Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Journal of Innovative and Creativity

Evaluasi Kinerja Puskesmas Kalibumi Dalam Pelayanan Kesehatan Primer Dalam Penanggulangan Penyakit Menular (P2M) di Kabupaten Nabire Provinsi Papua Tengah Hebe Marlen Tiblola; Agus Zainuri; Dolfinus Yufu Bouway; Sarce Makaba; Arius Togodly; Septevanus Rantetoding; Yacob Ruru
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.618

Abstract

Penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di wilayah terpencil seperti Papua Tengah. Puskesmas sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan primer memiliki peran strategis dalam penanggulangan penyakit menular (P2M). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja Puskesmas Kalibumi Nabire Barat dalam pelaksanaan program P2M berdasarkan komponen input, proses, dan output. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Informan dipilih secara purposive terdiri dari tenaga kesehatan dan masyarakat penerima layanan. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen, yang dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sisi input, Puskesmas telah memiliki tenaga dan sarana prasarana yang memadai, namun terkendala pada aspek pelatihan teknis yang tidak berkelanjutan serta keterlambatan dana operasional. Proses pelaksanaan program telah berjalan sesuai pedoman melalui kegiatan skrining dan edukasi, namun partisipasi masyarakat dan kontrol ulang masih rendah. Dari sisi output, capaian indikator program seperti malaria, TB, hepatitis, dan HIV/AIDS belum memenuhi target Standar Pelayanan Minimal (SPM), namun masyarakat menyatakan puas terhadap mutu pelayanan yang diterima. Keberhasilan program P2M di Puskesmas Kalibumi sangat bergantung pada penguatan kapasitas tenaga, ketepatan perencanaan berbasis data lokal, serta peningkatan partisipasi masyarakat. Diperlukan pendekatan pelayanan yang lebih adaptif dan sistem pendukung yang lebih kuat untuk mencapai target program secara optimal.
Analisis Proses Perencanaan Kebutuhan Obat Publik Untuk Pelayanan Kesehatan Dasar (PKD) Puskesmas Di Dinas Kesehatan Kabupaten Intan Jaya Jemy Landa; Sarce Makaba; Agus Zainuri; Semuel Piter Irab; Arius Togodly; Rosmin M. Tingginehe
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.722

Abstract

Perencanaan kebutuhan obat merupakan bagian penting dalam manajemen logistik farmasi yang bertujuan menjamin ketersediaan obat secara tepat jenis, jumlah, dan waktu. Namun, proses ini sering kali tidak berjalan optimal, terutama di wilayah dengan keterbatasan sumber daya seperti Kabupaten Intan Jaya. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas dan hambatan dalam pelaksanaan enam tahap perencanaan kebutuhan obat di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kabupaten Intan Jaya. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan telaah dokumen. Informan terdiri dari kepala Puskesmas, penanggung jawab farmasi, serta petugas Dinas Kesehatan. Analisis data dilakukan secara tematik berdasarkan enam tahap perencanaan kebutuhan obat, yaitu: seleksi obat, kompilasi, perhitungan, proyeksi, penyesuaian anggaran, dan evaluasi. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa keenam tahapan belum dilaksanakan secara optimal. Pada tahap seleksi obat, tidak terdapat pedoman atau metode yang digunakan, dan pemilihan obat cenderung tidak rasional. Tahap kompilasi belum berjalan baik karena pencatatan masih dilakukan secara manual dan tidak menggunakan format standar. Tahap perhitungan kebutuhan obat tidak berbasis data konsumsi atau morbiditas, melainkan hanya berdasarkan perkiraan. Proyeksi kebutuhan juga tidak menggunakan pendekatan epidemiologi dan didasarkan pada asumsi. Penyesuaian rencana anggaran dilakukan secara sepihak oleh Dinas Kesehatan tanpa melibatkan Puskesmas, sehingga sering tidak sesuai dengan kebutuhan riil. Evaluasi terhadap proses perencanaan tidak dilakukan secara rutin dan terstruktur akibat ketiadaan format, pembinaan, dan pelaporan. Kesimpulan: Kegagalan dalam pelaksanaan tahapan perencanaan kebutuhan obat disebabkan oleh lemahnya regulasi, kurangnya SDM kefarmasian, dan rendahnya kapasitas manajerial di tingkat Puskesmas. Diperlukan intervensi strategis untuk memperkuat sistem perencanaan berbasis data, memperbaiki koordinasi, serta meningkatkan kapasitas tenaga pelaksana.
Analisis Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Keterampilan Dasar Kader Posyandu Di Distrik Sentani Barat Kabupaten Jayapura Provinsi Papua Yahya Boikaway; Dolfinus Y. Bouway; Arius Togodly; Novita Medyati; Septevanus Rantetoding
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.782

Abstract

Kader Posyandu merupakan ujung tombak pelayanan kesehatan dasar berbasis masyarakat yang berperan penting dalam upaya peningkatan derajat kesehatan ibu dan anak. Namun, keterampilan dasar kader masih menjadi tantangan di berbagai wilayah, termasuk di Distrik Sentani Barat Kabupaten Jayapura. Kementerian Kesehatan menargetkan penguasaan 25 keterampilan dasar oleh 70% kader, namun capaian di lapangan masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi keterampilan dasar kader Posyandu, meliputi usia, pendidikan, lama menjadi kader, pengetahuan, sikap, dukungan tenaga kesehatan, dan keaktifan dalam pelatihan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional, yang dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2025 di Distrik Sentani Barat, Kabupaten Jayapura. Seluruh kader dari enam Posyandu sebanyak 30 orang dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur dan dianalisis dengan uji Chi-square serta regresi logistik berganda untuk mengetahui hubungan dan pengaruh antarvariabel, dengan tingkat signifikansi p < 0,05 dan confidence interval 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel pengetahuan (p = 0,001), sikap (p = 0,015), dan keaktifan dalam pelatihan (p = 0,008) memiliki hubungan yang signifikan terhadap keterampilan dasar kader. Analisis multivariat mengungkap bahwa pengetahuan merupakan faktor paling dominan yang memengaruhi keterampilan dengan odds ratio sebesar 19,0. Sementara variabel usia, pendidikan, lama menjadi kader, dan dukungan tenaga kesehatan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menegaskan pentingnya peningkatan kapasitas kader melalui penguatan pengetahuan dan pelatihan berkelanjutan guna memastikan kualitas layanan kesehatan masyarakat di tingkat akar rumput.
Analisis Persepsi Pemangku Kepentingan Terhadap Kualitas Pelayanan Kesehatan di RSUD Hendrik Fintay Kabupaten Sarmi Provinsi Papua Heriq Rony Paulus Twenti; Arius Togodly; Agus Zainuri; Sarce Makaba
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.1069

