Ahmad Mustaniruddin
UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi, Indonesia

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin

INDIKATOR TERCIPTANYA MASYARAKAT MADANI PERSPEKTIF AL-QUR’AN Ahmad Mustaniruddin; Hery Afriyadi; Jamilah Abu Bakar
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 19 No. 2 (2020): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.989 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v19i2.127

Abstract

Creating an ideal life for society is not solely the responsibility of society itself, but it requires collaboration between society and the state in creating a peaceful, prosperous, open, advanced, and modern society or better known as civil society. The role of the Koran as a guideline for human life should also talk about this. Therefore, it is necessary to reveal the indicators of civil society in the Koran so that the idealized term of civil society can be realized. By using the content analysis method, this article describes and reveals what indicators must be met to realize civil society in Indonesia as contained in the al-Qur'an. This article finds that in order to realize what is called civil society in Indonesia, the state needs to carry out its obligations and fulfill the rights of its people as well as uphold the principles of faith, humanity, unity, deliberation, and justice, and the society becomes a civilized society, upholds it. Human values, as well as divine values, highlight the material dimension as well as the spiritual dimension built on the pillars of religion and advance in the mastery of science and technology. Menciptakan kehidupan yang ideal bagi masyarakat bukan semata tanggung jawab masyarakat itu sendiri, namun diperlukan kolaborasi antara masyarakat dan negara dalam menciptakan masyarakat yang damai, sejahtera, terbuka, maju, dan modern atau yang lebih dikenal sebagai masyarakat madani. Peranan al-Qur‘an sebagai pedoman hidup manusia semestinya juga membicarakan tentang hal tersebut. Oleh karenanya, perlu mengungkap indikator masyarakat madani dalam alQur‘an agar term masyarakat madani yang diidam-idamkan dapat terwujud. Dengan menggunakan metode analisis isi, artikel ini menjelaskan dan mengungkap apa saja indikator yang wajib dipenuhi untuk mewujudkan masyarakat madani di Indonesia yang terdapat dalam al-Qur‘an. Artikel ini menemukan bahwa untuk mewujudkan apa yang disebut dengan masyarakat madani di Indonesia, negara perlu menjalankan kewajibannya dan menunaikan hak-hak rakyatnya serta menjunjung tinggi prinsip-prinsip keimanan, kemanusiaan, persatuan, permusyawaratan dan keadilan, dan masyarakatnya menjadi masyarakat yang beradab, menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan sekaligus nilainilai ketuhanan, menonjolkan dimensi material sekaligus dimensi spiritual yang dibangun di atas pilar agama serta maju dalam penguasaan ilmu pengetahuan, dan teknologi.
STUDI KRITIS TERHADAP PEMIKIRAN MAHMUD MUHAMMAD TAHA TENTANG KONSEP NASAKH AL-QUR’AN Fikri, Muhammad Al; Mustaniruddin, Ahmad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 20 No. 2 (2021): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.31 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v20i2.230

