Claim Missing Document
Check
Articles

Literature Review Formulasi Sediaan Masker Clay Antioksidan Dona Indriastuti; Mentari Luthfika Dewi; Sani Ega Priani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.71 KB) | DOI: 10.29313/bcsp.v2i2.4850

Abstract

Abstract. Skin is the outermost organ of the body that lines the human body. The skin has a bad effect if it is exposed to the sun for too long. Therefore, skincare is very necessary to keep the skin healthy, beautiful, and looks clean. One way is to use a face mask. Masks are one of the skincare cosmetics. The special characteristic of the mask preparation is that it is easy to use and clean. One of the most popular facial mask preparations is the clay-based wash-off type, which is often referred to as clay facial masks or by the market name "mud packs". Clay-based face masks have the effect of tightening the skin and cleansing the skin. The mask is applied to the face when it is wet, and it will dry by itself. Currently, the use of natural ingredients has been developed as a source of antioxidants in cosmetic preparations. Antioxidants are needed to minimize sun damage. Antioxidant compounds function to counteract free radicals (molecules or atoms whose chemical properties are very unstable) that damage skin tissue. These compounds work by binding to free radical atoms/molecules so that they become stable. The purpose of this literature review study is to determine the potential for antioxidant activity and the class of active compounds and their formulations in clay mask preparations through a literature search. Based on the literature study, the clay mask formulation design with the most optimum physical performance based on organoleptic, homogeneity, viscosity, pH, drying time is a preparation containing 25% kaolin concentration and 1% bentonite. Abstrak. Kulit adalah organ terluar dari tubuh yang melapisi tubuh manusia. Kulit meiliki efek buruk jika terkena sinar matahari terlalu lama. Oleh karena itu, perawatan kulit sangat diperlukan untuk memelihara agar kulit tetap sehat, indah dan terlihat bersih. Salah satu caranya adalah menggunakan masker wajah. Masker adalah salah satu kosmetik perawatan kulit. Karakteristik khusus dari sediaan masker adalah mudah digunakan dan dibersihkan. Salah satu yang sangat populer sediaan masker wajah adalah tipe wash-off dengan basis clay, yang sering disebut dengan clay facial masks atau dengan nama di pasaran adalah sediaan “mud packs”. Masker wajah berbahan dasar clay memiliki efek untuk mengencangkan kulit dan membersihkan kulit. Masker dioleskan ke wajah dalam keadaan basah, dan akan mengering dengan sendirinya. Saat ini telah dikembangkan pemanfaatan bahan-bahan alam sebagai sumber antioksidan dalam sediaan kosmetika. Antioksidan diperlukan untuk meminimalkan kerusakan akibat sinar matahari. Senyawa antioksidan berfungsi menangkal radikal bebas (molekul atau atom yang sifat kimianya sangat tidak stabil) sehingga merusak jaringan kulit. Senyawa ini bekerja dengan cara mengikat atom/molekul radikal bebas, sehingga menjadi stabil. Adapun tujuan dalam penelitian literature review ini untuk mengetahui potensi aktivitas antioksidan dan golongan senyawa aktif serta formulasinya dalam sediaan masker clay melalui penulusuran pustaka. Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan rancangan formulasi masker clay dengan performa fisik paling optimum berdasarkan organoleptis, homogenitas, viskositas, pH, waktu mengering ialah sediaan yang mengandung konsentrasi kaolin 25% dan bentonit adalah 1%.
Pelatihan Pembuatan Black Garlic pada Pendamping Pasien Kanker di Yayasan Rumah Pejuang Kanker Ambu, Bandung Huriah Rachmah; Mentari Luthfika Dewi; Lasmanah Lasmanah; Alma Khusnu Tazkia; Muhammad Lucky Fahrezi; Septiani Melawati Dewi
Bubungan Tinggi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/btjpm.v5i1.6971

