Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI PROTEASE UTAMA (Mpro) SEBAGAI MAKROMOLEKUL TARGET DALAM PENGEMBANGAN KANDIDAT INHIBITOR NOVEL CORONAVIRUS 2019 (SARS-CoV-2) SECARA IN SILICO Taufik Muhammad Fakih; Mentari Luthfika Dewi
Jurnal Ilmiah Farmasi Farmasyifa Vol 3, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jiff.v3i2.5913

Abstract

Protease utama (Mpro) merupakan bagian utama pembentuk karakteristik coronavirus (SARS-CoV dan SARS-CoV-2). Kemajuan teknologi telah membuka peluang untuk menemukan kandidat senyawa inhibitor baru yang mampu mencegah dan mengendalikan infeksi COVID-19 melalui penghambatan Mpro SARS-CoV-2. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengeksplorasi struktur makromolekul Mpro dari kedua coronavirus tersebut secara in silico. Makromolekul Mpro terlebih dahulu dilakukan preparasi dengan menggunakan perangkat lunak BIOVIA Discovery Studio 2020. Konformasi tiga dimensi dan sekuensing dari struktur makromolekul yang telah dipreparasi kemudian diamati dan dibandingkan dengan menggunakan perangkat lunak Chimera 1.14 dan Notepad ++. Bagian sisi aktif dari makromolekul Mpro kemudian diidentifikasi dengan menggunakan perangkat lunak BIOVIA Discovery Studio 2020. Prediksi molekul inhibitor makromolekul Mpro dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak MGLTools 1.5.6 yang dilengkapi dengan AutoDock 4.2. Berdasarkan hasil identifikasi terhadap makromolekul Mpro diperoleh hasil bahwa terdapat kemiripan struktur dan situs aktif pengikatan dari kedua makromolekul tersebut. Diprediksi bentuk molekul inhibitor dari kedua makromolekul Mpro juga identik. Dengan demikian, beberapa referensi tersebut dapat digunakan sebagai acuan dalam pengembangan kandidat inhibitor kompetitif Mpro SARS-CoV-2 untuk pengobatan penyakit infeksi COVID-19.
Prediksi Stabilitas Mucroporin sebagai Kandidat Obat Berbasis Peptida melalui Simulasi Dinamika Molekular Taufik Muhammad Fakih; Mentari Luthfika Dewi; Eky Syahroni
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 7, No 3 (2020): J Sains Farm Klin 7(3), Desember 2020
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.907 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.7.3.210-217.2020

Abstract

Beberapa peptida yang terkandung dalam racun kalajengking (Lychas mucronatus) menunjukkan beragam aktivitas biologis dengan spesifisitas tinggi terhadap target. Peptida ini memiliki efek potensial terhadap mikroba dan menunjukkan potensi untuk memodulasi berbagai mekanisme biologis yang terlibat dalam imunitas, saraf, kardiovaskular, dan penyakit neoplastik. Keragaman struktural dan fungsional yang penting dari peptida tersebut membuktikan bahwa peptida dari racun kalajengking dapat digunakan dalam pengembangan obat spesifik baru. Melalui penelitian ini akan dilakukan identifikasi, evaluasi, dan eksplorasi terhadap stabilitas peptida Mucroporin yang diproduksi dari racun kalajengking dengan menggunakan simulasi dinamika molekular. Sekuens molekul peptida Mucroporin dimodelkan dengan menggunakan server PEPstrMOD. Konformasi terbaik hasil pemodelan dipilih untuk diamati stabilitasnya dengan menggunakan software Gromacs 2016.3. Trajektori yang terbentuk kemudian dianalisis berdasarkan visulasiasi dengan menggunakan software VMD 1.9.4 serta dilakukan analisis grafik RMSD dan RMSF. Hasil analisis trajektori dari simulasi dinamika molekular membuktikan bahwa molekul peptida Mucroporin-S2 memiliki stabilitas yang paling baik. Dengan demikian, molekul peptida tersebut diprediksi dapat dipilih sebagai kandidat obat berbasis peptida.
Simulasi Dinamika Molekuler Senyawa Asam Ferulat dan Turunannya dari Kulit Buah Nanas (Ananas comosus) sebagai Inhibitor Enzim Tirosinase Taufik Muhammad Fakih; Hilda Aprilia Wisnuwardhani; Mentari Luthfika Dewi; Dwi Syah Fitra Ramadhan; Aulia Fikri Hidayat; Robby Prayitno
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 8, No 2 (2021): J Sains Farm Klin 8(2), Agustus 2021
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (12140.544 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.8.2.208-220.2021

