Henni Mayasari
Universitas Dehasen Bengkulu

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pendidikan Anak Usia Dini Sangat Penting Bagi Tumbuh Kembang Anak Jusmadi, Evryeni; Fadilla, Rohayu; Mayasari, Henni
Early Childhood Research and Practice Vol 5 No 2 (2025): Early Child Research and Practice, Januari
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/ecrp.v5i2.7724

Abstract

The basic concept of early childhood education that develops in modern society. Early childhood education is an effort to educate or provide guidance which is specifically for newborns up to the age of 6 years, which is carried out by stimulating basic education and focusing on the physical and psychological growth and development of a child to form mentality and readiness to enter education. which is further. In general, the purpose of establishing PAUD is to develop various potentials possessed by early childhood as preparation material to be able to adjust and adapt to the surrounding environment.Early childhood education is very important for children and determines the further development of children, because with early childhood education this becomes the foundation for the basis of the child's personality. In addition, early childhood education can also provide readiness for children to face the future, which is closest to the school period. Children who receive early childhood education are different from children who do not receive early childhood education. Children who get early childhood education will learn to be independent individuals, strong in socializing, confident in doing things, have high curiosity and quick to adapt.
The Status And Code Of Ethics Of Early Childhood Education Teachers In Enhancing Educational Professionalism In Indonesia Aulia, Tri Imanda; Oktavia , Mela; Rahma , Aisyah Nur; Mayasari , Henni
Jurnal Pendidikan Rafflesia Vol. 4 No. 1 (2025): Desember
Publisher : CV. Generasi Insan Rafflesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70963/jpr.v4i1.131

Abstract

The Early Childhood Education (PAUD) teaching profession holds a strategic role in national education development, serving as learning facilitators, character mentors, and moral exemplars for young children. However, in practice, the professional status of PAUD teachers in Indonesia still faces various challenges, including formal recognition, welfare, and the implementation of the professional code of ethics in daily learning activities. This study critically examines the professional status of PAUD teachers and the implementation of the Indonesian Teacher Code of Ethics within the context of early childhood educational professionalism. The study employs a descriptive qualitative approach through literature analysis and relevant regulatory documents, such as Law No. 14 of 2005 on Teachers and Lecturers, and the Indonesian Teacher Code of Ethics (PGRI, 2013). The findings indicate that, although PAUD teachers are formally recognized as professionals with competency standards and certification, gaps remain between normative ideals and ethical practice in the field. Factors such as low ethical literacy, weak supervision, disparities in welfare, and limited social recognition of PAUD teachers constitute major barriers to improving professionalism. The article emphasizes that strengthening the implementation of the code of ethics for PAUD teachers depends not only on regulation but also on moral awareness, ethical supervision in schools, and support through continuous professional development and adequate welfare. Therefore, the internalization of professional ethical values needs to be systematically integrated into educational policies and teacher development programs to cultivate educators who are competent, ethical, and dignified.
Ciri Khas Permainan Tradisional Lompat Kodok di Kota Bengkulu Ela Pebriani; Henni Mayasari; Nurhasanah Bilqisth; Dela Emilia; Pauziah Lipita Sari; Dwinda Meisa; Neli Pebriyanti
Early Childhood Research and Practice Vol 7 No 1 (2026): Early Child Research and Practice, Juli
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/ecrp.v7i1.11384

Abstract

This study aims to analyze the characteristics of the traditional game of engklek and its relevance in supporting early childhood development in Bengkulu City. Traditional games, as part of local wisdom, play an important role in stimulating children’s cognitive, social, emotional, and motor development. This study employs a qualitative approach with data collection techniques including observation, interviews, and documentation. The research subjects consisted of early childhood education teachers and children aged 5–6 years at several early childhood education institutions in Bengkulu City. Research findings indicate that the game of hopscotch is characterized by the use of simple materials, motor activities that involve physical balance, and a high degree of social interaction. In addition, the game also instills educational values such as discipline, honesty, and cooperation. Hopscotch has proven to be a relevant learning tool capable of supporting children’s holistic development.
IMPLIKASI KEGIATAN BERMAIN PERAN TERHDAP PERKEMBANGAN SOSIAL-EMOSIONAL ANAK USIA DINI Anggun Dwi Putri; Dinda Okta Olipia; Sentiya Auliya; Ica Imelia; Dwi Rulismi; Evryeni Jusmadi; Henni Mayasari
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.13864