Abstract

Siklus pengobatan kanker yang panjang, tidak hanya berpengaruh pada kondisi kesehatan mental dan fisik pasien secara menyeluruh, namun juga pada kondisi kesehatan fisik dan mental para pendamping pasien. Dukungan moril sangat dibutuhkan tidak hanya bagi pasien kanker namun juga bagi pendamping pasien. Pendamping pasien tetap membutuhkan aktivitas sosial bersama yang dapat memotivasi mereka untuk lebih produktif dan memiliki kepercayaan diri selama mendampingi pasien. Berdasarkan pada permasalahan tersebut, dilakukan program pengabdian kepada masyarakat dengan tema pelatihan dan pendampingan pembuatan black garlic dengan sasaran kepada para pendamping pasien kanker di Rumah Pejuang Kanker Ambu (RPKA). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan suatu kegiatan bersama yang berarti kepada para pendamping pasien sehingga mereka memiliki keterampilan sosial dan dapat lebih produktif. Pelatihan dan pendampingan pembuatan black garlic dilaksanakan pada Agustus 2022. Pelatihan dan pendampingan dilakukan dengan metode pemberian materi dan pendampingan kelompok untuk praktek pembuatan black garlic secara langsung. Evaluasi pelatihan dilakukan dengan mengadakan pretest dan posttest serta evaluasi terhadap produk black garlic yang dihasilkan. Dari hasil pelatihan dan pendampingan ini diketahui terjadi peningkatan pengetahuan peserta pelatihan terkait black garlic sebelum dan sesudah pelatihan yaitu dari 59,2% menjadi 72,8%. Semua kelompok peserta pelatihan berhasil membuat black garlic yang siap dikonsumsi. The long cycle of cancer treatment affects the patient's mental and physical health and the caregiver's physical and mental health. Moral support is needed not only for cancer patients but also for patient caregivers. Patient caregivers still need to engage in social activities that motivate them to be more productive and self-confident while accompanying patient treatment. Based on these problems, a community service program was carried out with the theme of training and mentoring in making black garlic with the target of cancer patient caregivers at the Rumah Pejuang Kanker Ambu (RPKA). This activity aims to provide a meaningful social activity for patient caregivers so that they have social skills and can be more productive. The training and mentoring are carried out through lectures on general knowledge about black garlic and group assistance to practice making black garlic. The evaluation of the training was carried out by conducting a pre-test and post-test as well as an evaluation of the black garlic produced. From the results of this training and mentoring, it was found that there was an increase in the knowledge of the training participants regarding black garlic before and after the training, from 59.2% to 72.8%. All groups of trainees succeeded in making ready-to-eat black garlic. 
Formulasi Sediaan Cleansing Balm Mengandung Allantoin (Aluminum dihydroxy allantoinate) Sebagai Eksfoliator Laluna Salsa Midika; Mentari Luthfika Dewi; Ratih Aryani
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8517

