Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

KAJIAN PERESEPAN OBAT ANTIBIOTIKA PADA PASIEN DEWASA RAWAT JALAN DI KLINIK KIMIA FARMA ADI SUCIPTO YOGYKARTA Purwanti, IIn; Estiningsih, Daru; Wulandari, Ari Susiana; Indrayana, Sofyan
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 4, No 1 (2020)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1314.424 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v4i1.1819

Abstract

Golongan antibiotik merupakan obat yang paling banyak dikonsumsi di dunia terkait dengan besarnya angka kejadian infeksi bakteri. Penggunaan antibiotik yang salah atau tidak rasional dapat menimbulkan dampak negatif yang menyebabkan resiko terjadinya resistensi atau kekebalan kuman terhadap satu atau beberapa antibiotik. Ketidaktepatan dalam peresepan antibiotik kemungkinan terjadi tidak hanya di rumah sakit dan di puskesmas, namun juga di pusat-pusat pelayanan kesehatan lain seperti poliklinik. Rasionalitas penggunaan antibiotika salah satu faktor penunjangnya adalah ketepatan dalam peresepan antibiotik, yaitu tepat indikasi, tepat dosis, tepat frekuensi penggunaan dan durasi penggunaan. Penelitian ini bertujuan mengkaji pola peresepan obat antibiotik untuk mengatahui profil penggunaan antibiotik dan rasionalitas penggunaan antibiotik berdasarkan 4T (tepat indikasi, tepat dosis, tepat frekuensi dan tepat durasi penggunaan) pada pasien dewasa rawat jalan di Klinik Kimia Farma Adi Sucipto Yogyakarta. Penelitian ini dilakukan dengan analisa deskriptif yang bersifat retrospektif. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik nonprobability sampling dengan cara purposive sampling. Data yang diambil periode November-Desember 2019 diperoleh populasi sebanyak 1194 resep pasien dan dijadikan sebagai sampel sebanyak 66 resep pasien yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian menunjukkan peresepan antibiotik terbanyak adalah jenis antibiotik amoksisilin sebanyak 23 (34,3%), jenis penyakit terbanyak adalah ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Akut) 31 (47,9%), jenis antibiotik berdasarkan jumlah antibiotik adalah resep tunggal 65 (98,5%). Berdasarkan kerasionalan antibiotik sebanyak 58 (86,6%) tepat indikasi, tepat dosis 64 (95,5%), tepat frekuensi 61 (91,0%) dan tepat durasi 56 (83,6%). Dari hasil penelitian ratarata peresepan antibiotik sudah sesuai dengan pedoman pengobatan baik dari ketepatan indikasi, ketepatan dosis, tepatan frekuensi dan durasi penggunaan.
Hubungan Pengetahuan terhadap Tingkat Kepatuhan Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Binangun Cilacap Mellyana, Vena; Nurinda, Eva; Fauzi, Rizal; Indrayana, Sofyan
INPHARNMED Journal (Indonesian Pharmacy and Natural Medicine Journal) Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (264.027 KB) | DOI: 10.21927/inpharnmed.v5i2.1884

