Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Pengaruh Bahan Tambah Gula Putih dan Gula Merah pada Slurry Cement Terhadap Compressive Strength pada Semen Pemboran Sulardi, Sulardi; Sedek, Melki; Ulfah, Baiq Maulinda
Indonesian Research Journal on Education Vol. 6 No. 1 (2026): Irje 2026
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/irje.v6i1.3988

Abstract

Oil well cement adalah semen yang digunakan dalam industri perminyakan khususnya dalam operasi penyemenan sumur pengeboran. Semen ini merupakan jenis semen Portland dan bersifat anhydrous, dalam arti komponen dalam semen akan pecah dan membentuk komponen hidrat saat bertemu air dan kemudian secara perlahan akan mengeras. Dalam pembuatan suspensi semen dan pada saat operasi penyemenan, sifat fisik suspensi semen harus selalu diperhatikan karena akan berpengaruh terhadap kualitas hasil penyemenan. Penelitian dilakukan dalam skala laboratorium berdasarkan eksperimen untuk menguji sifat fisik semen pemboran. Percobaan yang dilakukan bertujuan untuk menguji kekuatan tekan batuan semen dan setting time berupa initial setting time dan final setting time yang diperlukan oleh suspensi semen untuk mengeras sebagai akibat penambahan aditif berbahan dasar glukosa.. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah pengujian compressive strength menggunakan pengukur dengan alat hydrolic press. Hasil penelitian pada variasi komposisi 0,02% gula merah dengan 2.299,16 psi, pada variasi komposisi 0,02% gula putih dengan 2.492,56 psi, dan pada kombinasi gula merah 0,02% + gula putih 0,02% mengalami peningkatan drastis 4.569,70 psi. Ketiga hasil uji kekuatan sampel tersebut telah memenuhi standar compressive strength API yaitu sebesar 500 psi.
Review Jurnal Lumpur Pemboran Berbasis Air Water Based Drilling Mud Journal Wahyudi, Dimas; Ulfah, Baiq Maulinda
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 6 No. 1 (2026): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v6i1.3205

Abstract

Lumpur pemboran berbasis air (Water-Based Mud/WBM) menawarkan alternatif yang lebih ekonomis dan ramah lingkungan dibanding lumpur berbasis minyak (Oil-Based Mud/OBM) dalam operasi pengeboran minyak dan gas. Namun, tantangan teknis seperti stabilitas formasi, kehilangan sirkulasi, serta dampak lingkungan dari aditif kimia masih menjadi kendala utama. Penelitian ini mengkaji efektivitas formulasi WBM melalui tinjauan sistematis terhadap tiga studi utama: perencanaan WBM dengan barit dan CaCO? untuk formasi bertekanan tinggi (Junianto dkk., 2017), analisis toksisitas WBM dengan barit dan KCl (Miranti dkk., 2014), serta studi penggunaan CaCO? dari cangkang telur sebagai aditif alami (Rante dkk., 2024). Hasil kajian menunjukkan bahwa formulasi WBM dengan barit dan CaCO? efektif dalam mencegah kick dan lost circulation pada pengeboran formasi bertekanan tinggi. Namun, uji toksisitas mengungkap bahwa beberapa formulasi WBM melebihi batas aman kandungan logam berat, khususnya Cu dan Pb, yang berpotensi mencemari lingkungan. Di sisi lain, penggunaan CaCO? dari cangkang telur sebagai aditif alami terbukti mampu meningkatkan plastic viscosity dan yield point secara signifikan, sekaligus mengurangi filtrate loss, dengan dampak lingkungan yang lebih rendah. WBM memiliki potensi besar sebagai lumpur pemboran yang efisien dan berkelanjutan, dengan catatan bahwa formulasi aditif harus dioptimalkan baik dari aspek teknis maupun lingkungan. Penggunaan bahan alami seperti CaCO? dari cangkang telur dapat menjadi solusi inovatif untuk meningkatkan performa reologi sekaligus mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Rekomendasi pengujian toksisitas dan regulasi yang ketat terhadap kandungan aditif kimia diperlukan untuk memastikan keberlanjutan penggunaan WBM dalam industri pengeboran.
STUDI LABORATORIUM PENGARUH KONSENTRASI POLIMER GUAR GUM PADA UJI ADSORPSI TERHADAP BATU PASIR DAN BATU KAPUR Sinurat, Daniel; Febryanto, M. Rezky; Ulfah, Baiq Maulinda
Petro : Jurnal Ilmiah Teknik Perminyakan Vol. 14 No. 4 (2025): Desember 2025
Publisher : Jurusan Teknik Perminyakan Fakultas Teknologi Kebumian dan Energi Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25105/petro.v14i4.24252

