Claim Missing Document
Check
Articles

KRITIK SOSIAL DALAM FILM-FILM SI KABAYAN DI ERA ORDE BARU: LEGALISASI JUDI, SISTEM IJON, DAN KETIDAKAMANAN MASYARAKAT Rangga Permana; Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina
KABUYUTAN Vol 4 No 2 (2025): Kabuyutan, Juli 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i2.352

Abstract

Artikel ini membahas representasi kritik sosial dalam tiga film Kabayan, yaitu Si Kabayan (1975), Si Kabayan Saba Kota (1989), dan Si Kabayan dan Gadis Kota (1989), yang diproduksi dalam kurun waktu pemerintahan Orde Baru. Penelitian ini mengangkat tiga isu utama yang terekam dalam narasi film: pertama, legalisasi judi oleh pemerintah dan dampaknya terhadap masyarakat; kedua, sistem ijon yang mencengkeram petani miskin di desa; dan ketiga, ketidakamanan sosial termasuk maraknya penculikan pada era tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis tekstual dengan pendekatan kultural-politik, yang memadukan telaah terhadap unsur sinematografi, dialog, serta konteks historis-sosiologis film. Hasil penelitian menunjukkan bahwa film-film Kabayan tidak hanya berfungsi sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai medium kritik sosial yang efektif. Film Si Kabayan (1975) menyindir keras kebijakan negara dalam melegalkan praktik judi yang merusak tatanan moral masyarakat. Film Si Kabayan Saba Kota (1989) secara eksplisit menampilkan penindasan sistemik terhadap petani melalui praktik ijon, sekaligus memperlihatkan ketidakberdayaan aparat desa. Sedangkan dalam Si Kabayan dan Gadis Kota (1989), kekhawatiran atas penculikan mencerminkan kondisi sosial-politik di mana rakyat merasa tidak aman, baik oleh kriminalitas maupun oleh represi negara. Dengan menjadikan Kabayan sebagai simbol perlawanan kaum marjinal, ketiga film ini menyuarakan keresahan rakyat kecil terhadap ketimpangan struktural di era Orde Baru. Dengan demikian, film Kabayan dapat dibaca sebagai teks kultural yang menawarkan wacana perlawanan terhadap hegemoni negara.
EKSISTENSI SENI TRADISIONAL MASYARAKAT ADAT SUNDA DI ERA GENERASI Z Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 4 No 3 (2025): Kabuyutan, Nopember 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i3.401

Abstract

Zaman berkembang dan berubah dari masa ke masa seiring pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan kecanggihan teknologi. Hal itu berlaku juga terhadap ketujuh unsur budaya Sunda. Kenyataan ini tentu saja memengaruhi situasi dan kondisi serta eksistensi tatanan kehidupan masyarakat, termasuk unsur seni. Di era Gen Z saat ini, kecanggihan yang terjadi berimbas pula terhadap perkembangan kemampuan manusia dalam berinteraksi sosial. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri juga bahwa ada beberapa suku Sunda yang masih bersikukuh dan taat asas mempertahankan ketradisionalan dan adat istiadatnya. Salah satunya masyarakat adat Sunda yang ada di wilayah Jawa Barat dan Banten, seperti Kampung Naga, Kanekes Baduy, Kampung Dukuh, Kampung Kuta, Kampung Sinar Resmi atau Ciptagelar. Terkait dengan hal itu, tentu saja masyarakat adat tersebut harus lebih kuat membentengi diri dari pengaruh luar, yang semakin menggerus unsur-unsur budaya, salah satunya unsur seni, termasuk waditra yang digunakan dan mengiringinya, agar seni yang mereka miliki tidak musnah ditelan masa. Beragam serpihan terpendam berkenaan dengan seni, dapat kita gali dan kita ungkap, dalam upaya menelusuri dan mengkaji warisan tinggalan leluhur orang Sunda. Untuk mengkaji masalah tersebut, tulisan ini menggunakan metode kualitatif, melalui metode deskriptif analisis. Melibatkan metode kajian estetika, hermeneutik, historiografi seni, filosofi seni, sosiologis, antropologis, maupun kajian budaya secara umum.
Jejak Transformasi Budaya: Evolusi Komunikasi Manusia dari Era Lisan hingga Algoritma Digital Rangga Saptya Mohamad Permana; Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa; Abdul Rasyad
Jurnal Humanitas: Katalisator Perubahan dan Inovator Pendidikan Vol 12 No 1 (2026): Maret
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/jhm.v12i1.32459

