Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Analisis Keanekaragaman Hayati: Peluang Agroforestri dalam Mengatasi Perubahan Iklim di Dulamayo, Gorontalo, Indonesia Hiola, Abdul Samad; Sandalayuk, Daud; Ruruh, Alexander
Journal of International Multidisciplinary Research Vol. 2 No. 12 (2024): Desember 2024
Publisher : PT. Banjarese Pacific Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62504/jimr1198

Abstract

The challenges posed by climate change and the decline of biodiversity to the sustainability of global agricultural systems are serious.Agroforestry has emerged as a strategy with the potential to enhance the resilience of agricultural systems while conserving biodiversity amidst the threats of climate change.This study aims to evaluate the potential of agroforestry to enhance biodiversity and the resilience of agricultural systems to climate change in Dulamayo, Gorontalo. The research methodology is based on vegetation analysis and the calculation of biodiversity indices, with data collection encompassing measurements of tree characteristics and species identification.The results indicate the presence of 17 tree species with a total of 154 individuals, where Candlenut (Aleurites molucana) and Sugar Palm (Arenga pinnata) dominate with proportions of 22.73% and 20.13%, respectively. The Shannon-Wiener diversity index yielded a moderate value (H' = 2.311) with a high evenness level (E = 0.816), indicating a high ecosystem stability.The findings suggest that the agroforestry system in Dulamayo plays a crucial role in supporting biodiversity and the resilience of ecosystems to climate change through its complex and diverse vegetation structure.
Diversitas Vegetasi dalam Sistem Agroforestri Tradisional dan Pengaruhnya pada Resiliensi Ekologis-Ekonomis: Perspektif Komunitas Lokal di Sekitar Hutan Pendidikan Hiola, Abdul Samad
Journal of International Multidisciplinary Research Vol. 3 No. 6 (2025): Juni 2025
Publisher : PT. Banjarese Pacific Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62504/jimr1271

Abstract

Meskipun pengakuan terhadap agroforestri tradisional  sebagai strategi pengelolaan lahan berkelanjutan semakin meningkat, penelitian yang mengintegrasikan analisis keanekaragaman tanaman dengan persepsi lokal untuk memahami ketahanan ekologi-ekonomi masih terbatas. Penelitian ini mengkaji hubungan antara keanekaragaman tanaman dalam sistem agroforestri dan kontribusinya terhadap stabilitas ekosistem serta ketahanan ekonomi komunitas lokal di Desa Dulamayo Selatan, sekitar Hutan Pendidikan Universitas Gorontalo, Indonesia. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran, kami menggabungkan analisis vegetasi kuantitatif melalui 9 plot dinamis (72 sub-plot) dengan survei sosial yang melibatkan 60 rumah tangga dan wawancara mendalam dengan 5 informan kunci, dengan penilaian menggunakan skala Likert (1-5). Analisis Indeks Nilai Penting (INP) menunjukkan dominasi spesies serbaguna, dengan Arenga pinnata (INP=113,72), Lansium parasiticum (INP=68,8), dan Aleurites moluccanus (INP=48,45) menjadi komponen kunci dalam sistem agroforestri lokal. Komunitas lokal menilai tinggi jasa ekosistem dari sistem agroforestri, khususnya penyediaan air bersih (4,4/5) dan mitigasi bencana alam (4,2/5). Analisis regresi menunjukkan korelasi positif yang signifikan antara kesadaran lingkungan dan manfaat ekonomi (R²=0,72), mengindikasikan bahwa kesadaran ekologis dan keuntungan ekonomi dapat bersinergi dalam pengelolaan agroforestri. Preferensi terhadap spesies serbaguna mencerminkan strategi adaptif untuk memaksimalkan manfaat dari sumber daya lahan yang terbatas, sambil menjaga keanekaragaman hayati dan fungsi ekosistem. Temuan ini menegaskan pentingnya mengintegrasikan kesadaran ekologis ke dalam program pengembangan agroforestri dan menyoroti potensi diversifikasi spesies untuk meningkatkan ketahanan ekologi sekaligus stabilitas ekonomi pada komunitas yang bergantung pada hutan.  
PENDAMPINGAN PENYUSUNAN RANCANGAN PERATURAN DESA (RANPERDES) DI DESA BONTULA KECAMATAN ASPARAGA KABUPATEN GORONTALO Junus, Dikson; Nuna, Muten; Hiola, Abdul Samad; Podungge, Abdul Wahab; Napir, Suaib; Hunawa, Robby; Sahi, Nirmala A.; Arsjad, Muh Fachri; Tabo, Sarfan; Walahe, Dewi; Harun, Nur Istiyan; Polinggapo, Jefri; Pauweni, Lisnawaty; Puspaningrum, Dian; Hatta, Herman
Insan Cita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 1 (2025): Februari 2025-Insan Cita: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/insancita.v7i1.3817

