Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Risk Management Analysis and Business Development Strategies for Cage Aquaculture in Tomini Bay Sastrawan, Uding; Kuntari, Wien; Warcito; Mulya, Muhammad Arif; Widodo, Bayu
Jurnal Manajemen (Edisi Elektronik) Vol. 16 No. 2 (2025): Jurnal Manajemen (Edisi Elektronik)
Publisher : UPT Jurnal & Publikasi Ilmiah SPs Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/jm-uika.v16i2.19676

Abstract

Tomini Bay holds tremendous potential for the development of marine fish farming, particularly through the environmentally friendly and economically valuable Floating Net Cage (FNC) system. This study aims to analyze risk management and formulate development strategies for a fish farming business based on the Teaching Factory (TeFa) model at SMKN 1 Popayato, serving as an integrated vocational education model aligned with industry needs. A qualitative descriptive approach was employed, with data collected through observation, in-depth interviews, and questionnaires. The data were analyzed using SWOT analysis and a risk matrix. The results indicate that most identified risks fall into the moderate category, with one operational risk classified as high. Risk management strategies were implemented through mitigation and risk-sharing approaches, including competency-based training, human resource capacity building, partnerships with industry stakeholders, and adaptive cultivation practices in response to environmental changes. The study recommends enhancing human resource competencies and strengthening partnerships as key strategic actions to ensure the sustainability of the TeFa FNC business. These findings are expected to serve as a valuable reference for the development of productive vocational education units in the fisheries sector.
Optimizing Micro, Small, and Medium Business Assistance Programs in The Food Sector Diah Pranitasari; Anhar, M.; Adli, Khairul Nur; Warcito; Harini, Sri; Said, Meldasari; Irawan, Nico
Indonesian Journal of Business and Entrepreneurship Vol. 10 No. 2 (2024): IJBE, Vol. 10 No. 2, May 2024
Publisher : School of Business, IPB University (SB-IPB)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17358/ijbe.10.2.422

Abstract

Background: The effectiveness of mentoring programs for micro, small, and medium enterprises (MSMEs) needs to be evaluated in order to develop effective mentoring programs. Each MSME requires a different mentoring program, so it is necessary to evaluate the effectiveness of the existing mentoring program in order to design the next mentoring program. Purpose: This research aims to determine the effectiveness of the community empowerment program through mentoring MSMEs in improving the welfare of meatball traders in Jakarta implemented by Dompet Dhuafa. Design/methodology/approach: Data collection Analysis includes secondary data, field observations, in-depth interviews, and documentation. Analysis was carried out using triangulation techniques which included data reduction, presentation, and drawing conclusions. Findings/Result: The research findings can be stated as follows: 1) Collective Mentoring Program: The research results show that programs that focus on mentoring groups have a significant positive impact on cohesiveness and unity in the meatball trader community. This collaborative support plays an important role in advancing the development of micro and small businesses. Apart from that, the mentoring program is also effective in increasing traders' motivation and knowledge in entrepreneurship. 2) Financial Assistance Programs: This study underscores the importance of financial assistance programs in providing the necessary capital for microenterprises. However, this suggests that this form of aid is more suited to meeting short-term financial needs than as a long-term solution. Conclusion: There are three types of mentoring programs carried out, namely Group Mentoring, Increasing Partner Capacity Through Training, and Financial Assistance. Of the three types of mentoring programs, mentoring groups, especially in forming cohesive and family groups (recruitment results), are considered the most effective in helping meatball traders survive during the pandemic. Especially in forming groups or communities that regularly hold meetings and collectively help solve problems, maintain the cleanliness of sales equipment (carts, plates, spoons, etc.), and try to develop or find out how to make the taste of these meatballs more popular. with customers. But what they appreciated most was a community meeting that had never been held before.Originality/value (State of the art): There has been no evaluation of this program so it is very important to evaluate the implementation and impact of the mentoring program on business continuity, in order to improve the mentoring program in the future. Keywords: MSMEs, mentoring program, evaluation, effectiveness, meatball traders
Analisis Pengendalian Mutu Produk Lele Bumbu 222 melalui Pendekatan IPO–SPC Luthfiyah Candraningtyas; Cahya Mukjijat Ramdani; Istikomah Enggar Pribadi; Nabilah An Naqiyah; Zalwa Zafirah Fatin; Hyouga Nagalang; Warcito
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i2.6155

