Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Media Farmasi

STUDI TINGKAT PENGETAHUAN MASYARAKAT TENTANG PENGGUNAAN OBAT INFLUENZA SECARA SWAMEDIKASI DI DESA WAEPUTE KECAMATAN TOPOYO KABUPATEN MAMUJU TENGAH PROVINSI SULAWESI BARAT TAHUN 2018 Asyikin, Asyhari; tanri, andi; Nurisyah, Nurisyah; Wibowo, Wibowo
Media Farmasi XXX Vol 15, No 1 (2019): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.759 KB) | DOI: 10.32382/mf.v15i1.828

Abstract

Sesuai dengan visi Kementerian Kesehatan Indonesia yaitu masyarakat yang mandiri untuk hidup sehat, dan untuk mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat maka diselenggarakan upaya kesehatan dengan pemeliharaan, peningkatan kesehatan (promotif), pencegahan penyakit (kuratif) dan pemulihan kesehatan (rehabilitatif) yang dilaksanakan secara menyeluruh, terpadu dan berkesinambungan serta diselenggarakan bersama antara pemerintah dan masyarakat. Untuk mencapai tujuan tersebut, upaya kesehatan harus dilaksanakan secara integral oleh seluruh komponen, baik pemerintah, tenaga kesehatan maupun masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penggunaan Obat Influenza Secara Swamedikasi di Desa Waeputeh Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat. Penelitian dilaksanakan terhadap 78 responden di Desa Waeputeh dengan memberikan kuesioner yang  Data penelitian akan berupa skor nilai yang kemudian dipersentasekan lalu dimasukkan ke dalam kategori yang telah dibuat yaitu rendah (0 % - 33,3 %), sedang (33,4 %  -  66,7 %), dan tinggi (66,8 %  - 100 %). Skor persentase yang dilihat dari Tingkat Pendidikannya yaitu SD-SMP (22,43 %), SMA (48,28 %), >SMA (76,25 %). Dimana persentase skor perolehan rata-rata adalah (48,99 %), Hasil penelitian menyatakan bahwa Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penggunaan Obat Influenza Secara Swamedikasi di Desa Waeputeh termasuk dalam kategori sedang ( 48,99 %). Kata Kunci           : Pengetahuan, Swamedikasi, Influenza
STUDI IDENTIFIKASI DRUG RELEATED PROBLEM’S (DRPs) PADA PASIEN DIARE DI PERAWATAN ANAK RSUD PANGKEP SULAWESI SELATAN Asyikin, Asyhari
Media Farmasi XXX Vol 13, No 2 (2017): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (253.264 KB) | DOI: 10.32382/mf.v13i2.787

Abstract

Telah dilakukan Penelitian mengenai ini Drug Related Problems (DRPs) pada pasien diare di perawatan anak RSUD Pangkep Sulawesi Selatan pada bulan Agustus 2017. Penelitian ini termasuk penelitian jenis non-eksperimental, dan  bertujuan untuk mengetahui Drug Related Problems (DRPs) pada pasien diare di perawatan anak RSUD Pangkep Sulawesi Selatan periode  Januari – April 2017, pengambilan data dilakukan secara restropektif dari catatan rekam medik pasien dan dianalisis secara deskriptif. Pengambilan sampel ditentukan secara purposive sampling dengan kriteria anak yang menderita diare di Perawatan anak RSUD Pangkep periode Januari-April 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pasien anak yang menderita diare adalah sebanyak 73 pasien yang didominasi oleh anak yang berjenis kelamin laki-laki sebanyak 42 pasien (57,53%) dengan mayoritas pasien usia 0-1 tahun sebanyak 48 pasien (65,75%). Jenis Drug Related Problems (DRPs) yang paling banyak terjadi adalah ketidaktepatan pemilihan obat antibiotika sebesar 20 kasus (27,40%), diikuti indikasi tanpa obat sebesar  26,03%, dan obat tanpa tanpa indikasi sebesar 10,96%Kata kunci: Diare anak, DRPs, ketidaktepatan  pemilihan obat, indikasi tanpa obat, obat tanpa  indikasi
Aktivitas Antioksidan Krim Ekstrak Etil Asetat Kulit Jeruk Nipis (Citrus aurantifolia) Yang Ditetapkan Dengan Metode DPPH Nurisyah, Nurisyah Nurisyah; Asyikin, Asyhari; Cartika, Harpolia
Media Farmasi XXX Vol 16, No 2 (2020): MEDIA FARMASI
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v16i2.1818

