Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Permen Buah Karamunting: Inovasi Pangan Lokal untuk Penanggulangan Stunting pada Anak Pereiz, Zimon; Oksal, Efriyana; Chuchita, Chuchita; Sylvani, Miranti Maya; Komara, Nisa Kartika
Yumary: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2024): Juni
Publisher : Penerbit Goodwood

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35912/yumary.v4i4.2515

Abstract

Purpose: Stunting is a condition in which a child's physical growth and development are hampered due to malnutrition during the growth period. This condition occurs in children under 5 years of age. This age period is critical for the formation and development of body organs in children. Therefore, an innovative and holistic approach is needed to prevent stunting. One potential that can be exploited is the fruit of the karamunting plant (Rhodomyrtus tomentosa), which has traditionally been used as an herbal medicine. Candy containing healthy and delicious caramunting fruits can be an interesting way to increase nutritional intake, especially for children who have barriers to consuming nutritious food. Methodology: Implementation of community service through an educational workshop on the importance of knowledge about stunting prevention in children through local food innovation with Karamunting fruit candy (Rhodomyrtus tomentosa) was carried out on Saturday, October 7, 2023, between: 08.00-11.00 WIB, with the activity location at Habaring Hurung Village Hall. The partners for this community service activity are the heads and staff of Habaring Hurung Village, Bukit Batu District, Palangka Raya City, and Central Kalimantan. The targets of this service activity are mothers and children in Posyandu. Service procedures are the coordination, observation, activity implementation, and evaluation stages. Results: The participants understood the dangers and prevention of stunting in their children. The participants understood how to make karamunting fruit candy a local food that can be used and developed. Limitations: Karamunting fruit candy as a food innovation to prevent stunting produced by this community service program has no known expiration date or shelf life and there is no standard composition or dosage for candy to prevent stunting. Contribution: This community service activity can have a positive impact on the people of Hurung Village. This activity is able to increase insight and the ability to prevent the spread of stunting through innovation in making candy from karamunting fruit, even if residents can implement it independently.
Analysis of Silica-Hexadecyltrimethoxysilane Nanosol Hybrids through optimization of Silica Nanosol Concentration and determining fabric types on Hydrophobicity Pereiz, Zimon; Chuchita, Chuchita; Oksal, Efriyana; Manurung, Stepanus Fredi
Gema Wiralodra Vol. 15 No. 1 (2024): Gema Wiralodra
Publisher : Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31943/gw.v15i1.606

Abstract

An analysis of the silica nanosol-hexadecyltrimethoxysilane hybrid has been carried out through optimizing the concentration of silica nanosol and determining the type of fabric regarding hydrophobicity. This research began with the synthesis of silica nanosol via the sol-gel method, where TEOS as a precursor was dissolved in a mixture of ethanol-distilled water with a base catalyst with a contact time of 2 hours. The concentration of silica nanosol was varied by 0.025, 0.05, and 0.075 mol. The dip-coating method was used to coat the fabric with nanosol, with a tensile rate of 3 cm per second. Then the fabric was re-coated with silica nanosol in HDTMS solution (4% wt/wt ethanol) and dried in a 120°C oven for 10 minutes. This research tested calico, cotton and mori fabrics. A Canon DSLR camera with a Thamron 100mm lens was used to measure the contact angle of the fabric surface. ImageJ software processes images to obtain contact angle values on the fabric surface. The fabric was then characterized using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR) and Scanning Electron Microscope (SEM) and the silica nanosol was characterized using a Transmission Electron Microscope (TEM). The optimum concentration of silica-hdtms nanosol was obtained at a concentration of 0.075 mol with surface contact angles of cotton, mori and calico fabrics of 134, 132 and 135°. The flow speed of water with a slope of 100 on cotton, mori, and calico fabric produces flow speeds of 3.3, 6, and 5 m/s.
Proses Torefaksi Dengan Metode Batch Untuk Meningkatkan Nilai Kalor Tandan Kosong Kelapa Sawit Chuchita, Chuchita; Karelius, Karelius; Sari, Meiyanti Ratana
Bohr: Jurnal Cendekia Kimia Vol 1 No 01 (2022): Bohr: Jurnal Cendekia Kimia Vol 01 No 01
Publisher : Program Studi Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36873/bohr.v1i01.5574

