I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani
Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana

Published : 21 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Aksara

OTORITAS TUBUH ANTARA SAKRAL DAN PROFAN DALAM PUISI KARYA PENYAIR BALI TAHUN 1970—2016 Hardiningtyas, Puji Retno; Putra, I Nyoman Darma; Kusuma, I Nyoman Weda; Triadnyani, I Gusti Ayu Agung Mas
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.389 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.238.17-41

Abstract

Persoalan tubuh dan jiwa perempuan dijadikan subjek inferior dan eksploitasi atas tubuhnya sendiri menjadi ruang yang paradoksal muncul dalam karya-karya puisi Indonesia sejak tahun 1960--2016. Rumusan masalah penelitian ini adalah wacana otoritas tubuh, baik sakral maupun profan sebagai representasi citra ruang manusia; konsep ruang dan konstruksi tubuh dalam pertarungan kehidupan dalam puisi-puisi penyair di Bali. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik baca catat. Analisis data menggunakan metode analitik deskriptif dengan teknik hermeneutika dan interpretatif. Teori penelitian ini adalah poskolonial Sara Upstone dengan mempraktikkan ruang tubuh dan konstruksi keberadaan eksistensi manusia itu sendiri. Hasil dan pembahasan penelitian ini membuktikan bahwa otoritas tubuh mengalami ironi dengan peristiwa yang dialami manusia, yaitu tubuh sebagai jasmaniah, tubuh sebagai simbol agama, dan tubuh sebagai kekuatan perempuan dalam menghadapi pertarungan kehidupan. Konstruksi yang terjadi dalam tubuh pada akhirnya menjadi diri yang dibongkar/dibalikkan oleh penyair yang secara ontologis dikuliti sendiri. Tubuh dihancurkan dalam kebudayaan, kefaanaan, sedangkan jiwa sebagai Tuhan yang diidealkan dalam keutuhan. Dengan demikian, konstruksi dan ruang tubuh antara profan dan sakral adalah ruang paradoksal antara jasmani dan rohani yang didekonstruksi oleh penyairnya menjadi sebuah ironi semata.
KARAKTERISTIK KOMUNITAS SASTRA DI BALI Triadnyani, I Gusti Ayu Agung Mas; Banda, Maria Maltidis; Nama, I Ketut
Aksara Vol 31, No 2 (2019): AKSARA, EDISI Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.952 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v31i2.434.239-250

Abstract

Abstrak Komunitas sastra merupakan salah satu ujung tombak bagi tumbuh dan berkembangnya kesusastraan di suatu wilayah, termasuk Bali. Di dalam komunitas sastra tersebut dilakukan berbagai aktivitas, seperti diskusi sastra (baik cerpen, novel, puisi, maupun drama), peluncuran buku sastra, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pertunjukan teater, dan berbagai lomba. Komunitas sastra berperan menjaga iklim yang sehat dan kondusif bagi terciptanya kreativitas. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan pentingnya kehadiran komunitas sastra yang marak bermunculan di berbagai daerah di Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode deskriptif-analitik. Dalam pengumpulan data digunakan teknik kuesioner dan teknik wawancara. Berdasarkan penelitian ini, diperoleh sejumlah informasi mengenai berbagai aspek terkait komunitas sastra, seperti karakteristik pendukung komunitas sastra dan aktivitas yang mereka lakukan. Kata kunci: komunitas sastra, karakteristik, kreativitas Abstract The existence of a literary community marks the growth and development of Indonesian literature in a region, such as Bali. In the literary community, various activities are carried out, such as book discussions (novels, poetry, and drama), publishing literary books, poetry reading, poetry musicals, theater performances, as well as various competitions. The literary community plays a role in maintaining a healthy and conducive climate for the creation of creativity. This research aims to show the importance of the presence of a literary community that is rife in various regions of Bali. To achieve these objectives, descriptive-analytic methods were used with interview techniques and questionnaire. Based on this research, obtained a number of information about various aspects related to the literary community and the activities they did. Keywords: literary community, characteristic, creativity
OTORITAS TUBUH ANTARA SAKRAL DAN PROFAN DALAM PUISI KARYA PENYAIR BALI TAHUN 1970—2016/THE AUTHORITY OF THE BODY BETWEEN SACRED AND PROFANE IN SOME POEMS BY BALINESE POETS IN 1970--2016 Puji Retno Hardiningtyas; I Nyoman Darma Putra; I Nyoman Weda Kusuma; I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani
Aksara Vol 30, No 1 (2018): Aksara, Edisi Juni 2018
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.391 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v30i1.238.17-41

