Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Aplikasi Tiga Jenis Pewarna Bakteri sebagai Pengawet Kayu Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen) Melalui Rendaman Dingin Lany Nurhayati; Nurul Fauzi Rohmah; Tun Susdiyanti
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 13, No 1 (2019)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (820.537 KB) | DOI: 10.20527/jstk.v1i1.5915

Abstract

Kayu telah dimanfaatkan untuk berbagai keperluan oleh manusia sejak zaman dahulu dengan berbagai kegunaannya. Salah satu jenis pohon yang banyak ditanam adalah Sengon (Paraserianthes falcataria (L.) Nielsen). Namun kayu sengon memiliki warna yang cenderung putih dan memiliki kelas awet rendah IV-V. Pemakaian kayu sengon terbatas pada jenis pemakaian yang tidak memerlukan kekuatan maupun keindahan kayu, misalnya untuk peti kemas dan sebagai pengecoran semen Tampilan kayu bisa ditingkatkan dengan cara pengecatan berbahan dasar air bukan pelarut organik seperti alkohol pada thinner sebagai pelarut cat. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan nilai tambah pada kayu sengon dengan cara mewarnai kayu sengon menggunakan bahan pewarna bakteri yang ramah lingkungan. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biologi dan Kimia Universitas Nusa Bangsa, Jalan KH Sholeh Iskandar Cimanggu Tanah Sereal Bogor, dan Laboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Jalan Gunung Batu No 5 Bogor. Pewarna bakteri yang digunakan yaitu safranin, hijau malakit dan kristal violet, dengan metode rendaman dingin selama 5 hari. Setelah perendaman diuji retensi, penetrasi, hedonik dan ketahanan kayu terhadap rayap. Hasil Penelitian nilai retensi tiga bahan pewarna Safranin 0,036-1,99 g/cm3, hijau malakit 0,24-0,206 g/cm3 dan kristal violet 0,042-0,215 g/cm3 Dari hasil uji hedonik diketahui bahwa safranin menjadi warna yang paling disukai. Safranin juga menunjukkan hasil yang baik sebagai anti rayap dengan tingkat mortalitas tinggi dan tingkat kerusakan mencapai 70%.Kata kunci: Sengon, pewarna bakteri, rendaman dingin, rayap
Implementasi Kurikulum Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Di Program Studi Kimia Universitas Nusa Bangsa Gladys Ayu Paramita Kusumah Wardhani; Devy Susanty; Ade Ayu Oksari; Lany Nurhayati; Alifah Nuranzani; Faridha Faridha
Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Sains Indonesia (JPPSI) Vol. 5 No. 1 (2022): JPPSI, April 2022
Publisher : Program Studi S1 Pendidikan IPA, FMIPA Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jppsi.v5i1.42802

Abstract

Kurikulum MBKM telah dilaksanakan di Program Studi Kimia pada tiga skema yang meliputi magang, riset/penelitian, dan pertukaran pelajar. Untuk mengetahui sejauh mana efektivitas implementasi kurikulum MBKM dilaksanakan, maka diperlukan penelitian tentang hal ini. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pemahaman dosen dan tenaga kependidikan (tendik) terhadap kurikulum MBKM, pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan kurikulum MBKM. Pengumpulan data menggunakan survei. Analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data kualitatif deskriptif. Data yang terkumpul diolah dan dianalisis secara menggunakan program Microsoft Excell 2013 dan Statistical Program for Social Science (SPSS) versi 16.0 for Windows. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu pemahaman dosen dan tendik terhadap pedoman dan pelaksanaan program MBKM sudah baik. Pelaksanaan kurikulum MBKM menurut dosen, mahasiswa, tendik dan mitra telah baik dan dapat meningkatkan kompetensi mahasiswa. Evaluasi dari pelaksanaan kurikulum MBKM yaitu pemerataan pemahaman mengenai kurikulum MBKM yang masih kurang terutama bagi tendik. Sosialisasi mengenai kurikulum MBKM perlu ditingkatkan agar pemahaman semua pihak terkait lebih baik sehingga mampu melaksanakan kurikulum MBKM sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
Placement Precision of Organic Fertilizer Based on Soil Conservation in Taro Cultivation Andi Masnang; Asmanur Jannah; Dyah Budibruri Wibaningwati; Febi Nurilmala; Lany Nurhayati
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 11, No 3 (2022): September 2022
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v11i3.396-404

