Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

PENERAPAN PIJAT OKSITOSIN DALAM MENGATASI MASALAH MENYUSUI TIDAK EFEKTIF PADA IBU POST OP SECTIO CAESAREA (SC) DI RUMAH SAKIT BAKTI TIMAH PANGKALPINANG Aura Melati; Syafrina Arbaani Djuria; Kartika Kartika
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 5, No 3 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v5i3.28422

Abstract

ABSTRAKSectio caesarea (SC) merupakan tindakan atau bedah operasi yang dilakukan di dunia persalinan oleh tenaga kesehatan untuk menyelamatkan ibu dan janin. Obat-obatan yang digunakan pada saat sebelum dan sesudah operasi berpengaruh dalam produksi ASI sehingga akan menghambat sekresi hormon oksitosin yang berperan dalam pengeluaran ASI. Pijat oksitosin adalah salah satu tindakan untuk mengatasi ketidaklancaran produksi ASI. Tujuan penelitian ini untuk mengatasi masalah menyusui tidak efektif pada ibu post op sectio caesarea. Penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan pijat oksitosin selama 3 hari pada partisipan I meningkat dari 0 ml menjadi 30 ml dan pada partisipan II produksi ASI meningkat dari 0 ml menjadi 25 ml. Penerapan pijat oksitosin dapat mengatasi masalah menyusui tidak efektif pada ibu post sectio caesarea.Kata kunci: Pijat Oksitosin, Produksi ASI, SC
PENGARUH TERAPI MUROTAL QUR’AN TERHADAP TINGKAT ANSIETASPADA PASIEN GAGAL GINJAL KRONIS (GGK) YANG MENJALANI HEMODIALISA DI RSUD DR. ADJIDARMO RANGKAS BITUNG Rizki Wibowo; Syafrina Arbaani Djuria; Andi Sudrajat
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 6, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v6i2.34603

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang : Penyakit gagal ginjal kronis (GGK) merupakan suatu penyakit system endoktrin yang disebabkan penurunan fungsi ginjal yang bersifat progresif dan irreversible sehingga tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit (Rahayu, 2018). Ansietas merupakan suatu kondisi yang menyebabkan seseorang merasakan ketidaknyamanan, takut, gelisah, khawatir dan tidak tenang disertai dengan berbagai gejala fisik (Wulandari, 2024). Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi murottal Qur’an terhdap tingkat ansietas pada pasien gagal ginjal kronis (GGK) yang menjalani hemodialisa di RSUD dr. Adjidarmo Rangkas Bitung. Metode : Penelitian yang digunakan, yaitu quasi exsperiment menggunakan rancangan one group yaitu kelompok perlakuan. sampel yang digunakan pada penelitian ini berjumblah 34 responden yang diambil menggunakan teknik Purposive Sampling non probability. Hasil : Hasil penelitian ini didapatkan Sebagian besar responden sebelum dilakukan intervensi terapi murottal Qur’an terdapat tingkat ansietas dengan kategori ringan dan sesudah dilakukan intervensi murottal Qur’an terdapat tingkat ansietas dengan kategori tidak cemas berjumlah 20 responden (58,8 %) terdapat  p value 0,000 <0,05 yang artinya terdapat pengaruh terapi murottal Qur’an terhadap tingkat ansietas pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa. Kesimpulan :  Terapi murottal Qur’an dapat menurunkan tingkat ansietas pada pasien GGK yang menjalani hemodialisa.         Kata Kunci : Ansietas, Gagal ginjal kronis (GGK), hemodialisa, terapi murottal Qur’an. ABSTRACTBackground: Chronic kidney failure (CKD) is an endocrine system disease caused by a progressive and irreversible decline in kidney function so that the body fails to maintain metabolism and fluid and electrolyte balance (Rahayu, 2018). Anxiety is a condition that causes a person to feel uncomfortable, afraid, restless, worried and restless accompanied by various physical symptoms (Wulandari, 2024). Objective: This study aims to determine the effect of Qur'an murottal therapy on anxiety levels in chronic kidney failure (CKD) patients undergoing hemodialysis at Dr. Adjidarmo Rangkas Bitung Hospital. Method: The research used was a quasi-experiment using a one-group design, namely the treatment group. The sample used in this study was 34 respondents who were taken using the non-probability Purposive Sampling technique. Results: The results of this study obtained that most respondents before the intervention of Qur'an murottal therapy had a mild level of anxiety and after the intervention of Qur'an murottal there was a level of anxiety in the non-anxious category totaling 20 respondents (58.8%) there was a p value of 0.000 <0.05 which means that there is an effect of Qur'an murottal therapy on the level of anxiety in CKD patients undergoing hemodialysis. Conclusion: Qur'an murottal therapy can reduce the level of anxiety in CKD patients undergoing hemodialysis.Keywords: Anxiety, Chronic kidney failure (CKD), hemodialysis, Qur'an murottal therapy
PENERAPAN SENAM KAKI TERHADAP KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELLITUS TIPE II DI RSUD DR. DRAJAT PRAWIRANEGARA SERANG Alin Agustina; Syafrina Arbaani Djuria; Rizky Rachmatullah
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 4, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v4i1.28490

