalu menyadari akan keagungan dan keesan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan selalu men- tadabburi ciptaan-ciptaannya.Sedangkan untuk penerapannya kita harus menggunakan nikmat nikmat alam yang di bentangkan oleh allah ini untuk kebaikan umat sebagai bentuk mensyukuri nikmatnya karena cara terbaik mensyukuri nikmat allah ialah dengan menggunakannya untuk ber ibadah kepada allah. Adapun bentuk-bentuk implementasi Tadabbur Alam tercemin dari beberapa sikap; Menyayangi dan menjaga ciptaan allah;Tidak sombong dengan ilmu dan kekuatan yang kita punya;Menyadari keagungan Allah Subhanahu wa Ta’ala;Menggunakan nikmat allah sebaik baiknya;Sering ber istighfar dan bersabar;Selalu berzikir saat perjalanan;Mengucap subhanallah saat melihat pemandangan sebagai bentuk rasa syukur atas nikmat allah yang telah memberikan kita pengelihatan yang baik.
Konsep Kejujuran dalam Al-Qur’an (Studi Penafsiran Lafadz Al-Sidq dalam Tafsir Al-Azhar) Nugroho, Sidiq; Sulthoni, Akhmad; Murdianto, Murdianto
Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Isy Karima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/bunyanalulum.v1i1.236

Abstract

Kejujuran merupakan nilai moral fundamental yang mencerminkan integritas dan kualitas moral individu serta masyarakat. Di era yang kompleks ini, kejujuran berperan penting dalam mengatasi berbagai tantangan ekonomi, sosial, dan budaya. Penelitian ini mengkaji penafsiran lafadz al-sidq dalamTafsir Al-Azhar karya Buya Hamka. Penelitian ini mengkaji metode penafsiran Al-Qur'an yang digunakan oleh Buya Hamka serta makna lafadz al-sidq dalam Al-Qur'an. Buya Hamka menerapkan pendekatan komprehensif dalam tafsirnya, menggabungkan metode tartîb utsmânî, tafsîr bi al-Iqtirân, tafsîr bi al-ma'tsûr, dan tafsîr bi al-ra'y. Corak penafsirannya didominasi oleh lawn adâbiî wa ijtimâ'î, dengan penggunaan bahasa yang sederhana dan jelas, menjadikan tafsirnya mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat. Studi ini juga menganalisis makna lafadz al-sidq dalam Al-Qur'an, yang mencakup delapan aspek penting dalam kehidupan seorang Muslim. Makna-makna ini meliputi hubungan antara iman dan amal, pentingnya memilih teman yang jujur, balasan bagi orang jujur, teladan kejujuran para nabi, karakteristik orang beriman yang jujur, pengakuan terhadap kebenaran Allah, kejujuran dalam perkataan, dan sikap jujur dalam menghadapi ujian. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejujuran merupakan nilai fundamental dalam Islam yang harus diterapkan dalam setiap aspek kehidupan.
Konsep Keberkahan Al-Qur’an Perspektif Dr. K.H. Ahsin Sakho Muhammad Ridhwanul Haq, Dzulfikar; Sulthoni, Akhmad; Saputra, Akhmadiyah
Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 1 (2024): Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Isy Karima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/bunyanalulum.v1i1.237

Abstract

Al-Qur’an diyakini sebagai kitab suci yang penuh keberkahan oleh umat Islam, Akan tetapi seringkali pemanfaatannya terbatas pada aspek ritual dan tradisi. Banyak umat cenderung hanya membacanya pada momen-momen tertentu. Keberkahan Al-Qur’an sebenarnya jauh lebih luas dari sekadar dibaca sebagai ritual. Namun, pemahaman mendalam tentang isi Al-Qur’an ini seringkali kurang difahami dengan baik oleh masyarakat.. Penelitian ini membahas konsep Keberkahan Al-Qur’an melalui analisis karya Dr. K.H. Ahsin Sakho Muhammad berjudul "Keberkahan Al-Qur’an: Memahami Tema-tema Penting Kehidupan dalam Kitab Suci". Studi ini bertujuan untuk memahami makna dan implementasi Keberkahan Al-Qur’an dalam konteks kehidupan modern. Menggunakan metodologi studi kepustakaan, penelitian ini berfokus pada dua aspek utama: pemahaman Dr. K.H. Ahsin Sakho Muhammad tentang makna Keberkahan Al-Qur’an dan Bagaimana implementasinya dalam kehidupan sehari-hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dr. K.H. Ahsin Sakho Muhammad mampu menjembatani kedalaman makna Al-Qur’an dengan realitas kontemporer, menyajikan pemahaman yang aplikatif dan bermakna. Beliau menekankan implementasinya mencakup pemahaman Al-Qur’an yang kontekstual, penerapan nilai-nilai sosial, pendekatan kritis terhadap isu-isu modern, pemahaman tematik, relevansi dalam kehidupan sehari-hari, peningkatan literasi Qur'an, pengembangan karakter, dan dorongan terhadap kemajuan ilmu pengetahuan. Pendekatan multidimensi ini tidak hanya memperdalam pemahaman spiritual, tetapi juga mendorong perkembangan sosial, intelektual, dan moral masyarakat, menjadikan Al-Qur’an sebagai panduan hidup yang dinamis dan relevan dalam menghadapi kompleksitas kehidupan modern
Perumpamaan Tumbuhan Dalam Al-Qur’an Perspektif Tafsir An-Nur Alfie Hardinagoro, Mohammad; Sulthoni, Akhmad; Wirastho, Edy
Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2025): Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Isy Karima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/bunyanalulum.v1i2.240

