Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

MODIFIKASI JEMBATAN WIROLEGI MENGGUNAKAN RANGKA BAJA TIPE WARREN TRUSS BENTANG 35 METER Perdana, Wildan Aprilia; Raharjo, Bobby Asukmajaya; Lestari, Agustin Dita
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v6i1.5932

Abstract

Modifikasi perencanaan jembatan pada skripsi ini dilakukan untuk menanggapi program pemerintah yang akan melakukan mitigasi penggantian jembatan Callender Hamilton di Pulau Jawa yang umurnya melebihi 40 tahun. Perencanaan Jembatan Wirolegi ini direncanakan dengan rangka baja tipe warren truss bentang 35 m, lebar jembatan 9,7 m dan tinggi 6,5 m. Perencanaan struktur atas jembatan ini meliputi elemen struktur, metode pelaksanaan dan estimasi biaya. Data yang digunakan dalam penelitian kali ini adalah kondisi eksisting jembatan. Metode yang digunakan untuk penelitian ini adalah LRFD (Load Resistance Factor Design) mengacu pada SNI 1725-2016, RSNI T-02-2005, RSNI T-12-2004, RSNI T-03-2005 dan ANSI/SDI Composite C-11 Standar Floor Deck –Slabs. Analisis struktur menggunakan software RSAP 2022 dengan pembebanan pada jembatan berupa beban permanen, beban transien dan kombinasi beban. Hasil desain yang diperoleh antara lain pipa sandaran menggunakan ∅3”, trotoar menggunakan tulangan utama S16-250 dan tulangan bagi S10-150, kerb 20/15 menggunakan tulangan utama 4P10 dan tulangan sengkang 2 kaki P8-100, pelat lantai dengan tebal 25 cm menggunakan tulangan utama S16-100 dan tulangan susut S10-220, pada tumpuan menggunakan tulangan utama S16-100 dan tulangan susut S10-220, pelat bondek (BMY) 0,7 mm, gelagar melintang ujung IWF 800.300.14.26, gelagar melintang tengah IWF 900.300.25.37, gelagar memanjang IWF 400.200.8.13, batang struktur atas IWF 400.400.13.21 dan WF 400.400.16.22, batang struktur bawah WF 400.400.13.21, batang struktur diagonal IWF 400.400.13.21 dan WF 400.400.16.22, batang ikatan angin WF 150.150.7.10 dan WF 200.200.8.12. Sistem sambungan rangka baja menggunakan baut mutu tinggi tipe A325 dengan ∅16 dan ∅30. Metode yang digunakan untuk erection adalah full temporary support. Rencana anggaran biaya yang dibutuhkan adalah Rp. 3,893,586,206.50.
ANALISIS PERILAKU STRUKTUR GEDUNG TERHADAP VARIASI PENEMPATAN DINDING GESER MENGGUNAKAN METODE RESPON SPEKTRUM Zahrotunnabila, Bahesty; Wahiddin, Wahiddin; Raharjo, Bobby Asukmajaya
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v6i1.6004

Abstract

Pembangunan gedung secara vertikal telah menjadi solusi dalam mengatasi keterbatasan lahan. Selain itu, letak geografis Indonesia yang rentan terhadap gempa bumi, mengharuskan gedung didesain tahan terhadap gaya gempa. Salah satu sistem struktur yang efektif dalam menahan gaya gempa adalah sistem ganda antara rangka dan dinding geser. Penempatan dinding geser dinilai efektif meredam gaya geser akibat gempa. Kondisi bangunan yang diteliti memiliki 8 lantai dengan tinggi 34 meter, serta memiliki dinding geser di kanan dan kiri bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kekakuan, simpangan antar lantai, dan gaya geser yang bekerja pada dinding geser akibat perubahan letak dinding geser menggunakan metode respon spektrum dan mengacu pada SNI 1726:2019 dan SNI 1727:2020 dengan pemodelan struktur 3D. Hasil pengamatan menunjukkan perubahan letak dinding geser juga berpengaruh terhadap gaya geser yang diterima oleh dinding geser. Struktur dengan nilai gaya geser terbesar pada arah X adalah model SW2 dan model SW1 pada arah Y. Letak dinding geser juga turut berpengaruh terhadap kekakuan selain akibat dari perpindahan lantai dan gaya lateral, yang mana struktur dengan sisi dinding geser yang sejajar dengan arah gaya yang ditinjau memiliki kekakuan yang lebih besar dibanding yang tidak sejajar. Model SW1 memiliki kekakuan yang besar pada arah X dan Y, sedangkan yang terendah pada arah X adalah model Eksisting dan model SW2 pada arah Y. Dinding geser yang sisinya sejajar dengan arah yang ditinjau memiliki nilai simpangan antar lantai yang lebih rendah dibanding dengan yang sisinya tidak sejajar. Hal tersebut ditunjukkan oleh model SW1 yang memiliki simpangan antar lantai paling kecil.
ANALYSIS OF STRAIN AND DEFLECTION IN CONCRETE WITH ZEOLITE AS CEMENT SUBSTITUTION USING DIC METHOD sofi, Sofiyah; Rahardianto, Trias; Raharjo, Bobby Asukmajaya
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v6i1.6040