Abstract

ABSTRAK Diabetes Mellitus merupakan suatu kondisi penyakit tidak menular, menjadi perhatian serius dalam kesehatan karena sering diidentifikasi sebagai silent killer. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran teori dan aplikasi mengenai asuhan keperawatan ketidakstabilan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitus tipe II di RSUD dr. Derajat Prawiranegara. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan desain penelitian yaitu studi kasus melalui pendekatan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian keperawatan, diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan, dan evaluasi keperawatan. Subjek penelitian ini adalah dua pasien diabetes mellitus tipe II yang mengalami masalah ketidakstabilan kadar glukosa darah di RSUD dr. Drajat Prawiranegara. Menerapkan latihan fisik senam kaki diabetes yang dilakukan sebanyak tiga kali dalam sehari selama tiga hari berturut-turut didapatkan hasil GDS pada pasien 1 sebelum melakukan senam kaki yaitu 268 mg/dl dan setelah melakukan senam kaki selama tiga hari menjadi 162 mg/dl, untuk pasien 2 sebelum melakukan senam kaki yaitu 258 mg/dl dan setelah melakukan senam kaki selama tiga hari menjadi 200 mg/dl. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa latihan fisik senam kaki diabetes dapat menstabilkan ketidak stabilan kadar glukosa darah pada pasien diabetes mellitusKata Kunci: Diabetes Mellitus, Ketidakstabilan Kadar Glukosa Darah
PENERAPAN PURSED LIP BREATHING UNTUK MENINGKATKAN SATURASI OKSIGEN DENGAN MASALAH GANGGUAN PERTUKARAN GAS PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) DI RSUD DEPATI HAMZAH PANGKALPINANG Indah Sari; Ashar Abilowo; Syafrina Arbaani Djuria
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v5i1.25858

