Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

The Role of Village-Owned Enterprises in Agriculture Sector in Enhancing Community Welfare in Tampahan District, Toba Regency, North Sumatra Jef Rudiantho Saragih; Fetty Farida Tamba; Mhd. Asaad
Agro Bali : Agricultural Journal Vol 6, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Panji Sakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37637/ab.v6i2.1317

Abstract

The farming business needs to obtain support to increase the income and welfare of farmers. This study aims to analyze the role of village-owned enterprises (BUM Desa) in agriculture sector in enhancing community’s welfare. The research was conducted in Gurgur Aekraja Village, Tampahan District, Toba Regency, from January to March 2021. 66 farmers were determined as respondents using a simple random sampling. Respondents' perceptions of variable indicators were measured using a Likert scale. The role of BUM Desa is measured based on the influence of the independent variables on the dependent variable with multiple linear regressions. Farmers' perceptions of variable indicators are in the very good category, namely 4.34 for the establishment of BUM Desa, 4.43 for BUM Desa activities, and 4.42 for community welfare. Based on multiple regression analysis, it was concluded that the establishment of BUM Desa and BUM Desa activities plays a very significant role in improving community welfare.
Sosialisasi Dan Budidaya Lebah Madu Di Nagori Bahsulung Kecamatan Panombeian Panei Kabupaten Simalungun Ummu Harmain; Jef Rudiantho Saragih; Ramainim Saragih; Muldri P J Pasaribu
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei
Publisher : Lembaga Pengabdian Masyarakat Universitas Simalungun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/jpmsm.v3i2.811

Abstract

Jenis lebah madu yang umum ditemukan di Indonesia adalah jenis Apis dan Trigona. Di Nagori Bahsulung ditemukan lebah Apis dorsata, Apis cerana dan trigona. Melihat hal ini maka perlu dilakukan kegiatan sosialisasi dan praktek budidaya lebah madu bagi masyarakat setempat. Metode yang dilakukan pra pelatihan (pemaparan materi), praktik budidaya lebah madu, studi banding serta pendampingan berkala dan berkelanjutan. Pada praktik budidaya dilakukan identifikasi jenis lebah yang ada di Nagori Bahsulung, yaitu dengan melihat langsung koloni lebah yang ada baik itu apis maupun trigona. Kegiatan studi banding dilakukan di eduwisata lebah KUBE Takoma, Pematang Sidamanik. Pendampingan berkala dan berkelanjutan terus dilakukan pada kelompok mitra hingga ipteks yang dialihkan dapat dilaksanakan secara mandiri. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa Nagori Bahsulung berpotensi dalam mengembangkan budidaya lebah madu dengan banyaknya lebah madu yang ada, baik lebah apis maupun trigona. Selain itu lingkungan sekitar sangat mendukung dengan tersedianya sumber pakan yang berlimpah diantaranya vegetasi sumber nektar, polen dan resin. Dengan adanya sosialisasi dan pelatihan budidaya ini peserta kegiatan lebih memahami potensi desanya dan memiliki kemampuan dasar dalam budidaya lebah madu. Disarankan untuk menambah vegetasi sumber pakan lebah lainnya untuk menjamin ketersediaan pakan terutama pada saat musim hujan
Alokasi Dan Optimasi Tenaga Kerja Usahatani Kopi Arabika Pola Diversifikasi Di Kabupaten Simalungun Jef Rudiantho Saragih
AGROTEKBIS : JURNAL ILMU PERTANIAN (e-journal) Vol 8 No 1 (2020): Februari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis : (1) alokasi penggunaan tenaga kerja pada usahatani pola diversifikasi, (2) perbedaan pendapatan antar usahatani pola diversifikasi (3) optimalisasi penggunaan tenaga kerja pola diversifikasi, dan (4) pengaruh jumlah tenaga kerja terhadap produksi. Penelitian ini dilakukan di Desa Bintang Mariah Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun. Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang mengusahakan kopi arabika-jagung dan kopi arabika-cabai merah. Jumlah sampel pada penelitian ini ditentukan secara purposive sebanyak 30 orang petani: yaitu 15 petani diversifikasi kopi arabika-jagung dan 15 petani diversifikasi kopi arabika-cabai merah. Penentuan sampel dilakukan dengan metode bola salju (snowball sampling). Penggunaan tenaga kerja yang berasal dari dalam keluarga dan luar keluarga berbeda nyata pada usahatani pola diversifikasi. Pendapatan usahatani diversifikasi kopi arabika-jagung berbeda nyata dengan diversifikasi kopi arabika-cabai merah. Tingkat optimasi penggunaan tenaga kerja pola diversifikasi lebih besar dari 1, artinya penggunaan tenaga kerja kurang optimal. Jumlah tenaga kerja pada usahatani diversifikasi kopi arabika-jagung tidak berpengaruh nyata terhadap produksi, sementara jumlah tenaga kerja pada usahatani diversifikasi kopi arabika-cabai merah, berpengaruh nyata terhadap produksi.
Strategi Peningkatan Produktivitas Kopi Robusta Di Desa Sigodang Barat Kecamatan Panei Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara Jef Rudiantho Saragih
Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol 27 No 2 (2020): Agustus
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agrolandnasional.v27i2.449