Abstract

Penggunaan kosmetik dalam jangka waktu yang lama dengan pembersihan yang tidak sempurna akan menyebabkan penumpukan sebum yang akan mengakibatkan timbulnya jerawat. Cleansing balm merupakan produk yang pembersih wajah pada tahap pertama proses double cleansing yang bertujuan untuk mengangkat kosmetik seperti makeup waterproof, kotoran, dan minyak berlebih. Cleansing balm juga dapat berfungsi untuk mengangkat sel-sel kulit mati dengan penambahan zat aktif allantoin sebagai agent eksfoliator. Formulasi basis dilakukan dengan variasi konsentrasi F1- F3 pada komponen bahan yaitu lanolin dan shea butter. Formula basis terpilih adalah F3 dengan komponen bahan lanolin 60% dan shea butter 25%. Dilakukan penambahan zat aktif allantoin 0,35% pada basis terpilih. Didapatkan hasil evaluasi F3 mengandung allantoin 0,35% pada uji organoleptik beraroma vanilla dan berwarna kuning, uji homogenitas dihasilkan sediaan yang homogen, daya sebar sebesar 4,4 ± 0,03 cm, uji daya bersih dengan waktu 9 detik ± 0 , uji titik leleh menghasilkan suhu 32°C ± 0,57, uji viskositas 158.333 cps ± 0,55 sifat alir termasuk kedalam tipe tiksotropik dan dilakukan uji stabilitas. Hasil uji stabilitas dengan metode cycling test formula tersebut terbukti stabil. Keywords: Cleansing balm, waterproof makeup, exfoliator The use of cosmetics for a long time with imperfect cleansing will cause a buildup of sebum which will result in acne. Cleansing balm is a product that cleanses the face in the first stage of the double cleansing process which aims to remove cosmetics such as waterproof makeup, dirt and excess oil. Cleansing balm can also function to remove dead skin cells with the addition of the active substance allantoin as an exfoliator agent. The basic formulation was carried out by varying the concentration of F1-F3 on the ingredients, namely lanolin and shea butter. The selected base formula is F3 with 60% lanolin and 25% shea butter. The active substance allantoin 0.35% was added to the selected base. The results of the F3 evaluation contained 0.35% allantoin in the organoleptic test with a vanilla flavor and yellow color, homogeneity test produced a homogeneous preparation, spreadability of 4.4 ± 0.03 cm, clean power test with a time of 9 seconds ± 0 , point test melting yielded temperature 32°C ± 0.57, viscosity test 158,333 cps ± 0.55 flow properties included in the thixotropic type and stability tests were carried out. The results of the stability test using the cycling test method proved to be stable. Kata Kunci: Cleansing balm, makeup waterproof, eksfoliator
Correlation of Adenosine Triphosphate (ATP) to muscle fatigue and work accuracy Riza Ramadhan; Fitrianti Darusman; Mentari Luthfika Dewi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8620

Abstract

Abstrak. Kehidupan manusia sehari-hari tidak dapat dipisahkan dari aktivitas fisik yang memerlukan kontraksi otot. Kontaksi otot sendiri dapat terjadi dengan adanya energi di dalam tubuh yaitu Adenosine Triphosphate (ATP). Sayangnya ATP di dalam tubuh jumlahnya terbatas sehingga kontraksi otot secara terus menerus akan menghabiskan pasokan ATP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa yang terjadi pada tubuh jika pasokan ATP habis dan pengaruhnya terhadap ketelitian kerja. Penelitian ini dilakukan dengan metode systematic literature review (SLR) dari artikel ilmiah yang telah dipublikasikan pada jurnal nasional dan internasional. Hasl dari penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan ATP secara terus menerus untuk kontraksi otot dalam waktu yang lama dapat menyebabkan kondisi yang dinamakan kelelahan otot. Kelelahan otot ditandai dengan adanya rasa sakit akibat penumpukan asam laktat hasil kontraksi otot. Habisnya pasokan ATP di dalam tubuh dapat menyebabkan kurangnya pemenuhan kebutuhan energi otak, tangan, dan mata dalam melakukan koordinasi gerak sehingga berdampak pada gangguan konsentrasi dan ketelitian kerja. Abstract. Human life cannot be separated from daily physical activities that require muscle contraction. Muscle contractions themselves can occur in the presence of energy in the body called Adenosine Triphosphate (ATP). Unfortunately, the amount of ATP in the body is limited so that continuous muscle contraction will use up the supply of ATP. This study aims to find out what happens to the body if the supply of ATP runs out and its effect on work accuracy. This research was conducted using the systematic literature review (SLR) method of scientific articles that have been published in national and international journals. The results of this study indicate that the continuous use of ATP for muscle contraction for a long time can cause a condition called muscle fatigue. Muscle fatigue is characterized by pain due to the accumulation of lactic acid resulting from muscle contractions. Depletion of the supply of ATP in the body can lead to a lack of fulfillment of the energy needs of the brain, hands and eyes in coordinating movements so that it has an impact on impaired concentration and work accuracy.
Studi Pemodelan Formulasi Etosom dengan Zat Aktif Aktif Antijamur Golongan Azol Menggunakan Response Surface Methodology (RSM) Asyifa Mughnitiyas; Mentari Luthfika Dewi; Budi Prabowo Soewondo
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.8674