Abstract

Tumbuhan sering digunakan di dalam Al-Qur’an sebagai perumpamaan karena keanekaragaman dan keunikannya yang menyimpan banyak hikmah dan pelajaran bagi manusia. Dari proses pertumbuhan hingga manfaatnya yang beragam, tumbuhan menjadi subjek ideal untuk mengilustrasikan konsep kehidupan, spiritual, dan moral, sekaligus sebagai bukti kekuasaan Allah SWT. Mengingat pentingnya tumbuhan bagi kehidupan manusia dan hewan, penggunaan elemen tumbuhan dalam perumpamaan Al-Qur'an bertujuan untuk memperdalam pemahaman tentang hikmah dan nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut. Penelitian ini berfokus pada penafsiran dan nilai-nilai yang terkandung dalam ayat-ayat perumpamaan terkait tumbuhan menurut tafsir An-Nur karya Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy.Penelitian ini menggunakan metode library research yang bersifat deskriptif analitis dengan pendekatan maudhu’i, atau kajian tematik,Penelitian ini akan memusatkan pada dua hal utama: pertama, penafsiran Teungku Muhammad Hasbi ash-Shiddiqiey terhadap ayat-ayat perumpamaan tumbuhan dalam Tafsir An-Nur. Kedua, hikmah dari penaafsiran terhadap ayat-ayat perumpamaan tumbuhan dalam Tafsir An-Nur.Dengan mengacu pada data dan analisis yang telah dilakukan, dapat di simpulkan,Penafsiran Hasbi ash-Shiddiqiey tentang ayat-ayat perumpamaan tumbuhan dalam Tafsir An-Nur menggabungkan pendekatan kontekstual, penjelasan analogis, dan penekanan pada hikmah, dengan mengintegrasikan pengetahuan ilmiah dan mempertimbangkan konteks historis serta aspek moral. Beliau menggunakan perumpamaan tumbuhan untuk menjelaskan konsep Islam, seperti mengumpamakan iman kuat dengan pohon berakar dalam dan kekufuran dengan pohon buruk yang mudah tercabut, serta menggambarkan perkembangan umat Islam dan kekuasaan Allah. Metode ini bertujuan untuk menjembatani konsep-konsep abstrak dalam Al-Qur'an dengan pengalaman nyata manusia, memvisualisasikan konsep spiritual melalui gambaran alam, memperdalam pemahaman agama, dan memotivasi umat untuk berbuat baik serta menghargai alam sebagai tanda kebesaran Allah, sehingga pesan-pesan Al-Qur'an dapat lebih mudah dipahami, diserap, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Bahaya Sihir Dalam Al Qur’an (Studi Penafsiran Ayat-Ayat Tentang Bahaya Sihir Dalam Tafsir Sya’rawi) Wisnu Rahman, Muhammad; Sulthoni, Akhmad; Saputra, Akhmadiyah
Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam Vol. 1 No. 2 (2025): Bunyan al-Ulum : Jurnal Studi Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Isy Karima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58438/bunyanalulum.v1i2.246

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana penafsiran tentang bahaya sihir dalam Tafsir Sya’rawi karya Syaikh Mutawalli Asy-Sya`râwî. Hal ini penting karena sihir merupakan perbuatan dosa besar yang masih menyebar di tengah-tengah masyarakat, dan dapat mengakibatkan seseorang menjadi kufur serta menjerumuskannya ke jurang kebinasaan. Penelitian ini memfokuskan kajiannya mengenai penafsiran ayat-ayat tentang bahaya sihir dalam Tafsir Sya’rawi dan bagaimana sikap seorang muslim terhadap bahaya sihir dalam Tafsir Sya’rawi. Penelitian ini termasuk dalam penelitian perpustakaan (Library Reseach), maka penulis merujuk kepada Al-Qur’an Al-Karim, hadis-hadis Rasulullah Saw, dan Tafsir Sya’rawi sebagai data primer. Kemudian didukung oleh data dari literatur yang ada kaitannya dengan penelitian ini. Setelah dilakukan penelitian maka sebagai hasil dari kajian ini adalah pandangan Syaikh Mutawalli Asy-Sya`râwî bahwa sihir hanyalah khayalan & tipuan saja bukan kemampuan untuk merubah sesuatu. Beliau pun menjelaskan bahwa sihir adalah ilmu meminta pertolongan oleh manusia kepada setan. Beliau memperingatkan kita bahwa sihir tidak akan mendatangkan apapun kecuali keburukan, kefakiran & laknat Allah subhanahu wa ta’ala, serta menjadikan orang tersebut kafir dan baginya neraka bila tidak bertobat diakhir hidupnya. Maka sikap yang semestinya kita ambil terhadap bahaya sihir ini yaitu mempercayai bahwa bahaya sihir ini memang benar adanya, berhati-hati dari para dukun/orang pintar/penyihir dan sebagainya, mengetahui bahwa bahaya sihir ini adalah ujian buat manusia, menjauhinya karna bahayanya yang besar dan tidak ada manfaat, serta segera bertaubat bila pernah melakukannya.