Istiroha, Istiroha
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Published : 38 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

FAKTOR LAMA HARI PEMASANGAN INFUS TIDAK BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PLEBITIS (Long Days Cannula Installation Factor Is Not Associated With Phlebitis Incident) Istiroha, Istiroha; Erfatunafiah, Hanik
Journals of Ners Community Vol 8 No 2 (2017): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v8i2.406

Abstract

ABSTRAK Terapi intravena adalah salah satu tindakan invasif yang berisiko menimbulkan komplikasi lokal maupun sistemik. Plebitis merupakan salah satu komplikasi utama dari terapi intravena. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisa faktor mekanik yang mempengaruhi kejadian plebitis pada pasien yang mendapatkan terapi intravena.Penelitian ini menggunakan desain deskripsi korelasi dengan populasi semua pasien yang terpasang infus mulai dari masuk IGD sampai rawat inap dari tanggal 1-25 Januari 2017 di PKU Muhammadiyah Sekapuk Gresik. Teknik sampling yang digunakan adalah purposive  sampling dengan jumlah sampel 38 responden. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi. Data dianalisa dengan uji person chi squere  dan spearman’s  untuk melihat hubungan antara variabel  dengan tingkat kemaknaa p value < 0,05.          Hasil penelitian ini menunjukkan responden yang mengalami plebitis sebanyak 27 responden. Variabel yang dihubungkan dengan kejadian plebitis yaitu lokasi insersi (p=0,000), ukuran kanul (p=0,02), teknik disinfeksi pemasangan (p=0,000), lama hari pemasangan (p=0,29), perawatan infus (p= 0,001), artinya ada hubungan yang bermakna antara lokasi insersi, ukuran kanul, teknik disinfeksi, perawatan infus dengan kejadian plebitis, dan tidak ada hubungan yang bermakna antara lama hari pemasangan dengan kejadian plebitis.          Faktor lokasi insersi, ukuran kanul, teknik disinfeksi, dan perawatan infus menjadi faktor yang dapat menyebabkan terjadinya plebitis sehingga perawat disarankan untuk memperhatikan faktor-faktor tersebut agar pasien yang mendapat terpasang infus tidak terjadi plebitis. Kata  kunci : Faktor mekanik,  plebitisABSTRACT           Intravenous therapy is one of the invasive procedures. It  results local  and systemic complication. Phlebitis is one of the major complications of intravenous therapy. The purpose of this study was to identify and analyze the mechanical factors that influence the incidence of phlebitis in patients receiving intravenous therapy.          The design of this study was correlation description. The population were all patients who were infused from entry into the emergency unit until hospitalization from 1st-25th of January 2017 at PKU Muhammadiyah Sekapuk Gresik. Sampling technique used was purposive sampling with total sample 38 respondents. The instrument used was an observation sheet. The data was analyzed by Chi person squere test and Spearman's to see the relationship between the variables with the level p value < 0.05.          The results of this study shown there were 27 respondents that were phlebitis. Variables associated with the incidence of phlebitis were insertion locations (p=0.000), the size of the cannula (p=0.02), disinfection technique (p=0.000), long days cannula installation (p = 0.29), the cannula care (p=0.001), so those data mean that there was a significant correlation between insertion location, the size of the cannula, disinfection techniques, the cannula care with phlebitis incident, and there was no significant relationship between long days cannula installation with the phlebitis incident.          Factors of insertion location, cannula size, disinfection techniques, and infusion treatments are factors that can lead to phlebitis, so nurses are advised to pay attention to these factors in order for patients receiving plugged infusions to occur. Keywords :  Mechanical factors, phlebitisDOI : 10.5281/zenodo.1400998
TERAPI MUROTTAL BERPENGARUH TERHADAP PENURUNAN TINGKAT NYERI SELAMA PERAWATAN ULKUS DIABETIKUM (Murottal Therapy Affecting Decreasing the Level of Pain During Diabetic Ulcer Wound Care) Istiroha, Istiroha; Hariati, Erni
Journals of Ners Community Vol 9 No 2 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v9i2.709

