Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

MORPHOSYNTACTIC OF STUDENTS’ WRITING THROUGH SOCIOLINGUISTICS APPROACH IN A HIGHER ISLAMIC EDUCATION Inayatul Mukarromah
Qolamuna : Jurnal Studi Islam Vol. 6 No. 1 (2020): Juli 2020
Publisher : STIS MIFTAHUL ULUM LUMAJANG PRESS (STISMU PRESS)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract The purpose of this research is to examine of writing, morphology, syntax and also sociolinguistics, especially to the micro and macro linguistics competences to their writing. This method used the combination method of design based research. It is used the theory of Hodley and Reeves The finding result is that 75 % until 85 % students needed material design. More than 60 % students still get mistakes to their writing included inflection and most of them are still less of their knowledge and experience related to the sociolinguistics aspects. The conclusion is that material design is a good solution to assist and overcome students’ writing ability. Keywords : Morphosyntactic, sociolinguistics, inflection, Writing, Material Design
الخطاء اللغوي: التدخل في التعبير الشفوي لدى الطلاب بمركز اللغة العربية في المعهد القادري الإسلامي جمبر M.Hari Zakiyudin; Inayatul Mukarromah; Nur Hasan
FASHOHAH Vol 2, No 1 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.579 KB)

Abstract

Arabic learners often encounter obstacles in the form of interference from their mother tongue or the first language they master. This is one of the consequences of using the mother tongue too often in daily conversation and is included as one of the language errors. This study aims to (1) determine the process of language interference in Arabic against students in the Arabic language learning center area at the Al-Qodiri Islamic Boarding School Jember, (2) find out the types of language interference. This research uses descriptive qualitative research to get the results the researcher wants. The results of this study indicate that there are 3 types of language interference, namely: arrangement interference, morphological interference (prefix-infic-suffix) and syntactic interference (grammatical).
الخطاء اللغوي: التدخل في التعبير الشفوي لدى الطلاب بمركز اللغة العربية في المعهد القادري الإسلامي جمبر M.Hari Zakiyudin; Inayatul Mukarromah; Nur Hasan
Fashohah : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa Arab Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa Arab Fakultas Agama Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/fsh.v2i1.14362

Abstract

ABSTRACT Arabic learners often encounter obstacles in the form of interference from their mother tongue or the first language they master. This is one of the consequences of using the mother tongue too often in daily conversation and is included as one of the language errors. This study aims to (1) determine the process of language interference in Arabic against students in the Arabic language learning center area at the Al-Qodiri Islamic Boarding School Jember, (2) find out the types of language interference. This research uses descriptive qualitative research to get the results the researcher wants. The results of this study indicate that there are 3 types of language interference, namely: arrangement interference, morphological interference (prefix-infic-suffix) and syntactic interference (grammatical).
Language Variations for Tourism Sectors around of English and Dutch Colonial Buildings: Sociolinguistics and Ethnolinguistics Studies Inayatul Mukarromah; Sitti Zulaihah
Ranah: Jurnal Kajian Bahasa Vol 12, No 1 (2023): Ranah: jurnal Kajian Bahasa
Publisher : Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/rnh.v12i1.4666