Abstract

This activity is a form of Community Service (PKM) which aims to open the horizons and insights of the community regarding the Draft Village Regulation as an important part of better village governance. The methods used in this mentoring activity include activity planning, activity preparation, activity implementation and discussion in the form of village deliberation meetings accompanied by dialogues that allow participants to explore as much knowledge as possible and find solutions to the problems of drafting village regulations faced. The results achieved in the mentoring activity for drafting Village Regulations carried out in Bontula Village, Asparaga District, namely where the activity ran smoothly and without any significant obstacles, both from the planning stage to the village deliberation. The smooth running of the activity was due to the support of all stakeholders in helping the Community Service team to carry out mentoring activities optimally. In this activity, the resource person not only delivered material related to the urgency of drafting Village Regulations in the implementation of village government, but also the technicalities of drafting Village Regulations accompanied by simulations that were focused and easy to understand by participants, so that participants in this activity could understand the theory and practice of drafting Village Regulations in accordance with applicable laws and regulations. The knowledge gained by participants in this activity is expected to be a strong foundation for producing quality Village Regulations, especially in Bontula Village, Asparaga District, Gorontalo Regency.Keywords : Mentoring, Drafting, Draft Village Regulations
Peran Komunitas dalam Konservasi Satwa Liar: Studi pada Kegiatan Penangkaran Burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Cagar Alam Panua, Gorontalo, Indonesia Hiola, Abdul Samad; Sandalayuk, Daud; Ruruh, Alexander; Puspaningrum, Dian; Ernikawati, Ernikawati
Insan Cita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2025): Agustus Insan Cita: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/insancita.v7i2.3987

Abstract

Keterlibatan masyarakat dalam konservasi satwa liar merupakan aspek fundamental dalam pengelolaan keanekaragaman hayati yang berkelanjutan, khususnya untuk spesies endemik dan terancam punah seperti burung Maleo (Macrocephalon maleo) di Sulawesi, Indonesia. Penelitian ini mengkaji peran komunitas lokal dalam upaya konservasi di Cagar Alam Panua, Gorontalo, dengan fokus utama pada pendalaman pengetahuan, kesadaran, dan partisipasi aktif masyarakat dalam pelestarian M.maleo.Menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus, penelitian menerapkan metode wawancara mendalam dan observasi untuk mengeksplorasi perspektif masyarakat terhadap konservasi. Hasil penelitian mengungkapkan tingkat kesadaran masyarakat lokal yang signifikan terkait karakteristik unik M.maleo, status endemisnya, dan kebutuhan konservasi kritis. Seluruh responden menunjukkan pemahaman komprehensif tentang signifikansi ekologis spesies dan keterlibatan aktif dalam berbagai aktivitas konservasi, termasuk pemantauan habitat, program pelepasliaran, dan edukasi lingkungan.Temuan kunci menegaskan pentingnya strategi konservasi berbasis masyarakat yang mengintegrasikan pengetahuan lokal dengan pendekatan ilmiah. Penelitian mengidentifikasi tantangan substantif seperti keterbatasan sumber daya finansial dan pengetahuan teknis, sekaligus mengungkap peluang signifikan untuk pengembangan kapasitas dan transfer pengetahuan antargenerasi. Pendekatan kolaboratif multipihak teridentifikasi sebagai faktor kritis dalam keberhasilan upaya konservasi.Studi ini menekankan bahwa konservasi efektif melampaui sekadar perlindungan spesies, melainkan merepresentasikan hubungan dinamis antara komunitas manusia dan lingkungan alamnya. Dengan mendorong keterlibatan masyarakat secara aktif, konservasi dapat ditransformasi menjadi gerakan sosial yang bermakna, berkelanjutan, dan menjamin kelangsungan spesies endemik unik burung  M.maleo.
Structural Compensation and Economic Value: How Traditional Agroforestry Systems Maintain Biodiversity in Sulawesi's Wallacea Hotspot Hiola, Abdul samad
Jurnal Penelitian Kehutanan BONITA Vol. 7 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Universitas Andi Djemma Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55285/hv9w2b95