Abstract

Concrete is one of the most chosen materials in the construction world due to its exceptional properties, such as high compressive strength, fire resistance, and weather resistance. One natural material that can be used as an additive or substitute in concrete to improve, maintain, or even enhance the existing strength of concrete mixtures is zeolite. Adding zeolite to the mixture is expected to minimize strain and deflection compared to the normal concrete. The examination of the mechanical properties of concrete material is crucial to ensure that the material can be used. Several existing concrete material testing methods and equipments require relatively high investment costs. The application of the Digital Image Correlation (DIC) method offers a comprehensive alternative that can replace the expensive traditional strain gauge. This method uses a digital camera and Zeiss Inspect Correlate software. This study aims to determine the effect of zeolite application in concrete as a cement substitute on concrete strain and deflection implementing the DIC method. The results showed that concrete with zeolite substitution has a compressive strength of 25.02 MPa and a flexural strength of 4.13 MPa, which are lower than the compressive and flexural strengths of concrete without zeolite substitution, which are 29.10 MPa and 6.88 MPa, respectively. Additionally, the strain and deflection values obtained from concrete with zeolite substitution are 0.0042 and 1.690 mm, respectively, which are higher than the strain and deflection of concrete without substitution, which are 0.0033 and 1.253 mm, respectively. Therefore, it can be concluded that the addition of zeolite as a cement substitute cannot minimize strain and deflection in concrete and the results of the analysis using the DIC method show a high level of accuracy, proven to be significantly correlated with the measurement results of the instruments.
IMPLEMENTASI KONSEP PBSD PADA MODIFIKASI STRUKTUR ATAS GEDUNG 4 LANTAI DI KOTA MALANG Achmad, Achmad; Rochman, Taufiq; Raharjo, Bobby Asukmajaya
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 6 No. 1 (2025): MARET 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v6i1.6183

Abstract

Gempa bumi merupakan bencana alam yang umum terjadi hampir diseluruh dunia. Jenis bencana ini umumnya diakibatkan adanya pergerakan lapisan tanah yang disebabkan banyak faktor, salah satunya gesekan antar lempeng benua. Performance Based Seismic Design (PBSD) merupakan konsep dasar perencanaan struktur gedung tahan gempa yang didesain dengan level kerusakan. Dengan kata lain, struktur yang dirancang pasti akan mengalami kerusakan saat terjadi gempa. Konsep PBSD dinilai sebagai metode yang paling efektif dalam menanggulangi fenomena kehancuran struktur bangunan saat terjadi bencana gempa dan struktur dapat dikatakan lebih ekonomis dan lebih bersifat daktail sehingga kegagalan struktur dapat diminimalisir sekecil mungkin. Konsep PBSD yang akan diterapkan pada Gedung 4 lantai di kota Malang. Gedung akan dimodifikasi pada geometri strukturnya bertujuan mencegah rotasi pada struktur tersebut. Fungsi bangunan sebagai sekolah maka merujuk pada SNI 1726:2019 menentukan bahwa fungsi bangunan mempengaruhi tingkat risiko gempa yang terjadi dan sekolah termasuk tingkat risiko tertinggi, sebagai tambahan gempa juga diskalakan dengan gempa dinamis, sebelumnya struktur hanya dipertimbangkan hingga gempa statis. Tujuan dari skripsi ini adalah mengetahui permodelan 3D dalam mempertimbangkan kelakuan struktur, kekakuan struktur, metode CQC atau SRSS pada gaya gempa dinamik, pengecekan partisipasi massa dan pengecekan simpangan antar tingkat akibat beban gempa dan beban lainnya. Mengetahui gaya-gaya dalam yang didapat dari software setelah dikatakan aman dari pembebanan dan mendesain elemen struktur dengan acuan Ru x Rn untuk mendapatkan dimensi yang digunakan pada struktur atas dan bawah. Diperoleh hasil perhitungan sebagai berikut : Dimensi B1 30/60 cm dan Tie beam dengan tulangan tarik 4D19 dan tulangan tekan 3D19. B2 25/30 cm dengan tulangan tarik 3D19 dan tulangan tekan 2D19. B3 30/40 cm dengan tulangan tarik 3D19 dan tulangan tekan 2D19. Pelat lantai tebal 125 mm dengan tulangan lentur arah x dan y 10 – 150 mm, pada tulangan susut arah x dan y 8 – 150 mm. Pelat atap tebal 100 mm dengan tulangan lentur arah x 8 – 150 mm, tulangan lentur arah y 8 – 100 mm, pada tulangan susut arah x dan y 6 – 150 mm. Pelat tangga tebal 150 mm dengan tulangan lentur arah x 10 – 200 mm dan tulangan lentur arah y 10 – 250 mm. K1 dengan tulangan 12D19. Pilecap tebal 500 mm dengan tulangan lentur atas arah x dan y D10 – 100 mm dan tulangan lentur bawah arah x dan y D16 – 100 mm. Tiang Borepile dengan dimensi 40 cm dengan jumlah tulangan 6D13. Struktur atas dikatakan translasi pada kedua arah sesuai SNI 1726:2019 pasal 7.7.3, kekakuan dan kelakukan sesuai peraturan SNI 1726:2019 dan Simpangan antar tingkat 56,25 mm (Simpangan Izin) > 27,9 mm (Simpangan terbesar terjadi) maka dikatakan aman.
PENGARUH SUBSITUSI PASIR PANTAI NGUDEL TERHADAP KARAKTERISTIK MARSHALL CAMPURAN ASPAL BETON Novansyah, Muchammad Zain Helmi; Naibaho, Armin; Raharjo, Bobby Asukmajaya
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v6i3.7784