Abstract

Abstract. Antifungal azole is a class of synthetic antifungal agents used to prevent or treat fungal infections. It is the first-line treatment for prophylactic and therapy of invasive fungal infections. Topical formulations of azole drugs in conventional dermatological products have been shown to possess limited skin penetration. This can result in reduced therapeutic effects. One method of topical drug delivery is the use of nanocarriers, such as ethosomes, which are vesicular lipid-based delivery systems. The critical points in ethosome formulations include determining the optimal concentrations of ethanol and phospholipids to produce desirable ethosome characteristics. The investigation aimed to study the impact of ethanol and phospholipid concentrations on the characteristics of ethosome formulations containing azole antifungal agents using a Response Surface Methodology (RSM) approach. This study was conducted employing a Systematic Literature Review (SLR) methodology. Azole antifungal agent formulations have shown that increasing ethanol concentration and decreasing phospholipid concentration reduce vesicle size. This is accompanied by an increase in %EE when both ethanol and phospholipid concentrations are elevated. Simultaneously, a decrease in both ethanol and phospholipid concentrations reduces %PI. Furthermore, decreasing phospholipid concentration will increase %ZP and %DR. Keywords: Ethosome, Antifungal, Skin Abstrak. Antijamur golongan azol merupakan golongan antimikotik sintetik yang umumnya merupakan lini pertama untuk profilaksis dan terapi infeksi jamur invasif. Sediaan topikal obat golongan azol pada produk dermatologis konvensional memiliki efek penetrasi obat yang kurang ke dalam kulit, sehingga efek terapeutik berkurang. Salah satu sistem penghantaran obat topikal berbasis nanocarrier yaitu etosom merupakan sistem penghantaran vesicular berbasis lipid. Pada formulasi etosom memiliki titik kritis diantaranya konsentrasi etanol dan fosfolipid yang optimum agar menghasilkan karakteristik etosom yang baik. Upaya untuk mengetahui pengaruh konsentrasi etanol dan fosfolipid terhadap karakteristik etosom yang baik dapat menggunakan pemodelan terhadap formula etosom menggunakan Response Surface Methodology (RSM). Kajian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsentrasi etanol dan fosfolipid dalam formulasi etosom dengan zat aktif antijamur golongan azol terhadap karakteristik etosom menggunakan Response Surface Methodology sehingga dapat memberi petunjuk untuk menghasilkan formulasi yang memberikan efek terapeutik yang maksimum. Kajian ini dilakukan dengan metode Systematic Literatur Review (SLR). Hasil kajian pemodelan pada formulasi etosom dengan zat aktif antijamur golongan azol menunjukkan peningkatan konsentrasi etanol dan penurunan konsentrasi fosfolipid akan menurunkan ukuran vesikel, peningkatan konsentrasi etanol dan fosfolipid akan meningkatkan %EE, penurunan konsentrasi etanol dan fosfolipid akan menurunkan %PI, penurunan konsentrasi fosfolipid akan meningkatkan %ZP dan %DR. Kata Kunci: Etosom, Antijamur, Kulit
Identifikasi Interaksi Molekuler Peptida Antimikrobial dari Lendir Kulit Ikan Lele Kuning (Pelteobagrus fulvidraco) terhadap Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli secara In silico Taufik Muhammad Fakih; Mentari Luthfika Dewi
BIOEDUSCIENCE Vol 4 No 1 (2020): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/j.bes/4148-554951

