Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Dinamika

Penggunaan Batu Pecah Lokal dalam Konstruksi Baiq Virgia Srihayati; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 01 (2025): Inovasi Material dan Struktur Adaptif untuk Infrastruktur Masa Depan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/15dx8h49

Abstract

Penggunaan batu pecah dalam konstruksi merupakan topik yang penting dalam bidang teknik sipil, karena batu pecah merupakan salah satu material utama dalam pembuatan beton dan perkerasan jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas dan kelayakan penggunaan batu pecah lokal dalam konstruksi, dengan fokus pada karakteristik fisik, mekanik, dan geologisnya. Metodologi penelitian melibatkan pengambilan sampel batu pecah dari berbagai lokasi penambangan, dilanjutkan dengan pengujian laboratorium untuk mengidentifikasi distribusi ukuran partikel, kekuatan tekan, ketahanan abrasi, komposisi mineralogi, dan reaktivitas alkali-silika. Hasil pengujian laboratorium menunjukkan variasi yang signifikan dalam sifat fisik dan mekanik batu pecah dari berbagai sumber lokal. Analisis gradasi agregat, kepadatan bulk, kekuatan tekan, ketahanan abrasi, komposisi mineralogi, dan reaktivitas alkali-silika memberikan pemahaman yang mendalam tentang kualitas material. Korelasi antara karakteristik geologi dan sifat mekanik dan fisik batu pecah menyoroti pentingnya mempertimbangkan aspek geologi dalam pemilihan material konstruksi. Evaluasi kelayakan batu pecah lokal menghasilkan rekomendasi penggunaan berdasarkan standar kualitas dan karakteristik geologi. Batu pecah dari sumber yang memenuhi standar direkomendasikan untuk digunakan dalam aplikasi konstruksi, sementara yang tidak memenuhi standar memerlukan perhatian lebih lanjut. Panduan praktis yang disusun memberikan pedoman yang berguna bagi praktisi konstruksi dalam pemilihan dan penggunaan batu pecah lokal, memastikan bahwa material yang dipilih sesuai dengan kondisi geologi setempat dan memenuhi persyaratan teknis yang diperlukan. Validasi lapangan memperkuat hasil penelitian dengan menunjukkan bahwa batu pecah yang memenuhi standar laboratorium juga menunjukkan performa yang baik di lapangan. Observasi dan umpan balik dari proyek konstruksi nyata memberikan pemahaman tambahan tentang kinerja material dalam situasi praktis. Berdasarkan hasil validasi lapangan, panduan pemilihan dan penggunaan batu pecah diperbarui untuk meningkatkan relevansi dan efektivitasnya dalam aplikasi lapangan. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi yang signifikan dalam pemahaman tentang penggunaan batu pecah lokal dalam konstruksi dan mendukung pembangunan infrastruktur yang berkualitas dan berkelanjutan.
Penggunaan Pasir dalam Material Komposit menjadi Solusi Berkelanjutan untuk Industri Konstruksi Lalu Ibrohim Burhan; Nadia Adawi Hidayatunnisa
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 01 (2025): Inovasi Material dan Struktur Adaptif untuk Infrastruktur Masa Depan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/8gr89j07

Abstract

Pasir, sebagai salah satu bahan konstruksi yang paling melimpah di dunia, telah lama menjadi fondasi penting dalam pembangunan infrastruktur global. Namun, penggunaannya yang tidak terkendali dan tidak berkelanjutan telah menimbulkan kekhawatiran akan dampak lingkungan dan ketersediaan pasir yang semakin berkurang. Dalam konteks ini, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi potensi penggunaan pasir dalam material komposit sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan untuk industri konstruksi. Melalui pendekatan eksperimental dan analisis data yang komprehensif, penelitian ini mengevaluasi sifat mekanis, termal, dan keberlanjutan dari komposit pasir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposit pasir menawarkan berbagai keunggulan yang signifikan. Komposit ini tidak hanya menampilkan kekuatan mekanis yang memadai untuk aplikasi struktural, tetapi juga memiliki kemampuan isolasi termal yang baik, yang penting untuk efisiensi energi dalam bangunan. Selain itu, analisis keberlanjutan menunjukkan bahwa penggunaan komposit pasir dapat mengurangi dampak lingkungan secara signifikan, termasuk pengurangan emisi karbon dan penggunaan sumber daya alam yang lebih sedikit. Namun, tantangan seperti variasi dalam komposisi pasir dari berbagai sumber dan standarisasi proses produksi perlu diatasi untuk memastikan kualitas dan konsistensi komposit yang dihasilkan. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa pasir memiliki potensi besar sebagai bahan dalam material komposit untuk industri konstruksi yang lebih berkelanjutan. Namun, untuk mewujudkan potensi ini, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat untuk mengembangkan standar yang jelas, meningkatkan kesadaran dan pemahaman, serta menciptakan lingkungan kebijakan yang mendukung. Dengan demikian, dapat diharapkan bahwa implementasi konsep ini dapat mempercepat perubahan menuju industri konstruksi yang lebih hijau dan berkelanjutan di masa depan
Analisis Bishop terkalibrasi lapangan terhadap kestabilan lereng akibat hujan di Lombok Timur Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): Inovasi Material dan Struktur Adaptif untuk Infrastruktur Masa Depan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.cbjvek19

