Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Pengaruh Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Terhadap Peningkatan Tinggi Badan Pada Balita Stunting di Desa Jragan, Temanggung Latifahanun, Este; Andani, Mahardika Ratih Resti; Febriandi, Sarif; Rokhayati, Rokhayati; Rahmi, Safirina Aulia
Jurnal Promotif Preventif Vol 7 No 6 (2024): Desember 2024: JURNAL PROMOTIF PREVENTIF
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Pancasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47650/jpp.v7i6.1611

Abstract

Secara global, salah satu masalah utama gizi yaitu kejadian stunting yang diperkirakan mempengaruhi 22,3% atau 148,1 juta balita. Pada beberapa kasus, stunting pada balita terjadi akibat dari faktor risiko berupa kemiskinan, kekurangan gizi, BBLR, serta paparan penyakit infeksi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap peningkatan tinggi badan pada balita stunting di Desa Jragan, Temanggung. Penelitian menggunakan desain eksperimen kuasi dengan metode pretest dan posttest. Semua balita di wilayah kerja Puskesmas Tembarak merupakan populasi penelitian. Sebanyak 23 balita dengan kategori pendek dan sangat pendek dihitung menurut TB/U menjadi responden dalam penelitian, metode pengambilan sampel yaitu total sampling. Analisis statistik menggunakan uji Paired T-test. Hasil penelitian menunjukkan nilai p value= 0,000<0,05, yang artinya ada pengaruh pemberian makanan tambahan terhadap peningkatan tinggi badan balita stunting di Desa Jragan, Temanggung.
PERBEDAAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU TENTANG DIARE SEBELUM DAN SETELAH DIBERIKAN PENYULUHAN MENGGUNAKAN LEAFLET Latifahanun, Este
Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mulia Madani Yogyakarta Vol. 2 No. 1 (2024): DIMASLIA JURNAL PENGABDIAN MASYARAKAT MULIA MADANI YOGYAKARTA
Publisher : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mulia Madani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

INTISARI Latar belakang : Diare didefinisikan sebagai buang air besar yang encer minimal 3 kali dalam 24 jam. Diare menyumbang sekitar 9% dari seluruh kematian balita di seluruh dunia. Di Indonesia prevalensi diare untuk semua kelompok umur sebesar 8%, balita sebesar 12,3%, dan pada bayi sebesar 10,6%. Diperkirakan jumlah kasus diare sebanyak 11.811 di Kabupaten Kulon Progo, dan baru 7.914 (Capaian 67%) telah tertangani. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan Ibu tentang diare pada anak. Metode : Kegiatan pengabdian dilaksanakan di Posyandu Belik Kalurahan Demangrejo Kabupaten Kulon Progo pada hari Kamis, 11 Januari 2024. Seluruh data dalam kegiatan diolah menggunakan SPSS versi 26. Uji T-berpasangan digunakan untuk menganalisis perubahan tingkat pengetahuan Ibu setelah diberikan penyuluhan. Hasil:.Hasil kegiatan Ibu balita yang datang ke Posyandu Belik yaitu sebanyak 30 orang. Sebelum dilakukan penyuluhan, dari total 30 orang yang menjadi peserta sebanyak 12 Ibu (40%) masih memiliki tingkat pengetahuan yang kurang mengenai penyakit diare. Setelah diberikan penyuluhan menggunakan media leaflet didapatkan bahwa tingkat pengetahuan Ibu yang sudah baik menjadi 28 orang (93.3%). Dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan tingkat pengetahuan Ibu tentang diare sebelum dan setelah diberikan penyuluhan. Kata kunci : Penyakit diare, penyuluhan, perbedaan pengetahuan Abstract Background: Diarrhea is defined as passing loose watery stools at least 3 times in 24 hours. Diarrhea accounts for around 9% of all under-five deaths worldwide. In Indonesia, the prevalence of diarrhea for all age groups is 8%, for toddlers is 12.3%, and for babies is 10.6%. It is estimated that the number of diarrhea cases is 11,811 in Kulon Progo Regency, and only 7,914 (67% achievement) have been treated. Objective: Community service activities aim to increase mothers' knowledge about diarrhea in children. Methods: The activity was carried out at Posyandu Belik, Demangrejo Village, Kulon Progo Regency on Thursday, January 11 2024. All data in the activity was processed using SPSS version 26. The paired T-test was used to analyze changes in the mother's level of knowledge after being given counseling. Results: The results of the activities of mothers who came to Posyandu Belik were 30 people. Before the counseling, out of a total of 30 people who participated, 12 mothers (40%) still had an insufficient level of knowledge about diarrheal diseases. After being given counseling using leaflet media, it was found that the mother's level of knowledge was good at 28 people (93.3%). It can be concluded that there is a difference in the mother's level of knowledge about diarrhea before and after being given counseling. Keyword: Diarrhea disease, education, differences in knowledge
FAKTOR RISIKO ASUPAN ENERGI DAN RIWAYAT PENYAKIT INFEKSI TERHADAP STUNTING PADA BALITA 24-59 BULAN Latifahanun, Este; Kartini, Apoina; Budhi R, Kamilah
Care : Jurnal Ilmiah Ilmu Kesehatan Vol 9, No 2 (2021): EDITION JULY 2021
Publisher : Universitas Tribhuwana Tunggadewi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33366/jc.v9i2.1465

Abstract

Stunting is a condition of a child’s height below normal ( 2SD)  based on nutritional status according to WHO child growth standard, Indicates chronic malnutrition in early growth and development of life. In 2017, around 150,8 million children under five in the world were stunted, half of children from Asia (55%), while 39% live in Africa. The desaign of this research used a case control study. The population this study was all children aged 24-59 month in Guntur I health center. Sampling techniques using simple random sampling amounted to 32 case and 32 control, data were analyzed with Chi-Square. The results of the study showed that energy intake was a risk factor for stunting (p value 0,012 OR 4,259 95%CI 1,488-12,192) and infection desease is not a risk factor for stunting (p value 0,080 OR 4,324 95%CI 1,010,462-7,643). The results of the overall analysis showed that low intake energy was a risk factor for stunting in children aged 24-59 month.