Abstract

One of the things that are important to consider when fertilizing is how to place the fertilizer so that plants can consume nutrients efficiently. The research objective was to assess the precision of soil conservation based on fertilizer placement so that fertilizers could increase the production of taro effectively. This study applied four treatments, namely without fertilizer, placing manure in the planting hole, placing manure in the biopore, and placing manure on the borders. The three treatments were given 1 kg of goat manure. The treatment was performed with six replications. Harvesting is carried out in 8 months after planting. The results showed that the placement of manure on the borders was the most effective treatment with the highest yield of wet tubers of 21.4 Mg/ha and was not different from the treatment of manure in biopore 18.3 Mg/ha.This yield was different significantly as compared to that of resulted from treatments where fertilizer was placed in the planting hole (15.9 Mg/ha) or the production of taro without manure application (11.57 Mg/ha). Keywords: Organic fertilizers, production, soil conservation, taro
Optimasi ekstraksi glukomanan pada bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blume) Nurlela Nurlela; Lany Nurhayati; Ismanella Ismanella
Jurnal Litbang Industri Vol 12, No 2 (2022)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v12i2.7696.79-88

Abstract

Amorphophallus muelleri Blume atau dikenal sebagai porang merupakan sumber pangan tinggi serat yang berasal dari glukomanan yang terdapat pada bagian umbi. Selain pada bagian umbi, glukomanan juga dapat ditemukan pada bagian bulbil (umbi daun) dengan kadar sebesar 25-30%. Produksi bulbil cukup tinggi, sebagian dijadikan bibit, selebihnya dibuang. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memanfaatkan bulbil sebagai sumber alternatif glukomanan dan optimasi suhu ekstraksi untuk memperoleh glukomanan dengan kadar tinggi. Esktraksi glukomanan dari bulbil menggunakan pelarut etanol teknis 70% dengan perbandingan bobot sampel terhadap pelarut adalah 1:3 (b/v). Bulbil diesktraksi dalam tiga variabel suhu yaitu, suhu 25, 50 dan 75 °C, serta tepung bulbil digunakan sebagai kontrol negatif. Ketiga sampel esktrak dan tepung bulbil diuji kadar glukomanan dan pemeriksaan gugus fungsi menggunakan Fourier Transform-Infra Red (FT-IR). Kadar glukomanan tertinggi didapatkan dari metode ekstraksi menggunakan suhu 75 °C dengan kadar 30,20% (b/b) basis kering. Sedangkan, kadar glukomanan yang diesktraksi pada suhu 25 dan suhu 50 °C secara berturut-turut yaitu 23,07 dan 27,85% (b/b) basis kering. Analisis gugus fungsi menunjukkan sampel bulbil yang diesktraksi memiliki kemiripan spektrum terhadap glukomanan komersial.
Optimasi ekstraksi glukomanan pada bulbil porang (Amorphophallus muelleri Blume) Nurlela Nurlela; Lany Nurhayati; Ismanella Ismanella
Jurnal Litbang Industri Vol 12, No 2 (2022)
Publisher : Institution for Industrial Research and Standardization of Industry - Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24960/jli.v12i2.7696.79-88

Abstract

Amorphophallus muelleri Blume atau dikenal sebagai porang merupakan sumber pangan tinggi serat yang berasal dari glukomanan yang terdapat pada bagian umbi. Selain pada bagian umbi, glukomanan juga dapat ditemukan pada bagian bulbil (umbi daun) dengan kadar sebesar 25-30%. Produksi bulbil cukup tinggi, sebagian dijadikan bibit, selebihnya dibuang. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk memanfaatkan bulbil sebagai sumber alternatif glukomanan dan optimasi suhu ekstraksi untuk memperoleh glukomanan dengan kadar tinggi. Esktraksi glukomanan dari bulbil menggunakan pelarut etanol teknis 70% dengan perbandingan bobot sampel terhadap pelarut adalah 1:3 (b/v). Bulbil diesktraksi dalam tiga variabel suhu yaitu, suhu 25, 50 dan 75 °C, serta tepung bulbil digunakan sebagai kontrol negatif. Ketiga sampel esktrak dan tepung bulbil diuji kadar glukomanan dan pemeriksaan gugus fungsi menggunakan Fourier Transform-Infra Red (FT-IR). Kadar glukomanan tertinggi didapatkan dari metode ekstraksi menggunakan suhu 75 °C dengan kadar 30,20% (b/b) basis kering. Sedangkan, kadar glukomanan yang diesktraksi pada suhu 25 dan suhu 50 °C secara berturut-turut yaitu 23,07 dan 27,85% (b/b) basis kering. Analisis gugus fungsi menunjukkan sampel bulbil yang diesktraksi memiliki kemiripan spektrum terhadap glukomanan komersial.
EVALUATION OF MICROSPHERE OF POLY(LACTIC ACID) AS CELECOXIB CARRIER nurhayati, lany; Achmadi, Suminar S.; Sudaryanto, Sudaryanto
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 11, No 2 (2024): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v11i2.39310