Abstract

Polimer sintetik seperti partially hydrolyzed polyacrylamide (HPAM) banyak digunakan dalam aplikasi Enhanced Oil Recovery (EOR), namun memiliki keterbatasan pada kondisi reservoir dengan salinitas dan temperatur tinggi karena viskositasnya mudah menurun serta rentan mengalami degradasi dan adsorpsi pada batuan. Oleh karena itu, polimer alami seperti guar gum dipandang sebagai alternatif ramah lingkungan yang lebih stabil. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh konsentrasi guar gum terhadap viskositas dan tingkat adsorpsi pada batu pasir dan batu kapur. Pengujian dilakukan secara statis pada salinitas 10.000 ppm dengan konsentrasi guar gum 6.000, 7.000, dan 8.000 mg/L. Viskositas diukur menggunakan viskometer Ostwald, sedangkan adsorpsi dianalisis dengan spektrofotometer UV-Vis. Hasil menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi guar gum meningkatkan viskositas larutan, namun viskositas menurun setelah berinteraksi dengan batuan akibat terjadinya adsorpsi. Adsorpsi tertinggi tercatat pada batu kapur sebesar 14,20 mg/g pada konsentrasi 8.000 mg/L. Secara keseluruhan, batu kapur menunjukkan kecenderungan adsorpsi lebih besar dibandingkan batu pasir karena porositas dan luas permukaan yang lebih kompleks. Temuan ini mengindikasikan bahwa guar gum berpotensi digunakan sebagai polimer dalam injeksi EOR, dengan desain injeksi yang harus mempertimbangkan efek adsorpsi agar efektivitasnya optimal.
Uji Laboratorium: Analisis Berat Lumpur Pemboran Pada Sumur Can Wahyuni, Viola Sri; Fathan, Muhammad Rizqie; Ulfah, Baiq Maulinda
Jurnal Teknik Industri Terintegrasi (JUTIN) Vol. 8 No. 4 (2025): October
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jutin.v8i4.50225

Abstract

Drilling mud plays an important role in maintaining well stability, especially since each trajectory faces different lithological and formation pressure issues. On the 36" (conductor) trajectory, the main challenge is shallow pressure that has the potential to cause surface gas, so 8.83 ppg mud is used as a solution to withstand this pressure. The 26“ (top hole) trajectory faces swelling clay issues, so mud with a density of 10.7 ppg is selected to suppress clay expansion. In the 17 ½” (intermediate 1) trajectory, the main problem stems from reactive shale that is prone to collapse, so mud with a weight of 10.9 ppg is designed to maintain hole stability. In the 12 ¼” (intermediate 2) section, the presence of a high-pressure fracture zone required heavier mud, namely 12.9 ppg, to control formation pressure. Meanwhile, the 8 ½” (production hole) section faced the most critical conditions with the risk of HPHT, kick, and lost circulation, so mud with a density of 14.9 ppg was the best solution. The objective of this study is to obtain the right mud formula for each track by utilizing barite as the main weighting material, so that the mud weight can be adjusted to field requirements.
Uji Laboratorium : Perencanaan High-Performance Water-Based Mud Untuk Mencegah Lost Circulation pada Trayek 17,5 inch Sumur Moon Pebriana, Cindy; Fathan, Muhammad Rizqie; Ulfah, Baiq Maulinda
Jurnal Teknik Industri Terintegrasi (JUTIN) Vol. 8 No. 4 (2025): October
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jutin.v8i4.50265

Abstract

Drilling mud plays an important role in 17 ½ inch track operations that often pass through reactive shale formations and fractured zones. This study was conducted to determine whether the High-Performance Water-Based Mud (HPWBM) formulation with KCl-Polymer and polyamine, as well as the addition of Lost Circulation Material (LCM) in the form of CaCO₃ and Fracseal, is capable of maintaining the rheological properties of mud under these conditions. The combination of CaCO₃ and Fracseal proved effective in reducing lost circulation and maintaining mud rheology. These results are in line with recent studies emphasizing the importance of using bridging materials and polymer additives in overcoming fracture rheology problems in intermediate trajectories. Laboratory test results showed a Mud Weight of 10.9 ppg, Plastic Viscosity of 29 cP, Yield Point of 37 lb/100 ft², and Low Shear Yield Point of 12 lb/100 ft². These parameters are within a good range to support cutting removal and fracture closure. The gel strength value of 14/28 lb/100 ft² and API Filtrate of 3.8 mL/30m also indicate that the mud is capable of forming a dense and stable filter cake.
Analisis Pengaruh Kontaminasi Sand terhadap Properties Lumpur Pemboran Alfianto, Rycho; Ulfah, Baiq Maulinda; Rahman, Muhammad Rizqie Fathan
Jurnal Teknik Industri Terintegrasi (JUTIN) Vol. 9 No. 1 (2026): January
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jutin.v9i1.54214

Abstract

Sand contamination is a common issue in drilling operations, particularly in sandstone formations, as it can progressively degrade drilling fluid performance. This study aims to analyze the effect of sand contamination on drilling mud properties and the associated physical and chemical interactions affecting mud optimization. This research is an experimental laboratory study using a water-based drilling fluid system with sand contamination levels of 0%, 5%, and 10% by total mud volume. The evaluated parameters include mud weight, plastic viscosity, yield point, gel strength, pH, and filtration loss. The results indicate that sand contamination up to 5% remains within acceptable operational limits, while 10% contamination leads to significant deterioration of rheological properties, increased filtration loss, and reduced chemical stability.