Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

UJI AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL DAUN MIMBA (Azadirachta Indica A. Juss) TERHADAP BAKTERI Stapylococus aureus Dan Escherichia coli ST.NURJANAH, MUHAMMAD FAISAL; Hendriyani , Irmatika; Azemi , Nuruluni; Suryani, Ade Irma
JOURNAL OF PHARMACEUTICAL (JOP) Vol. 3 No. 1 (2025): Journal of Pharmaceutical (JOP)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNIVERSITAS JENDERAL ACHMAD YANI YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/jop.v3i1.1591

Abstract

Background: Infectious diseases remain a health problem in developing countries, including Indonesia. Antibacterials are needed to inhibit or kill bacteria that cause infections. Neem leaves (Azadirachta indica A. Juss) are traditionally known to contain active compounds such as flavonoids, alkaloids, and tannins that have antibacterial potential. Several studies have shown that ethanol extracts of neem leaves are effective against bacteria such as Staphylococcus aureus and Escherichia coli. Objective:  The purpose of this study was to conduct phytochemical screening to determine the secondary metabolite content in mimba leaf extract and to test the antibacterial activity of 5%; 10%; 20%; 40%, and 80% ethanol extracts of mimba leaves against Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria. Method:  Mimba leaves were extracted using the maceration method with 96% ethanol solvent. Antibacterial activity was tested using the well diffusion method with treatments of 5%; 10%; 20%; 40%, and 80% groups and a negative control group using DMSO. Results:  The inhibition zone diameters of Staphylococcus aureus and Escherichia coli at a concentration of 5% were 1,2 mm and 2 mm respectively, while the inhibition zone diameters at a concentration of 80% were 17,4 mm and 16 mm respectively. Cunclusion:  Concentrations of mimba leaf extract of 5%; 10%; 20%; 40%; and 80% showed antibacterial activity against Staphylococcus aureus and Escherichia coli. The higher the concentration, the larger the diameter of the inhibition zone formed
Antibacterial Activity Test of Ethanol Extract of Palm Leaves (Catharantus roseus) Against Staphylococcus aureus and Escherichia coli Bacteria Fitriana, Yuli; Iradhatullah, Sri Putriani; Sugara, Taufan Hari; Hendriyani, Irmatika; Nurbaety, Baiq; Faisal, Muhammad
THRIVE Health Science Journal Vol. 2 No. 2 (2025): September
Publisher : Balai Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56566/thrive.v2i2.424

Abstract

Ethanol extract of virgin palm leaves (Catharantus roseus) contains active compounds that have potential as natural antibacterial. This study aims to test the antibacterial activity of the extract against Staphylococcus aureus and Escherichia coli bacteria. The leaves of the tread are extracted using the maceration method with a 70% ethanol solvent. The extraction results showed a yield of 6.1% and the identification of compound content showed the presence of alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, and phenols. The antibacterial test was carried out by disc diffusion method using concentrations of 60%, 80%, and 100%. Antibacterial activity was tested by calculating the resulting inhibition zones against both types of bacteria. The results showed that in Staphylococcus aureus bacteria, the concentration of 100% resulted in an inhibition zone of 11.66 mm which was classified as strong. In contrast, in Escherichia coli bacteria, the same concentration resulted in an inhibition zone of 2.66 mm which was in the weak category. This difference in effectiveness is due to the cell wall structure of gram-positive and gram-negative bacteria. The results of this study identified that ethanol extract of virgin leaves has a greater potential for gram-positive bacteria than gram-negative. The ethanol extract of virgin leaves demonstrated antibacterial activity against both Staphylococcus aureus and Escherichia coli, with stronger effects observed against S. aureus.
Sex education: meminimalisir penyakit menular seksual melalui peran aktif majelis kesehatan Dzun Haryadi Ittiqo; Anna Pradiningsih; Nurul Qiyaam; Baiq Leny Nopitasari; Muhammad Faisal; Ni Wayan Ari Adiputri; Gusti Ayu Puti Sri Erwinayanti; Intan Sri Hartanti; I Ketut Wisnu Arya Wiratama; Umul Mutmainah
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 4 (2025): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i4.33261

