Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

STUDI DESKRIPTIF KUANTITATIF GAMBARAN SELF EFFICACY GURU SMA KATOLIK TERAKREDITASI A DALAM PENERAPAN KURIKULUM 2013 DI SURABAYA Maria Dewi Silalahi; Johannes Dicky Susilo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.759 KB) | DOI: 10.33508/exp.v6i1.1787

Abstract

Kurikulum 2013 (K 13) merupakan kurikulum baru yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Dalam penerapan Kurikulum, peran guru sangatlah penting. Dalam hal ini guru membantu para peserta didik dalam proses perkembangan diri dengan cara mengoptimalkan bakat dan kemampuan yang dimiliki. Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik (UU No. 14 tahun 2015 pasal satu ayat satu). Oleh karena itu, keyakinan seseorang akan kemampuan dirinya untuk melakukan sesuatu merupakan hal yang sangat mendukung seseorang untuk berbuat. Dalam psikologi hal ini disebut self efficacy. Oleh sebab itu self efficacy memiliki peran yang sangat penting terhadap kinerja para guru dalam mengajar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran self efficacy guru SMA Katolik terakreditasi A dalam penerapan K 13 di Surabaya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif deskriptif dengan penyebaran skala self efficacy sebanyak 16 aitem. Subyek penelitian (N=92) adalah guru-guru yang mengajar di SMA Katolik. Adapun kriteria subyek adalah guru yang sudah pengalaman mengajar dengan K 13 minimal 1 semester. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan proportional stratified sampling. Hasil penelitian menunjukkan dari 92 orang subyek terdapat 62 orang yang tergolong memiliki self efficacy yang tinggi. Dengan demikian hasil penelitian menunjukkan bahwa para guru SMA Katolik memiliki self efficacy yang tinggi dalam penerapan K 13. Orang yang memiliki self efficacy yang tinggi akan berusaha lebih giat untuk mengatasi tantangan yang ada.
HUBUNGAN ANTARA RELIGIOSITAS DENGAN HARDINESS PADA MAHASISWA KATOLIK TINGKAT AKHIR DI SURABAYA Emanuela Adika Cahyasari; Dicky Susilo; Detricia Tedjawidjaja
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 10, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v10i1.3769

Abstract

Mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Tidak sedikit mahasiswa yang berada dalam kondisi tertekan, sehingga dibutuhkan hardiness untuk dapat bertahan dalam situasi penuh tekanan. Hardiness adalah suatu karakteristik yang terdiri dari komitmen, kontrol, dan tantangan yang mempunyai fungsi dan strategi untuk dapat beradaptasi dan bertahan dalam menghadapi keadaan stres. Salah satu faktor yang mempengaruhi hardiness adalah strategi koping dengan implementasinya yaitu religiositas. Adanya hubungan spiritual dengan orang lain dan mengakui campur tangan Tuhan, akan membantu dalam mengendalikan dan mengarahkan diri dalam mengatasi permasalahan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara religiositas dengan hardiness pada mahasiswa Katolik tingkat akhir di Surabaya. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 91 mahasiswa. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini yaitu accidental sampling. Skala yang digunakan dalam penelitian ini yaitu skala Hardiness dan skala Religiositas. Hasil analisis data menggunakan korelasi Pearson Product Moment menghasilkan r=0,555 (p<0,05) yang berarti bahwa terdapat hubungan positif antara religiositas dan hardiness pada mahasiswa Katolik tingkat akhir di Surabaya. Semakin tinggi religiositas pada diri seseorang maka semakin tinggi pula hardiness seseorang dan begitu pula sebaliknya.
Dissociative Symptoms Among Individuals Affected by Mass Psychogenic Illness: A Study on the Indonesian Island of Nias Michael Seno Rahardanto; Jaka Santosa Sudagijono; Johannes Dicky Susilo; Simon Simon; Nurul Hartini; Rahkman Ardi
Journal of Educational, Health and Community Psychology Vol 13 No 1 March 2024
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jehcp.v13i1.28380

Abstract

Mass psychogenic illness is a phenomenon that occurs every year in Indonesia, mainly in schools and factories. In the fifth edition of the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, this phenomenon is classified as dissociative disorders. However, the Indonesian diagnostic manual of mental disorders (the PPDGJ) classified the phenomenon as a conversion disorder. The confounding diagnosis will likely result in less effective and less humane interventions. This study aims to determine the symptoms experienced by individuals experiencing mass psychogenic illness, therefore contributing to the current literature regarding the proper diagnostic of the spirit possession. Samples (N=55) were assessed using the Dissociative Disorder Interview Schedule based on DSM-5. The Beck Depression Inventory and Wong-Baker Face Rating Scale are also used to supplement the data. Findings indicate that the subjects fit the diagnostic criterion of several disorders, namely somatization (experienced by 98.18% of individuals), major depression (49%), trance (69%), childhood physical abuse (35%), and borderline personality disorder (47.2%). However, only 14.54% of subjects fulfilled the diagnostic criterion of dissociative amnesia, 7.27% for diagnostic fugue, 3.63% for depersonalization/derealization, 5% for dissociative identity disorder, 11% for other specified and unspecified dissociative disorder. These findings showed that mass psychogenic illness is likely the manifestation of distinct and separate mental disorders, notably that of somatization disorder, trance, borderline personality disorder, and major depressive disorder, and exclusively those of dissociative disorders.
GRIT DAN RELIGIOSITAS TERHADAP WORK ENGAGEMENT PADA PENGURUS ORMAWA YANG BERAGAMA KRISTIANI DI SURABAYA Jessica Lydia Manoach; Dicky Susilo
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i2.5106

