Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Pekerja Sosial Dalam Bimbingan Ketrampilan Bagi Penyandang Disabilitas Rungu Wicara Di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (BRSPDSRW) Efata Kupang Fono, Maria Goreti; Pareira, Mariana Ikun RD; Klau, Erni Raster
Education For All Vol 5 No 1 (2025): APRIL
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/efapls.v5i1.6524

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan pekerja sosial dalam bimbingan keterampilan bagi penyandang disabilitas rungu wicara dan mengetahui peran pekerja sosial dalam bimbingan keterampilan di Balai Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (BRSPDSRW) Efata Kupang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah dua orang pekerja sosial, dua orang instruktur keterampilan dan dua orang penerima manfaat. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara, observasi dan studi dokumentasi. Teknik analisis data berupa reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Triangulasi yang digunakan untuk menjelaskan keabsahan data adalah triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam bimbingan keterampilan bagi penerima manfaat, terdapat 7 (tujuh) tahap yang dilakukan oleh pekerja sosial yaitu tahap akses, tahap intake dan engagement, tahap asesmen, tahap perencanaan, tahap implementasi, tahap monitoring dan evaluasi dan pascalayanan dan terminasi. Pekerja sosial dalam bimbingan keterampilan memiliki peran sebagai fasilitator, motivator, mediator, pemungkin (enabler), konselor dan pendidik (educator). Faktor pendukung bimbingan yaitu adanya kerja sama antara peksos dan instruktur, dukungan dana dari APBN Kemensos, motivasi penerima manfaat yang baik, keikhlasan peksos, fasilitas yang memadai dan kurikulum yang fleksibel. Faktor penghambat yaitu penerima manfaat membutuhkan waktu adaptasi yang lama, penerima manfaat mempunyai keterbatasan dalam hal membaca, kemampuan penerima manfaat yang berbeda-beda dan cepat melupakan materi, kurang terbuka penerima manfaat terhadap pekerja sosial dan penerima manfaat yang sulit memahami gerak bibir instruktur saat menjelaskan materi.
Kekerasan Seksual Dalam Hubungan Berpacaran Pada Mahasiswa Universitas Nusa Cendana Atty, Sherly Aprilia; Klau, Erni Raster; Simbolon, Gallex
Education For All Vol 5 No 1 (2025): APRIL
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/efapls.v5i1.17268

Abstract

Pacaran adalah hubungan antara dua insan manusia yang saling mencintai dan memiliki visi dan misi yang sama. Pacaran berfungsi sebagai tahap pencocokan diridan bertujuan untuk menuju hubungan yang lebih serius, namun sering kali dalamhubungan berpacaran diwarnai dengan kekerasan. Kekerasan dalam hubungan berpacaranadalah fenomena yang sering terjadi disekitar kehidupan dan menempati peringkat ke duakasus kekerasan terhadap perempuan, namun masih banyak orang bahkan korban tidakmenyadari hal tersebut.Penelitian ini menggunakan metode kualitatif fenomenalogi dengan teknik wawancara, observasi dan dokumentasi sebagai metode pengumpulan data. Informanpenelitian adalah mahasiswa Universitas Nusa Cendana di Kota Kupang yang terdiri dari7 (tujuh) orang sebagai korban kekerasan seksual dalam hubungan berpacaran. Tujuan penelitian ini untuk menemukan faktor penyebab terjadinya kekerasan seksual dalam hubungan berpacaran pada mahasiswa universitas nusa cendana. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa kekerasan seksual dalam hubungan berpacaran disebabkan oleh faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi kurangnya pengetahuan dan keterampilan menghindari kekerasan, mispersepsi diri, tidak merasa bersalah, afeksi dan harapan, ketidakmampuan mengungkapkan ketidaksetujuan, dorongan seksual dan sikap manipulatif, adapun faktor yang paling dominan adalah kurangnya pengetahuan dan keterampilan menghindari kekersan dan mispersepsi diri. Faktor eksternal meliputi tidak adanya batasan-batasan yang jelas dalam hubungan berpacaran, lemahnya hubungan anak dan orang tua dan riwayat kekerasan.
Dimensi Penerimaan Diri Remaja Dari Pasangan Yang Berpisah Melalui Konsep Psychological Well-Being Wayong, Elisabeth Miranda; Klau, Erni Raster; Selly, Frans Kristian
Education For All Vol 5 No 2 (2025): OCTOBER
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/efapls.v5i2.18181

Abstract

Separation not only has an impact on husband and wife but also on teenagers. Adolescence is an important period in which physical and mental development occurs. After parents separate, teenagers have to go through difficult stages, including the process of self-acceptance. The aim of this research is to dimensions of adolescent self-acceptance from separated couples through the concept of Psychological Well-Being. The phenomenological qualitative research method was carried out on teenagers aged 16-19 years whose families were not intact or where their parents had separated. Data collection techniques use observation and interviews, and are analyzed through data reduction, presentation and drawing conclusions. Triangulation carried out to explain the validity of the data is source triangulation and technical triangulation. The research results show that self-acceptance includes stages, namely: 1) Denial, teenagers are confused about what is happening in their family. 2). Anger (anger), towards oneself and the situation of the family. 3). Bargaining (gainning), starting to accept the situation of an incomplete family and determining life goals. 4). Depression (depression), closing yourself off from other people. 5). Acceptance, accepting the situation of an incomplete family and focusing on the future. Furthermore, the aspect of self-acceptance consists of: 1). Strengths/strengths, support from extended family and being able to open up to other people. 2). Disadvantages/weaknesses, not being able to accept the situation of an incomplete family. 3). Positive behavior, spending more time at home and developing hobbies. 4). Negative behavior, lazy to go to school, irresponsible for assigned tasks, fighting with peers.
Elements of Innovation Diffusion in the use of Hau Fo in Making Tea Bags Neonufa, Samrid; Klau, Erni Raster; Selly, Frans Kristian; Taloim, Nory
Journal of English Language and Education Vol 10, No 6 (2025)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jele.v10i6.1660

Abstract

The purpose of this study was to determine the diffusion of innovations involving the use of hau fo in tea bag production. This study used a qualitative approach with a descriptive approach. This research was conducted at the Dapur Kelor Office of RSS Oesapa, Kupang City, East Nusa Tenggara. Six informants participated in this study. Data collection was conducted using three methods: observation, interviews, and documentation. The results indicate that the innovation carried out by Dapur Kelor aims to introduce the public to the fact that the moringa plant can be consumed in other processed forms, such as moringa tea bags, which have good nutrition for the body. This innovation was also carried out to improve the economy of moringa farmers and raise the economic standards of MSMEs. The marketing of the moringa tea bag innovation uses an application to sell processed products from Dapur Kelor in the Dapur Kelor Id store on Tokopedia, through Instagram, and directly to consumers. The decision-making process for the moringa tea bag innovation is considered successful because it has increased from year to year. Dapur Kelor itself employs SPGs (Sales Promotion Girls) and also collaborates with the Regional Government