Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

ANALISIS ANALISIS HUBUNGAN TERAPI POLIFARMASI DENGAN POTENSI DAN TINGKAT KEPARAHAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2: ANALISIS HUBUNGAN TERAPI POLIFARMASI DENGAN POTENSI DAN TINGKAT KEPARAHAN INTERAKSI OBAT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2 Hijriani, Nursela; Nopitasari, Baiq Leny; Furqani, Nur; Natasari, Indri
JOURNAL OF PHARMACEUTICAL (JOP) Vol. 3 No. 1 (2025): Journal of Pharmaceutical (JOP)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/jop.v3i1.1617

Abstract

Latar Belakang : Pasien Diabetes Melitus (DM) berpotensi mengalami polifarmasi karena munculnya komplikasi yang dapat meningkatkan morbiditas. Polifarmasi berkaitan erat dengan jumlah penyakit atau multimorbiditas. Semakin banyak penggunaan obat, semakin besar kemungkinan terjadi efek samping atau interaksi obat yang tidak dikehendaki. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan terapi polifarmasi dengan potensi dan tingkat keparahan interaksi obat pada pasien diabetes melitus tipe 2. Metode : Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional dan menggunakan data retrospektif, yang diambil dari data rekam medis pasien DM tipe 2 rawat jalan dan didapatkan dari ruang rekam medis dan SIRS  (Sistem Informasi Rumah Sakit) RSUD (Rumah Sakit Umum Daerah) Provinsi Nusa Tenggara Barat dengan metode pengambilan sampel secara Purposive Sampling serta dilakukan pada November 2023. Hasil : Sebanyak 33 rekam medis dengan 132 potensi kejadian interaksi, selanjutnya dianalisis secara deskriptif menggunakan Drug Interaction Checker (Medscape) dan analisis secara statistik menggunakan uji Chi-Square dan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara terapi polifarmasi dengan potensi interaksi obat dengan nilai p-value sebesar 0,596 (p-value > 0,05) dan odds ratio (OR) 0,477 serta tidak terdapat hubungan yang signifikan antara terapi polifarmasi dengan tingkat keparahan interaksi obat dengan nilai p-value sebesar 0,344 (p-value > 0,05) dan nilai korelasi sebesar -0,083 yang menunjukkan tingkat hubungannya sangat rendah. Kesimpulan : Hubungan antara polifarmasi dengan potensi interaksi obat menunjukkan hubungan yang tidak signifikan, dan juga hubungan antara polifarmasi dengan tingkat keparahan menunjukkan hubungan yang tidak signifikan.
SASAMBO : SOSIALISASI REMAJA BEBAS NARKOBA DI SMAN 1 PRAYA Hendriyani, Irmatika; Hijriani, Nursela; Fitriana, Yuli; Faisal, Muhammad; Widodo, Ageng Ary
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 2 (2025): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i2.32272

Abstract

ABSTRAK                                                                Penyalahgunaan narkoba di kalangan remaja merupakan isu serius yang mengancam masa depan generasi muda. Program “SASAMBO” (Sosialisasi Remaja Bebas Narkoba) hadir sebagai upaya edukatif untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan siswa mengenai bahaya narkoba. Tujuan kegiatan pengabdian ini untuk meningkatkan pengetahuan siswa dalam pencegahan bebas narkoba. Kegiatan ini dilaksanakan di SMAN 1 Praya dengan melibatkan 25 siswa anggota Palang Merah Remaja (PMR), yang telah dilaksanakan pada 16 Mei 2025. Metode yang digunakan berupa edukasi interaktif, diskusi kelompok, dan evaluasi melalui pretest dan posttest. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan siswa setelah mengikuti kegiatan sosialisasi. Program ini tidak hanya memberikan informasi, tetapi juga membentuk sikap preventif terhadap penyalahgunaan narkoba. Dengan demikian, SASAMBO menjadi model edukasi yang potensial untuk diterapkan di sekolah-sekolah lain sebagai langkah strategis dalam pencegahan narkoba sejak dini.Kata kunci: narkoba; remaja; sosialisasi;pendidikan kesehatan, pencegahan ABSTRACTDrug abuse among adolescents is a serious issue that threatens the future of the younger generation. The "SASAMBO" (Socialization of Drug-Free Youth) program is presented as an educational effort to increase students' awareness and knowledge about the dangers of drugs. The purpose of this community service activity is to increase students' knowledge in preventing drug-free. This activity was carried out at SMAN 1 Praya with the involvement of 26 students who are members of the Youth Red Cross (PMR), which was implemented on May 16, 2025. The methods used were interactive education, group discussions, and evaluation through pretests and posttests. The evaluation results showed a significant increase in student knowledge after participating in the socialization activity. This program not only provides information, but also forms a preventive attitude towards drug abuse. Thus, SASAMBO is a potential educational model to be implemented in other schools as a strategic step in early drug prevention. Keywords: drugs; adolescents; awareness campaign; health education; prevention
Probable Neonatal Sepsis : A Retrospective Cross-Sectional Study In Indonesia Nurul Damayanti; Lendy Nugroho; Monique Noorvitrry; Nursela Hijriani; Irsan Fahmi A
Farmasains : Jurnal Farmasi dan Ilmu Kesehatan Vol. 11 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/farmasains.v11i1.44124

