Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Sustainable Tourism Business Practices in Rote Island: Striking a Balance Between Economic Growth and Environmental Conservation Sari Natonis; Eunike M. Gegung; Arjuna Purba; Junita C. Nenabu
International Journal of Educational Review, Law And Social Sciences (IJERLAS) Vol. 6 No. 3 (2026)
Publisher : RADJA PUBLIKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/ijerlas.v6i3.5292

Abstract

This study aims to analyze the practices, challenges, and strategies for implementing sustainable tourism in Rote Island, East Nusa Tenggara. Using a mixed methods approach with a case study design, the research explores the balance between economic growth, environmental conservation, and socio-cultural sustainability. Quantitative data were collected through surveys involving tourists, business operators, local communities, and government representatives, while qualitative data were obtained from in-depth interviews and field observations. The PLS-SEM analysis revealed that business sustainability and profitability are the most dominant factors in strengthening the local economy (R² = 0.717), followed by environmental and socio-cultural aspects. The findings indicate that tourism practices in Nembrala remain at a moderate to low level across the three pillars of sustainability, characterized by limited waste management systems, low community participation, and unequal distribution of economic benefits. Local community involvement is largely confined to labor roles, while business ownership is dominated by outside investors. This situation creates economic disparities and weak integration of local cultural values into tourism products. The study emphasizes the importance of collaborative governance involving government, businesses, and local communities in strategic decision-making, as well as the adoption of the triple bottom line principles (profit, people, planet) in tourism business models. The implications highlight the need for long-term, regulation-based policies, MSME capacity strengthening, and community empowerment to build inclusive, resilient, and globally competitive tourism destinations.
Implementasi Total Quality Management (TQM) dalam Pemberdayaan Masyarakat melalui Gerakan Bersih Pantai di Pantai Lasiana, Kupang: Pengabdian Ravel Anwar; Sonnya Marliani; Yudi Adrian; Emilia Gie; Eunike Martha Gegung; Junita Cestilia Nenabu; Sari Angriany Natoni; Septimus Adrianus Mali; Johanis Oenunu; Abram Danial Lubertus Laleb; Theddy Bashkara Foenale; Viktor Amos; Rena Saputri Hilaria Sitanggang; Maria Karmelita Delistiani Sambang; Yunita Chrisna Riane Antonia Bere; Lukas Hattu; Erna Eryani Giri; Yoan Maureen Darianty Dara Odrada; Dendi Sigit Wahyudi
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 5 No. 1 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 5 Nomor 1 (Juli 2026 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v5i1.7318

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengimplementasikan dan mengevaluasi efektivitas pendekatan Total Quality Management (TQM) dalam mengatasi problematika limbah padat komersial di kawasan pesisir Pantai Lasiana, Kota Kupang. Program intervensi aksi ini diinisiasi oleh kelompok mahasiswa kelas 4B dan 4E Program Studi Administrasi Bisnis, Universitas Nusa Cendana, dengan menggandeng pelaku usaha mikro (pedagang) setempat sebagai mitra kolaborasi utama. Metode pelaksanaan difokuskan murni pada eksekusi fisik partisipatif secara langsung tanpa penyelenggaraan sesi diskusi maupun forum tanya jawab formal. Tahapan operasional mencakup pemetaan lokasi, persiapan logistik, pemberian instruksi taktis berlandaskan prinsip efisiensi operasional, serta eksekusi pembersihan pantai secara serentak. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peniadaan birokrasi komunikasi formal terbukti mampu mengoptimalkan alokasi waktu dan tenaga partisipan. Keberhasilan ini dibuktikan dengan terevakuasinya lebih dari 100 kilogram limbah (setara 20 kantong polibag besar) yang langsung disortir ke dalam kategori plastik sekali pakai dan organik komersial, menghasilkan transformasi visual kebersihan kawasan pesisir secara seketika dan drastis. Kesimpulannya, penerapan TQM melalui aksi gotong royong langsung terbukti efektif mengatasi pencemaran lingkungan pesisir sekaligus menumbuhkan rasa kepemilikan kolektif (sense of belonging) di kalangan pelaku usaha, sehingga meletakkan fondasi tata kelola pelestarian ekosistem yang berkesinambungan.
Gerakan Bersih Pantai Oesapa Sebagai Upaya Pengurangan Sampah dan Edukasi Masyarakat Aprianus Paskalius Taboen; Eunike Gegung; Olaf Tri Wilopo Simanjuntak; Sonnya Marliani
Devotion: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2026): June
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Yuta Pendidikan Cerdas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62282/devotion.v3i2.110-125