Abstract

Enzim tirosinase merupakan enzim utama pada proses pembentukan pigmen melanin. Penghambatan aktivitas enzim tirosinase secara kompetitif maupun non-kompetitif menjadi kunci utama pengembangan agen pencerah kulit. Asam ferulat merupakan salah satu senyawa antioksidan yang kuat dan mampu melindungi kulit dari dampak buruk sinar UV yang menginduksi stress oksidatif. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi interaksi molekuler antara senyawa asam ferulat dari kulit buah nanas (Ananas comosus) dan turunannya dengan enzim tirosinase menggunakan motode dinamika molekuler. Molekul senyawa uji dimodelkan menggunakan perangkat lunak Quantum ESPRESSO v.6.6. Model terbaik dipilih untuk dilakukan studi interaksi menggunakan perangkat lunak MGLTools 1.5.6 yang dilengkapi dengan AutoDock 4.2. Konformasi terbaik hasil penambatan molekuler kemudian dikonfirmasi stabilitasnya dengan simulasi dinamika molekuler menggunakan perangkat lunak Gromacs 2016.3. Berdasarkan hasil dari penambatan molekuler, senyawa asam iso-ferulat memiliki afinitas yang paling baik, yaitu dengan nilai energi bebas ikatan −25,06 kJ/mol dan memilki ikatan dengan logam seng (Zn) pada sisi aktif enzim tirosinase. Kemudian senyawa tersebut memiki stabilitas interaksi yang baik berdasarkan grafik RMSD, RMSF, Rg, SASA, RDF, dan H-Bond. Dengan demikian, senyawa asam iso-ferulat diprediksi dapat digunakan sebagai kandidat inhibitor kompetitif dan non-kompetitif enzim tirosinase
Identifikasi Mekanisme Molekuler Senyawa Bioaktif Peptida Laut sebagai Kandidat Inhibitor Angiotensin-I Converting Enzyme (ACE) Taufik Muhammad Fakih; Mentari Luthfika Dewi
Jurnal Sains Farmasi & Klinis Vol 7, No 1 (2020): J Sains Farm Klin 7(1), April 2020
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2086.504 KB) | DOI: 10.25077/jsfk.7.1.76-82.2020

Abstract

Senyawa bioaktif peptida laut saat ini menjadi fokus penelitian karena memiliki sifat yang unik. Salah satu peran biologis penting dari senyawa peptida tersebut adalah sebagai agen antihipertensi terhadap aktivitas Angiotensin-I Converting Enzyme (ACE). Terdapat beberapa senyawa peptida yang telah terbukti mampu menghambat reseptor ACE, seperti senyawa peptida yang dihasilkan oleh teripang (Acaudina molpadioides), kerang biru (Mytilus edulis), dan ikan tuna (Thunnini). Dalam penelitian ini dilakukan identifikasi dan evaluasi terhadap interaksi yang terjadi antara senyawa peptida dengan reseptor ACE menggunakan motode penambatan molekuler berbasis protein-peptida. Sequencing senyawa peptida dimodelkan terlebih dahulu menggunakan server PEP-FOLD. Konformasi terbaik dipilih untuk dilakukan studi interaksi terhadap makromolekul reseptor ACE menggunakan software PatchDock. Interaksi yang terjadi diamati lebih lanjut menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2020. Berdasarkan hasil dari penambatan molekuler berbasis protein-peptida, senyawa peptida kerang biru dan ikan tuna memiliki afinitas yang baik terhadap reseptor ACE, yaitu dengan ACE score masing-masing adalah −391,62 kJ/mol dan −516,56 kJ/mol. Dengan demikian, senyawa bioaktif peptida laut tersebut diprediksi dapat dipilih sebagai kandidat inhibitor reseptor ACE berbasis peptida
Identifikasi Interaksi Molekuler Peptida Antimikrobial dari Lendir Kulit Ikan Lele Kuning (Pelteobagrus fulvidraco) terhadap Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli secara In silico Taufik Muhammad Fakih; Mentari Luthfika Dewi
BIOEDUSCIENCE Vol 4 No 1 (2020): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1010.794 KB) | DOI: 10.29405/j.bes/4148-554951