Abstract

Pasir pantai sebagai solusi pengganti pasir alam yang ketersediaannya semakin berkurang karena banyakanya pembangunan, Pasir pantai dengan ketersediaannya yang melimpah di Indonesia, menawarkan solusi yang menjanjikan sebagai material pengganti atau penambah untuk agregat halus dalam campuran AC-WC. Pasir pantai memiliki beberapa karakteristik yang berpotensi meningkatkan kinerja campuran aspal ,pasir Pantai juga adalah Solusi untuk pengganti pasir alam yang semakin hari semakin berkurang jumlahnya dikarenakan tingginya Pembangunan infrastruktur seperti bangunan Gedung, rumah, termasuk jalan juga Tujuan penelitin ini untuk mengetahui pengaruh variasi Pasir Pantai Ngudel terhadap campuran aspal beton dengan variasi campuran 0%, 25%, 35%, dan 45%. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode basah. Hasil dari pengujian ini mendapatkan kadar aspal optimum sebesar 6%. Substitusi pasir pantai ngudel pada campuran aspal AC-WC menunjukkan penurunan terhadap parameter Marshall, dengan stabilitas menurun dari 1387,25 kg/mm (0%) menjadi 1100,57 kg/mm (45%). Hasil nilai Flow stabil dari 2,69 mm menjadi 2,69 mm. Void Filled with Asphalt (VFA) menurun dari 90,61% menjadi 65,81%, .Void in Mixture (VIM) memenuhi rentang spesifikasi \ (3,0–5,0%) hanya pada variasi 25% hal ini menunjukkan keseimbangan porositas yang baik, Void in Mineral Aggregate (VMA) mengalami peningkatan dari 0% variasi pasir pantai ngudel hingga 45% campuran pasir pantai ngudel dan memenuhi spesifikasi minimum (15%), sementara Marshall Quotient (M-Q) mengalami peningkatan 0% variasi pasir pantai ke 25% variasi pasir pantai lalu setalah itu menurun sampai ke variasi 45% dengan nilai dari 573,17 kg/mm menjadi 489,13 kg/mm. Dengan demikian, variasi 25% memberikan performa terbaik, memenuhi semua parameter Marshall sesuai spesifikasi SNI, dan menjadikannya pilihan optimal untuk meningkatkan stabilitas dan daya tahan campuran aspal AC-WC. Kata kunci: Pasir pantai, AC-WC, aspal, anggaran biaya.
ASESMEN KELAIKAN FUNGSI STRUKTUR GEDUNG MASJID AL FALAH ARENG-ARENG JUNREJO BATU Suhariyanto, Suhariyanto; Sabrina, Nabila Ayu; Purwitasari, Kartika; Maisarah, Fauziah Shanti Cahyani Siti; Rochman, Taufiq; Raharjo, Bobby Asukmajaya
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 6 No. 4 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v6i4.8927