Abstract

This study analyzed the trade-offs and synergies between economic productivity and biodiversity conservation across different land-use systems in Sulawesi, Indonesia. NMDS analysis revealed significant differentiation in species composition across systems (PERMANOVA, F=12.34, p<0.001). Natural forests were characterized by a high proportion of endemic species such as Agathis robusta, Molonggoile spp., and Biamenga spp., while agroforestry systems were dominated by economically valuable species such as Aleurites moluccanus (candlenut), Arenga pinnata (sugar palm), and Durio zibethinus (durian). Economic valuation revealed substantial differences in value per hectare: candlenut agroforestry (USD 2,115), sugar palm agroforestry (USD 1,785), durian agroforestry (USD 1,627), plantation forests (USD 895), and natural forests (USD 327). The analysis revealed a negative correlation between species richness and economic value (r=-0.87, p<0.05), but a positive correlation between tree density and economic value (r=0.79, p<0.05). Redundancy analysis identified basal area and tree density as the most influential vegetation structure parameters on species composition patterns (R²=0.68, p<0.001). The agroforestry system maintained basal area through higher densities of smaller trees, suggesting a structural compensation mechanism. These findings demonstrate that management intensification for economic species reduces species richness while maintaining structural parameters that support ecological functions. Structural compensation mechanisms in agroforestry provide an effective strategy for maintaining biodiversity in tropical landscapes under deforestation pressure, while highlighting the potential of an integrated approach to balancing conservation and sustainable development in the Wallacea hotspot.
Strategi Adaptif untuk Pemeliharaan Tahun Pertama Program Rehabilitasi Hutan dan Lahan di Wilayah Rentan Iklim: Bukti Empiris dari Gorontalo, Indonesia Hiola, Abdul Samad; Desi Ishak; Firman Syahputra; Masitha; Oktavianus Tato; Revalina P. Raisyah
Journal of International Multidisciplinary Research Vol. 4 No. 2 (2026): Februari 2026
Publisher : PT. Banjarese Pacific Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62504/jimr1495

Abstract

Penelitian ini menganalisis implementasi kegiatan pemeliharaan tahun pertama (P1) dalam program Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) Model UPSA di Desa Motinelo, Kabupaten Gorontalo, dengan fokus pada strategi adaptif untuk mengatasi tantangan kematian bibit akibat kondisi musim kemarau. Dilaksanakan dari Oktober hingga Desember 2025, penelitian ini menggunakan pendekatan observasional dengan pemantauan lapangan sistematis pada lahan seluas 2 hektar yang dikelola oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) "Mentari Hijau". Pengumpulan data melibatkan observasi langsung, wawancara, dan dokumentasi visual terhadap delapan aspek kegiatan pemeliharaan tahun pertama sesuai dengan pedoman teknis RHL. Temuan penelitian mengungkapkan bahwa distribusi bibit ke lubang tanam telah dilaksanakan secara lengkap dengan total 2.000 bibit yang terdiri dari Nyatoh (250 batang), Nangka (250 batang), Alpukat Biji (1.000 batang), dan Alpukat Okulasi (500 batang). Namun, tingkat kematian bibit mencapai 35%, dengan angka tertinggi pada Alpukat Biji (40%) akibat musim kemarau yang berkepanjangan. Pemeliharaan teknik konservasi tanah telah dilaksanakan pada seluruh area seluas 2 hektar, dengan teras bangku (60%) dan teras gulud (40%). Aplikasi hidrogel sebanyak 3 kg terbukti sebagai strategi adaptif yang efektif, sementara kegiatan penyiangan dan pendangiran baru mencapai 60% dari total area. Analisis lebih lanjut mengungkapkan bahwa dominasi Hasil Hutan Bukan Kayu (62,5%) mencerminkan strategi KTH dalam mengoptimalkan manfaat ekonomi jangka pendek. Temuan ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan strategi adaptif dalam implementasi program RHL pada fase kritis pemeliharaan tahun pertama, terutama di wilayah dengan pola cuaca yang tidak menentu. Implikasi praktis meliputi kebutuhan penguatan kapasitas teknis petani hutan, pengembangan sistem pemantauan yang responsif, serta integrasi pengetahuan lokal dengan rekomendasi teknis berbasis ilmu pengetahuan untuk meningkatkan ketahanan program RHL terhadap fluktuasi iklim yang semakin tidak dapat diprediksi. Studi ini membuktikan bahwa kombinasi teknik konservasi tanah dengan aplikasi hidrogel dapat secara signifikan meningkatkan tingkat kelangsungan hidup bibit di wilayah yang rentan terhadap perubahan iklim.
Kepatuhan Prosedural dalam Penegakan Hukum PETI dan Dampaknya terhadap Pemulihan Ekosistem Hutan Tropis di Pohuwato, Indonesia Hiola, Abdul Samad; Daud Sandalayuk; Alexander Ruruh; Nabila Margareta Hakim; Abdul Alim
Journal of International Multidisciplinary Research Vol. 4 No. 2 (2026): Februari 2026
Publisher : PT. Banjarese Pacific Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62504/jimr1497