Abstract

Background: Lendir kulit ikan baru-baru ini dikenal sebagai sumber potensial peptida antimikrobial yang berfungsi untuk memberikan pertahanan pertama terhadap bakteri patogen, seperi Escherichia coli. Beberapa peptida antimikrobial yang dihasilkan oleh lendir kulit ikan lele kuning (Pelteobagrus fulvidraco) terbukti mampu menghambat Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli, antara lain Pelteobagrin, Myxinidin, Pleurocidin, dan Pardaxin-P1. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi, evaluasi, dan eksplorasi terhadap interaksi molekuler antara molekul peptida antimikrobial dengan Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli menggunakan motode penambatan molekuler berbasis protein-peptida. Sekuensing peptida antimikrobial terlebih dahulu dimodelkan ke dalam bentuk konformasi 3D menggunakan server PEP-FOLD. Konformasi terbaik hasil pemodelan dipilih untuk selanjutnya dilakukan studi interaksi terhadap makromolekul Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli menggunakan perangkat lunak PatchDock. Interaksi yang terbentuk kemudian diamati lebih lanjut menggunakan perangkat lunak BIOVIA Discovery Studio 2020. Hasil: Hasil dari penambatan molekuler menunjukkan bahwa peptida Pardaxin-P1 memiliki afinitas paling baik, yaitu dengan ACE score −1402,39 kJ/mol. Kesimpulan: Dengan demikian, peptida antimikrobial tersebut diprediksi dapat dipilih sebagai kandidat antimikroba alami.
Identifikasi Mekanisme Fungsional Senyawa Bioaktif Peptida dari Organisme Laut sebagai Inhibitor Alami Angiotensin-I Converting Enzyme (ACE) secara In silico Taufik Muhammad Fakih; Mentari Luthfika Dewi
Majalah Farmasi dan Farmakologi Vol. 24 No. 1 (2020): MFF
Publisher : Faculty of Pharmacy, Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.227 KB) | DOI: 10.20956/mff.v24i1.9647

Abstract

Inhibitor alami Angiotensin-I Converting Enzyme (ACE) berbasis peptida bioaktif saat ini menjadi fokus penelitian karena sifatnya yang unik dan memilki berbagai peran biologis penting diantaranya adalah sebagai kandidat pengobatan hipertensi. Terdapat beberapa peptida bioaktif yang dihasilkan oleh organisme laut dan telah terbukti mampu menghambat enzim ACE, antara lain peptida bioaktif yang berasal dari udang (SV, IF, dan WP) serta peptida bioaktif yang berasal dari ikan hiu (CF, EY, MF, dan FE). Pada penelitian ini dilakukan identifikasi, evaluasi, dan eksplorasi terhadap interaksi yang terjadi antara molekul peptida bioaktif dengan makromolekul ACE secara in silico menggunakan motode penambatan molekuler berbasis protein-peptida. Sekuensing peptida bioaktif dimodelkan menjadi konformasi 3D terlebih dahulu menggunakan software PEP-FOLD. Konformasi terbaik dipilih untuk kemudian dilakukan studi interaksi molekuler terhadap makromolekul ACE menggunakan software PatchDock. Interaksi molekuler yang terjadi diamati lebih lanjut menggunakan software BIOVIA Discovery Studio 2020.  Berdasarkan hasil dari penambatan molekuler berbasis protein-peptida, peptida bioaktif CF dan IF yang berasal dari udang dan peptida bioaktif MF yang berasal dari ikan hiu memiliki afinitas yang baik, yaitu dengan ACE score masing-masing adalah −380,62 kJ/mol, −436,43 kJ/mol, dan −349,91 kJ/mol. Dengan demikian, peptida bioaktif laut tersebut diprediksi dapat dipilih sebagai kandidat inhibitor alami enzim ACE berbasis peptida sebagai alternatif antihipertensi.
Studi Literatur Pengaruh Jenis dan Konsentrasi Basis terhadap Karakteristik Masker Gel Peel Off Bella Mega Silvia; Mentari Luthfika Dewi
Jurnal Riset Farmasi Volume 2, No. 1, Juli 2022, Jurnal Riset Farmasi (JRF)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.678 KB) | DOI: 10.29313/jrf.v2i1.702

