Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Dampak Penambangan Emas Terhadap Keanekaragaman Makrozoobentos di Sungai Batang Kuantan Villa Indah Delfia; Yulminarti Yulminarti
Polygon : Jurnal Ilmu Komputer dan Ilmu Pengetahuan Alam Vol. 2 No. 3 (2024): Mei: Polygon : Jurnal Ilmu Komputer dan Ilmu Pengetahuan Alam
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Matematika dan Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/polygon.v2i3.68

Abstract

Unlicensed Gold Mining (PETI) is a mining term that does not get permission from the government as the holder of state control rights over mining materials. This almost happened on the entire banks of the Batang Kuantan River, such as Pebaun Hulu Village. This study aimed to analyze the diversity of macrozoobentos in the waters of the Batang Kuantan River. Sampling was carried from in December 2023-January 2024 in the Batang Kuantan River using Ekman Grab and identification was carried out at the Ecology Laboratory of the Department of Biology, FMIPA, University of Riau. The results showed that there was a significant difference in the diversity, uniformity, and composition of macrozoobentos between Station one and Station two in the Batang Kuantan River. Station one showed higher diversity (H' = 1.48) compared to Station two (H' = 0.82), indicating greater species variation at Station one. Similarly, the uniformity (e) of Station one (0.70) is higher than that of Station 2 (0.39), signifying a more even distribution of individuals at Station one. Community similarity analysis (CJ) showed that the two stations had a similarity rate of 0,83 indicating a considerable difference in species composition between the two stations.
Estimation of Aboveground Carbon Stock in Oil Palm Plantations on Tapung Peatland, Kampar, Riau Fatonah, Siti; Yulianti, Githa Adennita; Yusfiati, Yusfiati; Yulminarti, Yulminarti; Fitmawati, Fitmawati
Jurnal Biologi Tropis Vol. 25 No. 4 (2025): Oktober-Desember
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v25i4.10223

Abstract

Climate change driven by greenhouse gas emissions highlights the need to estimate carbon stocks in various ecosystems, including peatlands increasingly converted into oil palm plantations. This study aimed to estimate aboveground carbon (AGC) stocks in oil palm plantations on Tapung peatland, Kampar, Riau. The research was conducted from February to August 2025 in Pagaruyung, Air Terbit, and Sungai Putih villages using purposive sampling with 0.05 ha circular plots. Tree biomass and necromass were estimated with allometric equations, while understory and litter were measured directly. Results showed total carbon stocks ranged from 21.43 to 24.78 ton/ha, with the highest in Air Terbit (24.78 ton/ha), followed by Pagaruyung (23.30 ton/ha), and Sungai Putih (21.43 ton/ha). Oil palm trees were the main contributors (±15–17 ton/ha), followed by necromass (6–9 ton/ha), whereas litter (0.14–0.20 ton/ha) and understory (0.03–0.05 ton/ha) contributed minimally. Variations were influenced by tree age, canal conditions, and plantation management. The study concludes that oil palm trees dominate AGC storage, while necromass provides medium-term carbon reserves. Management recommendations include maintaining oil palm stands, utilizing frond necromass, and sustainably managing litter and understory to support climate change mitigation.
Carbon Sequestration Potential of Traditional Agroforestry System in Rimbo Panjang Village, Kampar Based on Tree Biomass Isda, Mayta Novaliza; Fatonah, Siti; Yulminarti, Yulminarti; Roslim, Dewi Indriyani
Jurnal Biologi Tropis Vol. 24 No. 3 (2024): July - September
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v24i3.7344

