Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Factors Related to the Level of Patient Adherence in Taking Hypertensive Medication at RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan in 2022 Dame, Arta Marisi; Roslinda, Rada
Jurnal Kesehatan, Rekam Medis dan Farmasi (JUK-Medifa) Vol. 1 No. 02 (2023): JUK-Medifa (Jurnal Kesehatan, Rekam Medis dan Farmasi), Mey 2023
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58471/juk-medifa.v1i02.306

Abstract

This article describes the factors related to the level of patient adherence in taking hypertension medication at RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan. This study used quantitative methods with an analytical survey approach and the research design used in this study was Cross Sectional. The sample in this study was 35 people. The results of statistical test analysis using the Chi-Sguare statistical test where the results showed meaningful relationships for age variables (p value = 0.005), for sex variables (p value = 0.557), for knowledge variables (p value = 0.011), for officer role variables (p value = 0.007) and for family support variables (p value = 0.012).
The Effect of Inhalation Aromatherapy on the Anxiety of Hemodialysis Patients at RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan in 2023 Dame, Arta Marisi; Siregar, Muhammad Hamid
Jurnal Kesehatan, Rekam Medis dan Farmasi (JUK-Medifa) Vol. 2 No. 01 (2023): JUK-Medifa (Jurnal Kesehatan, Rekam Medis dan Farmasi), November 2023
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58471/juk-medifa.v2i01.307

Abstract

According to KDIGO (2012) people with chronic kidney disease need hemodialysis therapy. Hemodialysis is the process of exchanging solutes and waste products of the body. The waste substances that accumulate in chronic kidney disease patients are withdrawn by the passive diffusion mechanism of semipermeable membranes. From the results of the analysis that has been carried out at RSU Imelda Pekerja Indonesia on patients undergoing hemodialysis, it was found that 7 out of 22 people undergoing hemodialysis experienced anxiety when they were about to start the hemodialysis process with signs of feeling tense, heart palpitations, nausea and anxiety about side effects during the hemodialysis process. One non-pharmacological therapy is complementary therapy that can be used to reduce some of the complications of hemodialysis such as anxiety, fatigue, pain, sleep quality, stress, and headaches, namely aromatherapy. The purpose of the study was to determine the effect of inhalation aromatherapy on the anxiety of patients undergoing iohemodialysisodi at RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan in 2023. This study used quantitative methods. This type of study is pre-experimental with a one-group pretest-posttest design. The study population was 104 people, the study sample was 43 with purposive sampling. Bivariate test with wicoxon test. The results of the study The anxiety level of hemodialysis patients before giving aromatherapy had a mild anxiety level (40-59) as many as 21 people (48.8%), followed by hemodialysis patients with moderate anxiety levels (60-74) as many as 16 people (37.2%), followed by severe anxiety (75-80) as many as 6 people (14.0%). The anxiety level of hemodialysis patients after aromatherapy administration had mild anxiety levels (40-59) as many as 22 people (51.2%), followed by hemodialysis patients with moderate anxiety levels (60-74) as many as 13 people (30.2%), followed by no anxiety (20-39) as many as 5 people (11.6%) and severe anxiety (75-80) as many as 3 people (7.0%). The results of the Wilcoxon test, it was found that there was an effect of inhalation aromatherapy with a decrease in anxiety in hemodialysis patients with sig values. 0.000<0.05.
PENINGKATAN PENGETAHUAN PERAWAT TENTANG CARA BERKOMUNIKASI TERAPEUTIK PADA PASIEN YANG MENGALAMI KECEMASAN KARENA GAGAL JANTUNG DI RSU IPI 2020 Gultom, Satriani; Handoko, Syahrul; Damanik, Candra; Shanti, Yuni; Harahap, Ali Asman; Dame, Arta Marisi
Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia SEAN (ABDIMAS SEAN) Vol. 1 No. 02 (2023): Pengabdian Kepada Masyarakat Indonesia SEAN (ABDIMAS SEAN), Agustus 2023
Publisher : SEAN Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58471/abdimassean.v1i02.237