Abstract

Celecoxib, cyclooxygenase-2 inhibitor approved for the management of rheumatism and osteoarthritis. Celecoxib is a Biopharmaceutics Classification System (BCS) class II compound whose oral bioavailability is highly limited owing to its poor aqueous solubility. Microencapsulation is very helpful to increase the solubility and slow the release of drugs. For the drugs of BCS Class-II, we use this technique which enables us to get more solubility and increase dissolution profile. The present study aims to reduce the drug’s negative effect and boost its bioavailability. Poly(lactic acid) (PLA) a biodegradable polymer microsphere that can be synthesized to encapsulate celecoxib, was prepared by solvent evaporation with chloroform were used. The characterized surface morphology, drug entrapment efficiency (DDE), and in vitro drug release. Morphology was studied by scanning electron microscopy (SEM), crystallinity was studied using an X-ray diffractometer (XRD), and drug release was spectrophotometer UV-Vis. The results were observed to indicate there were microspheres homogeneous in the distribution of celecoxib in the polymer matrix. Formulations indicated that DEE was between 55.80 and 70.70% with prolonged length microspheres in the 10-30 µm range. Study in vitro drug release, when placed in phosphate buffer (pH 7.4) containing 2% w/w Tween 80 solvent, there was an initial burst of drug release within the first two hours followed by constant drug release. The PLA microsphere can release the confined celecoxib gradually but does not follow a controlled diffusion mechanism, but rather a mechanism of expansion and erosion of the microsphere matrix.
EVALUATION OF MICROSPHERE OF POLY(LACTIC ACID) AS CELECOXIB CARRIER nurhayati, lany; Achmadi, Suminar S.; Sudaryanto, Sudaryanto
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol. 11 No. 2 (2024): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v11i2.39310

Abstract

Celecoxib, cyclooxygenase-2 inhibitor approved for the management of rheumatism and osteoarthritis. Celecoxib is a Biopharmaceutics Classification System (BCS) class II compound whose oral bioavailability is highly limited owing to its poor aqueous solubility. Microencapsulation is very helpful to increase the solubility and slow the release of drugs. For the drugs of BCS Class-II, we use this technique which enables us to get more solubility and increase dissolution profile. The present study aims to reduce the drug’s negative effect and boost its bioavailability. Poly(lactic acid) (PLA) a biodegradable polymer microsphere that can be synthesized to encapsulate celecoxib, was prepared by solvent evaporation with chloroform were used. The characterized surface morphology, drug entrapment efficiency (DDE), and in vitro drug release. Morphology was studied by scanning electron microscopy (SEM), crystallinity was studied using an X-ray diffractometer (XRD), and drug release was spectrophotometer UV-Vis. The results were observed to indicate there were microspheres homogeneous in the distribution of celecoxib in the polymer matrix. Formulations indicated that DEE was between 55.80 and 70.70% with prolonged length microspheres in the 10-30 µm range. Study in vitro drug release, when placed in phosphate buffer (pH 7.4) containing 2% w/w Tween 80 solvent, there was an initial burst of drug release within the first two hours followed by constant drug release. The PLA microsphere can release the confined celecoxib gradually but does not follow a controlled diffusion mechanism, but rather a mechanism of expansion and erosion of the microsphere matrix.
Green Synthesis of NiO/TI-PCH Via Hydrotermal Method for Enhanced Catalytic Efficiency: Green Synthesis NiO/Ti-PCH melalui Metode Hidrotermal untuk Meningkatkan Efisiensi Katalitik Yahya, Amri; Nurhayati, Lany; Utami, Setty
Sains Natural: Journal of Biology and Chemistry Vol. 15 No. 2 (2025): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/jsn.v15i2.765