Abstract

ABSTRAK  Perawatan ulkus diabetikum menimbulkan rasa nyeri akibat rangsangan dan trauma pada syaraf. Salah satu manajemen nyeri yang dapat dilakukan adalah dengan terapi non farmakologi yaitu terapi murrotal. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan pengaruh terapi murrotal terhadap tingkat nyeri selama perawatan ulkus diabetikum. Penelitian ini menggunakan rancangan Quasy Experiment dengan pre-posttest control design. Sampel penelitian ini adalah 26 pasien di Ruang Bedah RSI Darus Syifa Surabaya diambil dengan teknik purpossive sampling tanggal 10 September-30 Oktober 2017. Intervensi yang diberikan pada kelompok perlakuan adalah terapi murrotal surat Ar Rahman selama 15-30 menit sedangkan intervensi yang diberikan pada kelompok pembanding adalah rawat luka sesuai standart rumah sakit. Variabel independen penelitian ini adalah terapi murrotal sedangkan variabel dependen adalah tingkat nyeri selama perawatan luka. Instrumen penelitian adalah lembar skala nyeri numerik 0-10 (AHCPR) dan SOP terapi murrotal. Uji statistik yang digunakan Wilcoxon Sign Rank Test dan Mann Withney Test.  Hasil uji Wilcoxon Sign Rank Test  pada kelompok perlakuan didapatkan α = 0.002, sedangkan pada kelompok pembanding didapatkan α = 0,003 artinya ada perbedaan signifikan tingkat nyeri sebelum dan sesudah diberikan intervensi pada kedua kelompok. Hasil Mann Withney Test menunjukkan α = 0,000 artinya ada perbedaan signifikan tingkat nyeri sesudah diberikan intervensi pada kedua kelompok.Sebelum dilakukan terapi murrotal responden memiliki tingkat nyeri sedang dan setelah dilakukan terapi murottal tingkat nyeri menurun menjadi ringan hal ini terjadi karena mendengarkan murottal dapat menstimulasi hipotalamus yang berpengaruh pada peningkatan endorphin sehingga kadar kortisol menurun. Terapi murrotal dapat digunakan menjadi SOP dalam perawatan ulkus diabetikum. Kata kunci: Terapi murottal, tingkat nyeri, perawatan ulkus diabetikum.  ABSTRACT Diabetic ulcer wound care causes pain because of stimulation and trauma to the nerves. One of the pain management is by non-pharmacological therapy that is murrotal therapy. The aim of this study was to explain the effect of murrotal therapy on the level of pain during diabetic ulcer wound care.This study used the Quasy Experiment with pre-posttest control design. The samples of this study were 26 patients in the Surgical in Ward Room of the Darus Syifa Hospital Surabaya taken by purposive sampling technique from 10 September-30 October 2017. The intervention in the treatment group was the daily therapy of Ar Rahman's letter for 15-30 minutes while the intervention in the comparison group was wound care according to hospital standards. The independent variable of this study was murrotal therapy while the dependent variable was the level of pain during wound care. The research instruments were numerical pain scale sheets 0-10 (AHCPR) and Murrotal therapy SOP. The statistical test used was the Wilcoxon Sign Rank Test and Mann Whitney Test.The Wilcoxon Sign Rank Test in the treatment group shown α = 0.002, whereas in the comparison group α = 0.003 mean that there were a significant differences in the level of pain before and after intervention in both groups. The Mann Whitney Test showed α = 0,000 meaning that there was a significant difference in the level of pain after being given intervention in both groups.Before murottal  therapy, respondents had moderate pain levels and after murottal therapy the level of pain decreased to mild, this happened because listening murottal could stimulate the hypothalamus which had an effect on increasing endorphins so that cortisol levels decreased. Murottal therapy can be used as an procedure during diabetic ulcers wound care. Keywords: Murottal therapy, pain level, and diabetic ulcer wound care.DOI: 10.5281/zenodo.2629464
PELATIHAN BANTUAN HIDUP DASAR (BHD) MENINGKATKAN PENGETAHUAN DAN KESIAPAN MENOLONG KORBAN KECELAKAAN PADA TUKANG OJEK Basri, Ahmad Hasan; Istiroha, Istiroha
Journals of Ners Community Vol 10 No 2 (2019): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v10i2.918