Abstract

Permasalahan utama yang dihadapi petani adalah produktivitas kopi robusta masih rendah dibandingkan dengan potensi produktivitas yang dapat dicapai melalui manajemen usahatani yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kinerja produktivitas kopi robusta dan mencari strategi baru untuk meningkatkan produktivitas kopi robusta di tingkat petani. Penelitian dilaksanakan di Nagori (Desa) Sigodang Barat, KecamatanPanei, Kabupaten Simalungun, pada bulan Februari-Maret 2019. Responden penelitian terdiri dari petani kopi robusta yang dipilih secara acak sederhana (65 orang), PPL (1 orang), pedagang pengumpul (1 orang), pedagang sarana produksi (1 orang), pegawai Dinas Perkebunan (1 orang), dan (6) Pangulu Nagori/Kepala Desa (1 orang). Data primer dan sekunder diolah dengan menggunakan analisis Revenue-Cost Rasio (R/C) dan Analisis SWOT. Produktivitas kopi robusta di daerah penelitian adalah 1,275 ton/ha, dengan nilai R/C sebesar 2,67. Strategi peningkatan produktivitas usahatani kopi robusta berada pada Kuadran 2 (Strategi Diversifikasi). Strategi yang sesuai untuk digunakan adalah Strategi ST melalui: (1) Penggunaan lahan dan varietas yang sesuai untuk meminimalkan konversi kopi robusta ketanaman kopi arabika atau tanaman lainnya; (2) Mendayagunakan pengalaman petani dan kemudahan manajemen usahatani dalam menyikapi kurangnya penyuluhan dan pelatihan yang tersedia; (3) Memanfaatkan bahan-bahan lokal sebagai sarana produksi berbasis pengalaman, biaya murah, dan manajemen usahatani yang fleksibel; dan (4) Memadukan kekuatan internal untuk meningkatkan kualitas produk untuk meningkatkan posisi tawar dalam harga jual. Pemerintah daerah melalui dinas teknis terkait diharapkan lebih memperhatikan petani dan memberikan pelayanan yang baik melalui pengadaan pelatihan dan penyuluhan teknis untuk memperbaiki manajemen usahatani kopi robusta di daerah penelitian.
Ketahanan Pangan di Kabupaten Simalungun: Pendekatan Rasio Ketersediaan Beras Jef Rudiantho Saragih; Ratna Sahara; Ummu Harmain
Agroland: Jurnal Ilmu-ilmu Pertanian Vol 28 No 3 (2021): Desember
Publisher : Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agrolandnasional.v28i3.1027

Abstract

Pangan merupakan kebutuhan paling utama bagi setiap manusia untuk dikonsumsi setiap harinya untuk aktif dan produktif secara berkelanjutan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh luas areal panen padi, jumlah penduduk, dan ketersediaan beras tahun sebelumnya terhadap ketahanan pangan. Ukuran ketahanan pangan dalam penelitian ini menggunakan rasio ketersediaan beras, yaitu Rasio Konsumsi Normatif per kapita terhadap Ketersediaan Beras. Penelitian dilakukan di Kabupaten Simalungun pada bulan Pebruari sampai bulan April tahun 2020. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Simalungun dan Provinsi Sumatera Utara; Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Simalungun dalam periode tahun 1988-2018. Data dianalisis secara deskriptif dan regresi linier berganda. Rasio ketersediaan beras rata-rata di Kabupaten Simalungun pada tahun1988-2018 adalah 0,41. Dengan surplus rata-rata 225.856 ton per tahun, ketahanan pangan (beras) Kabupaten Simalungun berada pada status surplus tinggi. Luas areal panen padi berpengaruh negatif dan tidak signifikan terhadap ketahanan pangan; yang berarti bahwa penambahan luas lahan areal panen padi akan menurunkan rasio ketersediaan beras. Penurunan rasio ketersediaan beras berarti meningkatkan ketahanan pangan. Jumlah penduduk berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap ketahanan pangan; dimana pertambahan penduduk akan menaikkan rasio ketersediaan beras. Meningkatnya rasio ketersediaan beras berarti menurunkan ketahanan pangan. Ketersediaan beras tahun sebelumnya berpengaruh negatif dan sangat signifikan terhadap ketahanan pangan; dimana peningkatan jumlah ketersediaan beras tahun sebelumnya akan menurunkan nilai rasio ketersediaan beras. Dengan kata lain, ketersediaan beras tahun sebelumnya berperan positif dan signifikan terhadap ketahanan pangan. Hasil penelitian ini memberikan implikasi sekaligus rekomendasi bahwa diperlukan pengendalian laju alihfungsi lahan sawah, peningkatan produktivitas padi sawah dan padi ladang; pengendalian jumlah penduduk, diversifikasi pangan pokok; yang pada gilirannya akan meningkatkan ketersediaan beras tahun sebelumnya dan meningkatkan rasio ketersediaan beras dan meningkatkan ketahanan pangan di Kabupaten Simalungun.
SOSIALISASI DAN BUDIDAYA LEBAH MADU DI NAGORI BAHSULUNG KECAMATAN PANOMBEIAN PANEI KABUPATEN SIMALUNGUN Ummu Harmain; Ramainim Saragih; Jef Rudiantho Saragih; Muldri P J Pasaribu
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei Vol. 3 No. 2 (2023): Jurnal Pengabdian Masyarakat SAPANGAMBEI MANOKTOK HITEI
Publisher : Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/e5rtvd74