Abstract

Didalam pelaksanaan pelayanan kesehatan pada pasien di rumah sakit memerlukan sebuah pedoman sebagai acuan untuk pelayanan bermutu yang dapat mempercepat proses penyembuhan pasien, memperpendek lama hari rawat dan menghemat biaya perawatan. Ruang lingkup pelayanan rumah sakit meliputi pelayanan rawat jalan, rawat inap, penyelenggaraan makanan serta penelitian dan pengembang. Salah satu kegiatan yang dilakukan pada pelayanan pasien gagal jantung rawat inap yaitu melakukan konseling/edukasi cara berkomunikasi teraupetik yang bertujuan untuk menanamkan dan meningkatkan pengertian, sikap dan perilaku pasien dalam mengenai dan mengatasi masalah penyakitnya sehingga pasien dapat memutuskan apa yang akan dilakukannya. Komunikasi terapeutik memegang peranan penting dalam membantu pasien memecahkan masalahnya yang dihadapi. Komunikasi terapeutik adalah komunikasi yang direncanakan secara sadar, bertujuan dan kegiatannya dipusatkan untuk kesembuhan pasien. Pada dasarnya komunikasi terapeutik merupakan komunikasi profesional yang mengarah pada tujuan yaitu penyembuhan pasien, dimana perawat yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang diperoleh melalui pendidikan keperawatan. Dalam proses menyampaikan edukasi diperlukan media yang edukatif dalam penyampaian pesan agar dapat diterima dan diserap dengan baik. (10 pt). Tujuan PkM Secara umum adalah : Untuk meningkatkan pengetahuan Perawat Tentang Cara Berkomunikasi Teraupetik yang mengalami kecemasan pada pasien gagal jantung di Rumah Sakit Umum Imelda Pekerja Indonesia
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KUALITAS TIDUR PASIEN HEMODIALISIS Dame, Arta Marisi; Ritonga, Yuni Shanti; Rina Situmorang, Paskah; Noradina, Noradina; Siahaan, Meriani; Silalahi, Bernita
Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Keperawatan IMELDA
Publisher : Program Studi S1/DIII-Keperawatan Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jikeperawatan.v11i2.1959

Abstract

Background: Sleep quality is defined as a state where a person is satisfied with their sleep so that they do not show signs of sleep disorders. Patients undergoing hemodialysis are 25% more likely to experience sleep disorders than normal adults. Objective: This study aims to determine the factors associated with sleep quality in hemodialysis patients. Method: This study is a quantitative study with an analytical survey design through a cross-sectional approach. The sampling technique in this study was accidental sampling. The sample in this study were patients who underwent hemodialysis regularly at least 2 times a week. Data collection used the Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) questionnaire in Indonesian, a physical activity questionnaire and a Fatigue Severity Scale (FSS) questionnaire with a total of 58 hemodialysis patients at RSU Imelda Pekerja Indonesia. Data analysis used bivariate data analysis with the chi-square test. Results: This study showed that there was no significant relationship between age (p=0.956), gender (p=0.225), employment status (p=0.462), duration of hemodialysis (p=0.559) and sleep quality of hemodialysis patients at Imelda Buruh Indonesia Hospital. There was a significant relationship between comorbidities (p=0.001), smoking habits (p=0.026), coffee consumption (p=0.003), physical activity (p=0.000) and fatigue levels (p=0.000). Conclusion: Lifestyle factors (smoking habits, coffee consumption), comorbidities, physical activity and fatigue levels are related to sleep quality of hemodialysis patients. Suggestion: Future researchers should examine the sleep quality of hemodialysis patients with different methods and research designs.
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG MENOPAUSE DAN OLAH RAGA TEPAT PADA PEREMPUAN PERIMENOPAUSE DI GEREJA SILOAM INJILI (GSI) KECAMATAN MEDAN PERJUANGAN Dewi, Ratna; Tampu Bolon, Christina Magdalena; Manurung, Rostinah; Siregar, Sarmaida; Manurung, Nixson; Dame, Arta Marisi; Sagala, Deddy Sepadha Putra; Handoko, Syahrul
Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat (Ji-SOMBA) Vol. 4 No. 1 (2024): Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat (Ji-SOMBA)
Publisher : Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/ji-somba.v4i1.1785

