Claim Missing Document
Check
Articles

PERSPEKTIF FILOLOGIS TERHADAP BENDA-BENDA BUDAYA BERNUANSA SPIRITUAL PUSAKA NUSANTARA DALAM BABAD CIREBON Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana
Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Vol 7 No 3 (2025): Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH), Oktober, 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/jkbh.v7i3.389

Abstract

Artikel ini membahas tentang naskah Babad Cirebon. Kisah yang tertuang dalam teks naskah Babad Cirebon ini merupakan sebuah karya sastra bersifat sejarah daerah Cirebon yang berpusat pada kisah tokoh Raden Walangsungsang dan Sunan Gunungjati. Karya tersebut dapat dipandang sebagai refleksi masyarakat dan kebudayaan. Dengan demikian, pengamatan, pendeskripsian, dan analisis terhadap benda-benda budaya sebagaimana tercatat dalam naskah Babad Cirebon ini tak lain dari pembicaraan tentang kebudayaan dan masyarakat yang menghasilkannya, baik dilihat dari dalam teks Babad Cirebon itu sendiri maupun dari luarnya. Pendekatan yang dilakukan terhadap hubungan naskah Babad Cirebon dengan alam sekitar pada dasarnya mempelajari naskah ini sebagai dokumen sosial, sebagai potret kenyataan sosial, mengingat ada semacam potret sosial yang bisa ditarik dari naskah Babad Cirebon.
FENOMENA PANORAMA MASA LAMPAU DALAM MANUSKRIP SUNDA SANGHYANG SIKSAKANDANG KARESIAN: FENOMENA PANORAMA MASA LAMPAU DALAM MANUSKRIP SUNDA SANGHYANG SIKSAKANDANG KARESIAN Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.195

Abstract

Manuskrip sebagai dolumen budaya masa lampau, sampai saat ini masih belum dikenal luas di masyarakat. Keberadaan manuskrip hanya populer di kalangan filolog saja. Manuskrip sebagai objek kajian filologi berfungsi sebagai sumber informasi bagi ilmu lain, karena berisi berbagai data dan informasi ide, gagasan, pikiran, pandangan hidup, dan pengetahuan sejarah, serta kearifan lokal budaya dari bangsa atau sekelompok sosial budaya tertentu, yang isinya meliputi tujuh unsur budaya. Sehubungan dengan hal itu, hasil kajian bidang filologi melalui penggalian, penelitian, dan pengkajian manuskrip, teksnya bisa menjadi referensi literasi bagi ilmu lain secara multidisiplin. Kearifan lokal yang terungkap dalam sebuah manuskrip berakar dari sejarah dan budaya masa silam. Berkat sejarah pula kita sampai di masa kini. Kita sepakat bahwa keberadaan budaya suatu ‘masyarakat’ saat ini merupakan hasil perjalanan sejarah dan pengolahan serta proses perubahan budaya masa lampau. Salah satunya kearifan lokal yang terpendam dalam teks manuskrip Sanghyang Siksakandang Karesian, yang dianggap sebagai ensiklopedia panorama budaya masa silam. Mengapa? Karena beranekaragam kearifan lokal yang ada di masa silam, masih eksis dan berguna sebagai tuntunan moral dalam kehidupan kita saat ini. Tulisan ini diharapkan dapat mengungkap kearifan lokal yang meliputi tujuh unsur budaya Sunda yang terpendam dalam teks manuskrip Sunda Kuno berjudul Sanghyang Siksakandang Karesian. Dikaji menggunakan metode penelitian deskriptif analisis, dan metode kajian filologis, yang meliputi kajian kodikologis & tekstologis, kajian budaya, dan komunikasi sosial. Meliputi metode kajian tersebut, membuktikan bahwa kearifan lokal yang terdiri atas tujuh unsur budaya tersebut tercantum dalam teks naskah Sanghyang Siksakandang Karesian sebagai ensiklopedia panorama masa lampau, yang bermanfaat bagi ilmu lain secara multidisiplin.
KETERKAITAN ANTARA PENCERAHAN DI EROPA DAN TRADISI KRITIK BARAT: KETERKAITAN ANTARA PENCERAHAN DI EROPA DAN TRADISI KRITIK BARAT Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.199