Abstract

Penelitian ini menganalisis keterkaitan antara kepatuhan prosedural penegakan hukum terhadap penambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Pohuwato, Indonesia, dengan pemulihan ekosistem. Melalui studi kasus terstruktur, dokumentasi hukum 14 bulan, observasi lapangan, dan analisis citra satelit dievaluasi terkait kepatuhan terhadap KUHAP pada tiga tahap penegakan hukum (penyidikan, penuntutan, persidangan) serta indikator lingkungan (tutupan vegetasi, konsentrasi merkuri, keanekaragaman hayati). Temuan utama menunjukkan bahwa kasus yang mematuhi ketat timeline KUHAP mencapai pemulihan ekosistem 40% lebih cepat dibanding kasus tertunda. Pohuwato mencatat tingkat konversi menjadi vonis bersalah 75% (di atas rata-rata nasional 60%), dengan korelasi positif kuat (r=0,87; p<0,01) antara kualitas bukti lingkungan forensik dan keberhasilan penuntutan. Bukti konsentrasi merkuri terbukti sangat efektif, menghasilkan vonis bersalah pada 90% kasus. Meski aktivitas PETI menurun 85% dalam radius 5 km pasca-penindakan, peningkatan tutupan vegetasi hanya 15% dalam 6 bulan, mengindikasikan kecepatan pemulihan ekologis yang lebih lambat. Signifikan bahwa 70% tersangka menyatakan kesiapan berpartisipasi dalam program restorasi, berkorelasi signifikan dengan integrasi bukti ilmiah (r=0,79; p<0,05). Hasil ini membuktikan bahwa efisiensi prosedur hukum tidak hanya menghentikan kerusakan lebih lanjut, tetapi juga menjadi fondasi kritis bagi percepatan pemulihan ekosistem. Studi ini menjembatani celah penelitian dengan menghubungkan secara empiris kepatuhan prosedur hukum dengan hasil lingkungan, sekaligus menantang pendekatan ekonomi pertambangan yang berpusat pada Eropa. Implikasi praktis mendesak pelatihan khusus bukti lingkungan bagi jaksa dan pedoman operasional integrasi data ilmiah ke dalam proses hukum. Temuan ini menyediakan landasan aksi bagi penyelarasan kerangka hukum Indonesia dengan realitas konservasi, sekaligus menawarkan model perlindungan hutan tropis bagi negara berkembang kaya sumber daya.
PENGUATAN KAPASITAS APARAT DESA DALAM IMPLEMENTASI PERATURAN DESA UNTUK PROGRAM PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN Hiola, Abdul samad; Junus, Dikson; Nuna, Muten; Napir, Suaib
Insan Cita : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 1 (2026): Februari 2026-Insan Cita: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32662/insancita.v8i1.4579

Abstract

The misalignment between Village Regulations (Peraturan Desa—Perdes) and village development planning documents remains a critical challenge in village governance in Indonesia. Inconsistencies among Perdes, the Village Medium-Term Development Plan (RPJMDes), the Village Government Work Plan (RKPDes), and the Village Budget (APBDes) often result in unfocused programs and increased legal vulnerability. This community engagement initiative aimed to strengthen the capacity of village officials in implementing Perdes to ensure that development programs are legally grounded and institutionally legitimate. The program was conducted in Bondula and Bihe Villages, Gorontalo Regency, on September 9, 2025, involving 30 village officials. A Participatory Action Research (PAR) approach was employed through an intensive eight-hour training session. Data were collected using pre-test and post-test assessments, participatory observation, and Focus Group Discussions (FGDs). The findings indicate a significant improvement in participants’ knowledge, with average scores increasing from 4.2 to 7.8 (an 85.7% increase; p < 0.001). Performance indicators exceeded expectations: 100% of participants were able to identify regulatory mandates within Perdes, and 86.7% successfully drafted program proposals aligned with Perdes provisions. Key outputs included four Perdes-based village program drafts with a total budget allocation of IDR 750 million, a synchronization matrix integrating Perdes with RPJMDes–RKPDes–APBDes, and an implementation roadmap. The collaboration between academia and international development programs proved effective in enhancing village governance capacity and demonstrates strong potential for replication to support sustainable rural development in Indonesia. . Keywords:  Village apparatus capacity, sustainable development, village governance.