Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Program Senam Anti Hipertensi sebagai Upaya Preventif pada Lansia di UPTD Pelayanan Sosial Lanjut Usia Binjai Tahun 2023 Adelina Sembiring; Lisbet Gurning; Rosmega Rosmega; Beltiana Beltiana; Erika Adelia Turnip
Jurnal Kemitraan Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2024): Juni: Jurnal Kemitraan Masyarakat
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/jkm.v1i2.403

Abstract

Introduction: Hypertension (HTN), defined as systolic blood pressure (SBP) >140 mmHg or diastolic blood pressure (DBP) >90 mmHg, is a major health problem that is growing worldwide. It is the most common risk factor for cardiovascular disease and affects nearly two-thirds of adults aged 60 years or older. The side effects caused by experiencing prolonged high blood pressure are kidney damage (kidney failure), heart (coronary heart disease) and brain which can lead to stroke if not detected early and receive adequate treatment. And can also cause death. Risk factors for complications of hypertension include elderly age, medication compliance, and lifestyle. Empowerment of the elderly can be through non-pharmacological therapy. An example of non-pharmacological therapy is by doing anti-hypertension exercises. The purpose of this program is for the elderly to be able to learn about hypertension and apply how to do anti-hypertension exercises. The method used is providing education to the elderly and applying anti-hypertension exercises with participants (elderly). Implementation of health education and anti-hypertension exercise activities for the elderly at the UPTD for Elderly Social Services in Binjai in November 2023. Most participants were able to answer questions during the question and answer session after the presentation of the material and participants were able to follow the instructor's exercise movement directions. Health education about hypertension and anti-hypertension exercise for the elderly is a program that can help increase physical activity in the elderly which can lower blood pressure in the elderly.
PENGARUH EDUKASI GIZI TERHADAP PENINGKATAN PENGETAHUAN IBU DALAM PENYUSUSNAN MENU BALITA DI WILAYAH PKM MEDAN DENAI TAHUN 2025 Indra Agussamad; Eko Murdianto; Mesrida Simarmata; Erika Erika; Tahan Tahan; Linda Mardianti Waruwu; Ribka Huta Julu
Ensiklopedia Research and Community Service Review Vol 5, No 2 (2026): Vol. 5 No. 2 Februari 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/err.v5i2.3763

Abstract

optimal development and preventing the risk of stunting. Mother's knowledge in compiling a toddler menu is a key factor in the practice of fulfilling children's daily nutrition.Objective: To determine the influence of nutrition education on increasing maternal knowledge in the preparation of the toddler menu in the Medan Denai PKM area.Methods: This study used a quasi-experimental design with pre-test and post-test approaches in the intervention and control groups. The sample consisted of 100 mothers who had toddlers aged 6–24 months and were selected through purposive sampling. The intervention group received nutrition education for 3 sessions over a four-week period. Data collection was carried out through knowledge questionnaires before and after the intervention. Data analysis used paired t-test, independent t-test, and ANCOVA. Results: There was a significant increase in knowledge scores in the intervention group (p0.001), while the control group showed a non-significant increase (mean p=0.08). Bivariate and multivariate analyses showed that nutrition education had a significant effect on improving maternal knowledge, regardless of education and family income (p0.001). Conclusion: Nutrition education has been proven to be effective in increasing mothers' knowledge about the preparation of the toddler menu. It is necessary to implement nutrition education routinely in the Puskesmas and Posyandu as a preventive and promotive effort in improving the nutritional status of toddlers. Keywords: Nutrition, Knowledge, Toddler Menu
IMPLEMENTASI PERAWATAN LUKA DIABETES MENGGUNAKAN ALOE VERA DAN MADU TERHADAP PROSES PENYEMBUHAN LUKA PADA PENDERITA DIABETES MELITUS DI DESA BANGUN REJO KECAMATAN TANJUNG MORAWA TAHUN 2025 Indra Agussamad; Eko Mudianto; Erika Erika; Lindra Lindra
Ensiklopedia Research and Community Service Review Vol 5, No 11 (2026): Vol. 5 No. 11 Agustus 2026
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/err.v5i11.3986

Abstract

Latar Belakang: Luka diabetik merupakan salah satu komplikasi kronis Diabetes Melitus yang memiliki risiko tinggi menyebabkan infeksi, amputasi, hingga kematian apabila tidak ditangani secara optimal. Perawatan luka modern saat ini mulai memanfaatkan bahan alami yang memiliki efek antiinflamasi, antibakteri, antioksidan, dan mampu mempercepat regenerasi jaringan, seperti Aloe vera dan madu. Kedua bahan tersebut mudah diperoleh, memiliki biaya yang relatif rendah, serta telah banyak digunakan sebagai terapi komplementer dalam penyembuhan luka kronis. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi perawatan luka menggunakan Aloe vera dan madu terhadap proses penyembuhan luka diabetik pada penderita Diabetes Melitus di Desa Bangun Rejo Kecamatan Tanjung Morawa Tahun 2025. Metode: Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan eksperimen sederhana menggunakan dua kelompok perlakuan. Sampel penelitian sebanyak 20 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling, terdiri atas 10 responden kelompok Aloe vera dan 10 responden kelompok madu. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi proses penyembuhan luka selama tujuh hari menggunakan lembar observasi. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Independent t-test dengan tingkat signifikansi α=0,05.Hasil: Mayoritas responden berusia ≥60 tahun (50%), berjenis kelamin laki-laki (60%), berpendidikan SD (45%), dan bekerja sebagai wiraswasta (40%). Pada kelompok Aloe vera, sebanyak 70% responden menunjukkan proses regenerasi luka dalam waktu kurang dari tiga hari, sedangkan pada kelompok madu sebesar 60%. Hasil uji Independent t-test menunjukkan nilai p=0,000 (0,05), yang menunjukkan terdapat perbedaan bermakna antara efektivitas Aloe vera dan madu terhadap proses penyembuhan luka diabetik. Kesimpulan: Implementasi perawatan luka menggunakan Aloe vera dan madu sama-sama memberikan manfaat dalam mempercepat penyembuhan luka diabetik. Analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan efektivitas antara kedua intervensi, sehingga keduanya dapat dipertimbangkan sebagai terapi komplementer dalam praktik keperawatan berbasis bukti.Kata Kunci: Aloe vera, madu, luka diabetik, diabetes melitus, penyembuhan luka
Manajemen Asuhan Keperawatan Keluarga Service Excellent Pada Ny. U dengan Diabetes Melitus Tipe Ii di Desa Bangun Rejo Tahun 2026 Kelsi Wati Pakpahan; Tahan Tahan; Siti Nurmawan Sinaga; Erika Erika; Misno Misno
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.61858