Abstract

Tradisi kritik Barat ialah sebuah tradisi kritik yang turut memengaruhi cara dan metode kritik manusia akan sebuah fenomena, teks, atau seseorang, baik itu dalam cara pikir masyarakat awam atau di kalangan akademisi. Tradisi kritik Barat tidak seragam, serta mencakup beragam teknik dan sudut pandang. Selain itu, terdapat kritik terhadap karakteristik ini dan kemungkinan bias budaya dalam tradisi kritik Barat. Sejarah tradisi kritik Barat luas dan beragam, namun banyak karakteristik unik yang dapat ditemukan . Akar dari lahirnya tradisi kritik Barat ini tidak bisa dilepaskan dari munculnya Era Pencerahan atau Enlightenment yang merupakan sebuahgerakan intelektual dan filosofis yang berkembang di Eropa pada abad ke 17 dan ke 18. Tujuan dari kajian ini adalah untuk mencoba mengungkap bagaimana tradisi kritik Barat terlahir dari pemikiran pemikiran para filsuf yang hidup di E ra Pencerahan, serta untuk mengetahui bagaimana tradisi kritik Barat dan Pencerahan berkaitan satu sama lain. Penulis menggunakan kajian literatur sebagai metode penelitian pada paper ini. Penulis mengumpulkan berbagai referensi, mulai dari buku, artikel jurnal ilmiah, laporan hasil penelitian, hingga sumber-sumber referensi yang berasal dari internet. Seluruh sumber tersebut mencakup konsep-konsep mengenai kritik secara umum, Era Pencerahan di Eropa, dan tradisi kritik Barat secara khusus. Hasil menunjukkan bahwa Pencerahan meletakkan landasan intelektual bagi tradisi kritik Barat dengan mengedepankan nalar, individualisme, hak asasi manusia, dan komitmen terhadap penyelidikan empiris. Prinsip prinsip ini terus membentuk cara individu dalam masyarakat Barat melakukan pendekatan terhadap pemeriksaan dan evaluasi gagasan, institusi, dan norma norma masyarakat.
NASKAH PARANTI NGARUAT EDISI TEKS, KAJIAN MAKNA DAN FUNGSI: NASKAH PARANTI NGARUAT EDISI TEKS, KAJIAN MAKNA DAN FUNGSI Yogie Aditya Saputra; Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 2 No 3 (2023): Kabuyutan, Nopember 2023
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v2i3.209

Abstract

Sumedang berada di wilayah Jawa Barat yang memiliki berbagai tradisi, salah satu satunya yaitu Tradisi Ngaruwat, dalam masyarakat Rancakalong dikenal dengan nama Ngaruwat Jagat yang dilakukan sampai akhir tahun 1960-an dan dilakukan sebagai tradisi tahunan. Untuk mengungkap makna serta fungsi dari tradisi ngaruwat ini penulis menggunakan metode deskripstif analisis, serta pendekatan hermeneutik, metode ini bertujuan untuk mencatat, menuturkan, dan menafsirkan data melalui suatu proses pemahaman yang akan bergantung pada keadaan data dan nilai bahan atau objek penelitian yang digarap (Sumarlina, 2016:68) serta menggunakan edisi naskah tunggal (Coder Uniqus) yang ditempuh dengan cara edisi standar atau edisi kritis (Editio Critica) dengan maksud untuk memulihakan isi naskah ke bentuk semula yaitu dengan memperbaiki kesalahan kesalahan tulis, seperti memperbaiki kata, kalimat, penggunaan huruf kapital, memperbaiki ejaan dengan ketentuan ejaan yang berlaku. Pengedisian dilakukan atas dasar pemahaman dari perbadingan dengan naskah-naskah sejenis, serta terungkapnya makna dan fungsi dari teks naskah. Naskah ini berisi tentang kumpulan doa sehari-hari maupun doa/mantra yang dibacakan pada waktu tertentu. Hasil yang didapat, adanya keselarasan antara tradisi yang dilkukan di masyarakat dengan teks manuskrip yang dijadikan sebagai objek kajian tulisan ini.
GUNUNG PADANG DALAM PERSPEKTIF MANUSKRIP DAN BUDAYA SUNDA DI ERA MILENIAL: GUNUNG PADANG DALAM PERSPEKTIF MANUSKRIP DAN BUDAYA SUNDA DI ERA MILENIAL Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa; Rangga Saptya Mohamad Permana
KABUYUTAN Vol 3 No 1 (2024): Kabuyutan, Maret 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i1.227