Abstract

The purpose of this research is to know the language variations through Sociolingustics and ethnolinguistics studies in the English heritage and colonial building areas. The approach used in this research is qualitative. The strategy of in this research designed by combining the qualitative research design from Lincoln (2003) with the descriptive qualitative research design from Permadi (2013). The research results in the emergence of code-mixing and code-switching in society. There are several languages are spread in those cultural heritage, such as: Chinese, Melayu, Arabic, Bugis, Maduresse and Indonesia. While, Banyuwangi has Oseng Language.Thus, the conclusion that it is necessary to understand the potential of the language used in society. In this case, not only the text but its use in social and cultural contexts because language does not only depend on its social aspects in the sense of how language is used in social contexts and culture but then how language finally can be an additinaol potention to support colonial tourism destination in Banyuwangi.  AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui variasi bahasa melalui pendekatan sosiolingusitik dan ethnolingusitik di Kawasan cagar budaya Inggrisan dan dua bangunan kolonial. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif. Strategi yang digunakan dalam penelitian ini dirancang dengan mengkomibansi antara desain penelitian kualitatif dari Lincoln (2003) dan desain kualitatif deskriptif Permadi (2013).  Hasil penelitian yang didapat bahwa terdapat campur kode dan alih kode dalam kehidupan di masyarakat. Ada beberapa bahasa yang tersebar dalam warisan budaya tersebut, seperti: Cina, Melayu, Arab, Bugis, Madura dan Indonesia. Dengan demikian, kesimpulan dalam penelitian ini adalah perlunya memahami potensi bahasa yang digunakan dalam masyarakat. Dalam hal ini, bukan hanya teksnya tetapi penggunaannya dalam konteks sosial dan budaya karena bahasa tidak hanya bergantung pada aspek sosial dan budaya saja tetapi bagaimana bahasa kemudian bisa dijadikan sebagai potensi tambahan untuk menunjang destinasi pariwisata kolonial di Banyuwangi.  
Pengembangan Pariwisata Melalui Pokdarwis dalam Persepektif Ethnolinguitik di Desa Tambong Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi Inayatul Mukarromah; Habbibatur Rohmah
Ngarsa: Journal of Dedication Based on Local Wisdom Vol. 3 No. 1 (2023): Ngarsa: Journal of Dedication Based on Local Wisdom
Publisher : LP2M UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/ngarsa.v3i1.313

Abstract

Fakta Secara Empiris bahwa rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pariwisata sehingga mereka tidak tertarik untuk mengembangkan potensi wisata di desanya. Masyarakat belum bisa memahami bahwa dengan mengembangkan potensi wisata di desanya bisa memberikan dampak positif bagi perekonomian mereka. Tujuan dalam penelitian yaitu Pengembangan Pariwisata Melalui Pokdarwis Di Desa Tambong Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi Pendekatan Ethnolinguitik Di Masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan model Ethnolinguitik. Pendekatan etnolinguistik adalah pendekatan yang dilakukan dimana peneliti juga terkadang tinggal di desa Tambong, berkumpul dengan warga, berdiskusi dengan bahasa oseng yang mereka gunakan dalam kesehariannya , mengikuti rutinitas warga dan lainnya. Terdapat tiga kesimpulan antara lain; 1) Langkah Pokdarwis desa Tambong dalam mengembangkan desa wisata yaitu mengadakan adannya pendampingan khusus baik dari Pokdarwis Desa Tambong, Asosiasi Pokdarwis Kabupaten, Disbudpar kabupaten yang membidangi ekonomi kreatif dan destinasi serta budaya, pendampingan dengan para akademisi dari dosen yang kompeten. Pendampingan akademisi dilaksanakan melalui MOU antara desa dan lembaga perguruan Tinggi yang dituju. 2) Hambatan Pokdarwis dalam pengembangan desa wisata di desa Tambong antara lain; a) belum terlaksana pembangunan destinasi wisata secara maksimal, b) kurang solidnya kepengurusan Pokdarwis itu sendiri, c) belum adanya kematangan dan kedewasaan dalam berorganisasi, d) terlalu banyak konsep yang diwacanakan untuk membangun desa wisata sehingga lokus utama untuk pembanguan destinasi wisata baik jangka pendek, menengah, panjang belum jelas, e) minimnya SDM masyarakat terhadap kesadaran wisata, f) belum adanya Perdes yang mengikat untuk menguatkan keorganisasian Pokdarwis, 3) Upaya yang dilakukan Pokdarwis dalam menghadapi hambatan pengembangan destinasi wisata adalah menjalin kolaborasi dengan para pengusaha-pengusaha kelompok ekonomi mikro, para petani, pengrajin yang berada di desa setempat, investor lainnya, pemerintah, masyarakat serta Perguruan Tinggi. Kata Kunci: Pengembangan Pariwista; Pokdarwis Ethnolinguistic The empirical fact is that the community has low knowledge about tourism, so they are not interested in developing tourism potential in their village. People have not been able to understand that developing tourism potential in their village can have a positive impact on their economy. The research aims to develop Tourism through Pokdarwis in Tambong Village Kabat District Banyuwangi Ethnolinguitik approach in the community. This study used qualitative methods. This research approach uses an ethnographic approach with an Ethnolinguistic model. The ethnolinguistic approach is an approach that is done where researchers also sometimes live in Tambong village, gather with residents, discuss using language they use in their daily lives, and follow the routine of residents and others. There are three conclusions among others: 1) step Pokdarwis Tambong Village in developing village tourism is to hold special assistance from Pokdarwis Tambong Village, Pokdarwis District Association, Disbudpar district in charge of creative economy and destinations as well as culture, assistance with academics from competent lecturers. Academic service is carried out through an MOU between the village and the intended higher education institution. 2) Pokdarwis obstacles in the development of tourist villages in Tambong village, among others; a) the development of tourist destinations has not been implemented to the maximum, b) the lack of solid management of the Pokdarwis itself, c) the lack of maturity and maturity in organization, d) too many concepts are discussed to build tourist villages so that the primary locus for the development of tourist destinations in the short, medium, long term is not precise, e) the lack of, 3) the efforts made by Pokdarwis in dealing with obstacles to the development of tourist destinations are to collaborate with entrepreneurs from microeconomic groups, farmers, artisans in local villages, other investors, governments, communities and universities. Keywords: Tourism Development; Pokdarwis; Ethnolinguistic
Pembelajaran Bahasa Arab di Mahad Sunan Ampel Al-Aly melalui pendekatan sosiolinguistik Asshiddiqi, Akhmad Irsyad; Mukarromah, Inayatul
Aksara: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 24, No 1 (2023): AKSARA: Jurnal Bahasa dan Sastra
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/aksara/v24i1.pp72-84

