Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Optimalisasi Kinerja Irigasi Bawah Permukaan Berpori pada Budidaya Tanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.) Triana, Arjuna Neni; Mursidi, Mursidi; Setyaaji, Primayoga Harsana; Kartika, Jaya Mega; Andini, Farah Aprillia
Teknotan: Jurnal Industri Teknologi Pertanian Vol 19, No 3 (2025): TEKNOTAN, Desember 2025
Publisher : Fakultas Teknologi Industri Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jt.vol19n3.5

Abstract

Irigasi bawah permukaan berpori adalah inovasi terkini dalam pengairan, yang memungkinkan penyaluran air di sekitar akar tanaman tanpa mengalami evaporasi, aliran permukaan, maupun infiltrasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan penggunaan air dengan menggunakan irigasi berpori, sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanama. Metode penelitian yang digunakan dalam adalah metode deskriptif dan studi pustaka yang menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik. Parameter penelitian pada penelitian ini yaitu suhu dan kelembaban udara, sifat fisik tanah, konduktivitas hidrolik, pola sebaran, evapotranspirasi aktual (ETc), koefisien tanaman (Kc), total kebutuhan air tanaman, efisiensi penggunaan air dan produktivitas tanaman. Hasil pengukuran evapotranspirasi aktual tanaman pada setiap fase pertumbuhan tanaman berturut-turut yaitu 2,45 mm/hari, 3,4 mm/hari dan 1,25 mm/hari. Rerata nilai evapotranspirasi potensial tanaman (ETo) adalah sebesar 2,49 mm/hari. Nilai koefisien tanaman (Kc) pada masa vegetatif adalah 0,9, generatif sebesar 1,3 dan generatif akhir sebesar 0,5. Total kebutuhan air tanaman tomat selama masa vegetatif yaitu 4 liter, generatif sebanyak 8,4 liter dan generatif akhir (panen) sebanyak 1,2 liter. Pola sebaran air tertinggi yaitu 3,9 cm (B8), sedangkan yang terendah nya yaitu B2 dihari pertama dengan 3,0 cm.  Pada pola sebaran air yang di dapatkan sebaran yg menyebarkan airnya dengan baik yaitu pada M1. Produksi tanaman tertinggi pada Q1N2M2 yaitu penyiraman 2 menit dengan pertambahan nutrisi 200 ppm perminggu serta media tanam campuran tanah ultisol dan cocopeat. Jumlah daun tebanyak pada sampel Q1N2M2 yaitu 198 helai dan Q2N2M2. Berat buah tertinggi terdapat pada sampel Q1N2M2 dengan rerata berat sebesar 103,55 gram.
Evaluasi Sifat Fisik Tanah Ultisol Terhadap Kinerja Irigasi Berpori Berbasis Internet of Things (IOT) Afriyani, Rani; Neni Triana, Arjuna; Puspitahati, Puspitahati
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 1 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i1.5430

Abstract

Irigasi porous merupakan system irigasi mikro dengan menggunakan emitter berpori untuk mendistribusikan air secara perlahan dan merata ke zona ajar tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji performa sebaran air system irigasi porous terhadap sifat fisik tanah ultisol pada lahan rawa lebak. Penelitian dilaksanakan pada November 2024 sampai Januari 2025 di Rumah Tanaman dan Laboratorium Teknik Pertanian, Universitas Sriwijaya. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan pengumpulan data di lapangan secara langsung atau pengamatan langsung. Beberapa variabel yang diukur meliputi pengukuran suhu dan kelembaban, debit air dan volume air, kadar air tanah, pola pembasahan tanah, infiltrasi, perkolasi, pola sebaran, dan sifat fisik tanah terdiri dari bulk density, porositas dan konduktivitas hidrolik tanah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa campuran ultisol dan cocopeat (M3) mempunyai kadar air tertinggi sebesar 97,01%, sementara bulk density tertinggi terdapat pada M1 seebsar 0,58 gr/cm dengan konduktivitas hidrolik terendah seebsar 5,30 cm/jam. Pola sebaran air terbaik diperoleh pada M1 sebaliknya M4 mengahasilkan konduktivitas hidrolik tertinggi sebesar 6,37 cm/jam. Hal ini dipengari bahwa pemilihan campuran media tanam yang tepat dapat meningkatkan efektivitas sistem irigasi porous pada tanah ultisol lahan rawa.
PENERAPAN SISTEM IRIGASI TETES BERBAGAI VOLUME AIR DAN MEDIA TANAM TERHADAP PRODUKSI BAWANG MERAH (Allium ascalunicum L.) Arjuna Neni Triana; Hersyamsi Hersyamsi; Sri Yanto
Jurnal Penelitian Pertanian Terapan Vol 25 No 1 (2025)
Publisher : Politeknik Negeri Lampung.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25181/jppt.v25i1.3556

Abstract

This study aims to determine the effect of various organic growing media with different water volume percentages on the growth of red onion plants (Allium ascalunicum L.) using drip irrigation. The research method used was a Factorial Randomized Block Design (RBD) with treatment factors of water volume percentage (A) and growing media combination (B) with three replications. The observed parameters were soil moisture content, water supply efficiency, and plant growth including plant height, number of leaves, bulb weight, and bulb diameter. The results showed the highest water content at A1B2, which was 65.04%, and the lowest water content at A3B3, which was 38.39%. The best water use efficiency was A1B3, which was 3.21 kg/m³, while the lowest efficiency was A3B2, which was 0.12 kg/m³. The tallest plant was A1B3, which was 47.30 cm, and the shortest was A2B2, which was 16.66 cm. Water supply and various growing media treatments affected the number of leaves, with the most at A1B3, which was 7.23 leaves, and the least at A2B2, which was 3.70 leaves. The largest bulb diameter was A1B1, which was 3.33 cm, and the smallest was A2B4, which was 0.92 cm. The results of the advanced test BNJ 5% showed that the bulb diameter of treatments A3, A2, and A1 had a significant effect on each other. The largest bulb weight was at treatment A1, which was 4.60 grams, and the smallest was A3, which was 2.79 grams. Bulb weight measurement at treatment A1B3 had an average weight of 3.58 grams, while the lowest was at A2B4 with 0.57 grams. The combination of water supply and various growing media had a significant effect on soil moisture content, water efficiency, and plant growth.