Abstract

Kejadian longsor di lereng tropis menimbulkan tantangan besar karena infiltrasi hujan yang cepat menyebabkan kejenuhan transien dan penurunan tegangan efektif, sementara studi sebelumnya jarang menggabungkan pengukuran tekanan pori lapangan dengan pemodelan kestabilan terkalibrasi; akibatnya, pilihan mitigasi teknis kurang berbasis bukti kuantitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kestabilan lereng di daerah longsor Lombok Timur menggunakan metode Bishop (SLOPE/W, GeoStudio) yang dikalibrasi dengan data lapangan dan untuk membandingkan efektivitas serta implikasi biaya antara perkuatan geotekstil dan sistem drainase. Studi dilakukan pada tiga profil representatif di Lombok Timur; data lapangan, sampel tanah laboratorium, pembacaan piezometer, serta data curah hujan historis dikumpulkan; simulasi infiltrasi transien (SEEP/W) dan analisis kestabilan (SLOPE/W - Bishop) kemudian dijalankan dan dikalibrasi terhadap pengukuran piezometer. Hasil menunjukkan bahwa tekanan pori mencapai 60–80% dari kondisi jenuh pada skenario hujan 100-tahun dan FoS menurun dari 1.42 (kering) menjadi 1.12 (jenuh transien); drainase sub-permukaan meningkatkan FoS menjadi ≈ 1.35 dengan estimasi biaya ≈ Rp 280.000/m², sedangkan geotekstil meningkatkan FoS menjadi ≈ 1.31 dengan biaya ≈ Rp 420.000/m². Kesimpulannya, mitigasi yang menurunkan tekanan pori prioritas untuk konteks Lombok Timur dan rekomendasi teknis harus memasukkan kalibrasi lapangan–numerik; studi ini menyediakan kerangka metodologis replikasi yang mengintegrasikan teori tegangan efektif, aliran seepage, dan Limit Equilibrium untuk kebijakan mitigasi berbasis bukti. Landslides on tropical slopes pose substantial challenges because rapid rainfall infiltration induces transient saturation and a consequent reduction in effective stress. However, previous studies have rarely combined field-measured pore-pressure data with calibrated stability modeling; as a result, technical mitigation choices have often lacked a firm quantitative basis. This study aimed to assess slope stability in East Lombok landslide areas using the Bishop method (SLOPE/W, GeoStudio) calibrated with field data, and to compare the effectiveness and cost implications of geotextile reinforcement versus drainage systems. The investigation was conducted on three representative profiles in East Lombok, where field surveys, laboratory soil testing, piezometer monitoring, and historical rainfall records were collected. Transient infiltration was simulated using SEEP/W, and slope stability was evaluated using SLOPE/W (Bishop), with model outputs calibrated against piezometer measurements. Results showed pore pressures reaching 60–80% of full saturation under a 100-year rainfall scenario and a reduction in factor of safety (FoS) from 1.42 (dry) to 1.12 (transient saturation); subsurface drainage increased FoS to ≈1.35 with an estimated cost of ≈Rp 280,000/m², whereas geotextile reinforcement raised FoS to ≈1.31 at ≈Rp 420,000/m². Consequently, interventions that reduce pore pressure should be prioritized in the East Lombok context, and technical recommendations should incorporate field–numerical calibration. This study provides a replicable methodological framework that integrates practical stress theory, seepage flow, and Limit Equilibrium to support evidence-based mitigation policy.
Kinerja dan Kerentanan Drainase Permukiman Kota Mataram pada Skenario RCP: Pendekatan SWMM–GIS Baiq Virgia Srihayati; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): Inovasi Material dan Struktur Adaptif untuk Infrastruktur Masa Depan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.tf8ja323