Abstract

Ikan lele merupakan salah satu makanan untuk dikonsumsi. Lele kerap dijadikan berbagai olahan, salah satunya lele bumbu. Pengolahan ikan lele menjadi produk siap saji seperti Lele Bumbu 222 Bogor dapat memberikan inovasi baru yang mampu memperpanjang umur simpan serta meningkatkan daya saing produk lokal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas mutu produk melalui IPO. Metode yang digunakan meliputi pendekatan deskriptif kualitatif dan kuantitatif (metode campuran), serta menggunakan 2 alat Statistical Process Control (SPC), yaitu Diagram Pareto dan Diagram Fishbone. Hasilnya, yaitu pada Diagram Pareto menunjukkan bahwa ketidaksamaan ukuran menjadi masalah dominan (41%) disusul oleh penurunan kualitas produk (31%) dan kerusakan kemasan (28%). Sementara itu, pada Diagram Fishbone mengidentifikasi akar masalah utama berasal dari aspek mesin, bahan, metode, serta keterbatasan tenaga kerja. 
ANALISIS PENGENDALIAN MUTU TEPUNG UBI JALAR DENGAN DIAGRAM PARETO, DIAGRAM FISHBONE, DAN CHECKSHEET PADA GAPOKTAN MANDIRI JAYA Sabrina Mumtaz; Shafana Az Zahra Ramadhani; Salma Sava; Daffa Najwan Ramadhan; Nada Qoulan S.; M. Yusuf Al Faris; Warcito
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i2.6159

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengendalian kualitas tepung ubi jalar yang dihasilkan oleh Gapoktan Mandiri Jaya dengan memanfaatkan checksheet, diagram pareto, dan diagram fishbone. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi pada proses produksi dan wawancara dengan pengelola. Hasil dari checksheet menunjukkan adanya lima tipe cacat utama yaitu warna tepung yang terlalu gelap, kandungan air yang tinggi, tekstur yang kasar, gumpalan, dan adanya kontaminasi dari benda asing. Diagram pareto mengindikasikan bahwa dua cacat yang paling signifikan yaitu warna yang terlalu gelap (30%) dan kadar air yang terlalu tinggi (27%) menghasilkan lebih dari setengah dari total cacat yang ada. Analisis fishbone mengungkapkan bahwa penyebab utama cacat tersebut berasal dari ketidakstabilan suhu pengering, kurangnya SOP pengeringan, variasi kualitas bahan baku, keterampilan operator yang belum maksimal, dan pengawasan bahan baku untuk meningkatkan konsistensi kualitas tepung ubi jalar.
PENGENDALIAN MUTU BAHAN BAKU LIDAH BUAYA PADA INDUSTRI RUMAH TANGGA HERBAVERA Septiani; Samuel Gery Ramlan Noveleen Situmorang; Faroha Diniah; Lusi; Muhammad Rosyad Ilman; Putri Revasaibah Santosa; Warcito
MERDEKA : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 3 No. 2 (2025): Desember
Publisher : PT PUBLIKASI INSPIRASI INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62017/merdeka.v3i2.6154