Abstract

Mutu pelayanan kesehatan merupakan indikator penting dalam pencapaian derajat kesehatan masyarakat, terutama di daerah terpencil seperti Kabupaten Sarmi. RSUD Hendrik Fintay sebagai rumah sakit rujukan daerah memiliki peran strategis dalam menyediakan pelayanan yang efektif, efisien, aman, terjangkau, dan memuaskan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi mutu pelayanan kesehatan di RSUD Hendrik Fintay berdasarkan persepsi pemangku kepentingan dari lima dimensi utama, yaitu efektivitas, efisiensi, keamanan, keterjangkauan, dan kepuasan pasien. Metode: Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam terhadap informan kunci (pasien, keluarga pasien, dan tenaga kesehatan), observasi lapangan, serta telaah dokumen. Analisis data dilakukan secara tematik berdasarkan model mutu Donabedian dan pendekatan teori SERVQUAL. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelayanan di RSUD Hendrik Fintay cukup efektif dari sisi tenaga medis, namun terhambat oleh keterbatasan alat diagnostik dan spesialis. Efisiensi belum optimal karena sistem rujukan yang tidak terkoordinasi dengan baik dan keterlambatan pelayanan laboratorium. Aspek keamanan masih lemah pada kontrol infeksi, pencahayaan, dan keamanan lingkungan. Keterjangkauan layanan tinggi di wilayah kota, namun sangat terbatas di daerah pedalaman karena kendala transportasi dan biaya. Kepuasan pasien bersifat beragam; sikap tenaga medis dinilai positif, namun waktu tunggu, kebersihan, dan ketersediaan obat menjadi sumber keluhan. Kesimpulan: Mutu pelayanan kesehatan di RSUD Hendrik Fintay mencerminkan adanya upaya perbaikan, namun masih menghadapi berbagai tantangan struktural dan sistemik. Diperlukan intervensi kebijakan yang menyeluruh untuk meningkatkan efisiensi, memperkuat sistem rujukan dan transportasi, serta menjamin keselamatan dan kepuasan pasien secara berkelanjutan.
Faktor Risiko Kejadian Tuberkulosis Paru Di Puskesmas Dekai Kabupaten Yahukimo Provinsi Papua Pegunungan Fram Oktovianus Yalak; Sarce Makaba; Hasmi; Arius Togodly; Dolfinus Yufu Bouway; Yacob Ruru
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3013

Abstract

Tuberkulosis paru (TBC Paru) adalah penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan di Indonesia, termasuk di Papua Pegunungan. Berbagai faktor risiko, seperti perilaku merokok, status HIV/AIDS, diabetes mellitus (DM), serta faktor sosial ekonomi, diketahui dapat memengaruhi kejadian TBC Paru. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian TBC Paru di Puskesmas Dekai, Kabupaten Yahukimo. Penelitian ini menggunakan desain analitik dengan pendekatan kasus kontrol. Populasi penelitian terdiri dari seluruh pasien yang terdiagnosis TBC Paru dan kelompok kontrol yang tidak terdiagnosis TBC Paru di Puskesmas Dekai. Sampel penelitian terdiri dari 21 kasus TBC Paru dan 39 kontrol yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara langsung dengan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Penelitian ini dilakukan pada April-Mei 2025 di Puskesmas Dekai, Kabupaten Yahukimo. Uji statistik yang digunakan adalah chi-square atau Fisher’s Exact untuk uji bivariat dan odds ratio (OR) untuk mengukur kekuatan asosiasi antara faktor risiko dan kejadian TBC Paru. Hasil analisis menunjukkan bahwa jenis kelamin (p = 0,725; OR = 1,404; 95%CI (0,482 – 4,085)), umur (p = 0,619. OR = 1,545; 95%CI (0,511 – 4,672)), tingkat pendidikan (p = 0,568. OR = 1,581; 95%CI (0,544 – 4,600)), pekerjaan (p = 0,406. OR = 1,466; 95%CI (0,397 – 5,404)), jarak ke faskes (p = 0,653. OR =  1,500; 95%CI (0,504 – 4,466)), perilaku merokok (p = 1,000. OR = 0,943; 95%CI: (0,326 – 2,729)), status HIV positif (p = 0,568. OR = 1,581; 95%CI: (0,544 – 4,600)), dan status DM (p = 0,495. OR = 1,275; 95%CI: (0,341 – 4,771)) tidak berhubungan signifikan dengan kejadian TBC Paru. (p > 0,05). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor-faktor risiko yang diteliti dengan kejadian TBC Paru di Puskesmas Dekai. Hal ini menunjukkan bahwa faktor lain di luar variabel yang diteliti kemungkinan memiliki peran lebih besar dalam kejadian TBC Paru di wilayah tersebut, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut dengan cakupan variabel yang lebih luas.