Abstract

Tuberkulosis merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberkulosis. Tingkat keberhasilan pengobatan tuberkulosis sangat tergantung dari tingkat kepatuhan pasien. Pengetahuan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan seseorang dalam menjalani tahap pengobatan. Pengetahuan pasien tentang penyebab, tanda dan gejala, penularan, pencegahan cara konsumsi dan lamanya pengobatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan pengetahuan terhadap tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Binangun Cilacap. Jenis penelitian bersifat kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel penelitian ini yaitu purposive sampling dengan populasi penelitian yaitu pasien yang sedang menjalani pengobatan tuberkulosis paru di Puskesmas Binangun Cilacap. Jumlah sampel penelitian sebanyak 32 respoden. Hasil penelitian menunjukan bahwa responden dengan tingkat kepatuhan tinggi sebanyak 29 orang (90,6%). Responden dengan tingkat kepatuhan sedang sebanyak 3 orang (9,4%). Responden dengan pengetahuan dan tingkat kepatuhan tinggi sebanyak 19 orang (59,4%) dan responden dengan pengetahuan sedang dan tingkat kepatuhan tinggi sebanyak 10 orang (31,3%) sedangkan respoden dengan pengetahuan dan tingkat kepatuhan sedang sebanyak 3 orang (9,4%). Kesimpulan penelitian berdasarkan uji Spearman Rho diperoleh p-value 0,028 < α (0,05) dan τ 0,389 sehingga dapat diketahui bahwa terdapat hubungan lemah antara pengetahuan dengan tingkat kepatuhan pasien tuberkulosis paru di Puskesmas Binangun Cilacap yang bersifat positif.
Analisis Efektivitas Biaya Pengobatan DM Nefropati di RSUD Panembahan Senopati Bantul Sumiyati, Putri; Nurinda, Eva; Indrayana, Sofyan; Dwinta, Eliza
Indonesian Journal of Hospital Administration Vol 8, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Alma Ata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijhaa.2025.8(1).54-64

Abstract

Diabetes mellitus is a group of metabolic diseases characterized by increased blood glucose. Diabetes mellitus can cause various chronic complications, one of which is diabetic nephropathy. The number of uses of treatment will cause differences in the effectiveness and cost of therapy.This study determined the cost effectiveness of nephropathy DM treatment in the Inpatient Ward of Panembahan Senopati Hospital, Bantul. This study was an analytic observational study with retrospective. Data collectional by looking at medical record and administrative data. As many as 63 respondent were inclusion criteria. The data obtained were analyzed using Microsoft Excel. Treatment effectiveness was measured based on patients who achieved ≤200 mg/dL Current Blood Sugar (GDS), while cost effectiveness was measured based on ACER and ICER values. The results showed that the effectiveness of drug B (non-insulin) was 88%, while drug A (insulin) was 85%. The average total cost of anti-diabetic drug B (non- insulin) is Rp. 839,563, and drug A (insulin) Rp. 1,163,473. drug group B (non- insulin) is more cost effective with an ACER value of Rp. 954,048, compared to drug A (insulin) of 1,368,791, in nephropathy DM patients at Panembahan Senopati Hospital, Bantul. The conclusion of this study shows that drug therapy group B (non- insulin) can be used as a cheaper and more effective treatment option for nephropathy DM patients
Sosialisasi Mengenai Anemia dan Pemberian Tablet Tambah Darah Bagi Remaja Perempuan dalam Upaya Pencegahan Stunting di Desa Tembelang, Candimulyo, Magelang Wulandari, Agnum Ika; Ardi, Syifa Atikah; Tatuhey, Fatma Aidha; Musonah, Ngidoti; Rizki, Vita Aulia; Sariperkasi, Liansya Ayu; Indrayana, Sofyan; Wijaya, Dhina Puspasari
Bangun Desa: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Alma Ata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (800.437 KB) | DOI: 10.21927/jbd.2022.1(2).55-59