Abstract

Asesmen kelayakan fungsi struktur Gedung Masjid Al Falah Areng-areng Junrejo Batu bertujuan untuk mengevaluasi kondisi struktural bangunan yang mengalami kerusakan pada beberapa elemen, terutama di sekitar kubah, yang berpotensi mengancam keselamatan dan kenyamanan jamaah. Proses asesmen melibatkan pemeriksaan teknis yang dilakukan oleh ahli forensic dan ahli struktural untuk menilai tingkat kerusakan dan penyebabnya, serta merancang solusi perbaikan yang sesuai. Selain itu, asesmen ini juga mempertimbangkan kelayakan teknis, ekonomi, sosial, dan hukum terkait pelaksanaan perbaikan. Berdasarkan assessment yang dilakukan dapat disampaikan hal-hal sebagai berikut kubah seharusnya menumpu pada balok ring kubah, tetapi yang terbangun kubah menumpu pada pada balok dan pelat di luar balok ring kubah, ditemukan beberapa defect/failure pada balok dan  plat atap di sekitar kubah, getaran terjadi pada  sebagaian  lantai 2 ketika dibebani orang yang meloncat, ditemukan beberapa defect/failure pada balok dan  plat atap di sekitar kubah, getaran terjadi pada  sebagai lantai 2 ketika dibebani orang yang meloncat. Gedung terasa bergetar  jika terdapat truck yang melalui jalan di depan masjid. Hasil loading test: pada beban 0 sampai dengan sekitar 150 kg/m2 maka balok ring, pelat dan balok berada pada Daerah I (daerah Elastis), pada beban  sekitar 150 kg/m2 sampai 350 kg/m2 maka balok ring, pelat dan balok berada pada Daerah II (daerah Retak), setelah beban  350 kg/m2 maka balok ring, pelat dan balok atap masuk pada Daerah III  (daerah baja lelah atau beon pecah), lendutan tetap terjadi ketika dilakukan unloading sampai dengan beban uji 0. Tindak lanjut selanjutnya adalah melakukan analisis dan penyusunan rencana perbaikan atau perkuatan struktur yang mengalami defect.
PERBANDINGAN DEFLEKSI DAN BERAT MENARA PLTB DENGAN MENGGUNAKAN MODEL RANGKA DAN MONOPOLE Raharjo, Bobby Asukmajaya; Riyanto, sugeng; Kurniawan, Achendri M.; Suhariyanto, Suhariyanto
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 6 No. 3 (2025): SEPTEMBER 2025
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v6i3.9347

Abstract

Pemenuhan kebutuhan energi listrik merupakan aspek fundamental pada era saat ini, mengingat hampir seluruh aktivitas manusia sangat bergantung pada ketersediaan energi listrik. Meskipun Indonesia telah mencapai tingkat penyediaan listrik yang baik di wilayah yang mudah dijangkau, pada wilayah kepulauan terpencil penyediaan listrik masih menjadi permasalahan, terutama karena ketergantungan pada bahan bakar minyak yang kurang efisien secara ekonomi. Oleh karena itu, diperlukan solusi penyediaan energi listrik yang lebih ekonomis, salah satunya melalui penerapan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB). PLTB memiliki keunggulan berupa kebutuhan investasi awal yang relatif rendah serta ramah lingkungan dengan emisi karbon mendekati nol. Dalam konteks ini, peran menara (tower) sebagai struktur penyangga turbin angin untuk menangkap energi angin di wilayah terpencil menjadi sangat penting. Pembangunan tower di daerah tersebut menghadapi tantangan utama berupa keterbatasan transportasi peralatan dan material ke lokasi, sehingga material yang dapat diangkut umumnya terbatas baik dari segi ukuran maupun berat. Oleh karena itu, tower direncanakan dalam bentuk rangka (lattice/truss) dan monopole. Perbandingan efisiensi kedua model, khususnya dari aspek berat struktur, diperlukan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan pemilihan tipe tower. Penelitian ini membandingkan penggunaan model tower rangka (lattice) dan monopole pada PLTB dengan mengevaluasi respons lendutan (defleksi) akibat beban turbin serta beban lateral akibat angin.  Hasil analisis menunjukkan bahwa model lattice memiliki defleksi lateral yang lebih kecil, yaitu sebesar 0,021 m, sedangkan model monopole menunjukkan defleksi lateral terbesar sebesar 0,213 m. Nilai batas maksimum defleksi lateral yang diizinkan berdasarkan ketentuan peraturan adalah sebesar 1% dari tinggi tower (24 m), yaitu 0,24 m. Hasil ini menunjukkan bahwa model lattice memiliki kinerja yang lebih baik dalam mengendalikan defleksi lateral dengan tingkat optimalitas rasio penampang yang setara. Dengan demikian, model lattice lebih sesuai diterapkan pada wilayah dengan kondisi angin yang tidak stabil atau memiliki variasi dan fluktuasi kecepatan angin yang tinggi.
PERENCANAAN ULANG STRUKTUR JEMBATAN KALI NGEPRIH PUJON MENGGUNAKAN PC-I GIRDER Arnaz, Naufal Zaki; Raharjo, Bobby Asukmajaya
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v7i1.8845