Abstract

Jenis lebah madu yang umum ditemukan di Indonesia adalah jenis Apis dan Trigona. Di Nagori Bahsulung ditemukan lebah Apis dorsata, Apis cerana dan trigona. Melihat hal ini maka perlu dilakukan kegiatan sosialisasi dan praktek budidaya lebah madu bagi masyarakat setempat. Metode yang dilakukan pra pelatihan (pemaparan materi), praktik budidaya lebah madu, studi banding serta pendampingan berkala dan berkelanjutan. Pada praktik budidaya dilakukan identifikasi jenis lebah yang ada di Nagori Bahsulung, yaitu dengan melihat langsung koloni lebah yang ada baik itu apis maupun trigona. Kegiatan studi banding dilakukan di eduwisata lebah KUBE Takoma, Pematang Sidamanik. Pendampingan berkala dan berkelanjutan terus dilakukan pada kelompok mitra hingga ipteks yang dialihkan dapat dilaksanakan secara mandiri. Kegiatan ini menyimpulkan bahwa Nagori Bahsulung berpotensi dalam mengembangkan budidaya lebah madu dengan banyaknya lebah madu yang ada, baik lebah apis maupun trigona. Selain itu lingkungan sekitar sangat mendukung dengan tersedianya sumber pakan yang berlimpah diantaranya vegetasi sumber nektar, polen dan resin. Dengan adanya sosialisasi dan pelatihan budidaya ini peserta kegiatan lebih memahami potensi desanya dan memiliki kemampuan dasar dalam budidaya lebah madu. Disarankan untuk menambah vegetasi sumber pakan lebah lainnya untuk menjamin ketersediaan pakan  terutama pada saat musim hujan
Sosialisasi Budidaya Lebah Madu Tanpa Sengat (Stingless Bee) Dan Manfaatnya Ummu Harmain; Jef Rudiantho Saragih; Marulam MT Simarmata; Muldri P J Pasaribu
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei Vol. 2 No. 2 (2022): Jurnal Pengabdian Masyarakat SAPANGAMBEI MANOKTOK HITEI
Publisher : Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/brsxhx97

Abstract

There are honey-producing bees that have a sting and do not have a sting (stingless bee). The last type of bee is still rarely known to the public. To introduce these bees, socialization needs to be done. Socialization activities use the method of extension and dissemination of science and technology. This activity explains the conditions of the honey market in Indonesia, types of honey bees, determinants of production, benefits and techniques for harvesting honey and stingless bee pollen. During the activity, the participants enthusiastically listened to the material and played an active role, especially during the discussion and question and answer sessions regarding honey harvesting and pollen processing techniques. For the practice of stingless honey bee cultivation, bee colonies of the Heterotrigona itama species are given to the target community group
The Role of Village Fund in Local Economic Development through Revamping the Bah Biak Waterfall Ecotourism Area Saragih, Jef Rudiantho; Asaad, Mhd.; Nurhayati, Nurhayati
Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangunan Wilayah dan Perdesaan) Vol. 8 No. 3 (2024): Journal of Regional and Rural Development Planning (Jurnal Perencanaan Pembangu
Publisher : P4W IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jp2wd.2024.8.3.183-196