Abstract

Lime peel (Citrus aurantifolia) contains flavonoids as antioxidants that prevent free radicals, and antioxidants are used to repair skin cells damaged by free radicals. Therefore, a research was conducted with the aim of formulating antioxidant cream preparations using lime peel extract. The extraction was carried out by maceration using ethanol 96% solvent, which was then fractionated with ethyl acetate as solvent. The ethyl acetate extract obtained was formulated into cream preparations with extract concentrations of 3%, 6%, and 9%. The formula obtained was tested for its physical and stability, and then for its antioxidant activity. The results showed that the physical properties of the cream preparation meet with requirements for the physical stability based on the organoleptic test parameters, homogeneity, pH and viscosity. Similarly, the antioxidant activity test of cream against the DPPH free radicals showed that formula 1 with an extract concentration of 3% gives an average IC50 value of 28.24 mg/ml; formula 2 with an extract concentration of 6% gives an average IC50 value of 22.97 mg/ml; and formula 3 with an extract concentration of 9% gives an average IC50 value of 14.80 mg/ml. Based on the results, it was concluded that the lime peel extract are formulated into a cream preparation with type M/A. Formula 3 with an extract concentration of 9% is the best formula with the greatest antioxidant activity.Keywords :antioxidant, ethyl acetate, extract, lime peel, creamKulit jeruk nipis (Citrus aurantifolia) mengandung flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan yang dapat menangkal radikal bebas. Antioksidan dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki sel-sel kulit yang rusak akibat radikal bebas dan menangkal radikal bebas.Oleh karena itu dilakukan penelitian dengan tujuan untuk memformulasi sediaan krim antioksidan dengan menggunakan ekstrak kulit jeruk nipis. Ekstraksi dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%, yang selanjutnya difraksinasi dengan pelarut etil asetat. Ekstrak etil asetat yang diperoleh diformulasi menjadi sediaan krim dengan konsentrasi ekstrak 3%, 6%, dan 9%. Formula yang diperoleh diuji fisik dan stabilitasnya, selanjutnya dilakukan uji aktivitas antioksidannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisik sediaan krim yang dihasilkan memenuhi syarat kestabilan fisik berdasarkan parameter uji organoleptik, homogenitas, pH dan viskositas. Uji aktivitas antioksidan krim terhadap radikal bebas DPPH menunjukkan bahwa formula 1 dengan konsentrasi ekstrak 3% memberikan nilai IC50 rata-rata sebesar 28,24 mg/ml; formula 2 dengan konsentrasi ekstrak 6% memberikan nilai IC50 rata-rata sebesar 22,97 mg/ml; dan formula 3 dengan konsentrasi ekstrak 9% memberikan nilai IC50 rata-rata sebesar 14,80 mg/ml. Berdasarkan hasil penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa ekstrak kulit jeruk nipis dapat diformulasikan menjadi sediaan krim dengan tipe M/A, Formula 3 dengan konsentrasi ekstrak sebesar 9% adalah formula terbaik dengan aktivitas antioksidan paling besar. Kata kunci : antioksidan, etil asetat, ekstrak, kulit jeruk nipis, krim
STUDI IMPLEMENTASI SISTEM PENYIMPANAN OBAT BERDASARKAN STANDAR PELAYANAN KEFARMASIAN DI APOTEK SEJATI FARMA MAKASSAR Asyhari Asyikin
Media Farmasi XXX Vol 14, No 1 (2018): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (207.711 KB) | DOI: 10.32382/mf.v14i1.87