Abstract

This article discusses one of the topics of the study of the Qur'anic science which was developed by one of the contemporary thinkers, namely Mahmud Muhammad Taha. He considered that the Islamic teachings contained in the madaniyah verses were irrelevant at this time because they contained values ​​that were less tolerant and even radical. Meanwhile, the Makiyah verses contain fundamental values ​​such as justice, equality, tolerance, democracy, and human rights. So, according to him, madaniyah verses need to be replaced with these makiyah verses. With such an inverted nasakh concept, he wants to carry out an evolution of sharia where according to him sharia is something historical that can change according to the situation and conditions that require it. The concept of nasakh al-Qur'an developed by Taha is different from the concept of nasakh agreed upon by the majority of scholars. Therefore, based on the critical analysis in this article, it can be said that the nasakh Taha concept still has a number of epistemological problems so that it is not valid for use in interpreting the verses of the Qur'an. Artikel ini mendiskusikan tentang topik kajian ilmu al-Qur’an yang dikembangkan oleh salah satu tokoh pemikir kontemporer yaitu Mahmud Muhammad Taha. Ia menilai bahwa ajaran Islam yang terkandung dalam ayat-ayat madaniyah tidak Sesuai dengan nilai – nilai kemanuasiaan dan masyarakat modern karena ayat madaniyah mengandung nilai radikalisme dan berlawanan dengan hak asasi manusia. Sementara ayat-ayat makiyah berisi tentang nilai-nilai fundamental seperti keadilan, kesetaraan, toleransi, demokrasi, dan HAM. Sehingga, menurutnya, ayat-ayat madaniyah perlu di-nasakh dengan ayat-ayat makiyah tersebut. Dengan konsep nasakh terbalik seperti demikian ia ingin melakukan evolusi terhadap syariat di mana menurutnya syariat merupakan sesuatu yang bersifat historis yang dapat berubah sesuai situasi dan kondisi yang menghendakinya. Konsep nasakh al-Qur’an yang dikembangkan oleh Taha tersebut berbeda dengan konsep nasakh yang disepakati oleh mayoritas ulama. Oleh karena itu, berdasarkan analisis kritis dalam artikel ini dapat dikatakan bahwa konsep nasakh Taha tersebut masih terdapat sejumlah permasalahan epistemologis sehingga tidak valid untuk digunakan dalam penafsiran al-Qur’an.
METAMORPHOSIS INTEGRASI THEOLOGI ISLAM DENGAN SPIRIT WIRAUSAHA Elvia Zahra, Anzu; Mustaniruddin, Ahmad; Sobur, Kadir; Kusnadi, Edy; Mesalina, Juliana
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 1 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4648.781 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i1.285

Abstract

This research is initiated by the economic contestation in both the Islamic and Western worlds. In the context of Islamic theology, there are several views which say that success is dependent on human’s effort and God's will. The purpose of this research is to explore the concept of entrepreneurial motivation that carried out by the Qolbu Management (QM), Emotional Spiritual Quotion (ESQ) and The Pattern of Allah's Help (PAH). It’s a qualitative approach. The source of data in this research are by analyzing books, videos, audio visuals such as Youtube, then by studying literature (library research). Scientific interviews will also be conducted with several individuals (academics and practitioners) as supporters of the distinction of Islamic theology with an entrepreneurial spirit. The findings were motivated by the emergence of the concept Qolbu Management, ESQ and PAH which is one of the efforts to integrate the teachings of Theological Tauhid into the concept of Islamic entrepreneurship. The similarities between the concepts of Qolbu Management, ESQ and PPA are Theological Tauhid. While the differences are the Qolbu Management Concept is closer to Asy Ariyah theology, ESQ is closer to the Mu'azilah theology concept, while PAH is more identical to the Jabariyah concept. The point of the concept of entrepreneurship, monotheism and the concept entrepreneurial of Qalbu Management, ESQ and PAH, namely: Guiding towards the maximum monotheism and teaching humans to try with their potentials and do not forget to surrender to Allah SWT Penelitian ini diawali dengan kontestasi perekonomian baik di dunia Islam maupun Barat. Dalam konteks teologi Islam ada beberapa pandangan yang mengatakan bahwa kesuksesan adalah tergantung dari usaha manusia dan kehendak Tuhan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mendalami konsep motivasi wirausaha yang dilakukan oleh Manajemen Qalbu (MQ), Emotional Spritual Quotion (ESQ) dan Pola Pertolongan Allah (PPA). Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data dalam penelitian ini adalah dengan menganalisis buku-buku, video-video, audio visual seperti Youtube, kemudian dengan studi literatur (library research). Wawancara ilmiah juga akan dilakukan dengan beberapa individu (akademisi dan praktisi) sebagai pendukung distingsi ilmu teologi Islam dengan spirit wirausaha. Hasil temuan dalam penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya konsep Manajemen Qolbu, ESQ dan PPA yang merupakan salah satu usaha untuk mengintegrasikan ajaran-ajaran Tauhid Teologis kedalam konsep wirausaha secara islami. Adapun persamaan dari konsep Manajemen Qolbu, ESQ dan PPA yaitu Tauhid Teologis. Sedangkan perbedaannya Konsep Manajemen Qolbu Lebih mendekati teologi Asy Ariyah, ESQ mendekati Konsep teologi Mu’tazilah sedangkan PPA lebih identik dengan konsep Jabariyah. Titik temu konsep kewirausahaan dan ketaudhid dan konsep wirausaha manajemen Qalbu, ESQ dan PPA yakni : Membimbing terhadap ketauhidan yang maksimal dan mengajarkan manusia untuk berusaha dengan potensi yang dimiliki dan kemudian tidak lupa akan berpasrah diri kepada Allah SWT
PENGANTIN TAMAT KAJI SEBAGAI TRADISI PADA UPACARA PERNIKAHAN MASYARAKAT BATANG ASAI DALAM SOROTAN LIVING QUR’AN Nugroho, Bambang Husni; Mustaniruddin, Ahmad; Surbakti, Junita BR.
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.323

