Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

HUBUNGAN KUALITAS LINGKUNGAN FISIK TERHADAP KEJADIAN TB PARU KAMBUH (RELAPS) DI PUSKESMAS SE-KABUPATEN MALANG Zustianingtyas, Dian; Yohanan, Agus; Yuniastuti, Tiwi
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 5 No. 3 (2024): SEPTEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v5i3.32963

Abstract

Kabupaten Malang merupakan salah satu wilayah prioritas Tuberkulosis di Indonesia. Salah satu kasus TB Paru di Kabupaten Malang adalah TB Paru Kambuh (Relap). Kasus TB Paru Kambuh (Relap) Kabupaten Malang tahun 2022 (61 orang) dan tahun 2023 (69 orang). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kualitas lingkungan fisik dengan kejadian TB. Paru Kambuh (relaps) di Puskesmas se-Kabupaten Malang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif dan pendekatan cross sectional. Jumlah sampel sebanyak 60 orang yang diambil berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi menggunakan Teknik Sistem Purposive Sampling. Instrumen penelitian yang digunakan yaitu lembar observasi, kuesioner, alat tulis, alat ukur dan kamera.Analisis data menggunakan analisis univariat dan analisis bivariat menggunakan uji Regresi Logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara lantai rumah (sig. 0,655) dan jendela ruang keluarga (sig. 0,028) terhadap kejadian TB paru kambuh (relaps). Tidak ada hubungan bermakna antara langit-langit (sig. 0,655), dinding (sig. 0,534), jendela kamar tidur (sig. 0,989), pencahayaan (sig. 0,293), ventilasi (sig. 0,798), lubang asap dapur (sig. 0,735), kelembaban (sig. 0,834), padatan hunian (sig. 0,221), kualitas lingkungan fisik (sig. 0,395) terhadap kejadian TB paru kambuh (relaps). Penyebab adanya kejadian TB paru kambuh (Relap) di Kabupaten Malang dikarenakan pola hidup masyarakat, ketaatan pengobatan sebelumnya, serta lingkungan yang tidak sehat yang mana tidak sesuai kriteria rumah sehat. Oleh karena itu diharapkan masyarakat mempunyai kesadaran untuk memperhatikan pola hidup, kondisi lingkungan fisik rumah serta menambah informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan tuberkulosis paru (penyebab, bahaya,dan cara pencegahan) sehingga dapat meminimalisir kemungkinan terjadi tuberkulosis paru baik kasus kambuh maupun kasus baru.
Peningkatan Kesadaran Untuk Tidak Membuang Sampah Sembarangan dengan Edukasi Melalui Media Konten Tiktok Pandawara Group Maharani, Febi; Subhi, Misbahul; Yuniastuti, Tiwi
Jurnal Sanitasi Lingkungan Vol 5 No 2 (2025): Jurnal Sanitasi Lingkungan
Publisher : Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36086/jsl.v5i2.2860