Abstract

Perubahan iklim yang meningkatkan intensitas dan variabilitas curah hujan menimbulkan tantangan serius bagi kapasitas drainase perkotaan; studi terdahulu jarang mengaitkan kapasitas saluran eksisting dengan proyeksi iklim berbasis skenario RCP sehingga prediksi kinerja jangka panjang masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi (to assess) kapasitas sistem drainase permukiman eksisting di Kota Mataram terhadap curah hujan aktual dan proyeksi iklim (RCP4.5, RCP8.5). Studi dilakukan di tiga kecamatan rentan (Ampenan, Cakranegara, Selaparang); data historis (2000–2020) dan proyeksi CMIP6 dikumpulkan dan didownscale, survei 120 segmen saluran dilakukan, serta pemodelan hidrologi–hidraulika dilakukan menggunakan SWMM dan analisis spasial di ArcGIS. Simulasi memperlihatkan intensitas puncak 1-jam median 42 mm·jam⁻¹ (10-tahun) dengan kenaikan ≈+12% (RCP4.5, 2030s) dan ≈+28% (RCP8.5, 2050s), yang mendorong Q_runoff naik ≈+14% (RCP4.5) dan ≈+33% (RCP8.5). Kapasitas median saluran Q_saluran = 1.12 m³·s⁻¹, exceedance segmen meningkat dari 24% (historis) menjadi 48% (RCP4.5) dan 72% (RCP8.5); kedalaman genangan median naik 0.18 → 0.38–0.62 m, luas terdampak 3.6% → 7.9–14.2%, dan durasi median 6 → 12–28 jam. Model divalidasi (NSE kedalaman 0.68; NSE debit 0.75; R² = 0.73; RMSE = 0.14 m). Penelitian ini shows that integrating downscaled RCP scenarios with SWMM–GIS provides robust, quantitative evidence for revising design standards, prioritizing retrofit (35–65% segmen) dan nature-based solutions (reduksi puncak 12–22%), serta memperkuat kerangka teoretis Hydrologic Continuity, Open-Channel Hydraulics, dan Resilience untuk perencanaan adaptif drainase perkotaan. Climate change–driven increases in rainfall intensity and variability pose critical risks to urban drainage capacity; prior studies seldom link existing channel capacity with downscaled RCP projections, limiting long-term performance forecasts. This study aimed to assess the capacity of existing residential drainage systems in Mataram (Indonesia) against observed and projected rainfall (RCP4.5, RCP8.5). The analysis was conducted in three high-risk districts (Ampenan, Cakranegara, Selaparang); historical (2000–2020) and CMIP6 projection data were downscaled, 120 channel segments were surveyed, and hydrologic–hydraulic modelling was performed using SWMM with GIS spatial analysis. Simulations showed a 1-hour design median intensity of 42 mm·h⁻¹ (10-yr) and projected increases of ≈+12% (RCP4.5, 2030s) and ≈+28% (RCP8.5, 2050s), yielding Q_runoff rises of ≈+14% and ≈+33% respectively. Median channel capacity Q_saluran = 1.12 m³·s⁻¹; segment exceedance rose from 24% (historical) to 48% (RCP4.5) and 72% (RCP8.5); median ponding depth increased 0.18 → 0.38–0.62 m, affected area 3.6% → 7.9–14.2%, and median duration 6 → 12–28 h. Model validation produced NSE(depth)=0.68, NSE(peak)=0.75, R²=0.73, RMSE=0.14 m. The study concludes that integrating downscaled RCP scenarios with SWMM–GIS yields actionable, quantitative evidence for updating design return periods, prioritizing phased retrofits and nature-based measures (peak reduction 12–22%), and advances theoretical understanding by operationalizing Hydrologic Continuity, Open-Channel Hydraulics and Resilience Theory for climate-adaptive urban drainage planning.
Evaluasi Empiris dan Pemodelan Prediktif Durabilitas Warm Mix Asphalt terhadap Siklus Beku - Cair pada Iklim Dataran Tinggi Hidayatul Amri; Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 1 No. 2 (2025): Inovasi Material dan Struktur Adaptif untuk Infrastruktur Masa Depan
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.yt6yw443