Abstract

Since the beginning of civilization, communication has progressed from simple gestures and body language to intricate digital systems. Communication is not merely a means of transmitting information; it is also an essential social process in the production of meaning, cultural identity, and societal evolution. This research seeks to examine the evolution of communication as a driving force in the formation, preservation, and transformation of culture over time. Using a descriptive qualitative method and an in-depth literature review approach, this study integrates perspectives from history, anthropology, sociology, and digital media studies, enriched with archaeological data and analysis of two contemporary regulatory case studies: GDPR in the European Union and misinformation handling in the United States. The findings show that every breakthrough in communication—writing, printing, and digitalization—causes structural changes in society, such as the emergence of imagined communities, the differentiation of intellectual classes, and the formation of a surveillance capitalism culture. In the digital era, this shift accelerates cultural norm changes and fosters the emergence of new symbols in cross-cultural communication, while also posing severe issues such as social fragmentation, access inequality, and a digital ethics crisis. This study underlines the importance of a balanced regulatory strategy, collective ethical awareness, and cross-disciplinary cooperation in managing the effects of communication evolution.
MENELUSURI TABIR TOGA ANTISTUNTING DI DESA CIKUNTEN DAN MANUSKRIP SUNDA Elis Suryani Nani Sumarlina; Mamat Ruhimat
KABUYUTAN Vol 5 No 1 (2026): Kabuyutan, Maret 2026
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v5i1.439

Abstract

Manuskrip di era Gen Z saat ini, di kalangan masyarakat Desa Cikunten, Kecamatan Singaparna, Kabupaten Tasikmalaya khususnya, di awal penelusuran kami, belum begitu dikenal. Namun ada sebagian masyarakat yang menyebutnya sebagai ‘Kitab’. Sehubungan dengan hal itu, sebagai dokumen budaya dan referensi literasi bagi ilmu lain, eksistensi manuskrip perlu diinformasikan. Hal ini mengingat masih sedikitnya manuskrip yang masih terpendam dan diketahui isinya serta dimanfaatkan masyarakat, khususnya terkait Tanaman Obat Keluarga (TOGA) yang berguna sebagai antistunting. Pengenalan Tanaman obat keluarga, masih sangat dibutuhkan, selain untuk meningkatkan daya tahan dan kekebalan tubuh, juga sebagai antistunting bagi masyarakat Desa Cikunten khususnya, dan Kabupaten Tasikmalaya pada umumnya, yang sedang digalakkan oleh pemerintah saat ini. Diharapkan, tidak ada lagi yang gagal tumbuh kembang atau stunting. Pengetahuan terkait Tanaman Obat Keluarga sebagai penunjang antistunting dimaksud harus segera dioptimalisasikan melalui penelitian dan Pengabdian Pada Masyarakat secara multidisiplin, sehingga diketahui jenis dan ragam tanaman, fungsi dan manfaatnya, dosis dan takarannya, cara pengolahannya, serta bagaimana tindak pengobatannya, berbasis manuskrip Mantra Pengobatan. Metode deskriptif komparatif analisis yang digunakan berusaha mendeskripsikan data secara terinci dan teliti, menganalisisnya dengan cermat, serta membandingkannya secara tepat sasaran. Sedangkan metode kajiannya menggunakan kritik teks dan kajian budaya, mengungkap fungsi naskah pengobatan secara pragmatis di masyarakat, khususnya di Desa Cikunten, Kecamatan Singaparna Tasikmalaya. Tulisan ini sangat bermanfaat, selain untuk menambah pengetahuan masyarakat terkait kesehatan, dan antistunting, juga berguna bagi disiplin ilmu lain secara multidisiplin.