Abstract

Kegiatan “Gerakan Bersih Pantai Oesapa” merupakan program pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan mengurangi sampah pesisir sekaligus meningkatkan kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan lingkungan berkelanjutan. Kegiatan dilaksanakan di Pantai Oesapa, Kota Kupang, menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan melibatkan 39 mahasiswa, 4 dosen, masyarakat sekitar, pedagang pesisir, dan pengunjung pantai. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, aksi bersih pantai, edukasi lingkungan berbasis experiential learning, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa sebanyak lebih kurang 140 kg sampah berhasil dikumpulkan pada area lebih kurang 3.000 m² dengan kepadatan sampah lebih kurang 0,047 kg/m². Komposisi sampah didominasi plastik sebesar 61,9 persen, diikuti sampah organik 21,0 persen dan sampah lainnya 17,1 persen, yang menunjukkan bahwa plastik masih menjadi pencemar utama kawasan pesisir. Kegiatan ini juga meningkatkan pemahaman dan kesadaran lingkungan peserta sebesar lebih kurang 73 persen, dari rata-rata nilai 48,5 pada pre-test menjadi 83,9 pada post-test. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dan pembelajaran berbasis praktik efektif dalam membangun perilaku ramah lingkungan. Kegiatan ini memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui penguatan edukasi lingkungan, peningkatan partisipasi kolektif, serta pembentukan model pengelolaan sampah pesisir berbasis komunitas yang kolaboratif dan berkelanjutan. Oleh karena itu, kegiatan ini berpotensi direplikasi di wilayah pesisir lainnya.
Penguatan Pariwisata Berbasis Potensi Lokal melalui Pemberdayaan Masyarakat dan Promosi Digital di Desa Niukbaun, Kecamatan Amarasi Barat Eunike Martha Gegung; Junita Cestilia Nenabu; Sonnya Marliani; Ravel Anwar; Sari Angriany Natonis; Johanes De Brito Siga Nono; Yunita C.R.A. Bere; Yudi Adrian; Irmosius Manggur; Rivand J. Amuwesely
Yumary: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol 7 No 1 (2026): September
Publisher : Penerbit Goodwood

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35912/yumary.v7.n1.p63-76.2026

Abstract

Zweck: Dieses Programm der Gemeinwesenarbeit (Pengabdian kepada Masyarakat/PKM) zielt darauf ab, die touristische Entwicklung auf Basis des lokalen Potenzials im Dorf Niukbaun, Unterbezirk West-Amarasi, Regierungsbezirk Kupang, Ost-Nusa Tenggara, zu stärken, indem die Gemeinschaft dazu befähigt wird, ein strukturiertes kulturtouristisches Angebot zu gestalten, lokale Kompetenzen im Bereich der Reiseführung aufzubauen und digitale Vermarktung einzuführen. Forschungsmethodik: Das Programm wandte einen gemeindebasierten Tourismusansatz (Community-Based Tourism, CBT) an, der in drei Phasen umgesetzt wurde: Planung (partizipative Kartierung mittels Participatory Rural Appraisal und Fokusgruppendiskussionen mit der Dorfverwaltung, der Ikat-Webgruppe, traditionellen Führungspersönlichkeiten und der Jugend), Durchführung (eine eintägige Sensibilisierungs- und Schulungsveranstaltung zu Konzepten des gemeindebasierten Tourismus und des digitalen Marketings, gefolgt von praktischen Übungen zur smartphonebasierten Inhaltserstellung und zum Social-Media-Management) sowie Evaluation (Vor- und Nachtest-Messungen zusammen mit einer reflektierenden Diskussion mit der Partnergemeinschaft). Die Aktivität fand im Dorfamt von Niukbaun, Regierungsbezirk Kupang, statt. Ergebnisse: Das Programm verbesserte das Verständnis der Teilnehmenden für die Prinzipien des gemeindebasierten Tourismus, förderte ihre Fähigkeiten in der kulturellen Interpretation und der mobilen Inhaltserstellung und legte den Grundstein für ein kulturtouristisches Angebot, das Webimmersion, traditionelle Rituale und lokale kulinarische Attraktionen miteinander verbindet. Ein Vergleich der Vor- und Nachtestergebnisse zeigte eine deutliche Zunahme des Wissens der Teilnehmenden über Konzepte des Tourismusmarketings. Schlussfolgerungen: Ein partizipativer, praxisorientierter, gemeindebasierter Ansatz erweist sich als wirksam, um lokale Kapazitäten zur Verwaltung kultureller touristischer Ressourcen aufzubauen und diese über digitale Kanäle zu vermarkten – wobei die Gemeinschaft als aktives Subjekt des Wandels positioniert wird und nicht als passiver Nutznießer. Einschränkungen: Die in diesem Artikel berichtete Evaluation beschränkt sich auf einen einzigen Sensibilisierungs- und Schulungszyklus mit einer begrenzten Teilnehmerzahl, sodass die mittel- und langfristige Nachhaltigkeit des touristischen Angebots, des Führungskorps und des Social-Media-Kontos noch nicht gemessen werden konnte. Beiträge: Diese Studie bietet ein replizierbares, kostengünstiges Modell zur Befähigung ostindonesischer Dörfer, die über ungenutzte kulturelle Ressourcen wie das traditionelle Ikat-Weben verfügen, einen gemeindebasierten Kulturtourismus zu entwickeln, der durch digitale Vermarktung unterstützt wird, und leistet einen empirischen Beitrag zur Literatur über die touristische Stärkung ländlicher Räume in marginalisierten Regionen.