Abstract

Eksistensi budaya yang berkembang di era milenial saat ini tidak terlepas dari budaya masa lampau, sebagai hasil perjalanan sejarah serta proses perubahan budaya dari masa ke masa. Namun, keberadaan Gunung Padang tersebut, baru-baru ini sedikit terusik oleh ketidaksepahaman para ahli, yang masing-masing bersikukuh sesuai dengan kepakarannya. Padahal, sepatutnyalah kita bergandengan tangan dalam upaya merawat dan melestarikan tinggalan nenek moyang dimaksud, apalagi kalau tempat tersebut sudah disepakati dan ditetapkan sebagai situs, yang eksistensinya tidak dapat dinilai dengan materi. Karena setiap bidang ilmu memiliki pendekatan dan metode kajiannya masing-masing. Aspek budaya dan kearifan lokal yang dimiliki oleh suatu daerah, setidaknya berguna untuk mengungkap tonggak bagi suatu kehidupan masyarakat. Kita menyadari bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang menghargai budayanya. Tinggi rendahnya peradaban suatu bangsa pun dapat dilihat dari tinggalan budayanya. Demikian halnya dengan karuhun ‘nenek moyang’ orang Sunda, yang memiliki manuskrip kuno yang tidak sedikit, yang di dalamnya menyimpan beragam ide, gagasan, dan pemikiran cemerlang, yang salah satunya berkaitan dengan Gunung Padang. Lewat manuskrip, dapat ditelusuri bahwa Gunung Padang termasuk ke dalam sistem tataruang kosmologis Sunda yang saling memengaruhi dengan tenaga-tenaga yang bersumber pada tempat-tempat yang ada di sekitarnya, baik secara geologis, geomorfologis, arkeologis, antropologis, filologis, historiografis, folklor, dan religi, yang tidak terlepas dari budaya zaman batu. Penelitian ini mencoba menelusuri keselarasan antara Gunung Padang dengan kearifan lokal budaya Sunda, dari kajian filologis, arkeologis, religi, dengan budaya Kenabian, melalui metode kajian filologis dan kajian budaya, sehingga didapatkan hubungan yang harmonis antar keduanya, melalui pendeskripaian data, sesuai dengan fakta yang ada.
MASYARAKAT ADAT KANEKES BADUY DALAM PUSARAN ADAT, TRADISI, DAN RELIGI: MASYARAKAT ADAT KANEKES BADUY DALAM PUSARAN ADAT, TRADISI, DAN RELIGI Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 3 No 2 (2024): Kabuyutan, Juli 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i2.249

Abstract

Keanekaragaman kearifan lokal budaya yang dimiliki oleh suatu daerah merupakan sarana dan prasarana penunjang dalam upaya memperkaya kebudayaan daerah. Kearifan dimaksud dapat berfungsi juga sebagai filter dan alat yang tangguh untuk membendung arus masuknya budaya mancanegara yang tidak sesuai dengan jati diri dan kepribadian serta kepentingan bangsa kita. Kita dituntut untuk memilah dan memilihnya dengan teliti, lewat pengetahuan yang mewadahi latar belakang penciptaan dan sosiokultural. Kearifan lokal budaya masyarakat adat Baduy sebagai ‘icon’ yang masih kuat dan taat memegang adat istiadat dalam tradisi dan religi, merupakan bahasan utama tulisan ini. Metode penelitian secara khusus menggunakan deskriptif analisis, yang disesuaikan dengan metode kajian agar mampu menganalisis dan menafsirkan data-data kongkrit yang terjadi di Masyarakat Adat Kanekes Baduy, melalui suatu proses pemahaman yang akan sangat bergantung pada keadaan data dan objek kajian, sehingga didapatkan hasil adanya keterjalinan yang harmonis antara adat, tradisi serta religi yang dianut oleh masyarakat adat Kanekes Baduy.
PROBLEMATIKA TINGKATAN BAHASA DAN STRATIFIKASI SOSIAL DALAM PENGGUNAAN UNDAK-USUK BAHASA SUNDA Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana
KABUYUTAN Vol 3 No 3 (2024): Kabuyutan, Nopember 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i3.287

