Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Education

Akulturasi Masyarakat Pandhalungan : Aktualisasi Pendidikan Multikultural Dalam Pembelajaran Sejarah Guruh Prasetyo
Education & Learning Vol. 1 No. 1 (2021)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.893 KB) | DOI: 10.57251/el.v1i1.16

Abstract

Perkembangan multikulturalisme di Indonesia dewasa ini masih mengalami beberapa permaslahan seperti premanisme, perseteruan politik, kemiskinan, kekerasan, saparatisme, perusakan lingkungan dan hilangnya rasa kemanusiaan untuk sealalu menghormati hak-hak orang lain. Berdasarkan permasalahn tersebut perlu adanya strategi khusus dalam memecahkan persoalan tersebut melalui berbagai bidang antara lain bidang sosial, politik, budaya, ekonomi dan pendidikan.. Kurangnya pemahaman mengenai konsep pendidikan multikultural di sekolah dan lingkungan masyarakat menjadi penyebab utama. Permasalahan tersebut menuntut siswa untuk lebih memahami konsep pendidikan multikultural di era saat ini agar seluruh komponen siswa mampu berpikir dan berperilaku bijaksana serta menjunjung tinggi nilai-nilai perbedaan di lingkungan sekolah dan masyarakat. Salah satunya melalui pendidikan multikultural dalam pembelajaran sejarah yang mengacu pada nilai-nilai luhur yang terdapat pada kebudayaan daerah. Tujuan penulisan artikel ini untuk mendeskripsikan konsep-konsep pendidikan multikultural berlandaskan nilai-nilai yang terdapat pada kebudayaan masyrakat Pandhalungan. Melalui nilai-nilai tersebut dapat memberikan pemahaman terhadap remaja mengenai pendidikan multikultural. Berdasarkan uraian di atas melalui konsep pendidikan multikultural dewasa ini diharapkan siswa mampu memberikan manfaat untuk lingkungan pendidikan di sekolah dan masyarakat.
Pemanfaatan Media Digital dalam Pembelajaran Sejarah untuk Meningkatkan Minat Belajar Sejarah SMA Negeri 11 Medan Sari, Shela; Prasetyo, Guruh
Education & Learning Vol. 4 No. 1 (2024)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/el.v4i1.1240

Abstract

Media pembelajaran digital ialah dapat menyajikan materi pembelajaran secara kontekstual, audio maupun visual secara menarik dan interaktif.Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis pemanfaatan media pembelajaran digital sebagai kebutuhan pembelajaran sejarah di era digital.Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan,beberapa peserta penelitian merupakan guru dan peserta didik SMAN 11 Medan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurangnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran sejarah dikarenakan kurang menariknya media pembelajaran digital yang digunakan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran sejarah saat ini masih dianggap sebagai mata pelajaran membosankan yang menyebabkan partisipasi peserta didik juga cenderung pasif. Sehingga hal ini dapat berdampak pada rendahnya kompetensi peserta didik dalam mata pelajaran sejarah. Pembelajaran yang dilakukan guru dalam mata pelajaran sejarah cenderung satu arah menyebabkan interaksi dalam kegiatan belajar menjadi pasif. Pembelajaran sejarah perlu melakukan beradaptasi dengan era digital saat ini yaitu dengan melakukan pengembangan media pembelajaran yang inovatif. Salah satu solusi dalam menjawab permasalahan pembelajaran sejarah adalah dengan mengembangkan media pembelajaran sehingga pembelajaran sejarah lebih menarik dan bermakna.Guru bisa membuat media pembelajaran digital seperti flim dokumenter,media pembelajaran seperti ini akan menciptakan suasana baru dikelas karena siswa bisa belajar sambi menonton.
Internalisasi Nilai Resolusi Konflik Tanpa Kekerasan : dalam Pembelajaran Sejarah dari Konflik Petani Jenggawah 1998 Prasetyo, Guruh
Education & Learning Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Medan Resource Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57251/el.v5i2.1717

Abstract

The 1998 Jenggawah agrarian conflict reflected the inequality of land ownership and the impact of non-inclusive development policies from the colonial era to the New Order. This study aims to analyze the transformation of peasant resistance from physical to symbolic and internalize the value of non-violent conflict resolution in history learning. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through documentation and literature studies and then analyzed using qualitative data strategies. The results show that the change in the Reformation regime and peasant awareness encouraged a shift in struggle strategies towards dialogue and negotiation, culminating in the 1998 right to cultivate (Hak Guna Usaha) release agreement. This case proves that conflict resolution can be achieved without violence, providing a pedagogical foundation for teaching conflict dynamics, social transformation, and non-violent approaches to justice. Learning history through this case study facilitates the internalization of the value of non-violent conflict resolution, equips students with an understanding that conflict is dynamic and can be changed through constructive strategies, and develops empathetic and critical characters.