Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Edukasi Pencegahan Stunting dengan Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK) Noviani, Lusy; Febrinella, Catleya; Rachmawati, Putriana
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7080

Abstract

Stunting masih menjadi masalah di Indonesia. Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-60, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Jawa Barat menyelenggarakan penyuluhan daring mengenai pencegahan stunting dan penggunaan Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK) dengan mengadopsi konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang Obat dengan Baik dan Benar). Proses edukasi dievaluasi melalui kuisioner untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap pencegahan stunting dan penggunaan PKMK. Seluruh responden (100%) memahami bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi selama 1000 hari pertama kehidupan, dan 100% mengetahui bahwa anak stunting memiliki tubuh lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Namun, 36,4% responden masih keliru terkait penyebab utama stunting. Pemahaman terhadap PKMK hanya 64,5% bahwa produk tersebut memerlukan resep dokter. Sebanyak 98,4% memahami prinsip DAGUSIBU, tetapi 14,9% masih beranggapan bahwa PKMK kedaluwarsa dapat dikonsumsi bila tidak berubah warna atau bau. Hasil evaluasi menunjukan bahwa masyarakat memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep dasar stunting dan peran apoteker, namun masih terdapat miskonsepsi mengenai penyebab stunting dan regulasi penggunaan PKMK.
Penyuluhan Mengenai DAGUSIBU pada Ibu-ibu Rumah Tangga untuk Meningkatkan Pengetahuan mengenai Penggunaan dan Penanganan Obat di Rumah Suharyani, Ine; Firmansyah, Deni; Sulastri, Lela; Noviani, Lusy; Lestari, Trisna; Nabila, Seilefa Putri; Wahyu, Muhammad; Meilina, Meri
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Maret 2026
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v7i1.783

Abstract

Program DAGUSIBU dilakukan secara berkesinambungan untuk memberikan pemahaman terhadap ibu-ibu rumah tangga mengenai cara penggunaan dan penanganan obat di rumah, karena hasil riskesdas menunjukkan banyaknya rumah tangga yang menyinpan obat sisa resep maupun obat persediaan di rumah. Kegiatan penyuluhan dilakukan di Desa Sigong, dengan sasaran ibu-ibu rumah tangga. Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyampaian materi dan diskusi yang interaktif. Tingkat pengetahuan peserta sebelum dan setelah penyuluhan diukur melalui pre-test dan post-test. Pada hasil pre-test, peserta paling banyak menjawab salah pertanyaan mengenai beyond used date (BUD) dari tetes mata, tanggal pembuatan obat, serta cara membuang sisa obat baik sediaan padat maupun sirup antibiotik, sementara pada hasil post-test terlihat sehingga setengah pertanyaan dari kuesioner dijawab benar oleh semua peserta (100%), dan hanya 2 pertanyaan yang dijawab benar oleh 83,33% peserta. Secara kumulatif, peningkatan rata-rata jawaban benar meningkat dari 65% menjadi 90.83%. Selain dari aspek pengguna, perlu dilakukan pertimbangan bagi produsen untuk memberikan sign atau tulisan penting dalam Bahasa Indonesia, agar pengguna obat memahami tulisan dalam sediaan farmasi, terutama untuk suplemen atau vitamin yang umumnya dikonsumsi secara mandiri tanpa bantuan tenaga kesehatan.
Kepuasan Pasien pada Telefarmasi vs Farmasi Konvensional: Analisis SERVQUAL Noviani, Lusy; Notario, Dion; Aurina, Wanda
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Telepharmacy offers a promising solution to overcome the geographical limitations of traditional pharmacies. However, concerns regarding the quality of services delivered through telepharmacy highlight the need for a comprehensive evaluation of patient satisfaction. This study aimed to compare patient satisfaction between telepharmacy and conventional pharmacy services and to identify areas for improvement. A cross-sectional study was conducted in March and April 2024, involving a sample of 136 customers from the Atma Jaya Teaching Pharmacy in North Jakarta. Patient satisfaction was measured using a validated questionnaire, and key satisfaction dimensions were identified through Importance-Performance Analysis (IPA). The analysis revealed that both telepharmacy and conventional pharmacy services demonstrated strengths in the dimensions of Assurance and Responsiveness, which are critical to customer satisfaction (quadrant II : keep up the good work). Meanwhile, Reliability and Empathy were perceived as less important in both service models (quadrant III : low priority). The Tangible dimension, however, was identified as an area requiring improvement (quadrant I : concentrate here). These findings suggest that telepharmacy can provide patient satisfaction comparable to conventional pharmacies, particularly in the dimensions of Assurance and Responsiveness. However, the Tangible dimension remains a key area for improvement.