Abstract

Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna di antara makhluk lainnya di dunia ini, memiliki kemampuan berkomunikasi dan mengimplementasikan perasaan serta pikirannya melalui beragam bahasa yang dikuasainya. Mengapa? Karena manusia mempunyai cipta, rasa, dan karsa, yang menjadi pembedanya. Eksistensi dan perkembangan bahasa hampir sama dengan perkembangan manusia di dunia ini. Namun, tidak setiap suku bangsa menerima bahasa dalam waktu yang bersamaan. Hal itu bergantung kepada kesadaran tentang pentingnya tanda-tanda untuk membuktikan adanya cipta, rasa, dan karsa dimaksud. Dengan adanya kesadaran itulah, maka timbullah tulisan berupa aksara bahkan bahasa untuk merekam suara atau bunyi bahasa yang dikeluarkan, baik lisan maupun tulisan, agar semua informasi dapat disampaikan secara menyeluruh tanpa terhambat tempat dan waktu. Namun, penggunaan dan perkembangan bahasa Sunda khususnya, berubah setelah adanya pengaruh Unggah Ungguh Basa Jawa, yang secara langsung maupun tidak langsung berdampak terhadap eksistensi dan stratifikasi Bahasa Sunda. Pemakaian Undak Usuk Basa Sunda berdasarkan stratifikasinya meliputi bahasa kasar, sedeng, dan lemes beserta variannya, yang cukup menarik untuk dibahas dalam tulisan ini. Metode penelitian untuk mengungkap masalah Undak-Usuk Basa Sunda menggunakan deskriptif analisis komparatif, dan metode kajian struktur, yang melibatkan tataran fonologi, morfologi, sintaksis, juga semantik, di samping sosiolinguistik dan wacana, serta kajian budaya secara umum. Hasil yang diharapkan mampu mengungkap problematika Stratifikasi bahasa yang ada kaitannya dengan stratifikasi sosial dalam Undak-usuk Basa Sunda di masyarakat, serta penggunaannya yang baik dan benar, sesuai dengan kaidah yang berlaku.
KRITIK MENGENAI MORALITAS ORANG KOTA DI FILM-FILM SI KABAYAN Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa; Elis Suryani Nani Sumarlina
KABUYUTAN Vol 3 No 3 (2024): Kabuyutan, Nopember 2024
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v3i3.293

Abstract

Si Kabayan dikenal sebagai sosok jenaka, cerdik, dan penuh hikmah dalam menangani masalah sehari-hari. Dalam film-filmnya, ia tidak hanya menjadi simbol kehidupan pedesaan yang sederhana, tetapi juga sering berperan sebagai kritik sosial terhadap gaya hidup, moralitas, dan nilai-nilai orang kota. Konflik yang muncul antara Kabayan dengan tokoh-tokoh "orang kota" kerap menggambarkan perbedaan pandangan moral, di mana moralitas orang kota sering kali digambarkan sebagai ambisius, individualis, bahkan manipulatif, berbanding terbalik dengan nilai-nilai kekeluargaan dan kejujuran yang dipegang teguh oleh masyarakat desa. Kajian ini menganalisis kritik terhadap moralitas masyarakat perkotaan yang direpresentasikan dalam dua film Kabayan, yakni Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) dan Si Kabayan Mencari Jodoh (1994). Tujuan dari kajian ini adalah untuk mengetahui bagaimana film-film Si Kabayan merepresentasikan kritik-kritik mengenai moralitas orang kota, terutama dalam film Si Kabayan Saba Metropolitan dan Si Kabayan Mencari Jodoh. Melalui pendekatan deskriptif kualitatif dengan analisis tekstual, penelitian ini mengkaji bagaimana elemen naratif dan visual dalam kedua film tersebut merefleksikan perbedaan nilai moral antara masyarakat kota dan desa. Film Si Kabayan Saba Metropolitan menunjukkan kritik terhadap masyarakat kota yang materialistis dan jauh dari nilai spiritual melalui adegan interaksi Kabayan dengan makelar tanah asal Jakarta. Sementara itu, Si Kabayan Mencari Jodoh mengkritisi pergaulan bebas dan ambisi materialistik melalui konflik antara Kabayan, seorang pemuda desa, dengan seorang wanita kota yang berusaha merayunya. Kajian ini menegaskan relevansi karakter Kabayan sebagai medium kritik sosial terhadap fenomena urbanisasi dan modernitas, serta menggarisbawahi pentingnya nilai tradisional dalam menghadapi perubahan sosial.
TEKS MANUSKRIP MANTRA SUNDA KETERJALINAN IRAMA, DIKSI, DAN SIMILE Elis Suryani Nani Sumarlina; Rangga Saptya Mohamad Permana; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 4 No 1 (2025): Kabuyutan, Maret 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i1.313

