Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Parental Bereavement and Academic Resilience in Indonesian Adolescents: Emotion Regulation as Mediator and Social Support as Protective Factor Listaunsanti, Lynda Yenie; Setyawan, Jefri
Nusantara Journal of Behavioral and Social Science Vol. 4 No. 4 (2025)
Publisher : Utan Kayu Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/njbss.202513244

Abstract

Parental bereavement represents one of the most profound emotional disruptions in adolescence, yet its academic implications remain underexplored, particularly in relation to how emotional regulation interacts with social support to sustain academic performance. This qualitative phenomenological study investigated the adaptive processes of two 18-year-old students in Surabaya who experienced parental loss, aiming to understand how they navigated grief while remaining engaged in learning. Data were collected through in-depth interviews and classroom observation, then analyzed using thematic analysis. Four themes emerged: academic resilience, emotion regulation, social support, and negative emotional experiences. Findings reveal that despite emotional disruptions and social stigma, both students demonstrated perseverance, reflective help-seeking, and meaning-making abilities, supported by cognitive reappraisal and culturally grounded coping (e.g., sabar, ikhlas, prayer). Emotion regulation served as a mediating mechanism linking bereavement to academic resilience, while peer and family support acted as protective buffers fostering motivation and emotional stability. Practically, this study underscores the need for grief-sensitive pedagogy and teacher training in emotional scaffolding to support bereaved students’ adjustment. Theoretically, the study extends Academic Resilience Theory (Cassidy, 2016) by positioning emotion regulation as a mediating mechanism and social support as a key protective factor in the context of parental loss.   Abstrak: Kehilangan orang tua merupakan salah satu pengalaman emosional paling mendalam pada masa remaja, namun dampaknya terhadap capaian akademik masih belum banyak diteliti. Penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis ini mengeksplorasi proses adaptasi dua siswa berusia 18 tahun di Surabaya yang mengalami kehilangan orang tua, dengan tujuan memahami bagaimana mereka mengelola duka sembari tetap terlibat dalam proses pembelajaran. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan observasi kelas, kemudian dianalisis menggunakan analisis tematik. Empat tema utama ditemukan: resiliensi akademik, regulasi emosi, dukungan sosial, dan pengalaman emosional negatif. Hasil menunjukkan bahwa meskipun mengalami gangguan emosi dan stigma sosial, kedua peserta mampu menunjukkan ketekunan, perilaku pencarian bantuan yang reflektif, dan kemampuan memaknai pengalaman, yang didukung oleh reappraisal kognitif dan strategi koping berbasis budaya (misalnya sabar, ikhlas, dan doa). Regulasi emosi berperan sebagai mekanisme mediasi yang menghubungkan pengalaman kehilangan dengan resiliensi akademik, sementara dukungan dari teman sebaya dan keluarga berfungsi sebagai faktor protektif yang memperkuat motivasi dan stabilitas emosional. Secara praktis, temuan ini menegaskan pentingnya penerapan pedagogi sensitif-duka dan pelatihan guru terkait emotional scaffolding dalam mendukung proses adaptasi siswa yang berduka. Penelitian ini memperluas penerapan Academic Resilience Theory (Cassidy, 2016) dengan menempatkan regulasi emosi sebagai mekanisme mediasi dan dukungan sosial sebagai faktor protektif dalam konteks kehilangan orang tua.
Negotiating Marriage Beyond Traditional And Modern Contexts: An Interpretative Phenomenology Analysis Of Upper-Caste Women In Ngada Theresia Avila Chastysima Daku; Jefri Setyawan
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v10i1.4450