Abstract

Isu durabilitas perkerasan jalan pada kondisi iklim ekstrem menjadi krusial seiring meningkatnya frekuensi siklus beku–cair di dataran tinggi, sementara bukti empirik mengenai respons Warm Mix Asphalt (WMA) terhadap fenomena tersebut masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi secara kuantitatif pengaruh siklus beku–cair terhadap durabilitas WMA dan membandingkannya dengan Hot Mix Asphalt (HMA). Studi ini dilaksanakan dengan pendekatan eksperimen laboratorium yang divalidasi data lapangan pada 1–2 lokasi dataran tinggi; sampel lab (n=40; WMA=20, HMA=20) dan core lapangan (n=24) were prepared and tested for physical and mechanical properties (VTM/VMA, ITS, Marshall, dynamic modulus, rutting, fatigue), and predictive models were developed using regression and Random Forest. Hasil menunjukkan bahwa setelah 50 siklus WMA mengalami peningkatan porositas +12.0% (CI95%: 9.1–14.9%) dan VTM +34% (3.8→5.1%), sedangkan HMA masing-masing +6.0% dan +20%; ITS WMA turun 28.0% (600→432 kPa) versus HMA 18.0% (640→525 kPa) (mixed-ANOVA: siklus F(3,32)=45.6, p<0.001; interaksi p=0.009). Laju degradasi ITS per 10 siklus adalah β=−0.056 (WMA) dan β=−0.036 (HMA); median cycles-to-failure 42 (WMA) vs 58 (HMA). Model Random Forest mencapai R²validasi=0.81. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa paparan freeze–thaw secara kuantitatif mempercepat penurunan kinerja WMA dibanding HMA; implikasinya adalah perlunya penyesuaian desain mix, inspeksi lebih sering, dan kalibrasi faktor lingkungan dalam kerangka Mechanistic-Empirical untuk perencanaan perkerasan di dataran tinggi. The durability of pavement materials under extreme climatic exposure is a pressing concern; however, empirical evidence on Warm Mix Asphalt (WMA) performance under freeze–thaw cycles in highland environments is scarce. This study aims to assess quantitatively the influence of freeze–thaw cycles on WMA durability and to compare its performance with Hot Mix Asphalt (HMA). A laboratory experiment with field validation was conducted at 1–2 highland sites; laboratory samples (n=40; WMA=20, HMA=20) and field cores (n=24) were tested for physical and mechanical indicators (VTM/VMA, ITS, Marshall stability, dynamic modulus, rutting, fatigue), and predictive models (regression and Random Forest) were developed. Results showed that after 50 cycles WMA exhibited a mean porosity increase of +12.0% (95% CI: 9.1–14.9%) and VTM rise of +34% (3.8→5.1%), while HMA increased +6.0% and +20% respectively; ITS decreased 28.0% for WMA (600→432 kPa) versus 18.0% for HMA (640→525 kPa) (mixed-ANOVA: cycles F(3,32)=45.6, p<0.001; interaction p=0.009). Degradation rates per 10 cycles were β=−0.056 (WMA) and β=−0.036 (HMA); median cycles-to-failure were 42 (WMA) and 58 (HMA). The Random Forest model achieved an R² validation of 0.81. These findings indicate that freeze–thaw exposure substantially accelerates WMA degradation relative to HMA. The implications include the need for mix design adjustments, more frequent inspection regimes, and the incorporation of empirically calibrated environmental damage factors into Mechanistic-Empirical pavement design frameworks.
Evaluasi Kinerja Seismik Struktur Gedung Rumah Sakit Ibu dan Anak Permata Hati Mataram Menggunakan Metode Pushover dan Respon Spektrum Berdasarkan ATC-40 IMAYATUL RA; Lalu Ibrohim Burhan; Ikroman Alhamzani
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): Ketahanan Infrastruktur terhadap Perubahan Iklim dan Bencana Alam
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.cjemwt28