Abstract

ABSTRAK Pemberian pertolongan pertama terhadap korban kecelakaan lalu lintas di sering tidak dilakukan oleh petugas medis atau orang yang berkompeten. Tukang ojek yang ada disepanjang Jl. Raya Daendles sering melakukan pertolongan kepada korban kecelakaan lalu lintas Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan pengaruh pelatihan BHD terhadap pengetahuan dan kesiapan menolong tukang ojek di wilayah Jl. Raya Daendles Manyar Gresik. Desain penelitian ini menggunakan Quasy Eksperimental dengan jenis one group pre post test design. Sample diambil dengan menggunakan purposive sampling yaitu sebanyak 21 responden diberikan pelatihan BHD. Variabel independen yaitu pelatihan BHD dan variabel dependen yaitu tingkat pengetahuan dan kesiapan menolong tukang ojek. Instrumen yang digunakan adalah SOP pelatihan BHD dan kuisioner pengetahuan dan kesiapan menolong. Hasil uji statistik Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan ada perbedaan tingkat pengetahuan dan tingkat kesiapan menolong setelah diberikan pelatihan BHD dengan nilai p= 0,002 untuk tingkat pengetahuan dan p=0,000 untuk tingkat kesiapan menolong. Pelatihan BHD dapat meningkatkan pengetahuan dan kesiapan menolong karena dengan pendidikan kesehatan dengan demonstrasi dapat mempermudah responden dalam mengingat kembali materi yang telah diberikan. Petugas kesehtan diharapkan dapat memberikan pelatihan BHD kepada masyarakat awam lain sebagai upaya pemberdayaan masyarakat dalam memberikan pertolongan pertama kepada korban kecelakaan. Kata kunci: Pelatihan, Bantuan Hidup Dasar, Pengetahuan, Kesiapan Menolong, Tukang Ojek DOI: 10.5281/zenodo.3561989
EFEKTIVITAS SENAM DISMENORRHEA DAN SENAM AEROBIC LOW IMPACT TERHADAP NYERI HAID (DISMENORRHEA) PADA REMAJA AWAL Zahroh, Roihatul; Istiroha, Istiroha; Larasati, Natasya Nadhita
Journals of Ners Community Vol 11 No 1 (2020): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v11i1.1040

Abstract

Dampak nyeri dismenore pada remaja akan menimbulkan kecemasan berlebih sehingga mempengaruhi terjadinya penurunan kecakapan dan keterampilan remaja yang akan sangat mempengaruhi terhadap penurunan aktivitas dan prestasi. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan efektivitas senam dismenore dan senam aerobic low impact terhadap nyeri haid (dismenorrhea) pada remaja awal.Penelitian ini menggunakan design Pra Eksprimental dengan pendekatan Pre Post Test Two Group Design. Populasi pada penelitian ini adalah remaja awal yang mengalami dismenore yang berjumlah 26 siswi. Responden dibagi menjadi dua kelompok, 12 responden diberikan senam dismenore dan 12 responden diberikan senam aerobic low impact.Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Instrumen penelitian lembar observasi skala nyeri Bourbanis, SOP senam dismenore dan SOP senam aerobic low impact. Analisa data menggunakan uji statistik Wilcoxon dan Man-Whitney. Variabel independen adalah senam aerobic low impact dan senam dismenore dan variabel dependen adalah nyeri haid (dismenorrhea).Hasil analisis dengan Wilcoxon signed test dengan nilai standar <0,05, didapatkan nilai senam dismenore p = 0,014  nilai senam aerobic low impact p = 0,005 artinya senam aerobic low impact lebih efektif daripada senam dismenore. Sedangkan hasil uji statistic Mann-whiney didapatkan p = 0,190  artinya tidak ada perbedaan tingkat nyeri setelah dilakukan intervensi antara kelompok senam dismenore dan senam aerobic low impact.Senam aerobic low impact lebih efektif daripada senam dismenore karena memiliki ritme gerakan relatif pelan sehingga responden lebih mudah menirukan. Disarankan penelitian ini dapat digunakan sebagai alternatif untuk menurunkan nyeri dismenore.Kata kunci : Dismenore, senam dismenore, senam aerobic low impact.DOI: 10.5281/zenodo.4724277
PELATIHAN KESIAPSIAGAAN DENGAN MEDIA POWER POINT DAN MEDIA VIDEO DALAM MENINGKATKAN KESIAPSIAGAAN BENCANA BAJIR PADA SISWA SMA Istiroha, Istiroha; Basri, Ahmad Hasan
Journals of Ners Community Vol 11 No 2 (2020): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v11i2.1154