Abstract

Diabetes Melitus (DM) Tipe II merupakan penyakit kronis dengan prevalensi yang terus meningkat dan berpotensi menimbulkan komplikasi apabila tidak dikelola secara adekuat. Peran keluarga sebagai unit pelayanan primer menjadi kunci keberhasilan pengelolaan penyakit ini, sehingga pendekatan asuhan keperawatan keluarga yang berorientasi pada service excellent sangat diperlukan. Penelitian ini bertujuan menerapkan manajemen asuhan keperawatan keluarga yang service excellent pada Ny. U dengan Diabetes Melitus Tipe II di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tanjung Morawa, Kabupaten Deli Serdang, Provinsi Sumatera Utara Tahun 2026. Metode yang digunakan adalah studi kasus deskriptif dengan pendekatan proses keperawatan meliputi pengkajian, penetapan diagnosis, perencanaan, implementasi, evaluasi, dan dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan kunjungan rumah selama 13–23 Februari 2026. Hasil pengkajian menunjukkan Ny. U berusia 54 tahun mengeluhkan polidipsia, polifagia, poliuria terutama pada malam hari, kelelahan, dan kesemutan pada kedua kaki dengan kadar glukosa darah puasa 331 mg/dL. Diagnosis keperawatan yang ditegakkan meliputi ketidakstabilan kadar glukosa darah, defisit pengetahuan, dan manajemen kesehatan tidak efektif. Intervensi disusun berdasarkan SIKI dengan pendekatan lima tugas kesehatan keluarga meliputi edukasi kesehatan, pengaturan diet, aktivitas fisik, senam kaki diabetes, pemantauan glukosa darah, dan kepatuhan pengobatan. Evaluasi menunjukkan diagnosis defisit pengetahuan dan manajemen kesehatan tidak efektif teratasi, sedangkan ketidakstabilan kadar glukosa darah teratasi sebagian. Penerapan asuhan keperawatan keluarga berbasis service excellent terbukti meningkatkan pengetahuan, keterlibatan, dan kemandirian keluarga dalam pengelolaan Diabetes Melitus Tipe II.
Manajemen Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Berbasis Service Excellent pada Pasien Fraktur Tibia di Ruangan Tha'if RSU Haji Medan Erika Adelia Turnip; Eko Murdianto; Rolasnhi Lilista Simbolon; Tahan Tahan; Sahnijar Sahnijar
Jurnal Ners Vol. 10 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i4.61868

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Fraktur tibia merupakan cedera muskuloskeletal yang sering terjadi akibat trauma seperti kecelakaanlalu lintas dan dapat menimbulkan nyeri, gangguan fungsi fisik, keterbatasan mobilitas, serta risiko komplikasi apabilatidak ditangani secara optimal. Penanganan yang tepat melalui manajemen medis dan asuhan keperawatan diperlukanuntuk mendukung pemulihan pasien. Tujuan: Menggambarkan penerapan manajemen asuhan keperawatan medikalbedah berbasis service excellent pada pasien fraktur tibia di Ruang Tha'if RSU Haji Medan Tahun 2026. Metode: Studikasus dengan pendekatan deskriptif kualitatif pada satu pasien dengan diagnosis post ORIF open fracture tibia.Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dokumentasi medis, dan studi literatur,mencakup tahap pengkajian, penegakan diagnosis, perencanaan intervensi, pelaksanaan tindakan, dan evaluasi. Hasil:Pasien mengalami nyeri akut pasca operasi dengan skala nyeri 6, keterbatasan mobilitas fisik, dan hambatan aktivitassehari-hari. Intervensi meliputi manajemen nyeri, teknik relaksasi napas dalam, edukasi analgesik, latihan ROM,dukungan mobilisasi, dan pelibatan keluarga. Evaluasi menunjukkan peningkatan kondisi pasien dengan mobilisasibertahap dan penurunan keluhan nyeri. Kesimpulan: Penerapan asuhan keperawatan medikal bedah berbasis serviceexcellent dapat mengurangi nyeri, meningkatkan mobilitas, serta mendukung proses pemulihan pasien fraktur tibia.Kata Kunci: Fraktur Tibia; Asuhan Keperawatan; Nyeri Akut; Gangguan Mobilitas Fisik; Service Excellent.