Abstract

Jembatan Kali Ngeprih merupakan salah satu jembatan yang berada di Kecamatan Pujon, Kabupaten Malang. Kondisi eksisting jembatan ini berupa jembatan balok T. Perencanaan ini akan mendesain Jembatan Kali Ngeprih Pujon menjadi jembatan PC-I Girder (Precast Concrete-I) dengan bentang 45 meter dan lebar total 9,5 meter. Dasar dari perencanaan pembebanan jembatan ini mengacu pada [1]SNI 1725:2016 dan untuk perencanaan elemen struktur PC-I girder mengacu pada [2]Panduan Praktis Perencanaan Teknis Jembatan oleh Kementrian PUPR Direktorat Jenderal Bina Marga No. 02/M/BM/2021. Proses analisis gaya dalam pembebanan jembatan menggunakan software CSi Bridge dan juga Microsoft Excel untuk perhitungan tendon serta tulangannya. Dari hasil analisis perencanaan didapatkan hasil berupa dimensi girder dengan tinggi 210 cm yang menggunakan tulangan 11D13 (bawah), 10D13 (tengah) dan 8D13 (atas). Pelat lantai dengan tebal 20 cm dan menggunakan tulangan utama D16 – 150 mm dan tulangan bagi D13 – 200 mm. Tendon digunakan 4 buah dengan konfigurasi masing-masing 15 strands (seven wire strands, low relaxation) dengan diameter 15,24 mm. Metode pelaksanaan digunakan metode crane.
ANALISIS DAN EVALUASI STRUKTUR SERTA REKOMENDASI RETROFIT JEMBATAN RANGKA BAJA PAJARAKAN Suriyanto, Moh Habriyan Maulan Armanda; Raharjo, Bobby Asukmajaya
Jurnal Online Skripsi Manajemen Rekayasa Konstruksi (JOS-MRK) Vol. 7 No. 1 (2026): MARET 2026
Publisher : Jurusan Teknik Sipil Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33795/jos-mrk.v7i1.8846

Abstract

Jembatan Rangka Baja Pajarakan di Probolinggo, Jawa Timur, yang dibangun pada tahun 1991, vital sebagai penghubung jalur Surabaya-Bali. Namun, usianya yang 33 tahun dan dilintasi kendaraan berat menyebabkan kerusakan signifikan pada rangka dan pelat lantai. Kondisi ini menghambat transportasi dan logistik, sehingga perbaikan konvensional dinilai tidak lagi memadai.Skripsi ini bertujuan menganalisis dan mengevaluasi keamanan struktur jembatan, serta merekomendasikan solusi retrofit efektif untuk meningkatkan kapasitas beban dan memperpanjang umur layan. Metode penelitian mencakup analisis visual, pemodelan struktur dengan RSAP 2025, evaluasi kapasitas penampang, sambungan baut, dan lendutan menggunakan metode Bridge Load Rating.Temuan menunjukkan beberapa elemen batang utama (samping atas, samping bawah, diagonal) tidak memenuhi syarat keamanan struktural akibat beban aksial tarik dan tekan yang melampaui kapasitas terfaktornya. Tulangan D16 pada pelat lantai juga tidak mampu menahan momen ultimit. Lendutan aktual jembatan (171,83 mm) secara signifikan melebihi batas izin (56,25 mm), menandakan kurangnya kekakuan struktur. Sambungan baut pada batang samping bawah, samping atas, diagonal, dan gelagar juga tidak aman.Kesimpulannya, Jembatan Rangka Baja Pajarakan memerlukan retrofit komprehensif. Rekomendasi mencakup penggantian elemen batang yang lemah dengan profil baru (WF 405 × 414 × 30/50 untuk batang samping atas dan bawah; WF 400x400x13/21 untuk diagonal), penggantian pelat lantai, dan perbaikan sambungan bau. Hasil implementasi retrofit dengan profil baru menunjukkan peningkatan kapasitas dan pengurangan lendutan hingga memenuhi batas aman (51,72 mm). Secara jangka panjang, perencanaan ulang seluruh batang jembatan rangka baja diperlukan, mengindikasikan bahwa jembatan harus dibongkar dan direncana ulang secara menyeluruh.