Abstract

Background: Lendir kulit ikan baru-baru ini dikenal sebagai sumber potensial peptida antimikrobial yang berfungsi untuk memberikan pertahanan pertama terhadap bakteri patogen, seperi Escherichia coli. Beberapa peptida antimikrobial yang dihasilkan oleh lendir kulit ikan lele kuning (Pelteobagrus fulvidraco) terbukti mampu menghambat Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli, antara lain Pelteobagrin, Myxinidin, Pleurocidin, dan Pardaxin-P1. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi, evaluasi, dan eksplorasi terhadap interaksi molekuler antara molekul peptida antimikrobial dengan Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli menggunakan motode penambatan molekuler berbasis protein-peptida. Sekuensing peptida antimikrobial terlebih dahulu dimodelkan ke dalam bentuk konformasi 3D menggunakan server PEP-FOLD. Konformasi terbaik hasil pemodelan dipilih untuk selanjutnya dilakukan studi interaksi terhadap makromolekul Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli menggunakan perangkat lunak PatchDock. Interaksi yang terbentuk kemudian diamati lebih lanjut menggunakan perangkat lunak BIOVIA Discovery Studio 2020. Hasil: Hasil dari penambatan molekuler menunjukkan bahwa peptida Pardaxin-P1 memiliki afinitas paling baik, yaitu dengan ACE score −1402,39 kJ/mol. Kesimpulan: Dengan demikian, peptida antimikrobial tersebut diprediksi dapat dipilih sebagai kandidat antimikroba alami.
Identifikasi Interaksi Molekuler Peptida Antimikrobial dari Lendir Kulit Ikan Lele Kuning (Pelteobagrus fulvidraco) terhadap Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli secara In silico Taufik Muhammad Fakih; Mentari Luthfika Dewi
BIOEDUSCIENCE Vol 4 No 1 (2020): BIOEDUSCIENCE
Publisher : Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29405/j.bes/4148-554951

Abstract

Background: Lendir kulit ikan baru-baru ini dikenal sebagai sumber potensial peptida antimikrobial yang berfungsi untuk memberikan pertahanan pertama terhadap bakteri patogen, seperi Escherichia coli. Beberapa peptida antimikrobial yang dihasilkan oleh lendir kulit ikan lele kuning (Pelteobagrus fulvidraco) terbukti mampu menghambat Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli, antara lain Pelteobagrin, Myxinidin, Pleurocidin, dan Pardaxin-P1. Metode: Penelitian ini bertujuan untuk melakukan identifikasi, evaluasi, dan eksplorasi terhadap interaksi molekuler antara molekul peptida antimikrobial dengan Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli menggunakan motode penambatan molekuler berbasis protein-peptida. Sekuensing peptida antimikrobial terlebih dahulu dimodelkan ke dalam bentuk konformasi 3D menggunakan server PEP-FOLD. Konformasi terbaik hasil pemodelan dipilih untuk selanjutnya dilakukan studi interaksi terhadap makromolekul Penicillin-Binding Protein 3 (PBP3) pada Escherichia coli menggunakan perangkat lunak PatchDock. Interaksi yang terbentuk kemudian diamati lebih lanjut menggunakan perangkat lunak BIOVIA Discovery Studio 2020. Hasil: Hasil dari penambatan molekuler menunjukkan bahwa peptida Pardaxin-P1 memiliki afinitas paling baik, yaitu dengan ACE score −1402,39 kJ/mol. Kesimpulan: Dengan demikian, peptida antimikrobial tersebut diprediksi dapat dipilih sebagai kandidat antimikroba alami.
Simulasi Penambatan Molekuler Senyawa Kompleks Besi Terhadap Protein Hemofor sebagai Kandidat Fotosensitizer pada Terapi Fotodinamika Taufik Muhammad Fakih; Anggi Arumsari; Mentari Luthfika Dewi; Nurfadillah Hazar; Tanisa Maghfira Syarza
al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan Vol 8, No 1 (2021): al Kimiya: Jurnal Ilmu Kimia dan Terapan
Publisher : Department of Chemistry, Faculty of Science and Technology, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/ak.v8i1.8502