Abstract

Abstrak Indonesia merupakan negara produsen dan eksportir kelapa sawit terbesar di dunia, yang menghasilkan limbah biomassa yang melimpah. Produksi minyak sawit tahun 2018 di Indonesia sebesar 34,94 juta ton dengan hasil samping berupa tandan kosong (23%), mesokarp serat (12%), dan cangkang sawit (5%). Cangkang inti sawit merupakan biomassa potensial yang dapat meningkatkan kualitas sebagai bahan bakar padat melalui proses termokimia. Pemanfaatan limbah hasil industri kelapa sawit menjadi bahan bakar dengan modifikasi termokimia dapat menjadi salah satu solusi untuk membuat nilai tambah dari limbah tersebut. Torefaksi adalah salah satunya proses termokimia yang saat ini digunakan untuk meningkatkan kualitas biomassa. Metode yang biasa digunakan untuk proses torefaksi di laboratorium adalah metode batch. Namun, metode ini memiliki kelemahan ketika kapasitas ditingkatkan membuat penurunan kualitas bahan bakar yang dihasilkan. Dalam penelitian ini, kualitas cangkang sawit torefaksi dari batch luas permukaan internal dibandingkan dengan torrefaksi batch yang di modifikasi. Torefaksi proses dilakukan pada suhu 275° C, dengan waktu 30 menit. Hasilnya menunjukkan bahwa torefaksi dari metode batch yang dimodifikasi memiliki nilai kalor yang lebih baik, dan dekat dengan bahan bakar. Abstract Indonesia is the largest producer and exporter of palm oil in the world, which produces abundant biomass waste. Palm oil production in 2018 in Indonesia was 34.94 million tons with by-products in the form of empty fruit bunches (23%), fiber mesocarp (12%), and palm shells (5%). Palm kernel shell is a potential biomass that can improve its quality as a solid fuel through a thermochemical process. Utilization of waste from the palm oil industry into fuel with thermochemical modifications can be one solution to create added value from the waste. Torrefaction is one of the thermochemical processes currently used to improve the quality of biomass. The method commonly used for the torrefaction process in the laboratory is the batch method. However, this method has a disadvantage when the capacity is increased, resulting in a decrease in the quality of the resulting fuel. In this study, the quality of the torrefaction palm shells of the internal surface area batch was compared with the torrefaction of the modified batch. Torrefaction process was carried out at a temperature of 275°C, with a time of 30 minutes. The results show that the torrefaction of the modified batch method has a better calorific value, and is close to that of the fuel
PENINGKATAN PENGETAHUAN STUNTING PADA IBU DI POSYANDU KELURAHAN HABARING HURUNG PALANGKA RAYA Kartika Komara, Nisa; Chuchita, Chuchita; Oksal, Efriyana; Pereiz, Zimon
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 7 (2024): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v7i7.2577-2583

Abstract

Stunting merupakan permasalahan kesehatan akibat terjadinya gizi buruk yang menyebabkan pertumbuhan pada anak menjadi terhambat. Prevalensi stunting Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) pada Tahun 2022 masih tercatat 26,9%, menurun 0,5% dari tahun 2021 sebesar 27,4%. Angka tersebut masih belum memenuhi target pemerintah yaitu angka stunting menurun hingga dibawah 14%. Kelurahan Habaring Hurung, yang terletak di Palangka Raya, memiliki tingkat stunting yang masih cukup tinggi, terutama di kalangan anak-anak Meskipun upaya pencegahan dan penanganan stunting telah dilakukan melalui Posyandu di wilayah tersebut, namun peningkatan pengetahuan ibu terkait gizi dan kesehatan anak masih sering ditemui. Tujuan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan ibu terkait stunting melalui kegiatan yang bersifat edukatif dan partisipatif di Posyandu Kelurahan Habaring Hurung. Metode yang dilakukan terdiri atas persiapan beruapa survey lokasi, pelaksanaan berupa penyuluhan, dan evaluasi berupa pemberian pre-test dan post-test. Berdasarkan hasil pre-test dan post-test dapat disimpulkan bahwa terjadi peningkatakan pengetahuan terkait stunting sebelum penyuluhan dan sesudah penyuluhan. Hal tersebut dilihat dari adanya peningkatan kategori pengetahuan baik dari 22% menjadi 70%.
SOSIALISASI INOVASI BERBAHAN LOKAL JAJANAN RIMBANG SEHAT BERGIZI UNTUK MENCEGAH STUNTING Chuchita, Chuchita; Irawan, Ahmad; Sylvani, Miranti Maya; Hutapea, Sonia Tri Mart Grasella; Pereiz, Zimon; Oksal, Efriyana
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 9, No 6 (2025): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v9i6.34819