Abstract

Traditions inherited from ancestors from generation to generation always have a deep moral message. In addition, the process of preserving local culture has also experienced a pattern of integration of religious teachings, especially Islam. The tradition of ending kaji is a unique tradition rooted in the people of Muara Pemuat Batang Asai Village as a form of local culture that has integrated Islamic teachings. Because of this, this research aims to uncover the messages contained in the tradition of the end of the study by focusing on knowing the basis, procession, meaning, understanding and values contained in this tradition. To dig up all the necessary information, this field-based research uses qualitative methods by applying the meaning approach and the living Qur'an approach. Like the field qualitative method, in collecting research data using observation, documentation and in-depth interviews. This study found that the implementation of the tradition of the kaji graduate, apart from being based on the hereditary habits of the ancestors, was also reinforced by various arguments about the virtues of reading the Koran. The procession in this tradition is generally divided into two, namely the process of picking up the bride and groom by the main bako (bibik) to take her home, and the process of sending her back to the parents' house after being decorated and ready to carry out the end of the study. Uniquely when picking up, the bako mother has to carry a peliman, which is a bowl containing lime, betel nut, areca nut, and a knife or keris left by the ancestors. Then when sending back, the bride and groom are taken to the parents' house to be honored by asang-asung, a chair tied with bamboo and decorated which has been lifted by the relatives of ipa (cousins), and the main bako accompanies from behind carrying the main paibut, jamba, and rice tray. For the people of Muara Pemuat village, the end of the study tradition is understood in terms of its functions and benefits. The function of this tradition is as a token of parental gratitude, as a form of parental responsibility towards their children, and as a reinforcement of local customs. Then the benefits that can be drawn from this tradition are to obtain blessings, to become a means of increasing reading of the Qur'an, to motivate families about the importance of being proficient in reading the Qur'an, to become a place for friendship, to become a place for self-maturity and finally, to become a means of charity. Not only that, the tradition of graduating from the study also contains deep values. There are at least eight values contained in this tradition, namely divine values, human values, spiritual values, ritual values, life values, social values, moral values and intellectual values Tradisi warisan para leluhur dari generasi ke generasi senantiasa memiliki pesan moral yang mendalam. Selain itu proses pelestarian budaya lokal juga telah mengalami pola integrasi ajaran keagamaan terutama agama Islam. Tradisi tamat kaji adalah tradisi unik yang mengakar pada masyarakat Desa Muara Pemuat Batang Asai sebagai bentuk budaya lokal yang telah terintegrasi ajaran agama Islam. Sebab itu penelitian ini bertujuan untuk menyingkap pesan yang terkandung dalam tradisi tamat kaji dengan berfokus pada mengetahui tentang dasar, prosesi, pemaknaan, pemahaman hingga nilai-nilai yang terkandung dalam tradisi tersebut. Untuk menggali semua informasi yang diperlukan, penelitian yang berbasis lapangan ini menggunakan metode kualitatif dengan menerapkan