Abstract

Background: Neonates have an immature immune system, making them highly susceptible to infections that can rapidly progress to sepsis and death if not promptly treated. Empiric antibiotics play a critical role in the initial management of neonatal sepsis. However, there is limited local evidence regarding the evaluation of empiric antibiotic therapy in probable neonatal sepsis; 2) Methods: an analytic cross-sectional design collected retrospectively from medical record data from July 2023 to December 2024; 3) Results: A total of 30 neonates with probable sepsis met the inclusion criteria. Most cases were classified as early-onset sepsis (86.67%). Sepsis was more frequently observed in neonates with normal birth weight (53.3%), term gestational age, and those delivered by cesarean section (60.0%). No significant association was found between maternal age, gestational age, or method of delivery and sepsis classification. However, birth weight was significantly associated with sepsis classification (p < 0.05). The most commonly used empiric antibiotic regimen was ampicillin–sulbactam combined with gentamicin (60.6%). No significant association was found between empiric antibiotic use and clinical outcomes (p = 0.76; OR = 1.55; 95% CI: 0.09–27.36) or length of hospital stay (p = 0.71; OR = 1.43; 95% CI: 0.22–9.38) 4) Conclusions: Penicillin–aminoglycoside was the most commonly used empiric regimen and was generally appropriate based on the Gyssens criteria. However, no significant association was found between empiric antibiotic use and clinical outcomes.
Edukasi SEHATI (Sehatkan Masyarakat, Hindari dan Atasi Hipertensi) berbasis herbal pada lansia di Dusun Montong Kelor Nursela Hijriani; Baiq Leny Nopitasari; Nabila Vidia Utami; Herlina Irani Fahmi; Fahra Fadila; Azizah Rahmawati; Fatin Putri Ramadhani; Irmatika Hendriyani
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v%vi%i.39676

Abstract

Abstrak Hipertensi merupakan salah satu penyakit tidak menular yang banyak dialami lansia dan berisiko menimbulkan komplikasi serius apabila tidak dikendalikan dengan baik. Rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai pencegahan dan penanganan hipertensi, termasuk pemanfaatan herbal tradisional, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi pengendalian tekanan darah. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat melalui Edukasi SEHATI (Sehatkan Masyarakat, Hindari dan Atasi Hipertensi) berbasis herbal bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran lansia terkait hipertensi. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2026 di Dusun Montong Kelor, Desa Montong Terep, Kecamatan Praya, Lombok Tengah dengan melibatkan 35 lansia. Metode kegiatan meliputi observasi lapangan, identifikasi masalah dan kebutuhan mitra, senam lansia, pemeriksaan tekanan darah, edukasi kesehatan mengenai hipertensi dan obat herbal antihipertensi, serta demonstrasi pengolahan rebusan temulawak sebagai minuman herbal penurun tekanan darah. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan antusias dan aktif dalam sesi edukasi maupun demonstrasi. Pemberian edukasi kesehatan terbukti dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hipertensi, pola hidup sehat, dan pemanfaatan herbal tradisional sebagai terapi pendukung pengendalian tekanan darah. Demonstrasi pengolahan temulawak juga membantu peserta memahami cara pembuatan minuman herbal yang dapat diterapkan secara mandiri di rumah. Program Edukasi SEHATI diharapkan menjadi upaya promotif dan preventif dalam meningkatkan derajat kesehatan lansia serta mendorong kemandirian masyarakat dalam menjaga kesehatan. Kata kunci: hipertensi; lansia; edukasi kesehatan; herbal; temulawak. Abstract Hypertension is one of the non-communicable diseases commonly experienced by the elderly and is at risk of causing serious complications if not well managed. The low level of public knowledge regarding the prevention and management of hypertension, including the use of traditional herbs, is one of the factors affecting blood pressure control. Community service activities thru SEHATI Education (Healthy Community, Avoid and Overcome Hypertension) based on herbal remedies aim to increase the knowledge and awareness of the elderly regarding hypertension. The activity was conducted on May 7, 2026, in Dusun Montong Kelor, Desa Montong Terep, Kecamatan Praya, Lombok Tengah, involving 35 elderly participants. The methods of the activity included field observation, identification of partner problems and needs, senior citizen exercise, blood pressure checks, health education on hypertension and antihypertensive herbal medicine, as well as a demonstration of processing temulawak decoction as a herbal drink to lower blood pressure. The results of the activities show that participants followed the entire series of activities with enthusiasm and were active in both the education and demonstration sessions. The provision of health education has proven to increase the community's knowledge about hypertension, healthy lifestyles, and the use of traditional herbs as supportive therapy for blood pressure control. The demonstration of temulawak processing also helps participants understand how to make herbal drinks that can be independently applied at home. The SEHATI Education Program is expected to be a promotive and preventive effort in improving the health status of the elderly and encouraging community independence in maintaining health. Keywords: hypertension; elderly; health education; herbal; curcuma.
Pengaruh Pemberian Infundasi Sarang Burung Walet (Aerodramus Fuciphaga) terhadap Luka Bakar Derajat II-A pada Kelinci Baiq Leny Nopitasari; Muhammad Shivam Hadi; Nursela Hijriani
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 7, No 2 (2026): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v7i2.35512