Abstract

Penyakit paru obstruktif kronik (PPOK) adalah hambatan aliran udara di saluran napas yang tidak sepenuhnya reversible, bersifat progresif dan terkait dengan adanya proses inflamasi kronis saluran nafas dan paru-paru terhadap gas atau partikel berbahaya penanganan PPOK dengan tindakan pursed lip breathing (PLB) adalah latihan pernapasan dengan menghirup udara melalui hidung dan mengeluarkan udara dengan cara bibir lebih dirapatkan atau dimonyongkan. Tujuan peneliti ini untuk menggambarkan penerapan pursed lip breathing untuk meningkatkan saturasi oksigen dengan masalah gangguan pertukaran gas padapasien penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Metode penelitian ini menggunakan penelitian deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Metode pengumpulan data penelitian dilakukan 2 partisipan dengan menggunakan alat pengukuran pulse oximetri dilakukan 1 kali selama 3 hari. Hasil studi kasus partisipan 1 selisih sebelum dan sesudah penerapan pursed lip breathing mengalami peningkatan saturasi oksigen dari 4% sampai 6% sedangkan partisipan 2 selisih sebelum dan sesudah penerapan pursed lip breathing mengalami peningkatan saturasi oksigen dari 4% sampai 7%. Kesimpulan bahwa penerapan pursed lip breathing pada masalah gangguan pertukaran gas dapat membantu meningkatkan saturasi oksigen pada pasien PPOK. Kata kunci : PPOK, pursed lip breathing, saturasi oksigen
PENERAPAN INHALASI UAP DENGAN MINYAK KAYU PUTIH DALAM MENINGKATKAN BERSIHAN JALAN NAPAS PADA ANAK PRASEKOLAH DENGAN ISPA DI RUMAH SAKIT MEDIKA STANIA SUNGAILIAT Cintamie Cintamie; Dudella Desnani Firman Yasin; Syafrina Arbaani Djuria
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v5i2.25860

Abstract

Infeksi saluran pernapasan akut adalah penyakit saluran pernapasan yang menginfeksi bagian saluran pernapasan maupun saluran pernapasan bawah yang dapat menimbulkan masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif. Inhalasi uap dengan minyak kayu putih merupakan terapi komplementer yang sederhana dan mempunyai yang dapat dilakukan untuk meningkatkan jalan napas pada anak yang mengalami ISPA. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan penerapan inhalasi uap dengan minyak kayu putih dalam meningkatkan bersihan jalan napas pada anak yang mengalami ISPA. Metode penelitian yang digunakan yaitu studi kasus. Hasil setelah dilakukan intervensi selama 3 hari didapatkan peningkatan jalan napas sebelum dan sesudah dilakukan tindakan pada partisipan I dari 32 x/menit menjadi 27 x/menit dan pada partisipan II dari 29 x/menit menjadi 26 x/menit. Kesimpulan dalam penelitian ini bahwa inhalasi uap dengan minyak kayu putih dapat meningkatkan jalan napas pada anak ispa dengan masalah bersihan jalan napas tidak efektif dalam meningkatkan jalan napas pada anak penderita ISPAKata Kunci : Anak, Bersihan Jalan Napas, ISPA
HUBUNGAN KESEJAHTERAAN SPIRITUAL TERHADAP KECEMASAN PADA PASIEN CHRONIC KIDNEY DISEASE (CKD) YANG MENJALANI HEMODIALISA DI RSUD dr ADJIDARMO RANGKASBITUNG Moch. Ferdy Firdaus Sudrajat; Syafrina Arbaani Djuria; Andi Sudrajat
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 6, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v6i1.34604