Abstract

Cultural expectations for upper-caste women in Ngada society demand that they marry within their caste. This study opens a communicative space for women who have successfully negotiated traditional norms. It aims to understand how women negotiate marriage choices with their families and how social support and communication affect their decision-making processes. This qualitative study uses an interpretative phenomenological approach, employing semi-structured interviews with three upper-caste women who married men of lower-caste status. The findings show that cultural expectations to preserve social status through intra-caste marriage persist, placing pressure on women to relinquish autonomy in making marital decisions. However, open communication about personal choices and seeking family support allowed for the emergence of emotional, instrumental, and informational support that greatly helped women overcome social stigma and choose partners independently. The implications of this study underscore the importance of open family communication in supporting individual freedom in a partner.
Sleep Calls and Emotional Intimacy in Non-Long-Distance Romantic Relationships: A Qualitative Exploration of Virtual Communication Practices Timmy Ardian Roring; Jefri Setyawan
INJECT (Interdisciplinary Journal of Communication) Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : FAKULTAS DAKWAH UIN SALATIGA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18326/inject.v10i2.4885

Abstract

In the context of modern romantic relationships in Indonesia, digital communication has facilitated the maintenance of intimacy and commitment beyond face-to-face interactions. One such practice, sleep calls, has gained prominence even among non-long-distance couples, raising questions about its role in emotional bonding and relationship dynamics. This study investigates how sleep calls function within non-long-distance romantic relationships, focusing on their potential to strengthen intimacy, foster self-disclosure, and provide social support. Through qualitative data from in-depth interviews with two couples, this research examines how sleep calls are perceived and utilized to enhance emotional closeness, while also exploring potential drawbacks, such as the impact on sleep quality. Findings suggest that sleep calls serve as a unique form of virtual intimacy, allowing couples to nurture emotional connections and demonstrate commitment, but also posing challenges to physical well-being. By positioning this study within the broader context of virtual communication in contemporary relationships, we argue that while sleep calls can significantly deepen emotional bonds, their long-term effects on relationship satisfaction and individual health remain an important area for future exploration.
Pola Asuh dan Prestasi Anak Tionghoa dalam Perspektif Psikologi Budaya Esther Marliana; Jefri Setyawan
Jurnal Perspektif Vol 8 No 2 (2025): Jurnal Perspektif: Jurnal Kajian Sosiologi dan Pendidikan, Universitas Negeri Pad
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/perspektif.v8i2.1154

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi dampak pola asuh dalam keluarga Tionghoa di Indonesia, dengan fokus khusus pada bagaimana pola asuh tersebut mempengaruhi prestasi akademik anak-anak. Penelitian ini mengkaji hubungan antara pendekatan pengasuhan dan prestasi anak, terutama dalam keluarga Tionghoa Totok (darah murni) dan Peranakan (campuran). Penelitian ini menyelidiki peran komunikasi terbuka, metode disiplin, dan kesadaran diri dalam manajemen waktu sebagai faktor yang berkontribusi pada kesuksesan akademik. Selain itu, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana nilai-nilai budaya dalam keluarga Tionghoa membentuk perkembangan kemandirian dan tanggung jawab anak. Penelitian kualitatif deskriptif dipilih untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam. Informan berusia 19 hingga 21 tahun dipilih menggunakan teknik purposive sampling, yang mewakili latar belakang keluarga Tionghoa Totok atau Peranakan. Data dikumpulkan melalui kuesioner mengenai pola asuh yang dipersepsikan (otoritatif, otoriter, permisif) dan wawancara mendalam. Analisis tematik digunakan untuk mengelompokkan dan menganalisis data untuk mengidentifikasi tema utama dan memberikan wawasan lebih dalam mengenai pengaruh pola asuh terhadap prestasi akademik. Temuan penelitian ini menyoroti pentingnya komunikasi demokratis dan peran orang tua dalam mendukung kemandirian dan tanggung jawab anak-anak mereka. Selain itu, penelitian ini menekankan dampak dari metode disiplin non-otoriter terhadap perkembangan emosional dan akademik anak. Penelitian ini menyarankan bahwa pemahaman terhadap dinamika budaya ini dapat meningkatkan dukungan psikologis dan pendidikan bagi anak-anak dalam keluarga Tionghoa.