Abstract

Abstrak Eksploitasi citra tubuh muncul berulang sebagai tema dalam puisi Indonesia dalam rentang waktu enam dekade, 1970—2016. Dalam penelitian ini dianalisis citra tubuh dalam puisi Indonesia dengan fokus pembahasa pada dua hal, yaitu wacana otoritas tubuh, baik sakral maupun profan sebagai representasi citra ruang manusia; konsep ruang dan konstruksi tubuh dalam pertarungan kehidupan dalam puisi-puisi penyair di Bali. Metode pengumpulan data penelitian ini adalah studi pustaka dengan teknik baca catat. Analisis data menggunakan metode analitik deskriptif dengan teknik hermeneutika dan interpretatif. Teori penelitian ini adalah poskolonial Sara Upstone dengan mempraktikkan ruang tubuh dan konstruksi keberadaan eksistensi manusia itu sendiri. Hasil dan pembahasan penelitian ini membuktikan bahwa otoritas tubuh mengalami ironi dengan peristiwa yang dialami manusia, yaitu tubuh sebagai jasmaniah, tubuh sebagai simbol agama, dan tubuh sebagai kekuatan perempuan dalam menghadapi pertarungan kehidupan. Konstruksi yang terjadi dalam tubuh pada akhirnya menjadi diri yang dibongkar oleh penyair yang secara ontologis dikuliti sendiri. Tubuh dihancurkan dalam kebudayaan, kefanaan, sedangkan jiwa sebagai Tuhan yang diidealkan dalam keutuhan. Dengan demikian, konstruksi dan ruang tubuh antara profan dan sakral adalah ruang paradoksal antara jasmani dan rohani yang didekonstruksi oleh penyairnya menjadi sebuah ironi semata. Kata kunci: puisi, ruang tubuh, konstruksi, profan sakral Abstract Exploitation of body image appeared repeatedly as theme in Indonesian poem in six decades, 1970—2016. In this research body image on Indonesian poems were analized focused on two points, the discourse of body authority, both sacred and profane as representation of human space image; the concept of space and body construction in the battle of life in poems in Bali. Method of this research is literary study by noting and reading technique. Data analysis method of this research is descriptive analytics by hermeneutic techniques and interpretative. This research used postcolonial of Sara Upstone theory by practicing the physical space and construction of body space and the existence of human itself. The results and discussion of this research prove that the authority of the body has irony with the events experienced by humans, namely the body as body, the body as religious simbol, and the body as a force of women in the face of the battle of life. The construction that takes place in the body eventually becomes a self dismantled by the poet who is ontologically skinned on his own. The body is destroyed in culture, inhumanity, while the soul as God is idealized in wholeness. Thus, the construction and the space between the profane and the sacred is the paradoxical space between the physical and the spiritual that the poet deconstructs to be a mere irony. Keywords: poem, body space, construction, sacred profane 
KARAKTERISTIK KOMUNITAS SASTRA DI BALI I Gusti Ayu Agung Mas Triadnyani; Maria Maltidis Banda; I Ketut Nama
Aksara Vol 31, No 2 (2019): AKSARA, EDISI Desember 2019
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.95 KB) | DOI: 10.29255/aksara.v31i2.434.239-250

Abstract

Abstrak Komunitas sastra merupakan salah satu ujung tombak bagi tumbuh dan berkembangnya kesusastraan di suatu wilayah, termasuk Bali. Di dalam komunitas sastra tersebut dilakukan berbagai aktivitas, seperti diskusi sastra (baik cerpen, novel, puisi, maupun drama), peluncuran buku sastra, pembacaan puisi, musikalisasi puisi, pertunjukan teater, dan berbagai lomba. Komunitas sastra berperan menjaga iklim yang sehat dan kondusif bagi terciptanya kreativitas. Penelitian ini bertujuan untuk memperlihatkan pentingnya kehadiran komunitas sastra yang marak bermunculan di berbagai daerah di Bali. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan metode deskriptif-analitik. Dalam pengumpulan data digunakan teknik kuesioner dan teknik wawancara. Berdasarkan penelitian ini, diperoleh sejumlah informasi mengenai berbagai aspek terkait komunitas sastra, seperti karakteristik pendukung komunitas sastra dan aktivitas yang mereka lakukan. Kata kunci: komunitas sastra, karakteristik, kreativitas Abstract The existence of a literary community marks the growth and development of Indonesian literature in a region, such as Bali. In the literary community, various activities are carried out, such as book discussions (novels, poetry, and drama), publishing literary books, poetry reading, poetry musicals, theater performances, as well as various competitions. The literary community plays a role in maintaining a healthy and conducive climate for the creation of creativity. This research aims to show the importance of the presence of a literary community that is rife in various regions of Bali. To achieve these objectives, descriptive-analytic methods were used with interview techniques and questionnaire. Based on this research, obtained a number of information about various aspects related to the literary community and the activities they did. Keywords: literary community, characteristic, creativity