Abstract

Pendahuluan: menopause mengacu pada perdarahan menstruasi terakhir dan merupakan proses alami yang dialami semua perempuan paruh baya. Perempuan tanpa adanya perubahan dalam siklus menstruasi dievaluasi sebagai pramenopause, perempuan dengan perubahan dalam siklusnya atau yang terakhir perdarahan menstruasi ? 12 bulan sebelumnya dievaluasi sebagai perimenopause, dan perempuan yang mengalami perdarahan menstruasi terakhir tanpa sebab apapun seperti kehamilan, menyusui atau pengobatan > 12 bulan sebelumnya dievaluasi sebagai pascamenopause. Menopause dapat menimbulkan serangkaian gejala seperti: vasomotor, somatik, psikologis, dan seksual dan keluhan utama yang sering muncul yaitu dari vasomotor yaitu hot flashes yang dikaitkan dengan perubahan kadar hormon dan perubahan norepinefrin serta serotonin. Salah satu faktor yang berpengaruh untuk meminimalisir keluhan saat menopause yaitu peningkatan pengetahuan sehingga berpengaruh pada sikap dan perilaku yang dapat dilakukan melalui pendidikan kesehatan. Tujuan: pengabdian masyarakat ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan tentang menopause dan olahraga tepat pada perempuan perimenopause untuk meningkatkan pengetahuan tentang menopause. Metode: pengabdian masyarakat dilaksanakan di Gereja Siloam Injili kecamatan Medan Perjuangan pada bulan Agustus – Oktober 2024 dengan metode pelaksanaan pengabdian meliputi: observasi, ceramah tanya jawab, dan pelatihan dengan 30 partisipan. Hasil: evaluasi didapatkan peningkatan nilai pengetahuan dengan mayoritas baik setelah dilakukan pengabdian. Kesimpulan: pemberian pendidikan kesehatan tentang menopause dan olahraga tepat pada ibu – ibu perimenopause agar mencapai derajat kesehatan yang optimal, baik fisik, mental, dan sosiial di keluarga dan masyarakat.
PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PENYAKIT GINJAL KRONIK (PGK) PADA KELUARGA PASIEN YANG MENJALANI HEMODIALISIS Dewi, Ratna; Sagala, Deddy Sepadha Putra; Siregar, Sarmaida; Manurung, Rostinah; T. Bolon, Christina Magdalena; Manurung, Nixson; Dame, Arta Marisi; Nainggolan, Syahrul Handoko
Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat (Ji-SOMBA) Vol. 4 No. 2 (2025): Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat (Ji-SOMBA)
Publisher : Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jisomba.v4i2.1889