Abstract

The Village Fund (VF) drives local economic growth by fostering ecotourism development. This study investigates the impact of the VF program on Local Economic Development (LED) in the Bah Biak Waterfall Ecotourism area, located in Sidamanik Sub-district, Simalungun Regency, North Sumatra. The VF program aims to enhance community income, create employment opportunities, and improve the productive capacity of rural communities. We use a purposive sampling method to collect data from 64 households out of 174 in the area. Critical indicators of LED, including local employment, household income, and expenditure, were analyzed using paired sample t-tests to compare conditions before and after using the VF. The results indicate a significant increase in local employment, household income, and expenditure following the utilization of the VF. This research underscores the importance of community participation in all stages of program activities, from planning to evaluation, and highlights the need for enhanced involvement in monitoring processes. The findings contribute to understanding how the VF can effectively support local economic development and provide recommendations for future ecotourism package development that integrates local resources and attractions. Future studies will focus on developing integrated ecotourism packages that combine multiple attractions and activities in the region, such as the panorama of tea plantations, Arabica coffee farming, creative economics based on beekeeping, and educational tourism related to sustainable practices.
Penyusunan Model Pengembangan Pariwisata Pedesaan Berkelanjutan di Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun Jef Rudiantho Saragih; Ummu Harmain; Muldri Pudamo James Pasaribu; Ester Ria Aurora; Sulastri Doloksaribu; Elida Samosir
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat SAPANGAMBEI MANOKTOK HITEI
Publisher : Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/ahqtca65

Abstract

Peningkatan jalan ruas Simpang Sonom ke Haranggaol sepanjang 18 km mendorong pengembangan pariwisata di kawasan Danau Toba. Kegiatan pengabdian ini melakukan penilaian potensi pariwisata dan menyusun model pengembangan pariwisata pedesaan berkelanjutan (PPPB) di Nagori Togu Domu Nauli (TDN). Pariwisata belum berkembang di wilayah ini akibat buruknya aksesibilitas selama puluhan tahun. Melihat potensi pantai, agrowisata, alam, budaya, dan masyarakat lokal; kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menyusun konsep awal model PPPB. Metode yang digunakan adalah reviu hasil penelitian/pengabdian sebelumnya, survei awal, pedoman observasi, plotting, RRA, dan penyusunan model. Komponen PPPB di Nagori TDN terdiri dari pantai, agrowisata, atraksi, dan masyarakat lokal. Komponen pantai terdiri dari prasarana pantai (joglo/pondok, jalur pedestrian), permainan/wisata air, fasilitas berenang, fasilitas memancing, kuliner lokal, pohon dan buah mangga, dan spot foto. Komponen agrowisata meliputi kebun kopi arabika Sigarar Utang, pengolahan kopi arabika, cafe (Simalungun specialty), demplot kebun bawang merah dan stroberi, budidaya lebah madu, dan spot foto. Sementara komponen atraksi terdiri dari demo prosesing kopi arabika spesialti dan produksi madu. PPPB ini memerlukan dukungan dari semua pemangku kepentingan: pemerintah kabupaten (Dinas Pariwisata), perguruan tinggi, perusahaan publik dan swasta, masyarakat lokal, dan media. Pengembangan wisata komponen pantai dan komponen agrowisata, kegiatan pengabdian ini telah mengidentifikasi empat lokasi potensial. Model awal dan konsep denah lokasi disajikan pada bagian akhir naskah ini
BUDIDAYA SAYURAN SISTEM HIDROPONIK DI KELURAHAN PARDOMUAN KECAMATAN SIANTAR TIMUR KOTA PEMATANGSIANTAR Harmain, Ummu; Saragih, Jef Rudiantho
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei Vol. 1 No. 1 (2021): Jurnal Pengabdian Masyarakat SAPANGAMBEI MANOKTOK HITEI
Publisher : Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/ej8jvx30

Abstract

The limited land available has made the community less interested in farming. Even the small amount of household vegetable needs is obtained from markets and stalls. For this reason, the community needs to be given knowledge of vegetable farming by utilizing existing land so that at least it is able to meet the family's vegetable needs and if possible can increase household income. The output plan for this activity is: (1) Participants have technical skills in cultivating several types of vegetables; (2) Participants have technical knowledge and skills of hydroponic system vegetable cultivation; (3) Participants are able to produce several types of fresh vegetables; (4) Participants receive additional income; and (5) The local area can become a demonstration plot for similar activities. Methods and outcomes of activities: extension (100%), hydroponic vegetable cultivation practice (100%), sales (25%), and promotion activities (25%). The results and outcomes obtained in the community service activities carried out include increased public understanding of vegetable cultivation and hydroponic systems, vegetable self-sufficiency, utilization of empty space in the yard