Abstract

Luka bakar derajat II-A merupakan salah satu cedera kulit yang ditandai dengan kerusakan pada lapisan epidermis. Sarang burung walet (Aerodramus fuciphaga) dikenal memiliki kandungan bioaktif yang memiliki potensi mendukung proses regenerasi jaringan serta mempercepat epitelisasi. Tujuan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh infundasi sarang burung walet terhadap penyembuhan luka bakar derajat II-A pada model hewan kelinci (Oryctolagus cuniculus). Penelitian eksperimental ini dilakukan pada bulan Oktober–November 2024 dengan membandingkan kelompok perlakuan infundasi dua kali sehari dan tiga kali sehari dengan kontrol positif (silver sulfadiazine) serta kontrol negatif (aquades). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok dengan infundasi tiga kali sehari memiliki tingkat penyembuhan tertinggi (37,5%), diikuti oleh kelompok infundasi dua kali sehari (25%), kelompok silver sulfadiazine (20%), dan kelompok kontrol negatif (17,5%). Meskipun analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan antar kelompok, hasil tersebut tidak signifikan secara statistik (p>0,05). Kesimpulan pada penelitian ini yaitu pemberian ekstrak sarang burung walet 2 kali sehari dan 3 kali sehari menunjukkan tren penurunan diameter luka bakar derajat II-A yang lebih baik dibandingkan kontrol aquadest dan Silver Sulfadiazine hingga hari ke-12, dengan persentase penyembuhan tertinggi pada sarang burung walet 3 kali sehari (37,5%).
Hubungan Polifarmasi dengan Potensi Terjadinya Interaksi Obat pada Pasien Congestive Heart Failure (CHF) di RSUD Provinsi NTB Baiq Leny Nopitasari; Nursela Hijriani; Baiq Nurbaety; Baiq Lenysia Puspita Anjani
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 6, No 2 (2025): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v6i2.30878

Abstract

Pasien Congestive Heart Failure (CHF) umumnya menderita penyakit penyerta lain sehingga membutuhkan berbagai macam obat dalam terapinya atau disebut polifarmasi, yang berpotensi terjadi interaksi obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan polifarmasi dengan potensi interaksi obat. Desain penelitian menggunakan cross sectional dan pengambilan data secara retrospektif  periode bulan November - Desember 2023. Jumlah sampel sebanyak 30 sampel yang dianalisis menggunakan drug interactions checker (medscape) dan analisis statistik menggunakan Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan obat CHF terbanyak yaitu furosemid dan spironolakton (16,5%). Penggunaan obat Non-CHF terbanyak yaitu clopidogrel dan atorvastatin (24,1%). Adapaun, kejadian interaksi obat sebanyak  99% mengalami interaksi dibandingkan tidak berinteraksi. Mekanisme interaksi obat farmakodinamika (34,4%) lebih banyak dibandingkan farmakokinetika. Tingkat keparahan monitor (moderat) (96%) lebih banyak dibandingkan minor dan mayor. Kesimpulan yaitu tidak terdapat hubungan antara polifarmasi dengan potensi interaksi obat pada pasien CHF dengan nilai Sig sebesar 0,719 (p-value> 0,05) dan, nilai korelasi sebesar -0,037 yang berarti bahwa hubungan antara kedua variabel tersebut sangat lemah.
Evaluasi Kualitas Hidup Pasien Kanker Payudara Pengguna Kemoterapi di RSUD Provinsi NTB Baiq Lenysia Puspita Anjani; Cyntiya Rahmawati; Nursela Hijriani
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 6, No 2 (2025): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v6i2.32528

Abstract

Functional status changes may occur as side effects of chemotherapy in cancer patients, potentially reducing their quality of life. This study aimed to evaluate the quality of life of chemotherapy patients at the West Nusa Tenggara Provincial Hospital. An analytical observational method with a cross-sectional approach was used. Subjects were breast cancer patients aged ≥18 years undergoing chemotherapy. Quality of life was assessed using the FACT-G questionnaire, while demographic data and chemotherapy regimens were obtained from medical records. Data analysis included correlation tests for demographic variables and independent T-tests to compare quality of life scores across chemotherapy regimens. Results showed no significant correlation between chemotherapy regimens (TAC and AC) and variables such as age, treatment duration, occupation, education, or cancer stage (P>0.05). However, the number of treatment cycles was significantly correlated with the chemotherapy regimen (P<0.05). Patients receiving the AC regimen had higher average scores in social, emotional, and functional dimensions compared to those receiving TAC. In conclusion, there was no statistically significant difference in quality of life between the TAC and AC groups (P>0.05), though overall FACT-G scores indicated a better quality of life in patients treated with the AC regimen.