Abstract

Telah dilakukan penelitian mengenai  Studi  Implementasi Sistem Penyimpanan Obat Berdasarkan Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek  Sejati Farma Makassar pada bulan Pebruari  2018. Penelitian ini ber tujuan untuk mengetahui seberapa  besar  implementasi sistem penyimpanan obat berdasarkan  standar pelayanan kefarmasian  di Apotek Sejati Farma Makassar. Penelitian ini dilakukan dengan cara mengobservasi langsung sistem penyimpanan di Apotek tersebut. Observasi langsung dilakukan dengan sistem check list menggunakan  tabel  pengamatan, kemudian dihitung persentase implementasi sistem penyimpanan berdasarkan standar pelayanan kefarmasian  di apotek tersebut  (Permenkes RI Nomor 35 tahun 2014). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari sembilan parameter penilaian  sistem penyimpanan berdasarkan standar pelayanan kefarmasian  di apotek, 7 parameter telah sesuai dengan persyaratan sistem penyimpanan obat yang baik (persentase penilaian 100%). Yaitu meliputi obat disimpan sistem First  in   Firts  Out (FIFO), obat disimpan dengan sistem  First  Expired   First  Out (FEFO), disimpan sesuai bentuk sediaan, disimpan secara alfabetis, obat narkotika dan  psikotropika disimpan terpisah dalam  lemari  khusus. 2 parameter  yang  tidak sesuai dengan persyaratan sistem penyimpanan obat yang baik (persentase penilaian 0%), meliputi penyimpanan sediaan farmasi yang penampilan dan penamaan yang mirip (LASA) masih ditempatkan berdekatan dan petugas tidak memperhatikan tanggal kadaluarsa obat. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa implementasi  sistem  penyimpanan obat yang baik di Apotek Sejati Farma Makassar adalah sebesar 77,78% dan berada dalam kategori baik (61-80%).Kata kunci : Sistem penyimpanan obat, Standar Pelayanan Kefarmasian, Apotek Sejati Farma Makassar
IDENTIFIKASI MEDICATION ERROR FASE DISPENSING PADA PASIEN ANAK DI RSUD LABUANG BAJI MAKASSAR Raimundus Chalik; Asyhari Asyikin; Muh.Nurda Hadi Muchtar
Media Farmasi XXX Vol 16, No 1 (2020): Media Farmasi
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.495 KB) | DOI: 10.32382/mf.v16i1.1452

Abstract

Dispensing errors are faults likely to occur from the preparation process to the delivery of drugs to patients. These are medication errors occurring in hospitals and may significantly harm patients. The purpose of this study is to identify the incidence of medication error in the dispensing phase among pediatric patients. This was a descriptive observational study with a cross-sectional design. Samples of 100 recipes for pediatric patients were determined through probability sampling. The study was conducted in May - July 2019 at Labuang Baji Makassar Hospital. The results established that there was a 2% error in taking the drugs and 5% for lack of medication. Additionally, in the drug administration outside the instructions, there were no dispensing errors in expiry, giving incomplete etiquette, and administering the wrong patient. The results of the study concluded that a dispensing error in the wrong category of taking drugs and lacking them altogether.Keywords: medication error, dispensing error, pediatric patient, Labuang Baji HospitalDispensing error adalah kesalahan yang terjadi atau berpotensi terjadi sejak proses penyiapan hingga penyerahan obat kepada pasien. Dispensing error merupakan salah satu komponen medication error yang terjadi di Rumah Sakit yang dapat merugikan pasien. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kejadian medication error fase dispensing pada pasien anak. Penelitian ini merupakan penelitian observasional deskriptif dengan rangcangan cross sectional study. Sampel sebanyak 100 lembar resep pasien anak yang ditentukan secara probability sampling. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei – Juli 2019 di RSUD Labuang Baji Makassar. Hasil penelitian menemukan bahwa terjadi kesalahan pada parameter salah mengambil obat (2%), ada obat yang kurang  (5%), sedangkan untuk parameter pemberian obat diluar instruksi, obat rusak/kadaluarsa, pemberian etiket yang tidak lengkap, salah pasien, informasi obat kepada pasien salah tidak ditemukan dispensing error. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa terjadi dispensing error pada kategori salah mengambil obat dan obat kurang.Kata kunci : medication error, dispensing error, pediatric patient, RSUD Labuang Baji
Formulasi dan Uji Stabilitas Fisik Sediaan Body Scrub dari Cangkang Telur Ayam dan Ekstrak Kulit Batang Kayu Manis (Cinnamomum burmannii ) Sebagai Antioxidan Nurisyah Nurisyah; Asyhari Asyikin; Rusdiaman Rusdiaman; Tajuddin Abdullah
Media Farmasi XXX Vol 18, No 2 (2022)
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v18i2.2973

