Claim Missing Document
Check
Articles

Pencegahan Penyakit Degeneratif dan Faktor Risikonya Isra Thristy; Amelia Eka Damayanti; Nanda Sari Nuralita
IHSAN : JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT Vol 8, No 1 (2026): Ihsan: Jurnal Pengabdian Masyarakat (April)
Publisher : University of Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/ihsan.v8i1.25921

Abstract

Penyakit degeneratif, termasuk diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan stroke, telah menjadi salah satu masalah kesehatan utama di Indonesia, seiring dengan perubahan gaya hidup dan peningkatan harapan hidup. Di Indonesia, penyakit degeneratif kini merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas, menggantikan penyakit menular yang sebelumnya mendominasi. Untuk mengatasi permasalahan penyakit degeneratif di masyarakat, terutama di wilayah seperti Kota Medan, diperlukan pendekatan yang komprehensif dan terintegrasi. Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah peningkatan edukasi dan kesadaran masyarakat dan promosi gaya hidup sehat. Metode pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan penyuluhan. Tim Pengusul dan mitra bersama-sama menyusun rencana kegiatan, metode, tujuan, sasaran dan target yang harus dicapai. Dari kegiatan ini, didapatkan hasil pengetahuan peserta sebelum edukasi lebih banyak yang masih kurang (62,5%) mengenai penyakit degeneratif dan faktor risikonya dibandingkan setelah mendapatkan edukasi (20,8%). Setelah dilakukan edukasi terjadi peningkatan pengetahuan yang lebih baik (79,2%) dibandingkan sebelumnya (37,5%). Intervensi edukatif seperti ini penting dilakukan secara rutin dan menyeluruh untuk mencegah meningkatnya kasus penyakit degeneratif di Indonesia.
PENGARUH MINUMAN KOMBUCHA SALAK SIDEMPUAN TERHADAP KADAR HDL DAN LDL PADA TIKUS DIET TINGGI LEMAK Salsabila Khalda; Isra Thristy
Jurnal Kedokteran Ibnu Nafis Vol. 15 No. 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Islam Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30743/jkin.v15i1.1285

Abstract

Dyslipidemia is a metabolic disorder characterized by continuous alterations in plasma lipid levels. Kombucha, a fermented beverage produced from sweetened tea using SCOBY, has been reported to lower cholesterol levels. Research on kombucha continues to expand, particularly regarding the use of non-tea substrates for fermentation, such as salak fruit. This study aimed to analyze the effect of Sidempuan salak kombucha on HDL and LDL levels in male rats (Rattus norvegicus) induced with a high-fat diet. A true experimental method with a posttest-only control group design was employed, involving 32 rats divided into four groups: KN (standard feed for 6 weeks), K− (standard feed + high-fat diet for 6 weeks), P1 (standard feed + high-fat diet + 2.7 ml/day Sidempuan salak kombucha for 6 weeks), and P2 (standard feed + high-fat diet + 5.4 ml/day Sidempuan salak kombucha for 6 weeks). The collected data were analyzed using a One-Way ANOVA test. The results showed no significant differences in HDL and LDL levels among the four groups (p > 0.05). In conclusion, the administration of Sidempuan salak kombucha did not produce a significant effect on HDL and LDL levels in male rats induced with a high-fat diet.
PENTINGNYA JAJANAN SEHAT UNTUK ANAK SEKOLAH DASAR Tria Tiurma Lestari; Isra Thristy
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 2, No 4 (2021)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v2i4.11835