Abstract

Sekolah merupakan salah satu dari fasilitas publik yang sering terkena dampak langsung dari bencana banjir seperti rusaknya infrastruktur dan lumpuhnya kegiatan pendidikan sehingga komunitas sekolah harus memiliki kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan efektifitas pelatihan kesiapsiagaan dengan media power point dan media video terhadap peningkatan kesiapsiagaan siswa SMA/sederajat dalam menghadapi bencana banjir di daerah resiko tinggi banjir. Desain penelitian ini menggunakan Quasy Eksperimental dengan jenis two group pre post test design. Sample diambil dengan teknik purposive sampling. Sebanyak 20 responden diberikan pelatihan kesiapsiagaan dengan media power point dan 20 responden diberikan pelatihan kesiapsiagaan dengan media video. Instrumen yang digunakan adalah SOP pelatihan kesiapsiagaan dan kuisioner kesiapsiagaan. Data kesiapsiagaan dianalisis dengan uji indeks kesiapsiagaan menghadapi bencana dan diuji statistik dengan Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann Whitney test. Hasil uji wilcoxone sign rank test nilai indeks rata-rata sebelum dan sesudah pelatihan kesiapsiagaan bencana banjir dengan media power point menunjukkan nilai p= 0,035. Hasil uji wilcoxone sign rank test nilai indeks rata-rata sebelum dan sesudah pelatihan kesiapsiagaan bencana banjir dengan media video menunjukkan nilai p= 0,05. Hasil uji Mann whitney menunjukkan nilai p= 0,091 (p>0,05) artinya tidak ada perbedaan bermakna tingkat kesiapsiagaan siswa SMA/sederajat sesudah intervensi antara kelompok power point dan video. Media power point dan video merupakan media pembelajaran yang mempermudah siswa dalam belajar sehingga terjadi peningkatan kategori kesiapsiagaan. Pemerintah dan Badan Penanggunlangan Bencana Daerah diharapkan dapat memberikan pelatihan kesiapsiagaan bencana banjir kepada komunitas sekolah sehingga komunitas sekolah siap dan siaga dalam mengahadapi banjir. Kata Kunci: Bencana Banjir, Pelatihan Kesiapsiagaan, Power Point, Siswa SMA/sederajat, Video DOI: 10.5281/zenodo.4774679
HUBUNGAN TINGKAT STRESS KERJA PERAWAT IGD DENGAN KETEPATAN WAKTU PEMBERIAN OBAT HIGH ALERT Basri, Ahmad Hasan; Istiroha, Istiroha; Taufiq, Ahmad
Journals of Ners Community Vol 12 No 2 (2021): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v12i2.1552