Abstract

Formulation and physical stability test for body scrub preparations from chicken egg shell and cinnamon bark extract (Cinnamomum burmannii) as antioxidantsThe body scrub is one of the pharmaceutical preparations that is a beauty product, which is used to remove residual dirt, dead skin cells, dust, and oil on the skin with the help of scrub ingredients such as a skin sander. This study aimed to formulate body scrub preparations from chicken eggshells and cinnamon bark extract (Cinnamomum burmannii) and to determine the preparation's stability, physical quality, and antioxidant activity. This body scrub dosage formulation is made with a variation in the concentration of active ingredients of cinnamon bark extract of 1%, 2%, and 3% and chicken eggshell powder as a scrub. Physical quality testing is carried out before and after accelerated stability testing including organoleptic observations, homogeneity, and pH, then antioxidant activity tests are carried out using the 1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl (DPPH) reagent. The results showed that chicken eggshells and cinnamon bark extract can be formulated as body scrub preparations and have qualified stability and physical quality. The results of the antioxidant activity test showed that the % reduction of formulas 1, 2, and 3 before storage was 24.20%, respectively; 51.15%, and 80.04%, after storage of 19.82%, respectively; 49,69%; and 71.15%. This shows that there is a not-too-large decrease in antioxidant activity in chicken eggshell body scrub preparations and cinnamon extract after storage. So, it can be concluded that the body scrub preparation formula 3 with a cinnamon extract concentration of 3% is the best formulation.Keywords: Body Scrub, chicken eggshell, cinnamon, physical quality, antioxidantsBody scrub adalah salah satu sediaan farmasi yang merupakan produk kecantikan, yang digunakan untuk mengangkat sisa kotoran, sel-sel kulit mati, debu, dan minyak pada kulit dengan bantuan bahan scrub sebagai pengampelas kulit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menformulasi sediaan body scrub dari cangkang telur ayam dan ekstrak kulit batang kayu manis (Cinnamomum burmannii) dan untuk mengetahui mutu fisik dan stabilitas serta aktivitas antioksidan sediaan body scrub yang diformulasi. Formulasi sediaan body scrub ini dibuat dengan konsentrasi ekstrak kulit batang kayu manis 1%, 2%, dan 3% dan serbuk cangkang telur ayam sebagai scrub. Pengujian mutu fisik dilakukan sebelum dan setelah pengujian stabilitas dipercepat meliputi uji organoleptis, homogenitas, dan pH, kemudian dilakukan uji aktivitas antioksidan menggunakan pereaksi 1,1-diphenyl-2- picrylhydrazyl (DPPH). Hasil penelitian menunjukkan cangkang telur ayam dan ekstrak kulit batang kayu manis dapat diformulasikan sebagai sediaan body scrub dan memiliki mutu fisik dan stabilitas yang memenuhi syarat. Hasil uji aktivitas antioksidan menunjukkan bahwa %pengikatan formula 1, 2 dan 3  sebelum penyimpanan masing-masing sebesar 24,20%; 51,15%, dan 80,04%, setelah penyimpanan masing-masing sebesar 19,82%; 49,69%; dan 71,15%. Hal ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan aktivitas antioksidan yang tidak terlalu besar pada sediaan body scrub cangkang telur ayam dan ekstrak kayu manis setelah penyimpanan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sediaan body scrub formula 3 dengan konsentrasi ekstrak kayu manis 3% merupakan formulasi terbaik.Kata kunci : Body Scrub, cangkang, kayu manis, mutu fisik, antioksidan
Kadar Gula Pereduksi Dan Kadar Air Pada Madu Yang Beredar Di Kota Makassar Abdullah, Tajuddin; Nurisyah, Nurisyah; Asyikin, Asyhari
Media Farmasi XXX Vol 19, No 1 (2023)
Publisher : Jurusan Farmasi Politeknik Kesehatan Makassar, Kementerian Kesehatan RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mf.v19i1.3006