Abstract

Abstrak: Anak sekolah menurut definisi WHO ( World Health Organization) yaitu golongan anak dengan usia antara 7-15 tahun, sedangkan di Indonesia sendiri lazimnya anak berusia 7-12 tahun. Makanan jajanan menurut Food and agricultural organization (FAO) adalah makanan serta minuman yang dipersiapkan dan dijual oleh pedagang kaki lima di jalanan dan di tempat keramaian umum lain yang langsung dapat dikonsumsi tanpa pengolahan atau persiapan lebih lanjut. Makanan jajanan sekolah saat ini perlu menjadi perhatian masyarakat, khususnya oleh orang tua, pendidik maupun pengelola sekolah, karena makanan jajanan memegang peranan yang cukup penting dalam memberikan asupan energi dan zat gizi bagi anak-anak usia sekolah yang sudah cenderung dapat memilih makanan yang disukai maupun tidak. Sering kali anak memilih makanan yang salah terlebih lagi jika tidak dibimbing oleh orang tuanya. Jajanan anak sekolahan yang kurang terjamin kesehatannya dapat saja berpotensi menyebabkan keracunan, gangguan pencernaan serta jika berlangsung lama dapat menyebabkan status gizi yang buruk. Upaya dini yang dapat dilakukan adalah memberikan penyuluhan bagi anak sekolah dasar terkait jajanan sehat, agar dapat menambah pengetahuan kepada anak-anak dalam memilih jajanan sehat, dan mengetahui ciri-ciri jajanan yang tidak sehat, atau orang tua dapat membawakan bekal untuk anaknya.
Correlation of Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Gene Polymorphism and Random Blood Sugar Levels In Obese Amelia Eka Damayanty; Isra Thristy; Nanda Sari Nuralita
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 6, No 3 (2025)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v6i3.25281

Abstract

Background: Obesity is a condition where there is excessive accumulation of fat that can pose a risk to health in the form of the risk of chronic diseases such as type 2 diabetes mellitus (DM). Current blood sugar levels are one of the diagnoses of type 2 DM (T2DM) which is a standard test that describes blood glucose homeostasis. Angiotensin Converting Enzyme (ACE) is an important enzyme in the renin-angiotensin system (RAS) because it catalyzes the conversion of angiotensin I to angiotensin II (Ang II). The RAS component of adipose tissue provides a potential pathway by which obesity can lead to insulin resistance where ACE gene polymorphisms can raise blood sugar levels. Objectives: To analyse the relationship of ACE gene polymorphism with random blood sugar levels as a predictor of type 2 DM risk in obesity. Materials and Methods: The design of this study was observational analytic with a cross-sectional approach. The sample in this study were blood from 35 obesity people in Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara and then carried out PCR examination to identify ACE gene polymorphisms and random blood sugar levels. The data were analyzed with the Kruskal Wallis Test. Results: The major samples were in 26-35 years old (42,86%). The most types of ACE gene polymorphisms were type II 51,4%, followed by the type of ID polymorphisms (32,4%), and the least was the type of DD polymorphisms (10,8%). The random blood sugar levels was normal level 80-140mg/dl (74,29%). The Kruskal Wallis test of ACE gene polymorphism and blood sugar levels with p = 0.119 (p  0.05). Conclusion: There was no correlation of  ACE gene polymorphism with random blood sugar levels in obesity.
Dampak Bahan Kimia Berbahaya dalam Makanan terhadap Kesehatan Isra Thristy; Amelia Eka Damayanty; Nanda Sari Nuralita
JURNAL IMPLEMENTA HUSADA Vol 3, No 3 (2022)
Publisher : UMSU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jih.v3i3.11846

Abstract

Abstrak: Masyarakat telah menggunakan dan mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung bahan kimia berbahaya dalam kehidupan sehari-hari. Bahan kimia berbahaya ini apabila menumpuk di dalam tubuh dapat berdampak buruk bagi kesehatan tubuh. Zat adiktif makanan yang dimaksud dalam hal ini adalah pengawet, penyedap, pewarna, pemantap, antioksidan, pengemulsi, pengumpal, pemucat, pengental, dan anti gumpal. Bahan tambahan pangan (BTP) merupakan bahan tambahan yang secara sengaja ditambahkan pada makanan/minuman dengan maksud untuk memperbaiki tampilan makanan/minuman. jenis bahan tambahan pangan golongan pengawet yang dilarang penggunaannya dalam produk pangan antara lain adalah formalin dan asam borat. Metode pelaksanaan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah pendekatan melalui penyuluhan atau edukasi dan diakhiri dengan diskusi. Kegiatan tersebut diharapakan dapat meningkatkan kesadaran terhadap masyarakat tentang penggunaan bahan kimia berbahaya maupun bahan aditif makanan khususnya di lingkungan keluarga. Dari hasil kegiatan ini didapatkan terjadi peningkatan pengetahuna masyarakat mengenai bahan kimia yang terkandung dalam makanan, dampaknya dan cara sederhana mendeteksinya yaitu menjadi 76% peserta memiliki pengetahuan baik