Abstract

Stres kerja dapat berpengaruh pada kesehatan perawat dan berlanjut pada terganggunya kinerja perawat, salah satunya dalam pemberian obat high alert. Ketidaktepatan waktu pemberian high alert medications memiliki risiko lebih tinggi membahayakan kesehatan pasien. Tujuan penelitian adalah menjelaskan hubungan tingkat stress kerja perawat IGD ketepatan waktu pemberian obat high alert. Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah perawat IGD RSUD Ibnu Sina. Jumlah sampel sebanyak 20 responden, diambil dengan purposive sampling. Variabel bebas adalah tingkat stres Perawat IGD dan variabel terikat adalah ketepatan pemberian obat high alert. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner nursing stress scale dan lembar observasi pemberian obat high alert. Analisis data menggunakan uji korelasi spearman dengan tingkat signifikansi a<0,05. Uji statistik spearman rho menunjukkan p=0,003 (a<0,05) sehingga H1 diterima artinya ada hubungan tingkat stres kerja Perawat IGD dengan ketepatan waktu pemberian obat high alert dengan tingkat korelasi kuat (r = 0,631). Semakin tinggi tingkat stres kerja perawat maka semakin rendah ketepatan waktu pemberian obat high alert. Bagi managemen rumah sakit diharapkan dapat mengantisipasi kondisi stres kerja dan meningkatkan kualitas management dispensing obat high alert. DOI: 10.5281/zenodo.6033604
Effect of Creative Movement and Occupational Therapy as a Community-Based Rehabilitation Program for Post Stroke Elderly at Puskesmas Gresik Alfianti, Khalifatus Zuhriyah; Istiroha, Istiroha; Basri, Ahmad Hasan; Khomilia, Crysant Ayu Sufi; Malia, Ilkha
Jurnal Epidemiologi Kesehatan Komunitas Vol 10, No 4: November 2025
Publisher : Master of Epidemiology, Faculty of Public Health, Diponegoro University, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jekk.v10i4.29575

Abstract

ABSTRAKBackground: Stroke remains a leading cause of disability among older adults, often resulting in impaired motor abilities and a diminished quality of life. This study aimed to evaluate the impact of combining Creative Movement Therapy (CMT) and Occupational Therapy (OT) on motor function and quality of life among post-stroke elderly individuals in Gresik District, Indonesia.Methods: A quasi-experimental study with a pretest–posttest control group design was conducted from August to September 2025 at Puskesmas Alun-Alun Gresik. The control group (n = 35) received conventional rehabilitation, while the intervention group (n = 35) participated in combined CMT and OT sessions for four weeks, lasting 45–60 minutes each. Motor function was assessed using the Fugl-Meyer Assessment (FMA), and quality of life was measured using the Stroke-Specific Quality of Life (SS-QOL) scale.Results: Participants in the intervention group achieved significantly higher mean ranks for both FMA (46.00) and SS-QOL (43.61) compared to the control group (25.00 and 27.39, respectively; p < 0.05).Conclusion: The integration of Creative Movement Therapy and Occupational Therapy provides an effective, community-based rehabilitation strategy that holistically enhances motor function and overall quality of life among post-stroke elderly individuals
Self-Management and Nutritional Status in Hemodialysis Patients Istiroha, Istiroha; Azizah, Nur; Ayatulloh, Daviq
Jurnal Surya Vol 17 No 03 (2025): VOL 17 NO 03 DECEMBER 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38040/js.v17i03.1398

Abstract

Introduction: Malnutrition in hemodialysis patients can be caused by various factors, one of which is low self-management ability. This study aims to analyze the relationship between self-management and nutritional status in hemodialysis patients. Methods: The research design used was descriptive analytic with a cross-sectional approach. The sample consisted of 127 chronic kidney disease (CKD) patients undergoing hemodialysis at the Hemodialysis Unit of Petrokimia Gresik Hospital from April to May 2025, using a purposive sampling technique. Data analysis was performed using the Chi-square test with the assistance of SPSS software. Results: The analysis results showed a significant p value=0.037 (<0.05), indicating that there was a significant relationship between self-management and nutritional status in hemodialysis patients. Conclusion: Self-Management is associated with the nutritional status of patients undergoing hemodialysis. Hemodialysis nurses are advised to provide support and education to hemodialysis patients so that patients can practice self-management to maintain their nutritional status. Keywords: Chronic kidney disease, Hemodialysis patient, Nutritional status, Self-management