Abstract

AbstrakPendidikan seksual adalah keterampilan dan pengetahuan yang penting untuk diajarkan sejak dini kepada anak-anak, mengenai perilaku seksual, guna mempersiapkan mereka menghadapi perubahan seiring bertambahnya usia serta membentuk karakter dan pola perilaku agar mereka dapat menghindari risiko pelecehan seksual dan perilaku seksual menyimpang. Kegiatan pengabdian ini dilakukan pada di Aula Posyandu Lingkungan Pagesangan Indah, Kota Mataram. Pemilihan kelompok sasaran ditentukan dengan banyaknya remaja sekitar kampus. Kemudain tim menganalisa jumlah masyarakat pada lingkungan mitra sebagai target sasaran pengabdian masyarakat. Target sasaran kegiatan ini adalah Kepala Lingkungan, Kader Lingkungan, Dai kesehatan, Kepala RT dan Perwakilan Kampung Keluarga Berencana (KKB). Kegiatan deteksi dan edukasi terkait dengan sex education dalam meminimalisir IMS sangat bermanfaat untuk memberikan pemahaman kepada mitra terkait fenomena yang terjadi di masyarakat. Edukasi ini dimaksudkan untuk menekan angka paparan IMS. Kata kunci: sex education; infeksi menular seksual; mejelis kesehatan muhammadiyah AbstractSex education is an essential skill and knowledge that should be taught to children from an early age, focusing on sexual behavior, in order to prepare them for changes as they grow older and to help shape their character and behavior patterns so they can avoid the risks of sexual abuse and deviant sexual behavior. This community service activity was carried out at the Posyandu Hall in the Pagesangan Indah neighborhood, Mataram City. The target group was chosen based on the large number of adolescents living near the campus. The team then analyzed the population in the partner community area to determine the target of the community service. The target audience of this activity included the Neighborhood Head, Community Health Cadres, Health Preachers (Dai Kesehatan), Neighborhood Chiefs (RT Heads), and representatives from the Family Planning Village (KKB). The detection and education activities related to sex education aimed at minimizing sexually transmitted infections (STIs) were very beneficial in providing partners with understanding about phenomena occurring in society. This education is intended to reduce the incidence of STI exposure. Keywords: sex education; sexually transmitted infections (STI); muhammadiyah health council
Uji Analgesik Ekstrak Akar Tunjuk Langit (Helminthostachys zeylanica L.) Pada Mencit Putih Jantan (Mus musculus) Yuli Fitriana; Irmatika Hendriyani; Abdul Rahman Wahid; Rasmiwati Rasmiwati; Sri Putriani Iradhatullah; Muhammad Faisal; Baiq Nurbaety; Taufan Hari Sugara
Medika: Jurnal Ilmiah Kesehatan Vol. 5 No. 1 (2025): Medika: Jurnal Ilmiah Kesehatan
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69503/medika.v5i1.991

Abstract

Akar tunjuk langit (Helminthostachys zeylanica L.) merupakan salah satu tanaman yang dapat digunakan sebagai obat tradisional dimana di dalamnya terkandung senyawa-senyawa flavonoid, fenolik dan saponin yang mempunyai aktifitas biologis, diantaranya adalah efek analgetik dengan menghambat sintesis enzim siklooksigenase 2 (COX-2). Penelitian ini betujuan untuk mengetahui efek analgesik dari ekstrak Akar Tunjuk Langit (Helminthostachys zeylanica L.) pada Mencit putih jantan (Mus musculus). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental Laboratorium dengan menggunakan 28 ekor Mencit putih jantan yang terbagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok kontrol positif (Asam Mefenamat), kontrol negatif (CMC- Na 0,5%), kontrol base line (minum add libitum) dan kelompok perlakuan ekstrak akar tunjuk langit dengan variasi dosis yaitu 100, 200 dan 300 mg/kgBB secara peroral, setelah 30 menit diberikan rangsangan kimia asam asetat 0,5 ml secara intraperitoneal. Pengujian dilakukan selama 3 hari. Parameter yang diamati adalah geliat mencit tiap 5 menit selama 60 menit. Data yang diperoleh dianalisis secara statistik dengan One- S Kolmogorov-Smirnov test, One Way Anova dan Post Hoc test (LSD) dengan taraf kepercayaan 95%. Hasil skrining fitokimia ekstrak akar tunjuk langit didapat bahwa pada pengujian metabolit sekunder flavonoid, saponin dan fenol menunjukkan hasil positif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen daya analgetik dosis 100 mg/kgBB (25,77% ± 2,56), dosis 200 mg/kgBB (24,04% ± 0,78), dosis 300 mg/kgBB (29,18% ± 5,71) dan dosis Asam Mefenamat (58,48% ± 3,54). Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa ekstrak akar tunjuk langit dosis 300 mg/KgBB merupakan dosis terbaik sebagai analgetik dalam menurunkan nyeri pada mencit yang diinduksi asam asetat dengan nilai 29,18% ± 5,71 proteksi tetapi berbeda signifikan dengan dosis Asam Mefenamat.
Pemberdayaan generasi Z melalui edukasi dan pembuatan reed diffuser aromaterapi herbal untuk meningkatkan kenyamanan dan kebersihan lingkungan Muhammad Faisal; Baiq Leny Nopitasari; Eryona Azizun Rosyida; Sintha Puspitasari; Nabila Vidia Utami; Nanda Syahmila Maulida; Doni Hardani; Dedi Arjuna Saputra
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 3 (2026): June
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i3.39595

