Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Edukasi Pencegahan Stunting dengan Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK) Noviani, Lusy; Febrinella, Catleya; Rachmawati, Putriana
Mitramas: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Mitramas, Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25170/mitramas.v4i1.7080

Abstract

Stunting masih menjadi masalah di Indonesia. Dalam rangka memperingati Hari Kesehatan Nasional ke-60, Ikatan Apoteker Indonesia (IAI) Jawa Barat menyelenggarakan penyuluhan daring mengenai pencegahan stunting dan penggunaan Pangan Olahan Keperluan Medis Khusus (PKMK) dengan mengadopsi konsep DAGUSIBU (Dapatkan, Gunakan, Simpan, dan Buang Obat dengan Baik dan Benar). Proses edukasi dievaluasi melalui kuisioner untuk mengukur tingkat pemahaman peserta terhadap pencegahan stunting dan penggunaan PKMK. Seluruh responden (100%) memahami bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi selama 1000 hari pertama kehidupan, dan 100% mengetahui bahwa anak stunting memiliki tubuh lebih pendek dibandingkan anak seusianya. Namun, 36,4% responden masih keliru terkait penyebab utama stunting. Pemahaman terhadap PKMK hanya 64,5% bahwa produk tersebut memerlukan resep dokter. Sebanyak 98,4% memahami prinsip DAGUSIBU, tetapi 14,9% masih beranggapan bahwa PKMK kedaluwarsa dapat dikonsumsi bila tidak berubah warna atau bau. Hasil evaluasi menunjukan bahwa masyarakat memiliki pemahaman yang baik mengenai konsep dasar stunting dan peran apoteker, namun masih terdapat miskonsepsi mengenai penyebab stunting dan regulasi penggunaan PKMK.
Penyuluhan Mengenai DAGUSIBU pada Ibu-ibu Rumah Tangga untuk Meningkatkan Pengetahuan mengenai Penggunaan dan Penanganan Obat di Rumah Suharyani, Ine; Firmansyah, Deni; Sulastri, Lela; Noviani, Lusy; Lestari, Trisna; Nabila, Seilefa Putri; Wahyu, Muhammad; Meilina, Meri
Amal Ilmiah: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 7 No. 1 (2026): Edisi Maret 2026
Publisher : FKIP Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/amalilmiah.v7i1.783

Abstract

Program DAGUSIBU dilakukan secara berkesinambungan untuk memberikan pemahaman terhadap ibu-ibu rumah tangga mengenai cara penggunaan dan penanganan obat di rumah, karena hasil riskesdas menunjukkan banyaknya rumah tangga yang menyinpan obat sisa resep maupun obat persediaan di rumah. Kegiatan penyuluhan dilakukan di Desa Sigong, dengan sasaran ibu-ibu rumah tangga. Kegiatan ini dilakukan dengan metode penyampaian materi dan diskusi yang interaktif. Tingkat pengetahuan peserta sebelum dan setelah penyuluhan diukur melalui pre-test dan post-test. Pada hasil pre-test, peserta paling banyak menjawab salah pertanyaan mengenai beyond used date (BUD) dari tetes mata, tanggal pembuatan obat, serta cara membuang sisa obat baik sediaan padat maupun sirup antibiotik, sementara pada hasil post-test terlihat sehingga setengah pertanyaan dari kuesioner dijawab benar oleh semua peserta (100%), dan hanya 2 pertanyaan yang dijawab benar oleh 83,33% peserta. Secara kumulatif, peningkatan rata-rata jawaban benar meningkat dari 65% menjadi 90.83%. Selain dari aspek pengguna, perlu dilakukan pertimbangan bagi produsen untuk memberikan sign atau tulisan penting dalam Bahasa Indonesia, agar pengguna obat memahami tulisan dalam sediaan farmasi, terutama untuk suplemen atau vitamin yang umumnya dikonsumsi secara mandiri tanpa bantuan tenaga kesehatan.
Kepuasan Pasien pada Telefarmasi vs Farmasi Konvensional: Analisis SERVQUAL Noviani, Lusy; Notario, Dion; Aurina, Wanda
JFIOnline | Print ISSN 1412-1107 | e-ISSN 2355-696X Vol 18 No 1 (2026): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Pengurus Pusat Ikatan Apoteker Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35617/jfionline.v18i1.572

