Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Penyusunan Model Pengembangan Pariwisata Pedesaan Berkelanjutan di Kecamatan Dolok Pardamean, Kabupaten Simalungun Jef Rudiantho Saragih; Ummu Harmain; Muldri Pudamo James Pasaribu; Ester Ria Aurora; Sulastri Doloksaribu; Elida Samosir
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sapangambei Manoktok Hitei Vol. 4 No. 2 (2024): Jurnal Pengabdian Masyarakat SAPANGAMBEI MANOKTOK HITEI
Publisher : Universitas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/ahqtca65

Abstract

Peningkatan jalan ruas Simpang Sonom ke Haranggaol sepanjang 18 km mendorong pengembangan pariwisata di kawasan Danau Toba. Kegiatan pengabdian ini melakukan penilaian potensi pariwisata dan menyusun model pengembangan pariwisata pedesaan berkelanjutan (PPPB) di Nagori Togu Domu Nauli (TDN). Pariwisata belum berkembang di wilayah ini akibat buruknya aksesibilitas selama puluhan tahun. Melihat potensi pantai, agrowisata, alam, budaya, dan masyarakat lokal; kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk menyusun konsep awal model PPPB. Metode yang digunakan adalah reviu hasil penelitian/pengabdian sebelumnya, survei awal, pedoman observasi, plotting, RRA, dan penyusunan model. Komponen PPPB di Nagori TDN terdiri dari pantai, agrowisata, atraksi, dan masyarakat lokal. Komponen pantai terdiri dari prasarana pantai (joglo/pondok, jalur pedestrian), permainan/wisata air, fasilitas berenang, fasilitas memancing, kuliner lokal, pohon dan buah mangga, dan spot foto. Komponen agrowisata meliputi kebun kopi arabika Sigarar Utang, pengolahan kopi arabika, cafe (Simalungun specialty), demplot kebun bawang merah, demplot kebun stroberi, budidaya lebah madu, dan spot foto. Sementara komponen atraksi terdiri dari demo prosesing kopi arabika spesialti dan produksi madu. PPPB ini memerlukan dukungan dari semua pemangku kepentingan: pemerintah kabupaten (Dinas Pariwisata), perguruan tinggi, perusahaan publik dan swasta, masyarakat lokal, dan media. Pengembangan wisata komponen pantai dan komponen agrowisata, kegiatan pengabdian ini telah mengidentifikasi empat lokasi potensial. Model awal dan konsep denah lokasi disajikan pada bagian akhir naskah ini.
Penaksiran Stok Karbon Berdasarkan Tutupan Lahan Pada KHDTK Aek Nauli Bagi Pembangunan Kehutanan Berkelanjutan Di Kabupaten Simalungun Dimpu Jekson Panjaitan; Jef Rudiantho Saragih; Benteng Haposan Sihombing; Tioner Purba
Jurnal Regional Planning Vol. 8 No. 1 (2026): Jurnal Regional Planning Vol 8 No 1 Februari 2026
Publisher : Program Studi Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Simalungun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/6y6g4g95

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengukur stok karbon pada berbagai tipe penutupan lahan di KHDTK. Penelitian  dilaksanakan pada bulan Nopember 2025– Januari 2026 di KHDTK Aek Nauli Kecamatan Girsang Sipangan Bolon Kabupaten Simalungun. Luas KHDTK Aek Nauli adalah 2.415,36 hektar yang terdiridari hutan terbuka, hutan pinus dan hutan campuran. Metode pengumpulan data meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari pengamatan langsung dilapangan yang mencakup  pencatatan jenis tanaman, pengukuran diameter batang dan tinggi tanaman berkayu, vegetasi non kayu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stok karbon di KHDTK Aek Nauli bervariasi secara signifikan antar tipe penutupan lahan, yang dipengaruhi oleh perbedaan biomassa. Tegakan pinus memiliki stok karbon tertinggi sebesar 296,69 ton/ha. Hutan campuran memiliki stok karbon sedang sebesar 117,62 ton/ha, lahan terbuka menunjukkan stok karbon terendah sebesar 75,83 ton/ha. Tegakan pinus berperan dominan dalam fungsi regulasi iklim dan peningkatan kualitas lingkungan, sementara hutan campuran berfungsi sebagai penyangga ekologis pada skala lanskap. Lahan terbuka menjadi indikator degradasi ekosistem dan prioritas utama rehabilitasi. Oleh karena itu, pengelolaan hutan KHDTK Aek Nauli dalam kerangka PHPL perlu difokuskan pada restorasi lahan terbuka, penguatan struktur hutan campuran, perlindungan tegakan pinus, serta monitoring karbon untuk menjamin keberlanjutan ekosistem jangka panjang