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Penyakit ginjal kronis (CKD) adalah penyakit ginjal progresif yang ditandai dengan penurunan fungsi ginjal secara bertahap, sehingga tubuh tidak dapat mempertahankan keseimbangan cairan elektrolit, dan metabolisme. Pasien CKD sering menjalani hemodialisa sebagai terapi jangka panjang. Kondisi ini dapat menyebabkan kecemasan sebagai akibat dari perubahan gaya hidup dan ketergantungan pada pengobatan. Kesejahteraan Spiritual memiliki peran penting dalam membantu pasien dalam mengelola kecemasan.Tujuan: Untuk mengetahui Hubungan antara Kesejahteraan Psikologis terhadap Kecemasan pada pasien Chronic Kidney Disease (CKD) yang sedang menjalani Hemodialisa di RSUD dr Adjidarmo Rangkasibitung. Metode: Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan menggunakan metode cross sectional yang dilakukan pada 87 responden di ruang Hemodialisa RSUD dr. Adjidarmo Rangkasbitung. Data dikumpulkan menggunakan kuisoner Spiritual Well-Being Scale (SWBS) dan Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS.  Hasil: Penelitian ini didapatkan adanya hubungan yang signifikan antara kesejahteraan spiritual dengan tingkat kecemasan (p value 0.020< 0,05), dengan hasil bahwa mayoritas responden pada pasien hemodialisa tidak mengalami kecemasan yaitu sebanyak 59 (67,8%), sedangkan pada kesejahteraan spiritual yang tinggi yaitu sebanyak 60 responden (69%),  menunjukan bahwa semakin tinggi kesejahteraan spiritual maka semakin rendah tingkat kecemasan. Kesimpulan: Kesejahteraan spiritual memiliki peran penting dalam menurunkan kecemasan pada pasien CKD yang menjalani hemodialisaKata kunci: CKD, Hemodialisa, Kecemasan, Kesejahteraan Spiritual ABSTRACTBackground: Chronic kidney disease (CKD) is a progressive kidney disease characterized by a gradual decline in kidney function, so that the body cannot maintain fluid electrolyte balance, and metabolism. CKD patients often undergo hemodialysis as a long-term therapy. This condition can cause anxiety as a result of lifestyle changes and dependence on medication. Spiritual Well-being plays an important role in helping patients manage anxiety. Objective: To determine the Relationship between Psychological Well-being and Anxiety in Chronic Kidney Disease (CKD) patients undergoing Hemodialysis at RSUD dr. Adjidarmo Rangkasbitung. Method: This study uses a quantitative research type using a cross-sectional method conducted on 87 respondents in the Hemodialysis room of RSUD dr. Adjidarmo Rangkasbitung. Data were collected using the Spiritual Well-Being Scale (SWBS) and Hamilton Anxiety Rating Scale (HARS) questionnaires. Results: This study found a significant relationship between spiritual well-being and anxiety levels (p value 0.020 <0.05), with the results that the majority of respondents in hemodialysis patients did not experience anxiety, namely 59 (67.8%), while in high spiritual well being, namely 60 respondents (69%), indicating that the higher the spiritual well-being, the lower the level of anxiety. Conclusion: Spiritual well-being has an important role in reducing anxiety in CKD patients undergoing hemodialysis.Key words: CKD, Hemodialysis Anxiety,Psychological Well-being
PENERAPAN KOMPRES ICE PACK UNTUK MENURUNKAN NYERI PERINEUM PADA IBU POST PARTUM DI RUMAH SAKIT BAKTI TIMAH PANGKALPINANG Ardelia Amanah; Erni Chaerani; Syafrina Arbaani Djuria
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v5i1.25859

Abstract

Masa nifas (purperium) adalah masa pulih kembali mulai dari persalinan selesai hingga alat-alat kandungan kembali seperti prahamil. Luka jahitan pada perineum baik dengan episiotomy maupun ruptur perineum dapat menyebabkan nyeri. Salah satu terapi non farmakologi yang dapat dilakukan adalah terapi ice pack. Tujuan penelitian ini untuk menggambarkan studi kasus penerapan kompres ice pack untuk menurunkan nyeri perineum pada ibu post partum. Desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan case study research (studi kasus) dalam menerapkan asuhan keperawatan yang meliputi pengkajian, lembar observasi, lembar pengukuan skala nyeri, ice pack, waslap, dan standar operasional prosedur kompres ice pack. Jumlah partisipan dalam penelitian ini berjumlah 2 partisipan dimana pada partisipan 1 yakni ibu post partum dengan ruptur perineum dan patisipan 2 ibu post partum dengan tindakan episiotomy. Pengukuan skala nyeri setelah dilakukan penerapan kompres ice pack selama 3 hari berturut-turut menunjukkan adanya penurunan skala nyeri sebelum dan sesudah dilakukan kompres ice packpada partisipan 1 dari skala nyeri 4 (nyeri sedang) menjadi skala nyeri 2 (nyeri ringan) dan pada partisipan 2 dari skala nyeri 5 (nyeri sedang) menjadi skala nyeri 3 (nyeri ringan). Kesimpulan penelitian ini bahwa penerapan kompres ice pack dapat menurunkan intensitas nyeri pada ibu post partum dengan masalah nyeri pada perineum. Kata Kunci : Ice Pack, Perineum, Post Partum
PENERAPAN SENAM KAKI UNTUK MENURUNKAN KADAR GULA DARAH PADA PASIEN DIABETES MELITUS DENGAN MASALAH KETIDAKSTABILAN KADAR GLUKOSA DARAH DALAM KONTEKS KELUARGA Devi Devi; Erni Chaerani; Syafrina Arbaani Djuria
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 5, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v5i2.25861