Abstract

Resistensi antibiotika muncul sebagai polemik yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia. Kemajuan teknologi membuka peluang dalam penemuan molekul senyawa baru yang mampu mencegah perkembangan mikroba patogen, seperti Pseudomonas aeruginosa yang resisten terhadap beberapa jenis antibiotika. Terapi fotodinamika dengan memanfaatkan penggunaan fotosensitizer yang berasal dari senyawa yang membentuk kompleks dengan besi merupakan salah satu pendekatan alternatif untuk mengatasi penyakit infeksi dengan risiko resistensi mikroba yang lebih rendah. Penelitian yang dilakukan secara in silico ini bertujuan untuk mengamati, mengeksplorasi, dan mengevaluasi mekanisme aksi berbasis struktural dari molekul senyawa yang membentuk kompleks dengan besi, yaitu besi-ftalosianina dan besi-salofen terhadap protein hemofor HasAp serta pengaruh molekularnya terhadap bagian situs aktif pengikatan dari protein hemofor HasR. Identifikasi interaksi molekuler dan afinitas antara molekul senyawa besi-ftalosianina dan besi-salofen terhadap protein hemofor HasAp dilakukan dengan simulasi ligan-protein docking mempergunakan software MGLTools 1.5.6 yang dilengkapi dengan AutoDock 4.2. Di samping itu, dilakukan juga simulasi protein-protein docking terhadap sistem kompleks ligan-protein untuk memastikan pengaruh molekularnya terhadap bagian situs aktif pengikatan dari protein hemofor HasR dengan mempergunakan software PatchDock. Berdasarkan simulasi ligan-protein docking diperoleh hasil bahwa senyawa besi-ftalosianina memiliki afinitas paling baik terhadap kedua protein hemofor HasAp, dengan nilai energi bebas pengikatan masing-masing sebesar −68,45 kJ/mol dan −65,23 kJ/mol. Menariknya, hasil simulasi protein-protein docking antara kompleks molekul senyawa besi-ftalosianina dan protein hemofor HasAp-besi-ftalosianina terhadap protein hemofor HasR memiliki nilai energi kontak atom yang positif sebesar 556,56 kJ/mol. Dari penelitian ini dapat diprediksikan bahwa perbedaan struktur molekul senyawa yang membentuk kompleks dengan besi mampu mempengaruhi mekanisme aksi berbasis structural terhadap protein hemofor target.
Studi Literatur Pewarna Alami Pada Berbagai Jenis Sediaan Kosmetik Bibir Oilbase Nur'andhini; Mentari Luthfika Dewi; Livia Syafnir
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9166

Abstract

Kosmetik bibir merupakan salah satu jenis kosmetik yang paling populer dan banyak diminati masyarakat Indonesia. Penggunaannya mudah dan praktis dengan sedikit sentuhan dapat menimbulkan rasa percaya diri. Komponen utama kosmetik bibir merupakan pewarna, seiring berkembangnya kosmetik dan pada persaingan pasar memacu penyalahgunaan pewarna yang berbahaya pada kosmetik bibir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh zat atau metabolit sekunder pada tumbuhan yang dapat dijadikan pewarna alami dan mengetahui bagaimana karakteristik pewarna terutama untuk jenis sediaan kosmetik bibir oilbase. Metode penelitian ini berupa Systematic Literature Review (SLR) dari berbagai jurnal penelitian yang telah dipublikasikan baik nasional maupun internasional. Berdasarkan studi literatur yang telah dilakukan, tumbuhan bunga rosella (Hibiscus sabdariffa L.), kulit buah naga merah (Hylocereus polyrhizus), kayu secang (Caesalpinia sappan L.), ubi jalar ungu (Ipomoea batatas L.), dan kulit melinjo merah (Gnetum gnemon) dapat menjadi alternatif pewarna alami kosmetik bibir. Karakteristik pewarna yang polar perlu memperhatikan formula sediaan seperti penggunaan pelarut pigmen warna atau pengikat warna sehingga dapat bercampur dengan basis yang nonpolar. Karakteristik pewarna berdasarkan stabilitas dapat dipengaruhi oleh pH, temperatur, cahaya, dan oksigen. Lip cosmetics are one of the most popular and in-demand types of cosmetics in Indonesia. Its use is easy and practical with a little touch can create a sense of confidence. The main component of lip cosmetics is coloring, as the development of cosmetics and market competition spurs the abuse of harmful dyes in lip cosmetics. The purpose of this research is to obtain substances or secondary metabolites in plants that can be used as natural dyes and find out how the characteristics of dyes, especially for the type of oilbase lip cosmetic preparations. This research method is a Systematic Literature Review (SLR) of various research journals that have been published both nationally and internationally. Based on the literature study, rosella flower (Hibiscus sabdariffa L.), red dragon fruit peel (Hylocereus polyrhizus), sappan wood (Caesalpinia sappan L.), purple sweet potato (Ipomoea batatas L.), and red melinjo peel (Gnetum gnemon) can be alternative natural lip cosmetic colorants. The characteristics of polar dyes need to pay attention to dosage formulas such as the use of color pigment solvents or color binders so that they can mix with nonpolar bases. Colorant characteristics based on stability can be influenced by pH, temperature, light, and oxygen.
Formula Serum Wajah Anti-jerawat Berbasis Nanoemulsi Mengandung Kombinasi Asam Salisilat dan Minyak Biji Bunga Matahari (Helianthus anuuss L.) Aisyah Nurul Fitri; Sani Ega Priani; Mentari Luthfika Dewi
Bandung Conference Series: Pharmacy Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Pharmacy
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsp.v3i2.9518