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan higienis sebagai faktor pendukung konsentrasi, motivasi, dan kesejahteraan psikologis siswa Generasi Z. Hasil observasi di SMK Negeri 3 Mataram menunjukkan bahwa beberapa ruang kelas masih terasa pengap akibat ventilasi yang kurang optimal serta rendahnya literasi siswa terkait pemanfaatan bahan alam untuk mendukung higiene lingkungan. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan siswa dalam pembuatan reed diffuser aromaterapi herbal sebagai upaya menciptakan lingkungan belajar yang lebih nyaman, sehat, dan segar. Peserta kegiatan berjumlah 25 siswa. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif-partisipatif berbasis learning by doing yang meliputi penyuluhan interaktif, demonstrasi, praktik langsung pembuatan reed diffuser aromaterapi herbal, serta evaluasi melalui pre-test dan post-test. Penilaian keterampilan peserta dilakukan melalui observasi selama praktik berlangsung. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan siswa terkait higiene lingkungan dan pemanfaatan aromaterapi herbal, ditandai dengan meningkatnya nilai post-test dibandingkan pre-test sebesar 20%. Secara kuantitatif, sebagian besar peserta mampu membuat reed diffuser secara mandiri sesuai prosedur yang diajarkan. Secara kualitatif, kegiatan ini meningkatkan kesadaran siswa terhadap pentingnya menjaga kenyamanan dan kebersihan lingkungan sekolah berbasis bahan alam. Produk reed diffuser yang dihasilkan juga dimanfaatkan di ruang kelas untuk mendukung suasana belajar yang lebih nyaman dan menyegarkan. Program ini memberikan pengalaman belajar yang kreatif, aplikatif, serta berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan kewirausahaan sederhana di lingkungan sekolah. Kata kunci: aromaterapi herbal; generasi Z; higiene lingkungan; reed diffuser; sekolah sehat. Abstract This community service activity was motivated by the importance of creating a comfortable and hygienic learning environment as a supporting factor for the concentration, motivation, and psychological well-being of Generation Z students. Observations conducted at SMK Negeri 3 Mataram revealed that several classrooms still felt stuffy due to inadequate ventilation and the low level of students’ literacy regarding the utilization of natural materials to support environmental hygiene. This activity aimed to improve students’ knowledge and skills in producing herbal aromatherapy reed diffusers as an effort to create a more comfortable, healthy, and refreshing learning environment. The participants consisted of 50 students. The implementation method employed an educative-participatory approach based on learning by doing, which included interactive counseling sessions, demonstrations, hands-on practice in making herbal aromatherapy reed diffusers, and evaluation through pre-test and post-test assessments. Participants’ skills were assessed through direct observation during the practice sessions. The results showed an improvement in students’ knowledge regarding environmental hygiene and the use of herbal aromatherapy, indicated by a 20% increase in post-test scores compared to pre-test scores. Quantitatively, most participants were able to independently produce reed diffusers according to the procedures taught. Qualitatively, this activity increased students’ awareness of the importance of maintaining a comfortable and clean school environment using natural-based products. The reed diffusers produced were also utilized in classrooms to support a more pleasant and refreshing learning atmosphere. This program provided a creative and practical learning experience and has the potential to be further developed into a simple entrepreneurship activity within the school environment. Keywords: herbal aromatherapy; generation Z; environmental hygiene; reed diffuser; healthy school.