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Melitus merupakan gangguan metabolik yang ditandai dengan kekurangan produksi insulin oleh pankreas akibat dari tidak efektifnya insulin yang dihasilkan sehingga dapat menyebabkan terjadinya ketidakstabilan kadar glukosa dalam darah. Salah satu pilar penatalaksanaan Diabetes Melitus adalah dengan melakukan latihan fisik yaitu senam kaki. Tujuan : Menggambarkan teknik senam kaki terhadap penurunan kadar gula darah pada pasien Diabetes Melitus dengan masalah ketidakstabilan kadar glukosa darah dalam konteks keluarga. Metode : Desain penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan case study research (Studi kasus) dalam menerapkan intervensi keperawatan berdasarkan bukti praktik dengan melibatkan 2 partisipan Diabetes Melitus, instrumen studi kasus menggunakan format pengkajian untuk melihat aspek-aspek yang akan di observasi, hasil glukometer lalu dicatat dalam lembar observasi sebelum dan sesudah melakukan penerapan senam kaki, lembar observasi, foster dan SOP senam kaki. Hasil : Pengukuran gula darah setelah dilakukan penerapan senam kaki selama 5 hari berturut-turut menunjukan adanya penurunan kadar gula darah sebelum dan sesudah dilakukan senam kaki pada partisipan 1 dari 230 mg/dl menjadi 123 mg/dl dan pada partisipan 2 dari 306 mg/dl menjadi 238 mg/dl. Kesimpulan : Penerapan senam kaki dapat menurunkan kadar gula darah pada pasien Diabetes Melitus dengan masalah ketidakstabilan kadar glukosa darah dalam konteks keluarga. Kata kunci : Diabetes Melitus, Keluarga, Senam kaki
FAKTOR DERTEMINAN PERAWAT DALAM INTERPRETASI ELEKTROKARDIOGRAM (EKG) PADA PASIEN DEWASA DI RSUD Dr. DRAJAT PRAWIRANEGARA Nasywa Budirianti; Nelly Hermala Dewi; Syafrina Arbaani Djuria
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 6, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v6i1.34668