Abstract

Pendahuluan: Penyakit ginjal kronik (PGK) merupakan salah satu penyakit yang menjadi masalah besar di dunia termasuk Indonesia yang berdampak pada masalah kesehatan, ekonomi dan sosial yang besar bagi pasien dan keluarganya. Saat orang mengalami PGK, ginjal sudah mengalami kerusakan yang bersifat progresif dan irreversible artinya tubuh gagal untuk mempertahankan metabolisme serta keseimbangan cairan dan elektrolit sehingga dapat menyebabkan uremia. Prevalensi penyakit dasar dari PGK yang menjalani dialisis terbanyak adalah penyakit ginjal hipertensi diikuti oleh nefropati diabetik dan diikuti oleh glomerulopati. Upaya kesehatan melalui edukasi untuk peningkatan pengetahuan bagi PGK penting meningkatkan kualitas hidup dan atau mempertahankan kualitas hidup yang sudah baik. Upaya kesehatan bagi keluarga yang berisiko dapat mencegah terjadinya PGK. Tujuan: pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh pendidikan kesehatan tentang PGK pada pasien dan keluarga PGK yang menjalani hemodialisis untuk meningkatkan pengetahuan dalam mempertahankan kualitas hidup yang baik. Metode: pengabdian masyarakat dilaksanakan di RSU Imelda Pekerja Indonesia Medan pada bulan Februari – April 2025 dengan metode pelaksanaan pengabdian meliputi: observasi dan ceramah tanya jawab dengan 30 partisipan. Hasil: evaluasi didapatkan peningkatan nilai pengetahuan dengan mayoritas baik setelah dilakukan pengabdian. Kesimpulan: pemberian pendidikan kesehatan tentang PGK pada keluarga pasien yang menjalani hemodialisis agar mencapai derajat kesehatan yang optimal, baik fisik, mental, dan sosial pasien dan keluarga PGK yang menjalani hemodialisis.
PENYULUHAN KESEHATAN PADA MASYARAKAT YANG BERISIKO MENGALAMI BATU SALURAN KEMIH (BSK) Dewi, Ratna; Sagala, Deddy Sepadha Putra; Nainggolan, Syahrul Handoko; T.Bolon, Christina Magdalena; Siregar, Sarmaida; Manurung, Rostinah; Dame, Arta Marisi; Manurung, Nixson
Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat (Ji-SOMBA) Vol. 5 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat (Ji-SOMBA)
Publisher : Universitas Imelda Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52943/jisomba.v5i1.2078

Abstract

Pendahuluan: Batu saluran kemih (BSK) merupakan salah satu masalah kesehatan urologi tersering di dunia, dengan prevalensi bervariasi menurut faktor geografis, iklim, pola makan, dan genetik. Risiko kekambuhan BSK sangat tinggi dan berkaitan erat dengan modifikasi gaya hidup, hidrasi, serta pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan. Edukasi kesehatan merupakan strategi penting untuk meningkatkan pengetahuan dan kemampuan masyarakat dalam mengurangi risiko pembentukan dan kekambuhan BSK. Tujuan: Penelitian pengabdian masyarakat ini bertujuan menganalisis pengaruh penyuluhan kesehatan tentang BSK terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat berisiko di Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada Juni–Juli 2025 menggunakan desain pre–post test tanpa kontrol. Sebanyak 31 partisipan mengikuti dua tahap kegiatan, yaitu observasi dan wawancara awal menggunakan kuesioner tertutup mengenai karakteristik, riwayat kesehatan, serta pengetahuan BSK; kemudian penyuluhan melalui metode ceramah dan tanya jawab. Setelah intervensi, dilakukan pengukuran ulang untuk menilai perubahan pengetahuan. Analisis data menggunakan uji paired t-test. Hasil: Mayoritas partisipan berada pada rentang usia pra-lansia (58,1%) dan berjenis kelamin perempuan (74,2%). Sebelum penyuluhan, 70,9% partisipan memiliki tingkat pengetahuan kategori cukup, dan hanya 29,1% kategori baik. Setelah penyuluhan, pengetahuan meningkat signifikan, dengan 74,2% berada pada kategori baik. Terdapat perbedaan bermakna rerata skor pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi (p = 0,001), menunjukkan efektivitas penyuluhan dalam meningkatkan pengetahuan. Kesimpulan: Penyuluhan kesehatan terbukti efektif meningkatkan pengetahuan masyarakat berisiko mengenai pencegahan BSK. Intervensi edukatif seperti ini perlu dilakukan secara rutin untuk mendorong perilaku hidup sehat, mengurangi kejadian BSK, serta mencegah kekambuhan pada individu dengan riwayat penyakit tersebut.