Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Journal of Community Empowerment

MEMBANGKITKAN INOVASI BERBASIS INISIATIF PENGABDIAN MASYARAKAT PADA PENGRAJIN TEDUNG DI MENGWI, BALI Kusumawijya, Ida Ketut; Astuti, Partiwi Dwi; Wartana, I Made Hedy; Adi, I Ketut Yudana
Journal of Community Empowerment Vol 3, No 2 (2024): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v3i2.27802

Abstract

ABSTRAKKerajinan Tedung adalah payung tradisional Bali yang memiliki nilai budaya tinggi, namun para pengrajinnya menghadapi tantangan besar dalam memenuhi tuntutan pasar modern. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan perilaku inovatif dan keberlanjutan ekonomi pengrajin Tedung di Desa Mengwi, Badung, Bali, yang melibatkan 27 pengrajin. Program ini menggunakan pendekatan tiga tahap: evaluasi awal melalui pre-test untuk mengukur kemampuan inovatif saat ini, pelatihan peningkatan kapasitas, dan evaluasi akhir melalui post-test. Hasil pre-test menunjukkan bahwa pengrajin mengalami keterbatasan dalam variasi desain, proses produksi, dan strategi pemasaran yang menghambat jangkauan pasar. Setelah pelatihan, terdapat peningkatan signifikan dalam perilaku kerja inovatif pengrajin, dengan peningkatan kemampuan untuk menciptakan dan mempromosikan desain baru, metode produksi lebih cepat, dan strategi pemasaran yang lebih efektif, terutama melalui platform digital. Diversifikasi produk meningkat dan memperluas jangkauan pasar secara lokal maupun internasional, yang berkontribusi pada peningkatan prospek ekonomi. Program ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi bagi pengrajin, tetapi juga melestarikan dan mengembangkan kerajinan Tedung sebagai warisan budaya Bali di pasar yang semakin kompetitif. Pendekatan partisipatif ini menjadi model potensial untuk revitalisasi kerajinan tradisional di daerah lain. Kata kunci: inovasi; pekerjaan; perilaku; masyarakat; pelayanan. ABSTRACTTedung, a traditional ceremonial umbrella, holds significant cultural value in Bali, yet its craftsmen face difficulties in adapting to modern market demands. This challenge in innovative work behavior was addressed through a structured community service program designed to foster creativity, problem-solving, and contemporary business practices. The program targeted Tedung craftsmen in Desa Mengwi, Badung, Bali, involving 27 craftsmen as partners. The primary goal was to empower these craftsmen by enhancing their engagement with innovative practices, including new design creation, improved production processes, and effective marketing strategies. The implementation method comprised three phases: an initial assessment (pre-test) to identify gaps in innovation, capacity-building workshops, and a final evaluation (post-test). The pre-test highlighted limitations in product diversification and market reach, which the workshops aimed to address. Post-test evaluations revealed significant improvements, with craftsmen displaying enhanced abilities to innovate, market their products, and expand their market locally and internationally. Product diversification and digital marketing were notably impactful, broadening the craftsmen's economic prospects while preserving the Tedung tradition. This participatory approach empowered the craftsmen, reinforcing the cultural heritage of Bali and serving as a model for revitalizing traditional crafts in other regions. Keywords: innovation; work; behavior; community; service.
MEMBANGUN ENTREPRENEURIAL BEHAVIOR PENGRAJIN UANG KEPENG DI KAMASAN, KLUNGKUNG, BALI Kusumawijaya, Ida Ketut; Astuti, Partiwi Dwi; Wartana, I Made Hedy; Adi, I Ketut Yudana
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.31177

Abstract

ABSTRAK                                                                            Inisiatif pengabdian masyarakat ini dilakukan di Desa Kamasan, Klungkung, Bali, yang terkenal dengan kerajinan uang kepeng namun menghadapi tantangan terhadap keberlanjutan dan infrastruktur kewirausahaan yang terbatas. Program ini bertujuan mengembangkan entrepreneurial behavior di kalangan pengrajin uang kepeng melalui peningkatan kapasitas inovasi, respons terhadap pasar, dan praktik bisnis berkelanjutan. Dengan menggunakan model penelitian tindakan partisipatif pada 11 pengrajin, program ini melibatkan mereka dalam semua tahap identifikasi masalah, pengembangan solusi, dan evaluasi perilaku. Tiga tahap implementasi, yakni penilaian awal, lokakarya peningkatan kapasitas, dan penilaian akhir, dirancang untuk membangun kompetensi kewirausahaan. Pelatihan terstruktur berfokus pada pengembangan ide, promosi, dan realisasi, dengan umpan balik berkelanjutan untuk perbaikan iteratif. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam enam indikator kewirausahaan, terutama dalam menghasilkan ide hijau baru yang menandakan peningkatan inovasi dan kesadaran lingkungan. Meskipun ada sedikit variabilitas pada skor promosi ide, data mengonfirmasi efektivitas program. Analisis demografis menunjukkan dominasi peserta pria yang lebih tua, menyoroti kesenjangan generasi dan gender. Program ini berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat dan pengembangan teori kewirausahaan yang berakar pada budaya. Kata kunci: Membangun; entrepreneurial behavior; uang kepeng; pengrajin; kamasan. ABSTRACTThis community service initiative was conducted in Kamasan Village, Klungkung, Bali, which is renowned for its uang kepeng craft but faces challenges regarding sustainability and limited entrepreneurial infrastructure. The program aimed to develop entrepreneurial behavior among uang kepeng craftsmen through enhancing their capacity for innovation, market responsiveness, and sustainable business practices. Using a participatory action research model with 11 craftsmen, the program involved them in all stages of problem identification, solution development, and behavioral evaluation. Three implementation stages—pre-assessment, capacity-building workshops, and post-assessment—were designed to build entrepreneurial competencies. Structured training focused on idea development, promotion, and realization, with continuous feedback for iterative improvements. The results showed a significant improvement in six entrepreneurial indicators, particularly in generating new green ideas, indicating increased innovation and environmental awareness. Although there was slight variability in idea promotion scores, the data confirmed the program's effectiveness. The demographic analysis showed the dominance of older male participants, highlighting generational and gender gaps. This program contributed to community empowerment and the development of entrepreneurship theory rooted in culture. Keywords: Constructing; entrepreneurial behavior; uang kepeng; craftsmen; kamasan.