Abstract

ABSTRAKLatar Belakang: Penyakit jantung merupakan salah satu penyakit mematikan didunia, Penyakit jantung juga sering disebut sebagai silent killer karena terjadi secara tiba-tiba. Meningkatnya akan kejadian kematian yang disebabkan oleh penyakit jantung dan untuk menunjang pengobatan dan mendeteksi dini peyakit jantung diperlukan pemeriksaan penunjang. Electrokardiogram (EKG) yang merupakan salahsatu alat atau teknologi pada pemeriksaan penunjang yang dapat ditemukan di pelayanan kesehatan untuk memeriksa dan membantu mendeteksi kelainan jantung. kemampuan menginterpretasikan EKG merupakan tuntutan profesi untuk seluruh perawat yang bekerja di ruangan yang berurusan langsung dengan perawatan pasien di pelayanan-pelayanan kesehatan. Tujuan: Untuk mengetahui faktor derteminan perawat dalam menginterpretasikan Elektrokardiografi (EKG) pada pasien kritis di Ruang ICU RSUD dr. Drajat Prawiranegara. Metode: Metode penelitian kuantitatif dengan sample yang digunakan yaitu Stratified Random Sampling menggunakan teknik pengumpulan data berupa kuesioner. Hasil: Sebagian besar perawat memiliki pemahaman interpretasi EKG yang baik (66,7 %), sedangkan sebagian kecil dari perawat (33,3 %) memiliki pemahaman interpretasi EKG yang kurang. Kesimpulan: tidak adanya hubungan antara usia, pendidikan, dan masa kerja dengan tingkat pengetahuan perawat dalam interpretasi EKG, sedangkan untuk karakteristik jenis kelamin dan pelatihan EKG disimpulkan bahwa adanya hubungan yang signifikan dengan tingkat pengetahuan perawat dalam interpretasi EKG.Kata kunci: Elektrokardiografi, Interpretasi EKG, Perawat. ABSTRACTBackground: Heart disease is one of the deadliest diseases in the world, Heart disease is also often referred to as a silent killer because it occurs suddenly. The increasing incidence of death caused by heart disease and to support treatment and early detection of heart disease, supporting examinations are needed. Electrocardiography (ECG) which is one of the tools or technologies in supporting examinations that can be found in health services to examine and help detect heart abnormalities. As professional nurses, the ability to interpret ECG is a professional requirement for all nurses who work in rooms that deal directly with patient care in health services. Objective: To determine the determinant factors of nurses in interpreting Electrocardiography (ECG) in critical patients in the ICU Room of Dr. Drajat Prawiranegara Hospital. Method: quantitative research method with the sample used is Stratified Random Sampling using data collection techniques in the form of questionnaires. Results: The majority of nurses demonstrated a good understanding of EKG interpretation (66.7%), while a smaller  proportion  (33.3%)  had  a  poor  understanding  of  EKG  interpretation. Conclusion: There is no significant relationship between age, education, and length of employment with the nurses' level of knowledge in EKG interpretation. However, gender and EKG training were found to have a significant relationship with the nurses' level of knowledge in EKG interpretation.Keywords: Electrocardiography, EKG Interpretation, Nurses.
PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI MENGGUNAKAN METODE SIMULASI TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN IBU DALAM MENANGANI KEJADIAN TERSEDAK BAYI Khofifah Indah Wulandari; Nelly Hermala Dewi; Syafrina Arbaani Djuria
Jawara : Jurnal Ilmiah Keperawatan Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62870/jik.v6i3.37084

Abstract

ABSTRAK Latar Belakang: Tersedak pada bayi merupakan kondisi gawat darurat yang dapat menyebabkan gangguan pernapasan hingga kematian jika tidak segera ditangani. Kurangnya pengetahuan ibu dalam penanganan tersedak menjadi faktor risiko utama. Tujuan: untuk mengetahui pengaruh edukasi menggunakan metode simulasi terhadap peningkatan kemampuan ibu dalam menangani kejadian tersedak pada bayi. Metode: Desain penelitian yang digunakan adalah quasi experiment dengan pendekatan pretest and posttest without control group. Sampel terdiri dari 38 ibu yang memiliki bayi, dipilih dengan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi keterampilan dalam simulasi penanganan tersedak. Analisis data dilakukan dengan uji Wilcoxon. Hasil: Penelitian menunjukkan adanya peningkatan kemampuan ibu secara signifikan setelah diberikan edukasi, dengan p-value sebesar 0,000 (p < 0,05). Sebelum intervensi, 86,8% responden berada pada kategori kurang, sedangkan setelah intervensi, 86,8% berada pada kategori baik. Penelitian ini menunjukkan bahwa metode simulasi efektif dalam meningkatkan keterampilan ibu dalam menangani kejadian tersedak pada bayi. Kesimpulan: Edukasi dengan metode simulasi dapat meningkatkan kemampuan ibu dalam menangani bayi tersedak secara signifikan. Kata kunci: Edukasi, Metode Simulasi, Tersedak Bayi