Abstract

Manuskrip sebagai dokumen budaya, teksnya di era generasi Z saat ini masih berperan dan memiliki fungsi yang sangat penting, karena mampu mengungkap makna yang bermanfaat sebagai referensi literasi bagi ilmu lain, khususnya bidang sastra, bahasa, budaya, dan komunikasi. Jika dilihat dari strukturnya, teks mantra Sunda termasuk ke dalam bentuk puisi Sunda, yang terikat oleh aturan kepuitisan sebuah karya sastra. Unsur irama, diksi, dan simile tidak terlepas dari rima dan citraan dalam upaya menunjang kepuitisan teks mantra itu sendiri, Keterjalinan unsur irama, diksi, dan simile menarik perhatian pembaca, membuat lebih hidup, serta dapat menimbulkan gambaran angan dan harapan. Irama dan diksi memperjelas makna dalam pembacaan dan teks mantra, demikian juga dengan simile mampu menghidupkan perasaan yang akan diungkapkan lebih nyata dan jelas, dan lebih ekspresif. Bahasa yang digunakan dalam teks mantra melalui keterjalinan irama, diksi, dan simile, melalui kata-kata yang susunan dan artinya sengaja disimpangkan dari susunan dan artinya yang biasa, menjadi luar biasa, untuk mendapatkan kesegaran dan kekuatan makna serta ekspresi dengan cara memanfaatkan irama, tekanan, diksi, serta simile melalui perbandingan, pertentangan, dan pertautan yang ada dalam sebuah teks mantra. Kajian ini termasuk penelitian kualitatif, melalui metode penelitian deskriptif analisis, dan metode kajian sastra lewat struktur puisi mantra dan maknanya, sehingga hasil dari keterjalinan irama, diksi, dan simile bermanfaat untuk mempejelas dan memperhalus perkataan (cerita) agar lebih indah’, karena bahasa itu dianggap hanya sekadar ‘bahan’, keindahan dan kehalusan bahasa menjelma setelah mengalami pengolahan melalui gubahan seorang pengarang.
KRITIK SOSIAL DALAM FILM-FILM KABAYAN DI ERA ORDE BARU: KETIMPANGAN DESA-KOTA, PERILAKU MATERIALISTIS DAN DAMPAK GLOBALISASI Rangga Saptya Mohamad Permana; Elis Suryani Nani Sumarlina; Undang Ahmad Darsa
KABUYUTAN Vol 4 No 1 (2025): Kabuyutan, Maret 2025
Publisher : PT. RANESS MEDIA RANCAGE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61296/kabuyutan.v4i1.316

Abstract

Artikel ini membahas representasi kritik sosial dalam dua film Kabayan produksi awal 1990-an, yaitu Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) dan Si Kabayan Mencari Jodoh (1994), yang hadir di tengah situasi sosial-politik Orde Baru Indonesia. Kedua film ini tidak hanya menawarkan hiburan komedi, tetapi juga menyisipkan kritik terhadap ketimpangan pembangunan antara desa dan kota, perubahan nilai-nilai masyarakat desa, serta penetrasi budaya global akibat arus modernisasi. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menerapkan metode analisis naratif dan semiotik untuk menelaah simbol, dialog, sinematografi, serta representasi karakter dalam kedua film tersebut. Temuan menunjukkan bahwa karakter Kabayan digunakan sebagai metafora dari masyarakat desa yang lugu namun cerdas, yang harus berhadapan dengan kompleksitas modernitas kota. Isu-isu seperti gagap teknologi, stereotip sosial, materialisme, dan disorientasi nilai ditampilkan melalui konflik naratif dan simbol visual, seperti eskalator, jembatan penyeberangan, dan jam tangan. Narasi jenaka yang digunakan menjadi strategi efektif untuk menyampaikan kritik secara halus (polite criticism), mengingat ketatnya sensor budaya pada masa Orde Baru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa film Kabayan tidak hanya menjadi cermin dari realitas sosial saat itu, tetapi juga menjadi arsip budaya yang mencatat transformasi ideologis masyarakat Indonesia dalam menghadapi ketimpangan dan globalisasi. Dengan demikian, film populer dapat berfungsi sebagai media perlawanan kultural yang penting dalam studi pembangunan dan komunikasi.