Abstract

Abstract. Peel-off gel mask is one type of mask that is easy and practical to use and has the uniqueness of containing an adhesive material where the material can form a film layer which can then be cleaned by peeling it off after it dries. Peel-off gel masks contain several important components such as film-forming, gelling agents, and humectants. These components can affect the characteristics of the peel off gel mask. The purpose of this study was to determine the effect of the type and concentration of the peel-off gel mask base on the physical characteristics of the peel-off gel mask so that the best formula could be obtained. This research was conducted using the literature study method from various research journals that have been published both nationally and internationally. Based on literature studies that have been carried out, PVA with a concentration of 12-13.5% is optimum as film-forming, HPMC with a concentration of 3-5% as a gelling agent, and propylene glycol with a concentration of 10-12% as a humectant. The ingredients with these concentrations can affect the characteristics of the peel off gel mask where the higher the concentration of the mask base, the higher the viscosity of the preparation which will cause lower dispersion, longer adhesion, and longer drying time. Abstrak. Masker gel peel off adalah salah satu jenis masker yang penggunaannya mudah dan praktis, serta memiliki keunikan yaitu mengandung bahan yang bersifat adhesive dimana bahan tersebut dapat membentuk lapisan film kemudian dapat dibersihkan dengan cara dikelupas setelah mengering. Masker gel peel off mengandung beberapa komponen penting seperti pembentuk film (film forming), pembentuk gel (gelling agent), dan humektan. Komponen-komponen tersebut dapat mempengaruhi karakteristik masker gel peel off. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis dan konsentrasi basis masker gel peel off terhadap karakteristik fisik masker gel peel off sehingga dapat diperoleh formula terbaik. Penelitian ini dilakukan dengan metode studi literatur dari berbagai jurnal penelitian yang telah dipublikasikan baik nasional maupun internasional. Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan, PVA dengan konsentrasi 12-13,5% optimum sebagai film forming, HPMC dengan konsentrasi 3-5% sebagai gelling agent, dan propilenglikol dengan konsentrasi 10-12% sebagai humektan. Bahan-bahan dengan konsentrasi tersebut mampu mempengaruhi karakteristik masker gel peel off dimana semakin tinggi konsentrasi basis masker maka semakin tinggi viskositas sediaan yang akan menyebabkan daya sebar rendah, daya lekat lebih lama, dan waktu mengering lebih lama.
Formulasi Sediaan Masker Clay Peel Off Ekstrak Daun Sirsak (Annona muricata L.) sebagai Antijerawat Desi Waliasih; Ratih Aryani; Mentari Luthfika Dewi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.021 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4047

Abstract

Abstract. Acne is a health problem that is often found on the skin and bothers both physically and psychologically. Based on previous research, soursop leaves have activity against the bacteria Propionibacterium acnes which is the bacteria that causes acne. The purpose of this study was to make a clay peel off mask formulation containing ethanolic extract of soursop leaves as an anti-acne. In this study, soursop leaf extract was made with 95% ethanol solvent using the maceration method. Extract activity test against P. acnes was carried out using the diffusion method so that the well method produced a MIC value at a concentration of 0.06% with an inhibitory diameter of 8.81 mm. The manufacture of clay peel off masks from soursop leaf ethanol extract was made based on the gelation reaction between sodium alginate and calcium sulfate. Clay peel off mask with a concentration of 15% ethanolic extract of soursop leaves is the most optimum formulation based on pharmaceutical evaluation and is known to have antibacterial activity against P. acnes. Abstrak. Jerawat merupakan masalah kesehatan yang sering ditemukan pada kulit dan mengganggu baik secara fisik maupun psikis. Berdasarkan penelitian sebelumnya, daun sirsak memiliki aktivitas terhadap bakteri Propionibacterium acnes yang merupakan bakteri penyebab jerawat. Tujuan dari penelitian ini untuk membuat formulasi sediaan masker clay peel off mengandung ekstrak etanol daun sirsak sebagai antijerawat. Pada penelitian ini dilakukan pembuatan ekstrak daun sirsak dengan pelarut etanol 95% menggunakan metode maserasi. Uji aktivitas ekstrak terhadap P. acnes dilakukan dengan metode difusi agar cara sumuran menghasilkan nilai KHM pada konsentrasi 0,06% dengan diameter hambat sebesar 8,81 mm. Pembuatan masker clay peel off ekstrak etanol daun sirsak dibuat berdasarkan reaksi gelasi antara natrium alginat dan kalsium sulfat. Masker clay peel off dengan konsentrasi 15% ekstrak etanol daun sirsak merupakan formulasi yang paling optimum berdasarkan evaluasi farmasetik dan diketahui memiliki aktivitas antibakteri terhadap P. acnes.
Formulasi Basis Masker Mata Hidrogel sebagai Metode Penghantaran Sediaan Antioksidan Gery Umami; Gita Cahya Eka Darma; Mentari Luthfika Dewi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (206.305 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4139