Abstract

Telepharmacy offers a promising solution to overcome the geographical limitations of traditional pharmacies. However, concerns regarding the quality of services delivered through telepharmacy highlight the need for a comprehensive evaluation of patient satisfaction. This study aimed to compare patient satisfaction between telepharmacy and conventional pharmacy services and to identify areas for improvement. A cross-sectional study was conducted in March and April 2024, involving a sample of 136 customers from the Atma Jaya Teaching Pharmacy in North Jakarta. Patient satisfaction was measured using a validated questionnaire, and key satisfaction dimensions were identified through Importance-Performance Analysis (IPA). The analysis revealed that both telepharmacy and conventional pharmacy services demonstrated strengths in the dimensions of Assurance and Responsiveness, which are critical to customer satisfaction (quadrant II : keep up the good work). Meanwhile, Reliability and Empathy were perceived as less important in both service models (quadrant III : low priority). The Tangible dimension, however, was identified as an area requiring improvement (quadrant I : concentrate here). These findings suggest that telepharmacy can provide patient satisfaction comparable to conventional pharmacies, particularly in the dimensions of Assurance and Responsiveness. However, the Tangible dimension remains a key area for improvement.
Improving Cosmetic Safety Awareness Through an Educational Program and Hands-On Workshop on a Pomegranate-Based Peel-Off Mask for Adolescents Rachmawati, Putriana; Noviani, Lusy; Susanto, Sharon; Christian, Yulius Evan; Karjono, Madeleine Rose; Nataya, Sherly; Joseph, Hellery Yovanti; Noveria, Revista
Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement Vol. 7 No. 1 (2026): Amalee: Indonesian Journal of Community Research and Engagement
Publisher : LP2M INSURI Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37680/amalee.v7i1.9365

Abstract

Adolescents are increasingly exposed to cosmetic products and marketing claims, yet their awareness of cosmetic safety remains limited. Interactive educational approaches that combine theoretical knowledge with practical experience are still rarely implemented. This study aimed to evaluate the effectiveness of an interactive educational intervention in improving adolescents’ knowledge of cosmetic safety and the appropriate use of skincare ingredients. A quasi-experimental study with a one-group pretest–posttest design was conducted on December 3, 2025, involving n = 61 high school students. The intervention integrated BPOM-based education with a hands-on workshop on peel-off mask formulation. Knowledge was assessed using a 10-item questionnaire, which was pilot-tested for clarity and relevance. Data were analyzed using a paired t-test (p < 0.05). The mean knowledge score increased from 72.71±16.72 to 84.67±10.45, with a statistically significant difference (p = 0.002) and a large effect size (Cohen’s d = 1.36). The distribution of scores shifted toward higher categories, indicating improved understanding. Participants also reported high levels of satisfaction with the program. The intervention effectively improved adolescents’ knowledge of cosmetic safety. The novelty lies in integrating regulatory education with hands-on formulation activities as an interactive learning model. However, the absence of a control group and the single-setting design limit generalizability.
Evaluasi Pemberian Terapi pada Pasien Demam Berdarah Dengue di Rumah Sakit Umum Provinsi Bali Sanjaya, Dwi Arymbhi; Meriyani, Herleeyana; Juanita, Rr Asih; Siada, Nyoman Budiartha; Ambara Damayanti, Made Elvenia; Noviani, Lusy
JPSCR: Journal of Pharmaceutical Science and Clinical Research Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jpscr.v10i1.78958

Abstract

Sekitar 50-100 juta jiwa terjangkit demam berdarah dengue (DBD) setiap tahunnya dengan jumlah kematian mencapai 20.000 hingga 40.000 juta jiwa per tahun menurut World Health Organization (WHO). Provinsi Bali menduduki peringkat ke-3 dengan Incidence Rate (IR) DBD tertinggi pada tahun 2021 yaitu 59,8 per 100.000 penduduk. Penyakit DBD biasanya disertai dengan komplikasi dan penyakit penyerta yang dapat mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran perbaikan klinis yang diamati dari parameter hematologi (leukosit, hemoglobin, hematokrit, dan trombosit) pada pasien DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan pendekatan cross-sectional yang dilakukan di rumah sakit umum Provinsi Bali. Pengambilan data dilakukan secara retrospektif yaitu data yang diperoleh dari bulan Januari 2020 hingga Desember 2021. Lima puluh tiga sampel pada penelitian diambil menggunakan teknik total sampling. Efektivitas penatalaksanaan DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta pada hari pertama, hari ketiga, dan hari kelima dianalisis menggunakan uji Cochran dengan post-hoc McNemar. Pasien DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta pada penelitian ini sejumlah 53 orang dengan 66% laki-laki dan 34% perempuan dengan rata-rata lama rawat inap yaitu 6,0 hari. Ringer laktat dan parasetamol merupakan jenis terapi yang paling banyak digunakan dalam penatalaksanaan DBD. Penatalaksanaan pasien DBD dengan komplikasi dan penyakit penyerta di rumah sakit umum Provinsi Bali pada tahun 2020-2021 menunjukan peningkatan trombosit dan leukosit yang signifikan sejak hari ketiga hingga hari kelima (p<0,05).