Abstract

Latar Belakang:kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan masih rendah, padahal perilaku ini berdampak signifikan pada pencemaran lingkungan dan kesehatan masyarakat. Edukasi melalui media konten TikTok oleh Pandawara Group diharapkan dapat meningkatkan kesadaran tersebut secara efektif. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kesadaran untuk tidak membuang sampah sembarangan dengan edukasi melalui media konten tiktok pandawara group. Metode:penelitian ini menggunakan desain pre-experimental one group pretest-posttest dengan populasi masyarakat di Kampung Tridi RW 12 Kelurahan Kesatrian sebanyak 250 KK. Sampel diambil dengan teknik sampling insidental dari responden berusia 18-25 tahun yang belum pernah menonton konten Pandawara Group dan memiliki media sosial. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner pre-test dan post-test yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya, serta didukung oleh lembar screening dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji t berpasangan untuk menguji perbedaan kesadaran sebelum dan setelah intervensi. Hasil:hasil uji Paired t-test menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada tiga variabel setelah intervensi tayangan konten TikTok dari Pandawara Group. Rata-rata skor pengetahuan meningkat dari 21,17 menjadi 32,00, sikap dari 19,90 menjadi 31,20, dan perilaku dari 14,70 menjadi 31,50. Nilai signifikansi (p-value) untuk ketiga variabel adalah 0,000 (p < 0,05), menandakan perbedaan yang signifikan antara pre-test dan post-test Kesimpulan:konten edukasi dari TikTok Pandawara Group terbukti efektif meningkatkan kesadaran masyarakat RW 12 Kelurahan Kesatrian untuk tidak membuang sampah sembarangan, yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan signifikan pada aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku setelah diberikan intervensi. Kata kunci : Kesadaran lingkungan, edukasi, media sosial, tiktok pandawara group.
Analisis Penerapan cara Produksi Pangan yang Baik (CPPB) pada Industri Rumah Tangga Pangan di Kecamatan Borong Kabupaten Manggarai Timur Anita, Maria Fianney; Wahyuni, Ike Dian; Yuniastuti, Tiwi
Jurnal Sanitasi Profesional Indonesia Vol 6 No 02 (2025): Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Good Food Production Practices (GMP) are guidelines or minimum standards for food producers and home food industries to ensure safe, high-quality, and consumable products. However, many home food industries in Borong District have not yet implemented GMP, so research is needed to improve food quality in the district. This study aims to determine the level of implementation of GMP in four Home Food Industries (IRTP) in Borong District, East Manggarai Regency. This study employed a qualitative descriptive method, with data collection techniques including observation, interviews, documentation, and literature review, referring to the Regulation of the Head of the Indonesian Food and Drug Authority (BPOM RI) No. HK.03.1.23.04.12.2206 of 2012 concerning Good Manufacturing Practices (GMP) for Food Processing and Processing Industry (GMP-IRT). The informants were the home food industries Ma Ren Keripik, Nendong, Teko Nggeruk, and De Martin Keripik at Borong District. The study results shows that the implementation of Good Manufacturing Practices (GMP) at the four GMPs remains low, with a percentage of non-compliance of 52% for Ma Ren Keripik, 56% for Nendong, 56% for Teko Nggeruk, and 62% for De Martin Keripik, respectively. The most frequent non-compliance is found in aspects of buildings and facilities, hygiene and sanitation, process control, and record-keeping and documentation. This indicates that business operators still lack a thorough understanding of Good Manufacturing Practices (GMP) and have not fully implemented food safety principles according to applicable standards, due to educational background, limited time, energy, and funds, as well as minimal oversight from relevant government agencies. It can be concluded that the implementation of Good Manufacturing Practices (GMP) at the home food industry in Borong District is not yet optimal. It requires increased education, training, and on going supervision by relevant government agencies to ensure the quality and safety of the resulting food products.
Laju Pembakaran Briket Limbah Cangkang Kulit Kopi, Sekam Padi Dan Tempurung Kelapa Sebagai Energi Alternatif Ramah Lingkungan Mafisca, Deara; Wahyuni, Ike Dian; Yuniastuti, Tiwi
Jurnal Sanitasi Profesional Indonesia Vol 6 No 02 (2025): Desember
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33088/jspi.v6i02.1185

Abstract

Briquettes are an energy source derived from biomass which can be used as an alternative energy to replace petroleum and other fossil-based energy. Utilizing biomass waste as an alternative energy source can reduce waste and pollution while also providing renewable energy. The purpose of this research is to analyze the combustion rate of briquettes made of coffee husks, rice husks, and coconut shells. This research used a Pre-Experimental design with a comparative descriptive approach, and analyzed by using the Kruskal-Wallis test. In this design, the treatment or intervention is applied to the samples (X), and then a measurement or observation of the post-test results (O2) is conducted. Since there is no control group, the measurement results (O2) are descriptive and used to compare outcomes between treatments. The results indicate that the type of raw material significantly affects the combustion rate (χ² = 7.600, p = 0.020). Coffee shell briquettes have the highest combustion rate (1.38 g/min), burning quickly, efficiently, and steadily. Rice husk briquettes show a moderate rate (0.59 g/min) with higher ash residue, while coconut shell briquettes burn the slowest (0.53 g/min) but have the longest duration and a stable flame. These differences are related to the physical and chemical characteristics of the raw materials, including density, fixed carbon content, moisture level, and silica. The findings confirm that agricultural waste has potential as an alternative energy source, which can be tailored according to needs: coffee shells for rapid heat, coconut shells for long duration, and rice husks for abundant raw material availability.