Abstract

Abstrak: Di Indonesia, stunting masih menjadi masalah serius. Salah satu wilayah di Indonesia dengan prevalensi tinggi stunting adalah Provinsi Kalimantan Tengah, khususnya Kecamatan Bukit Batu dengan angka 27,4%. Kecamatan Bukit Batu kaya akan sumber daya alam, salah satunya sayuran lokal bernama terong asam (rimbang), yang kaya vitamin dan dapat membantu mencegah stunting. Namun, pemanfaatannya masih minim karena kurangnya pengetahuan. Tujuan dari pengabdian ini adalah meningkatkan dan memberi pengetahuan dalam rangka pencegahan stunting di kecamatan Bukit Batu. Metode yang dilakukan yaitu dengan cara memberikan sosialisasi terkait inovasi berbahan lokal rimbang sebagai bahan jajanan pencegah stunting, dengan melibatkan seluruh orang tua di posyandu Kecamatan Bukit Batu dengan total peserta 30 dari 32 orang yang terdiri dari ibu yang memiliki balita, ibu hamil, dan kader kesehatan. Hasil evaluasi di lakukan dengan metode pre-test dan post-test yang diisi oleh peserta kegiatan dalam bentuk kuisioner. Hasil evaluasi dari kegiatan ini telah mencapai seluruh indikator keberhasilan yaitu kehadiran peserta ≥80% dari seluruh undangan yang disebar dan pengetahuan peserta mengalami peningkatan berdasarkan hasil pre-test (71,25%) dan post-test (88,28%) yang telah dilakukan sebelumnya.Abstract: In Indonesia, stunting remains a serious problem. One region in Indonesia with a high prevalence of stunting is Central Kalimantan Province, particularly Bukit Batu District, with a rate of 27.4%. Bukit Batu District is rich in natural resources, one of which is a local vegetable called sour eggplant (rimbang), which is rich in vitamins and can help prevent stunting. However, its utilization remains minimal due to a lack of knowledge. The goal of this community service is to increase and provide knowledge for stunting prevention in Bukit Batu District. The method used was to provide outreach regarding the innovation of local ingredients such as rimbang as a stunting-preventing snack. This involved all parents at the Bukit Batu District Integrated Health Post (Posyandu), with a total of 30 out of 32 participants, consisting of mothers with toddlers, pregnant women, and health cadres. The evaluation results were carried out using pre-test and post-test methods which were filled out by activity participants in the form of a questionnaire. The evaluation results of this activity achieved all indicators of success, with attendance exceeding 80% of all invitations distributed, and participants' knowledge increased based on the results of the pre-test (71.25%) and post-test (88.28%).
Sosialisasi Pemanfaatan Tanaman Lokal Bawang Dayak sebagai Teh dalam Upaya Menurunkan Kadar Gula Darah Masyarakat Pereiz, Zimon; Ahmad Irawan; Hendrik Segah; Chuchita, Chuchita; Efriyana Oksal; Miranti Maya Sylvani; Aji Pamungkas; Herlita Esra Sari Sihotang; Yerinda Natalia Nenobais; Eni Uswatun Chasanah
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 8 No 1 (2026): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v8i1.1786

Abstract

Kesehatan masyarakat menjadi isu penting dalam upaya peningkatan kualitas hidup, khususnya terkait penyakit degeneratif seperti diabetes melitus. Salah satu alternatif pencegahan dan penunjang pengobatan diabetes adalah pemanfaatan tanaman obat tradisional. Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia), yang merupakan tanaman lokal Kalimantan, diketahui memiliki kandungan bioaktif seperti flavonoid dan saponin yang berperan menurunkan kadar gula darah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat Kelurahan Habaring Hurung dalam memanfaatkan Bawang Dayak sebagai teh herbal. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi sosialisasi, diskusi interaktif, demonstrasi, serta praktik langsung pembuatan teh celup Bawang Dayak yang higienis dan mudah dikonsumsi. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur tingkat pemahaman masyarakat. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman yang signifikan, yakni dari 11,2% pada pre-test menjadi 97,2% pada post-test, dengan selisih peningkatan sebesar 86%. Selain itu, masyarakat mampu mempraktikkan pengolahan Bawang Dayak menjadi produk teh celup yang bernilai guna bagi kesehatan dan berpotensi dikembangkan sebagai usaha rumah tangga. Dengan demikian, program pengabdian ini terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan masyarakat terkait pemanfaatan tanaman lokal sebagai penunjang kesehatan. Kegiatan ini tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga membuka peluang pemberdayaan ekonomi berbasis kearifan lokal sehingga berpotensi berkelanjutan dan dapat direplikasi di wilayah lain.
ISOLASI BAKTERI ENDOFIT DARI DAUN SUNGKAI (Peronema canescens Jack) Oksal, Efriyana; Chuchita, Chuchita; Ngazizah, Febri Nur; Pereiz, Zimon; Wulandari, Oktavia Rahmi; Yuneta, Yuneta; Natania Gracia, Amanda
Teknosains Vol 20 No 1 (2026): Januari-April
Publisher : Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/teknosains.v20i1.61258

Abstract

Sungkai (Peronema canescens Jack.) merupakan tanaman yang secara tradisional dimanfaatkan oleh masyarakat Kalimantan sebagai obat herbal, terutama melalui rebusan daun dan kulit batangnya. Namun, penelitian mengenai keberadaan dan potensi bakteri endofit pada tanaman sungkai masih sangat terbatas, padahal bakteri endofit diketahui hidup dalam jaringan tanaman dan berpotensi menghasilkan metabolit sekunder bioaktif. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengisolasi isolat bakteri endofit yang berasosiasi dengan daun sungkai. Metode penelitian dilakukan dengan isolasi bakteri endofit dari daun sungkai, dilanjutkan mengkarakterisasi jumlah isolat yang diperoleh melalui pengujian maksroskopis Hasil penelitian menunjukkan bahwa isolat bakteri endofit dari daun sungkai berhasil diisolasi dan diperoleh satu isolat bakteri endofit dari daun sungkai, dengan karakter makroskopis berbentuk bulat, dengan permukaan datar dan warna krem.