Abstract

Pengurus Ormawa membutuhkan work engagement untuk mendukung proses kerjanya. Work Engagement merupakan kondisi pikiran yang positif dan adanya pemenuhan diri pada pekerjaan dengan timbulnya rasa puas sehingga melibatkan afeksi dan perasaan termotivasi untuk mencapai kesejahteraan individu melawan timbulnya burnout saat bekerja. Dalam JD-R model, individu dengan job demands dan job resources memerlukan personal resources untuk dapat menunjukkan work engagement dan salah satu bentuknya adalah konsistensi minat dan daya tahan individu dalam melaksanakan tugas dalam organisasi yang disebut juga dengan grit. Faktor personal resources juga berkaitan dengan konstruk religiositas pada individu yang merupakan tata cara individu dalam menjalankan ajaran keagamaannya. Tujuan penelitian ini adalah peneliti ingin menguji pengaruh antara grit dan religiositas terhadap work engagement pada pengurus Ormawa beragama Kristiani di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner Google form dengan menyebarkan skala Utrecht Work Engagement Scale–9 (UWES-9), 12-Item Grit Scale, dan skala Religiositas dengan menurunkan berdasarkan aspek-aspek. Partisipan penelitian ini merupakan pengurus Ormawa beragama Kristiani (Kristen Protestan & Katolik) di periode 2022/2023. Penelitian ini memperoleh hasil adanya pengaruh yang signifikan antara Grit & Religiositas terhadap Work Engagement pada pengurus Ormawa beragama Kristiani di kota Surabaya. Sumbangan efektif yang diberikan pada penelitian ini sebesar 11,5% dan nilai sig. 0,002 (p<0,05) dengan persamaan garis linier y= 18,267 + 0,298x1 +0,083x2. Arti dari persamaan garis linier tersebut adalah setiap penambahan 1 poin Grit dan Religiositas akan menambah pula poin Work Engagement sebesar 0,381
EFEKTIVITAS PELATIHAN SELF-AWARENESS UNTUK MENINGKATKAN HARGA DIRI REMAJA PANTI ASUHAN Nuke Elok Suhariyanto; Dicky Susilo; Detricia Tedjawidjaja
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 12, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v12i1.5355

Abstract

Remaja panti asuhan adalah remaja yang rentan dengan permasalahan psikologis, salah satunya harga diri yang rendah. Rendahnya harga diri berkaitan dengan kurangnya pemahaman terhadap diri sendiri sehingga pelatihan self awareness diduga efektif dapat meningkatkan harga diri. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan harga diri pada remaja panti asuhan yang diberikan pelatihan self-awareness dengan yang tidak diberi pelatihan. Desain penelitian ini adalah quasi experiment dengan pre test-post test control group design non randomized. Jumlah subjek 28 remaja panti asuhan dengan rentang usia 12-18 tahun yang dibagi ke dalam kelompok eksperimen dan kontrol dengan menggunakan matching method. Penelitian ini mengukur tiga aspek, yaitu aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku. Pengukuran pengetahuan menggunakan soal pilihan ganda berdasarkan materi self-awareness. Pengetahuan sikap menggunakan Rosenberg Self-Esteem Scale yang diadaptasi dalam Bahasa Indonesia. Alat ukur aspek perilaku menggunakan indikator harga diri positif dan negatif dari Santrock (2007). Hasil dari penelitian ini adalah terdapat peningkatan pengetahuan dan sikap pada kelompok eksperimen, sedangkan tidak ada peningkatan pada kelompok kontrol. Pengukuran perilaku masing-masing kelompok mengalami peningkatan perilaku indikator positif dan mengalami penurunan indikator negatif. Analisis data menggunakan uji non parametrik Mann Whitney U-test dengan membandingkan nilai gain score pre-test dan post-test dengan signifikansi 0.000 < 0.05 artinya ada perbedaan harga diri antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Penelitian ini memiliki eta square sebesar ɳ2= 0,62. Artinya, pelatihan self-awareness memiliki efek yang besar terhadap harga diri remaja panti asuhan. Penelitian ini memberikan implikasi pentingnya pelatihan mengenal diri sendiri demi meningkatkan self-esteem.
Celebrity Worship dan Loneliness pada Fans K-Pop Perempuan Emerging Adulthood Ivena Megale; Dicky Susilo
Psychopreneur Journal Vol. 8 No. 2 (2024): Psychopreneur Journal
Publisher : Universitas Ciputra Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37715/psy.v8i2.4159