Abstract

Lidah buaya (Aloe vera) merupakan komoditas hortikultura bernilai ekonomis tinggi yang banyak dimanfaatkan dalam industri pangan, minuman, kosmetik, serta produk kesehatan karena kandungan nutrisinya yang meliputi vitamin A, B12, C, dan E, serta sifat antibakteri dan antiinflamasi. Gel lidah buaya diketahui memiliki kemampuan mempercepat penyembuhan luka berkat kandungan senyawa bioaktifnya. Herbavera, sebuah Industri Rumah Tangga (IRT) yang beroperasi sejak 2014, memproduksi lebih dari 15 jenis produk berbahan dasar lidah buaya organik. Namun, keberlangsungan produksi Herbavera sering terkendala oleh keterbatasan pasokan bahan baku utama yang hanya diperoleh dari satu mitra petani organik di Kalisuren, Bogor. Kondisi ini berdampak pada penurunan kapasitas produksi dan potensi kehilangan konsumen. Penelitian ini bertujuan menganalisis akar permasalahan kekurangan bahan baku lidah buaya organik pada Herbavera dengan menggunakan alat pengendalian mutu, yaitu analisis fishbone. Penelitian dilakukan di lokasi produksi Herbavera di Sawangan, Depok, dengan menggunakan data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam. Analisis berfokus pada aspek mutu bahan baku serta faktor-faktor yang memengaruhi keberlanjutan pasokannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permasalahan pasokan dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan sumber daya dan modal petani, ketidakpastian jadwal panen, sulitnya memenuhi sertifikasi organik, belum optimalnya pengaturan rantai pasok, fluktuasi kapasitas produksi lahan, keterbatasan pengawasan mutu (QC), serta komunikasi dan evaluasi yang belum tersusun secara sistematis. Melalui pemetaan akar masalah dan solusi, penelitian ini merumuskan serangkaian rekomendasi yang mencakup pembinaan petani, kolaborasi rotasi panen, optimalisasi manajemen rantai pasok berbasis digital, penerapan sistem stok buffer, perbaikan kontrol lingkungan, penetapan harga premium untuk bahan organik, penyusunan MoU formal, serta evaluasi berkala.Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa penguatan kemitraan antara Herbavera dan petani organik, didukung oleh penerapan pengendalian mutu yang konsisten, menjadi strategi utama untuk mencapai keberlanjutan pasokan lidah buaya organik yang stabil dan memenuhi standar produksi.
Analisis Peningkatan Kualitas Ikan Mas Menggunakan QC Tools (Fish Bone dan Diagram Pareto) pada Perusahaan Sero Elite Muhammad Bintang; Fadilah Zikri Khatami; Aisyah Fildza Qurrotu'Aina; Hana Zahra Talitha; Mutiara Ayuti Falahaldi; Qinthara Amalia Aziza Roseno; Warcito
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 1 No. 11 (2025): Menulis - November
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v1i11.720

Abstract

Peningkatan produksi pada budidaya ikan mas intensif seringkali terhambat oleh masalah mortalitas yang kompleks. Mortalitas ini jarang disebabkan oleh faktor tunggal, melainkan interaksi sistemik antara praktik budidaya, kualitas lingkungan, dan patogen. Namun, banyak unit budidaya skala usaha kecil dan menengah (UKM) kekurangan alat diagnostik praktis untuk mengidentifikasi akar penyebab masalah ini secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mendemonstrasikan penerapan Quality Control (QC) Tools sebagai kerangka kerja diagnostik yang efektif untuk mengidentifikasi, memprioritaskan, dan menganalisis akar penyebab masalah kualitas dalam studi kasus di unit budidaya ikan mas. Penelitian ini menggunakan pendekatan metode campuran deskriptif. Tahap pertama menganalisis data kuantitatif dari logbook produksi perusahaan menggunakan Diagram Pareto untuk memprioritaskan masalah kualitas utama. Tahap kedua analisis akar penyebab untuk masalah prioritas menggunakan Diagram Fishbone yang diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dengan informan kunci. Hasil analisis Pareto menunjukkan bahwa kematian ikan adalah masalah vital, yang menyumbang 52% dari total kerugian massa (75 kg) per siklus. Analisis Fishbone mengidentifikasi bahwa mortalitas ini disebabkan oleh interaksi sistemik, dengan akar penyebab utama yang meliputi (1) Metode (kepadatan tebar terlalu tinggi), (2) Material (potensi benih terinfeksi penyakit), dan (3) Lingkungan/Pengukuran (kualitas air yang buruk akibat dekomposisi dan pemantauan DO/pH yang jarang). QC Tools terbukti efektif dalam membedah masalah mortalitas yang kompleks. Studi kasus ini menunjukkan bahwa masalah tersebut bersifat sistemik, didorong oleh stres akibat padat tebar yang memperburuk kondisi lingkungan dan meningkatkan kerentanan terhadap patogen. Kerangka kerja ini menyediakan alat yang praktis bagi praktisi untuk beralih dari penanganan gejala ke penyelesaian akar masalah.