pendekatan makna dan pendekatan living Qur’an. Layaknya metode kualitatif lapangan, dalam mengumpulkan data penelitian ini menggunakan metode observasi, dokumentasi dan wawancara mendalam. Penelitian ini menemukan bahwa pelaksanaan tradisi tamat kaji, selain didasari oleh kebiasaan turun temurun nenek moyang, juga diperkuat oleh berbagai dalil tentang keutamaan tentang membaca al-Qur’an. Prosesi dalam tradisi inipun secara umum terbagi dua yaitu proses penjemputan pengantin oleh induk bako (bibik) untuk dibawa kerumahnya, dan proses pengantaran kembali ke rumah orangtua setelah selesai dihias dan siap melaksanakan tamat kaji. Uniknya saat penjemputan, induk bako harus menggendong peliman yaitu sebuah mangkuk yang berisi kapur, sirih, pinang, dan pisau atau keris peninggalan nenek moyang. Kemudian saat pengantaran kembali, pengantin dibawa ke rumah orang tua dengan dijunjung asang-asung, sebuah kursi yang diikat dengan bambu dan sudah diberi dekorasi yang diangkat oleh para sanak ipa (sepupu), dan induk bako mengiring dari belakang dengan membawa induk paibut, jamba, dan talam beras. Bagi masyarakat desa Muara Pemuat tradisi tamat kaji ini dipahami dari segi fungsi dan manfaatnya. Fungsi dari tradisi ini yaitu sebagai tanda terima kasih orangtua, sebagai bentuk tanggung jawab orangtua terhadap anaknya, dan sebagai penguatan adat istiadat setempat. Kemudian manfaat yang dapat diambil dari tradisi ini yaitu untuk memperoleh keberkahan, menjadi sarana peningkatan baca al-Qur’an, memotivasi keluarga betapa tentang pentingnya mahir membaca al-Qur’an, menjadi ajang silaturrahmi, menjadi ajang pendewasaan diri dan terakhir menjadi sarana bersedekah. Tidak hanya sebatas itu, tradisi tamat kaji ini juga memiliki kandungan nilai yang dalam. Setidaknya ada delapan nilai yang terkandung dalam tradisi ini yaitu nilai ketuhanan, nilai kemanusiaan, nilai spiritual, nilai ritual, nilai kehidupan, nilai sosial, nilai moral dan nilai intelektual
THE UNITY OF QUR’ANIC THEMES: Historical Discourse and Contemporary Implications for Tafsīr Al-Mawḍū'ī Methodology Kurniawan, Edi; Mustaniruddin, Ahmad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 23 No. 2 (2024): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30631/tjd.v23i2.559

Abstract

The discourse concerning whether the Qur'an possesses thematic unity has persisted as a subject of prolonged debate throughout history up to the present day. While the majority acknowledges this unity, a minority rejects it. These contrasting perspectives bear significant implications for the methodology of tafsīr al-mawḍū'ī (thematic exegesis): namely, the robustness or fragility of this method. Consequently, this paper examines the historical discourse on Qur'anic thematic unity, contextualizing it with the methodology and urgency of tafsīr al-mawḍū'ī in the modern context to strengthen the foundations of this method. After applying the principles of literature review utilizing historical analysis, this study demonstrates that the discourse on Qur'anic thematic unity falls under the terms naẓm (coherence), siyāq (context), and munāsabah (correlation) in 'ulūm al-qur'ān (Qur'anic sciences), as well as the theory of istiqrā' (induction) in uṣūl al-fiqh (principles of Islamic jurisprudence), all of which are relevant as analytical tools for tafsīr al-mawḍū'ī. Thus, this paper has implications for strengthening the arguments of the group that accepts the unity of meaning in the Qur'an while simultaneously reinforcing the methodological foundations of tafsīr al-mawḍū'ī.