Abstract

The traditional agroforestry industry is part of the Forestry and Other Land Use Net Sink 2030 (FOLU Net Sink 2030) strategy for low carbon development and climate resilience in Indonesia. This study aims to estimate the value of biomass, carbon stock, and carbon sequestration in traditional agroforestry systems in Rimbo Panjang Village, Kampar. Six plots (each measuring 20 x 20 meters) are used; three of the plots are 15 years old and three are 9 years old, respectively, for the conventional agroforestry system.  Biomass, carbon stock and carbon sequestration were estimated at the tree, pole and sapling levels.  Biomass calculations used allometric equations based on diameter at breast height (DBH) data. The results showed that carbon sequestration in Dusun 2 (618.2 tons/ha) was greater than in Dusun 1 (399 tons/ha), with an average carbon sequestration in both dusun of 508.6 tons/ha.  Trees contribute the highest value of biomass, carbon stock, and carbon sequestration, which is 74%, The difference in the value of biomass, carbon stock, and carbon sequestration in traditional agroforestry systems in Rimbo Panjang Village is significantly influenced by the average stem diameter. The various trees that make up traditional agroforestry in Rimbo Panjang Kampar, which is generally in the yard, should ideally be maintained and developed because of their high carbon sequestration potential.
Sosialisasi Potensi Pemanfatan Kanal untuk Budidaya Ikan di Kampung Benteng Hilir Kecamatan Mempura Kabupaten Siak Setyawatiningsih, Sri Catur; Susanto, Eki; Yulminarti; Fatonah, Siti; Muhammad, Ahmad
KALANDRA Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3 No 6 (2024): November
Publisher : Yayasan Kajian Riset Dan Pengembangan Radisi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55266/jurnalkalandra.v3i6.450

Abstract

Kampung  Benteng Hilir merupakan salah satu desa di Kecamatan Mempura, Kabupaten Siak,  Riau. Kejadian banjir sering terjadi di Kecamatan Mempura, termasuk di Kampung Benteng Hilir. Penyebab banjir antara lain karena curah hujan yang tinggi, yang mengakibatkan meluapnya air dari kanal-kanal yang dialirkan melalui Sungai Tonggak dan Sungai Jernih. Kegiatan ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan menurunnya pendapatan petani akibat banjir dengan memanfaatkan kanal di perkebunan kelapa sawit untuk budidaya ikan. Metode yang diterapkan selama kegiatan meliputi: sosialisasi penyampaian materi, simulasi pembuatan kolam ikan di kanal dengan metode jaring, tanya jawab dan evaluasi. Hasil dari sosialisasi ini sebagaian besar penduduk Benteng Hilir berprofesi sebagai petani kelapa sawit yang dalam masa produktif. Terdapat jenis-jenis ikan yang potensial untuk dibudidayakan oleh penduduk berupa ikan lele dan gabus. Terdapat tiga faktor penyebab kegagalan dalam budidaya sebelumnya, yaitu: banjir, pasang-surut air kanal dan keberadaan predator. Untuk mengatasi penyebab kegagalan tersebut terdapat solusi yakni pembuatan keramba jaring apung yang dapat dimodifikasi.
Estimasi Kelimpahan Kepiting Bakau (Scylla sp) di Desa Alai, Kecamatan Ungar, Kabupaten Karimun Andini Almukharima; Yulminarti
JURNAL BIOS LOGOS Vol. 15 No. 1 (2025): JURNAL BIOS LOGOS
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35799/jbl.v15i1.57601

Abstract

Kepiting bakau memiliki potensi sebagai komoditas perikanan utama yang dapat mendukung mata pencaharian para nelayan. Namun, tingginya permintaan pasar dapat mendorong nelayan untuk mengeksploitasi sumber daya ini secara berlebihan, yang mengakibatkan penurunan volume tangkapan dan penurunan rata-rata ukuran kepiting yang tertangkap. Kelimpahan kepiting bakau sangat bergantung pada kesehatan hutan mangrove, dan setiap degradasi habitat ini dapat mempengaruhi populasi kepiting secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk memperkirakan kelimpahan kepiting bakau dan menganalisis rasio jantan dan betina kepiting. Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2024 dengan menggunakan metode purposive sampling. Observasi dimulai dengan menetapkan plot berukuran 100x20 meter, di mana kepiting ditangkap menggunakan perangkap yang disebut rakang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Stasiun Satu memiliki kelimpahan kepiting tertinggi, dengan 18 individu teridentifikasi. Stasiun Dua memiliki kelimpahan sebanyak 4 individu, dan Stasiun Tiga memiliki 3 individu. Rasio kepiting jantan dan betina di Stasiun Satu adalah 67% jantan dan 33% betina, sedangkan di Stasiun Dua rasio jantan terhadap betina adalah 75% dan 25%, dan di Stasiun Tiga rasio jantan terhadap betina adalah 67% dan 33%. Lebar kerapas berkisar antara 12,63 cm hingga 13,89 cm, dengan bobot kepiting bervariasi antara 344,33 gram dan 405,32 gram.