Abstract

Bermain peran merupakan salah satu metode pembelajaran yang membawa dampak berarti terhadap perkembangan sosial emosional anak usia dini. Kajian ini bertujuan untuk menelaah implikasi kegiatan bermain peran terhadap berbagai aspek perkembangan sosial emosional anak usia 4–6 tahun. Metode yang digunakan adalah studi literatur (library research) dengan mengkaji 25 sumber referensi dari jurnal ilmiah terpilih yang terbit pada tahun-tahun terkini. Hasil telah menunjukkan bahwa kegiatan bermain peran secara konsisten memberikan kontribusi pada peningkatan kemampuan empati, regulasi emosi, kecakapan berinteraksi sosial, pemecahan masalah, serta pembentukan identitas diri anak. Lewat bermain peran, anak belajar melihat situasi dari sudut pandang orang lain, menangani konflik, menjalin hubungan pertemanan, dan mengungkapkan perasaan secara konstruktif. Implikasi pedagogis dari temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan bermain peran secara terstruktur ke dalam kurikulum PAUD sebagai wahana pengembangan kompetensi sosial emosional yang menyeluruh. Disimpulkan bahwa bermain peran bukan sekadar aktivitas hiburan, melainkan instrumen pedagogis yang esensial dalam mendukung kematangan sosial emosional anak usia dini.
IMPLIKASI PEMBELAJARAN PEMBIASAAN NILAI MORAL DAN AGAMA TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK USIA DINI Dhea Apriliani; Naini Niken Navita; Meyza Yolanda Putri; Dwi Rulismi; Evryeni Jusmadi; Henni Mayasari
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.13910

Abstract

Pembentukan karakter peserta didik usia dini merupakan fondasi utama dalam proses pendidikan yang menyeluruh dan berkelanjutan. Masa usia dini (0–6 tahun) dikenal sebagai golden age, yakni periode kritis di mana otak anak berkembang secara pesat dan karakter mulai terbentuk melalui pengalaman serta pembiasaan yang diterimanya. Artikel ini bertujuan mengkaji implikasi pembelajaran pembiasaan nilai moral dan agama terhadap pembentukan karakter peserta didik usia dini, baik dalam konteks pendidikan formal di lembaga PAUD/TK maupun dalam lingkungan keluarga. Metode yang digunakan adalah studi literatur (library research) dengan menganalisis 25 sumber ilmiah yang relevan, mencakup teori perkembangan moral Kohlberg, teori pembiasaan Pavlov dan Thorndike, serta konsep pendidikan karakter Ki Hajar Dewantara. Hasil kajian menunjukkan bahwa pembelajaran pembiasaan nilai moral dan agama yang diterapkan secara konsisten, terintegrasi, dan kontekstual terbukti memberikan implikasi positif yang signifikan terhadap pembentukan karakter anak usia dini, meliputi dimensi kebiasaan memberi salam, sopan santun, kejujuran, kedisiplinan, empati, tanggung jawab, dan kemandirian. Implikasinya, lembaga pendidikan anak usia dini perlu merancang kurikulum berbasis nilai (value-based curriculum) yang mengintegrasikan aspek moral dan spiritual secara sistematis dalam setiap aktivitas pembelajaran sehari-hari.
STRATEGI PENDIDIKAN ANAK DALAM KELUARGA Henni Mayasari; Dhea Apriliani; Meyzi Yolanda Putri; Ana Marisaputri
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.13971

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji strategi pendidikan anak dalam keluarga berdasarkan pengalaman nyata seorang ibu berprofesi bidan di Kota Bengkulu. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara mendalam (in-depth interview) yang dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pendidikan anak yang efektif meliputi keteladanan, pembiasaan nilai positif, komunikasi afektif, kolaborasi dengan sekolah, co-parenting, dan dukungan psikologis. Narasumber menerapkan pola asuh demokratis dengan melibatkan anak dalam pembentukan aturan keluarga serta membangun komunikasi yang hangat dan empatik pada momen makan malam dan sebelum tidur. Temuan ini sejalan dengan teori authoritative parenting Baumrind, active listening Carl Rogers, dan positive reinforcement B.F. Skinner yang menegaskan pentingnya keterlibatan orang tua dalam membentuk karakter anak yang tangguh, mandiri, dan berempati sejak usia dini.