Abstract

Abstract. Premature aging is the process of skin aging that occurs faster than the time. Premature aging of the skin under the eyes can occur faster from exposure to UV rays, so one way to remedy this problem is to use a hydrogel eye mask as a method of delivering antioxidant preparations. The aim of this study was to find out how the formulation of a hydrogel eye mask base has good physical characteristics and is expected to provide information about the hydrogel eye mask base formulation and its evaluation to overcome the aging process that manifests in the skin under the eye area. In this study, the sodium alginate base used was with variations in concentration with 3 formulas. In formula 1 sodium alginate used is 2% (F1), formula 2 is 2.5% (F2) and formula 3 is 3% (F3), after that the hydrogel base is evaluated. Based on evaluation, a sodium alginate concentration of 2.5% in F2 is the optimum concentration with good physical characteristics. Abstrak. Penuaan dini adalah proses penuaan kulit yang terjadi lebih cepat dari waktunya. Penuaan dini pada kulit area bawah mata dapat terjadi lebih cepat karena adanya paparan radiasi sinar UV, sehingga salah satu cara untuk mengatasi masalah tersebut yaitu dengan menggunakan masker mata hidrogel sebagai metode penghantaran sediaan antioksidan. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana formulasi basis masker mata hidrogel yang memiliki karakteristik fisik yang baik serta diharapkan dapat memberikan informasi mengenai formulasi basis masker mata hidrogel dan evaluasinya untuk mengatasi terjadinya proses aging yang bermanifestasi pada kulit area bawah mata. Pada penelitian ini basis natrium alginat yang digunakan yaitu dengan variasi konsentrasi 3 formula. Pada formula 1 natrium alginat yang digunakan sebesar 2% (F1), formula 2 sebesar 2,5% (F2) dan formula 3 sebesar 3% (F3), setelah itu basis hidrogel dilakukan evaluasi. Berdasarkan hasil evaluasi basis, konsentrasi natrium alginat sebesar 2,5% pada F2 merupakan konsentrasi optimum dengan karakteristik fisik yang baik.
Kajian Pustaka Surfaktan dalam Sediaan Pembersih Inayah Fitri Wulandari; Fitrianti Darusman; Mentari Luthfika Dewi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (241.175 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4203

Abstract

Abstract. Cleansing the skin is an important thing to do in maintaining a healthy body. The skin as the outermost structure of the human body has a function as a protector between the body and the environment, immune defense, UV protection, and protection from oxidative damage. As the main defense against impurities from the outside, many types of microorganisms such as bacteria, viruses, fungi, protozoa, and other minor groups are found. Adanya pollution from the environment can also have negative effects on the skin such as skin aging and skin pigmentation. In cleaning preparations, surfactants have an important role that can function as wetters, cleaners, foaming agents, solvents, conditioners, thickeners, and to produce emollients. The mechanism of surfactants in cleaning dirt in the skin is the formation of micelles. The hydrophobic part of the surfactant will bind to impurities in the skin and its hydrophilic part will be attracted closer to the water during the rinsing process. Abstrak. Membersihkan kulit merupakan hal yang penting dilakukan dalam menjaga kesehatan tubuh. Kulit sebagai struktur terluar dari tubuh manusia memilki fungsi sebagai pelindung antara tubuh dengan lingkungan, pertahanan kekebalan, perlindungan UV, dan perlindungan dari kerusakan oksidatif. Sebagai pertahanan utama terhadap kotoran dari luar, banyak ditemukan berbagai jenis mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, protozoa, dan kelompok minor lainnya. Adanya polusi dari lingkungan juga dapat memberikan efek negatif terhadap kulit seperti penuaan kulit dan pigmentasi kulit. Dalam sediaan pembersih, surfaktan memiliki peran yang penting yang dapat berfungsi sebagai sebagai pembasah, pembersih, bahan pembusa, pelarut, kondisioner, pengental, dan untuk menghasilkan emolien. Mekanisme surfaktan dalam membersihkan kotoran di kulit yaitu dengan pembentukan misel. Bagian hidrofobik dari surfaktan akan berikatan dengan kotoran di kulit dan bagian hidrofiliknya akan tertarik mendekati air ketika proses pembilasan.