Abstract

Heterogeneous catalysis is a vital field in chemical engineering, offering improved efficiency and selectivity in various catalytic processes. This study focuses on the dispersion of nickel into titanium-pillared montmorillonite (NiO/Ti-PCH) to enhance its catalytic properties. The primary objective is to synthesize and characterize the catalyst to evaluate its potential in catalytic applications, particularly in reactions requiring high surface area and stability. The synthesis of NiO/Ti-PCH was achieved through the intercalation of titanium and nickel into montmorillonite, followed by a series of characterizations using Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), Gas Sorption Analyzer (GSA), and Scanning Electron Microscopy with Energy Dispersive X-ray (SEM-EDX). FTIR analysis was utilized to confirm the successful formation of Ti-O-Ni bonds, indicating the effective dispersion of nickel and titanium on the catalyst surface. GSA provided insights into the surface area and porosity of the synthesized material, while SEM-EDX offered information on the morphology and elemental composition. The results indicated a significant increase in the surface area of NiO/Ti-PCH due to the formation of titanium and nickel pillars, enhancing the accessibility of active sites for reactions. The FTIR spectra confirmed the presence of Ti-O-Ni bonds, which play a crucial role in improving catalytic activity. Additionally, the catalyst exhibited excellent thermal stability, making it suitable for high-temperature applications. In conclusion, the synthesized NiO/Ti-PCH demonstrates enhanced catalytic activity and thermal stability, positioning it as a promising candidate for various industrial applications. The findings underscore the importance of utilizing pillared clays in the development of efficient heterogeneous catalysts for sustainable chemical processes.
FORMULA DAN AKTIVITAS ANTIBAKTERI SEDIAAN OBAT KUMUR DENGAN EKSTRAK BUNGA TELANG (Clitoria ternatea L.) Indriani, Selli; Susanty, Devy; Nurlela; Nurhayati, Lany
Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi Vol 10 No 1 (2025): Jurnal Ilmiah Bakti Farmasi
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STIFI Bhakti Pertiwi Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61685/jibf.v10i1.143

Abstract

Karies gigi menjadi salah satu penyakit gigi dan mulut yang paling banyak ditemukan pada masyarakat. Bakteri utama penyebab karies yaitu Streptococcus mutans. Penggunaan obat kumur yang mengandung bahan antibakteri merupakan salah satu cara untuk mengatasi permasalahan kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan ekstrak bunga telang (Clitoria ternatea L.) sebagai zat aktif dalam sediaan obat kumur, mengetahui karakteristik sediaan obat kumur ekstrak bunga telang, serta mengetahui aktivitas antibakteri ekstrak bunga telang dan obat kumur ekstrak bunga telang terhadap bakteri S. mutans. Pada penelitian ini dilakukan uji determinasi tanaman, ekstraksi dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%, uji skrining fitokimia, serta uji aktivitas antibakteri ekstrak bunga telang terhadap bakteri S. mutans menggunakan metode difusi cakram. Obat kumur ekstrak bunga telang diformulasikan dengan variasi konsentrasi ekstrak bunga telang 0% (F0);1,5% (F1); 3% (F2); 4,5% (F3). Sediaan obat kumur diuji organoleptik, pH, berat jenis, viskositas dan aktivitas antibakteri terhadap S. mutans. Uji aktivitas antibakteri ekstrak bunga telang terbukti mampu menghambat pertumbuhan bakteri S. mutans pada konsentrasi 100% dengan diameter zona hambat sebesar 11 mm (kategori kuat). Formulasi obat kumur dengan penambahan ekstrak bunga telang 4,5% (F3) menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan formula tanpa ekstrak, dengan diameter hambat 1,5 mm.
Biodiesel from Avocado Seed Oil with CaO and CaO Super Basa Catalyst from Egg Shell Waste Choerunnas, Paqih; Nurhayati, Lany; Devy Susanty; Wardhani, Gladys Ayu Paramita Kusumah
Sains Natural: Journal of Biology and Chemistry Vol. 14 No. 1 (2024): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31938/jsn.v14i1.591

Abstract

One waste that can be used as raw material for biodiesel is avocado seeds. Generally, biodiesel from avocado seed oil is synthesized using a homogeneous base catalyst, NaOH or KOH. However, the yield of Free Fatty Acids (FFA) is still low, so it is necessary to make biodiesel using heterogeneous base catalysts such as calcium oxide (CaO) and super base CaO from eggshell waste. Avocado seed oil biodiesel was synthesized using the method of transesterification with a ratio of 1:6, and a super base CaO/CaO catalyst of 1.5% (w/w) of the weight of avocado seed oil was added. The use of the CaO catalyst produced a Fatty Acid Methyl Ester (FAME) of 98.21% with a biodiesel yield of 73.77%, while the use of a super base CaO catalyst produced a FAME of 98.47% with a biodiesel yield of 74.50%. Characterization of biodiesel using FTIR shows the presence of methyl, ether, alcohol, carbonyl, and ester functional groups (C=O and C-O bonds), which are characteristics of the resulting biodiesel trans-esterification. Based on the yield and physical and chemical properties, the avocado seed oil biodiesel produced is better using the super base CaO catalyst than the CaO catalyst.