Abstract

AbstrakAnemia atau kurangnya zat besi merupakan satu masalah gizi yang tidak kunjung teratasi di beberapa wilayah di Indonesia. Remaja perempuan sebagai calon Ibu perlu mendapat perhatian sebagai upaya pencegahan anemia yang merupakan faktor terjadinya stunting pada generasi yang akan dating. Sosialisasi dan tablet tambah darah penting dilakukan untuk mencegah kekurangan zat besi (Fe). Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu sosialisasi melalui ceramah dengan mengerjakan soal pre-test dan post-test sebagai tolak ukur ilmu remaja perempuan terkait anemia. Tablet Tambah Darah (TTD) diberikan kepada setiap peserta yang hadir dalam sosialisasi ini. Hasil yang diperoleh dari 16 peserta kegiatan, yaitu 4 orang tidak mengalami perubahan skor nilai, 12 orang mengalami peningkatan skor penilaian yang dapat dilihat melalui hasil pre-test dan post-test. Hasil ini menunjukkan secara umum ada peningkatan pemahaman terhadap anemia setelah diberikan Pendidikan Kesehatan. Diharapkan kegiatan ini dapat diteruskan oleh kader kesehatan dan peserta mampu mengaplikasikan ilmu yang didapat dalam kehidupan sehari-hari.Kata kunci : Anemia, Stunting, Tablet Tambah Darah, Remaja, Defisiensi besiAbstractIron Deficiency Anemia is one of health problem that no been resolved yet in some Region in Indonesia. Adolescent female as prospective mothers need attention as an effort to prevent anemia which is a factor in the occurrence of stunting in future generations. Hence health educations related to anemia and giving blood supplement tablets are important to prevent iron deficiency. The method used in this activity was socialization through lectures by working on pre-test and post-test questions as a benchmark for knowledge of young women related to anemia. Blood supplement tablets were given to those who participated in the socialization. The results the pre-test and post-test obtained from 16 participants were 4 people (25%) did not experience a change in score, meanwhile 12 (75%) participants experienced an increase in assessment scores. Generally, the results showed an increased understanding of anemia after health education. Hopefully, this activity could be continuous by Health Cadres, and the participants able to apply the knowledge in daily life.Keywords : Anemia, Stunting, Blood supplement tablets, Adolescent female, Iron deficiency
Pengaruh storytelling terhadap tingkat kesepian lansia yang tinggal sendirian di wilayah kerja puskesmas sewon 1 Resmonicasari, Kusryan; Indrayana, Sofyan; Putri, Tengku Isni Yuli Lestari; Mulyanti, Mulyanti
Borobudur Nursing Review Vol 3 No 1 (2023): Borobudur Nursing Review Vol 3 No 1 (January-June 2023)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/bnur.5358

Abstract

Abstract Background: The increasing prevalence of the elderly makes Indonesia transition towards an aging population. Changes experienced by the elderly cause psychological or emotional problems, such as loneliness. It is estimated that 50 percent of the elderly are experiencing loneliness, including those who live alone. Loneliness is a feeling of being alienated, unloved, feeling different and separate from the surrounding environment. Loneliness can be combated with social interactions, such as storytelling. Aim: This study aimed to determine the effect of storytelling on the level of loneliness of the elderly who live alone. Methods: This research was a pre-experimental quantitative research with a one group pretest-posttest design and used a sampling technique, namely total sampling. The number of samples were 31 respondents. The research instrument used was The UCLA Loneliness Scale questionnaire which has been tested for validity and reliability. The researcher used Paired T-Test data analysis. Result: The storytelling method has a statistically significant effect (p = 0.000) on the loneliness level of the elderly who live alone in the working area of Puskesmas 1 Sewon. Conclusion: There was an effect of the storytelling method on the level of loneliness of the elderly who live alone in the working area of Puskesmas 1 Sewon. Abstrak Latar Belakang: Prevalensi lansia yang semakin meningkat membuat Indonesia bertransisi ke arah penuaan penduduk. Perubahan yang dialami oleh lansia menyebabkan masalah psikologis atau emosional, seperti kesepian. Diperkirakan 50 persen lansia sedang mengalami kesepian, termasuk lansia yang tinggal sendirian. Kesepian merupakan perasaan terasingkan, tidak dicintai, merasa berbeda dan terpisah dari lingkungan sekitarnya. Kesepian dapat dilawan dengan interaksi sosial, misalnya storytelling. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh storytelling terhadap tingkat kesepian lansia yang tinggal sendirian. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif pra-eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest dan menggunakan teknik pengambilan sampel yaitu sampling total. Jumlah sampel sebanyak 31 responden. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu kuesioner The UCLA Loneliness Scale yang telah teruji validitas serta reliabilitasnya. Peneliti menggunakan analisa bivariat yaitu Uji T Berpasangan. Hasil: Metode storytelling berpengaruh signifikan secara statistik (p=0,000) terhadap tingkat kesepian lansia yang tinggal sendirian di wilayah kerja Puskesmas 1 Sewon. Kesimpulan: Terdapat pengaruh metode storytelling terhadap tingkat kesepian lansia yang tinggal sendirian di wilayah kerja Puskesmas 1 Sewon.