Abstract

Indonesia memiliki potensi gempa bumi yang tinggi karena berada di dekat pertemuan tiga lempeng tektonik aktif. Pulau Lombok adalah salah satu tempat dengan tingkat kerawanan yang tinggi. Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Permata Hati Mataram adalah fasilitas kesehatan penting disana. Dengan kondisi ini, diperlukan evaluasi kinerja seismik untuk mengevaluasi kemampuan struktur dalam menahan beban gempa. Penelitian ini bertujuan untuk menilai kinerja seismik struktur bangunan pengembangan RSIA Permata Hati Mataram dengan menggunakan dua pendekatan analisis, yaitu metode respon spektrum (analisis dinamik linier) dan metode pushover (analisis statik nonlinier), yang berpedoman pada ATC-40. Pemodelan struktur dilakukan dengan bantuan perangkat lunak SAP2000, dengan fokus pada analisis parameter gaya geser dasar (base shear), simpangan (displacement), serta pola distribusi sendi plastis. Hasil analisis metode respon spektrum menunjukkan perilaku elastis dengan simpangan maksimum sebesar 41,05 mm pada arah X dan 75,45 mm pada arah Y, serta tingkat kinerja Immediate Occupancy (IO). Sementara itu, metode pushover menunjukkan perilaku nonlinier dengan simpangan maksimum 90,50 mm pada arah X dan 103 mm pada arah Y, serta tingkat kinerja antara IO hingga Damage Control (DC). Berdasarkan hasil tersebut, struktur RSIA Permata Hati Mataram dinyatakan aman terhadap beban gempa sesuai kriteria ATC-40.  
Kerangka Rapid Visual Screening Berbasis Indeks Risiko untuk Penilaian Sistematis Kerentanan Seismik Bangunan Publik Lalu Ibrohim Burhan
DINAMIKA: Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan Vol. 2 No. 1 (2026): Ketahanan Infrastruktur terhadap Perubahan Iklim dan Bencana Alam
Publisher : PT LIB Research Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63982/dinamika.07p52q89

Abstract

Bangunan publik merupakan elemen infrastruktur vital yang berperan penting dalam keberlangsungan layanan esensial saat dan setelah bencana gempa bumi, khususnya di wilayah berkembang dengan tingkat seismisitas tinggi. Namun demikian, banyak bangunan publik belum dievaluasi secara sistematis menggunakan pendekatan kuantitatif berbasis indeks risiko, sehingga prioritisasi mitigasi dan penguatan struktur sering kali tidak berbasis bukti yang terukur. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya kerangka penilaian kerentanan seismik yang efisien, konsisten, dan aplikatif pada skala bangunan individual. Penelitian ini bertujuan menilai tingkat kerentanan seismik bangunan publik terhadap bencana gempa bumi secara kuantitatif. Penelitian ini dilakukan pada sejumlah bangunan publik di wilayah rawan gempa menggunakan data primer hasil survei lapangan. Pendekatan Rapid Visual Screening (RVS) diterapkan untuk mengumpulkan parameter struktural utama, yang selanjutnya diintegrasikan dengan metode risk index scoring untuk menghitung indeks kerentanan seismik. Analisis kuantitatif dilakukan terhadap klasifikasi risiko, perbandingan parameter struktural, serta uji konsistensi dan sensitivitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 68% bangunan publik berada pada kategori risiko sedang hingga tinggi, dengan skor kerentanan rata-rata sebesar 0,74, dan bangunan berusia lebih dari 30 tahun memiliki tingkat risiko yang secara signifikan lebih tinggi. Temuan ini menegaskan bahwa integrasi RVS dan indeks risiko mampu menyediakan penilaian kerentanan yang stabil dan terukur. Secara keseluruhan, penelitian ini memberikan kontribusi metodologis dan empiris terhadap pengembangan penilaian risiko seismik serta mendukung pengambilan keputusan berbasis risiko dalam upaya peningkatan ketahanan infrastruktur publik Abstract Public buildings constitute critical infrastructure that ensures the continuity of essential services during and after earthquake events, particularly in developing regions characterized by high seismicity. Nevertheless, many public buildings have not been systematically evaluated using quantitative risk-based approaches, resulting in mitigation and retrofit decisions that are often insufficiently evidence-based. This gap highlights the need for an efficient, consistent, and building-level seismic vulnerability assessment framework. This study aims to quantitatively assess the seismic vulnerability of public buildings exposed to earthquake hazards. The research was conducted on a set of public buildings located in a seismically active area using primary data collected through field surveys. Rapid Visual Screening (RVS) was applied to document key structural parameters, which were subsequently integrated with a standardized risk index scoring approach to compute seismic vulnerability indices. Quantitative analyses were performed to classify risk levels, compare structural parameters, and evaluate consistency and sensitivity of the assessment results. The findings indicate that 68% of the assessed public buildings fall within moderate-to-high seismic risk categories, with an average vulnerability score of 0.74, while buildings older than 30 years exhibit substantially higher risk levels. These results demonstrate that the integrated RVS–risk index approach provides a stable and measurable representation of seismic vulnerability. Overall, this study contributes methodologically and empirically to seismic risk assessment practices and supports risk-informed decision-making for enhancing the resilience of public building infrastructure.