Abstract

Abstract. Salicylic acid and sunflower seed oil (Helianthus annuus L.) contains phenolic compounds that can act as antibacterial that can inhibit acne-causing bacteria. One of the bacteria that causes acne is Propionibacterium acnes. This study aims to obtain a nanoemulsion-based face serum preparation formula of salicylic acid and sunflower seed oil that meets good characteristics and stability and determines the antibacterial activity of nanoemulsion preparations made from salicylic acid and sunflower seed oil against P. acnes. The nanoemulsion preparation was prepared with optimization of 1% salicylic acid with variations of sunflower seed oil and Smix (surfactant and cosurfactant) with a ratio (1:10;1:11;1:12;1:13;1:14; 1:15) where the ratio of Smix is 1:1. Based on the results of the study, it can be concluded that the optimum formula of nanoemulsion combination of salicylic acid and and sunflower seed oil was obtained at a concentration of 1% salicylic acid, 4% sunflower seed oil, tween 80 30%, and PEG 400 30%. The preparation meets the requirements including organoleptis, homogeneity, viscosity, percent transmittance, globular size, polydispersity index, and good stability. A nanoemulsion-based face serum preparation of salicylic acid and sunflower seed oil without the addition of TEA has a very strong antibacterial activity of 25.6 ± 0.12 mm. Abstrak. Asam salisilat dan minyak biji bunga matahari (Helianthus annuus L.) mengandung senyawa fenolik yang dapat berperan sebagai antibakteri yang dapat menghambat bakteri penyebab jerawat. Salah satu bakteri penyebab jerawat yaitu Propionibacterium acnes. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh formula sediaan serum wajah berbasis nanoemulsi kombinasi asam salisilat dan minyak biji bunga matahari yang memenuhi karakteristik dan stabilitas yang baik dan menentukan aktivitas antibakteri sediaan nanoemulsi berbahan asam salisilat dan minyak biji bunga matahari terhadap P. acnes. Sediaan nanoemulsi dibuat dengan optimasi 1% asam salisilat dengan variasi minyak biji bunga matahari dan Smix (surfaktan dan kosurfaktan) dengan perbandingan (1:10;1:11;1:12;1:13;1:14;1:15) dimana perbandingan Smix yaitu 1:1. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa formula optimum nanoemulsi kombinasi asam salisilat dan dan minyak biji bunga matahari diperoleh pada konsentrasi asam salisilat 1%, minyak biji bunga matahari 4%, tween 80 30%, dan PEG 400 30%. Sediaan tersebut memenuhi persyaratan meliputi organoleptis, homogenitas, viskositas, persen transmitan, ukuran globul, indeks polidispersitas, dan stabilitas yang baik. Sediaan serum wajah berbasis nanoemulsi kombinasi asam salisilat dan minyak biji bunga matahari tanpa penambahan TEA memiliki aktivitas antibakteri sangat kuat yaitu 25,6 ± 0,12 mm.