Abstract

Abstract. Celebrity worship is a relationship that a person builds with continuous effort and full focus to the point of obsession and attachment to a particular artist. This phenomenon occurs because there are a lot of exciting artists and media content with easy access via the internet. One of the factors that influence celebrity worship is the loneliness. This research aims to see whether there is a relationship between loneliness and celebrity worship among female K-Pop fans in emerging adulthood. The sampling used was purposive sampling and incidental sampling. The measuring instrument used is the celebrity worship and loneliness scale (SELSA-S). The results of the hypothesis test obtained a value of r = -0.024 (p> 0.05), so it can be concluded that there is no relationship between loneliness and celebrity worship among emerging adulthood female K-Pop fans. The absence of a relationship between the two variables occurs due to the social support received when being a K-Pop, so one does not experience loneliness. Keywords: Loneliness, Celebrity Worship, Emerging Adulthood, Female.
LANGKAH PREVENTIF MENANGGULANGI PERUNDUNGAN VERBAL MELALUI BOOKLET PADA SISWA SMPN DI SURABAYA TIMUR Prasetyo, Eli; Christanti, Dessi; Susilo, Dicky; Adhyatma, Made Dharmawan Rama
Jurnal Abdimas Musi Charitas Vol. 9 No. 1 (2025): Jurnal Abdimas Musi Charitas Volume 9, Nomor 1, Juni 2025
Publisher : Universitas katolik Musi Charitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32524/jamc.v9i1.1336

Abstract

Purpose : This community service activity aimed to address the issue of verbal bullying among junior high school students (SMPN) in East Surabaya. Although schools are expected to foster a safe and supportive climate, verbal bullying continues to emerge, particularly during students’ transition from elementary to junior high levels. Design/Methodology/Approach : The solution was implemented through a psychoeducational program involving the use of a booklet titled “Choose Words, Build Better Relationships”. The booklet contained material on verbal bullying and social skills development for adolescents. The program was delivered on December 6, 2024, involving 20 students and 8 guidance teachers from four SMPNs. Activities included a pre-test, group-based worksheet discussions guided by trained facilitators, a verbal bullying seminar, and a post-test. Evaluation was conducted using a 10-item questionnaire based on the booklet contents. Findings : The average pre-test score was 95.5, increasing slightly to 97 in the post-test. Although the quantitative improvement was modest, qualitative feedback indicated improved awareness of bullying, enhanced social problem-solving skills, and a more positive student mindset. Participants also showed enthusiasm in sharing knowledge with peers. Practical Implications : The booklet and psychoeducational method can be practically applied in other schools as a preventive measure to reduce verbal bullying. Teachers and peer leaders can replicate the method to cultivate a positive school environment and encourage anti-bullying behavior. Originality/Value : This project introduced a structured and replicable approach to bullying prevention that emphasizes student reflection and peer-based knowledge dissemination. The integration of the Stop-Think-Do method also adds value by equipping students with actionable steps to address interpersonal conflict.
Dissociative Symptoms Among Individuals Affected by Mass Psychogenic Illness: A Study on the Indonesian Island of Nias Rahardanto, Michael Seno; Sudagijono, Jaka Santosa; Susilo, Johannes Dicky; Simon, Simon; Hartini, Nurul; Ardi, Rahkman
Journal of Educational, Health and Community Psychology Vol 13 No 1 March 2024
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/jehcp.v13i1.28380

Abstract

Mass psychogenic illness is a phenomenon that occurs every year in Indonesia, mainly in schools and factories. In the fifth edition of the Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, this phenomenon is classified as dissociative disorders. However, the Indonesian diagnostic manual of mental disorders (the PPDGJ) classified the phenomenon as a conversion disorder. The confounding diagnosis will likely result in less effective and less humane interventions. This study aims to determine the symptoms experienced by individuals experiencing mass psychogenic illness, therefore contributing to the current literature regarding the proper diagnostic of the spirit possession. Samples (N=55) were assessed using the Dissociative Disorder Interview Schedule based on DSM-5. The Beck Depression Inventory and Wong-Baker Face Rating Scale are also used to supplement the data. Findings indicate that the subjects fit the diagnostic criterion of several disorders, namely somatization (experienced by 98.18% of individuals), major depression (49%), trance (69%), childhood physical abuse (35%), and borderline personality disorder (47.2%). However, only 14.54% of subjects fulfilled the diagnostic criterion of dissociative amnesia, 7.27% for diagnostic fugue, 3.63% for depersonalization/derealization, 5% for dissociative identity disorder, 11% for other specified and unspecified dissociative disorder. These findings showed that mass psychogenic illness is likely the manifestation of distinct and separate mental disorders, notably that of somatization disorder, trance, borderline personality disorder, and major depressive disorder, and exclusively those of dissociative disorders.