Abstract

Reducing Sugar Levels and Water Content Of Honey Circulating In Makassar CityHoney has many benefits that people can use to improve their health, but the presence of fake honey can have an unwanted impact. This study aims to determine how much-reduced sugar and water content are contained in honey samples circulating in Makassar City. Sample testing was carried out with a qualitative test and a quantitative test. Qualitative testing used the Mollish reagent, Seliwanof reagent, and Fehling reagent and showed positive results for containing reducing sugars. Quantitative testing was carried out using the Luff School method. While testing the water content of honey is done by drying method using an oven. The results showed that the reducing sugar content of the three samples, namely the Honey A sample was 77.11%, the Honey B sample was 69.52%, and the Honey C sample was 85.17%. Meanwhile, the water content obtained by honey sample A was 25.39%, honey sample B was 21.21%, and honey sample C was 19.83%. Thus, it can be concluded that honey samples A, B, and C met the requirements for honey-reducing sugar content in SNI-01-3545-2004, namely at least 65% w/w. While the water content in Honey A does not meet SNI-01-3545-2004 honey quality standards: a maximum of 22% w/w and those that meet the requirements are Honey B and C samples with a water content of less than 22% w/w.Keywords: Honey, Reducing Sugar, Moisture Content, Luff Schrool Method, Gravimetric MethodMadu memiliki banyak manfaat yang dapat digunakan oleh masyarakat untuk meningkatkan Kesehatan, namun adanya madu yang palsu malahan dapat memberikan dampak yang tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa besar kadar gula reduksi dan kadar air yang terdapat pada sampel madu yang beredar di Kota Makassar. Pengujian sampel dilakukan dengan Uji Kualitatif dan Uji Kuantitatif. Pengujian secara kualitatif menggunakan Pereaksi Mollish, Pereaksi Seliwanof, dan Pereaksi Fehling dan menunjukkan hasil positif mengandung gula pereduksi. Pengujian secara kuantitatif dilakukan dengan metode Luff Schrool. Sedangkan pada pengujian kadar air madu dilakukan dengan metode pengeringan dengan menggunakan oven. Hasil penelitian diperoleh kadar gula reduksi dari tiga sampel yaitu sampel Madu A sebesar 77,11 %, sampel Madu B sebesar 69,52 %, dan sampel Madu C sebesar 85,17 %. Sedangkan kadar air yang diperoleh sampel madu A sebesar 25,39 %, sampel madu B sebesar 21,21 %, dan sampel madu C sebesar 19,83 %. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sampel madu A, B, dan C memenuhi syarat kadar gula reduksi madu pada SNI-01-3545-2004 yaitu minimal 65% b/b. Sedangkan kadar air pada Madu A tidak memenuhi SNI-01-3545-2004 standar kualitas madu : maksimal 22 % b/b dan yang memenuhi syarat yaitu sampel Madu B dan C dengan kadar air kurang dari 22 % b/b.Kata Kunci : Madu, Gula Pereduksi, Kadar Air, Metode Luff Schrool, Metode Gravimetri