Abstract

The purpose of writing this article is to describe the process of forming the language environment in Mahad Sunan Ampel Al-Aly from a sociolinguistic perspective and describe the inhibiting factors for the formation of a linguistic environment in Mahad Sunan Ampel Al-Aly from the perspective of behavioral learning theory. In this writing, the writer uses a qualitative approach with descriptive writing types. There are three data collection tools used, namely: interviews, observation, and documentation. The results of writing are as follows: 1) The process of forming a language environment in Mahad Sunan Ampel Al-Aly in terms of sociolinguistics consists of memorizing vocabulary and assembling it into sentences, and getting used to using language in everyday life. 2) The inhibiting factors for the formation of the linguistic environment in Mahad Sunan Ampel Al-Aly in terms of sociolinguistics are environmental conditions that are still not supportive, many student activities are carried out outside the mahad. The author's suggestion for Mahad Sunan Ampel Al-Aly is that in order for the formation of the language environment to be more optimal, it is necessary to hold penalties for students who do not follow the rules that have been set. because basically language learning based on speaking skills depends on the habits of students to speak, a teacher must force his students to speak the language being studied. because by being forced, students will get used to it.Keywords: language learning, sociolinguistics, language environment
Linguistik dan Heritage Tourism bagi Bisnis Ekonomi Kemasyarakatan di Banyuwangi Mukarromah, Inayatul; Masrohatin, Siti; Amalia, Radella
AKM Vol 5 No 2 (2025): AKM : Aksi Kepada Masyarakat Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat - Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah (STEBIS) Indo Global Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36908/akm.v5i2.1236

Abstract

Banyuwangi memiliki Potensi sumberdaya manusianya juga sangat tinggi khususnya dalam mengembangkan sektor pariwisata. Hal ini juga senada dengan apa yang ditulis oleh peneliti tentang Sumber daya manusia yang tergolong sangat kompeten dalam mengelola perkembangan destinasi wisata di Banyuwangi. Keunikan Kawasan Perkebunan bangunan kolonial adalah Kawasan terbentang di Kabupaten Banyuwangi juga merupakan warisan Sejarah termasuk kolonial yang harus dilestarikan. Isu-isu dapat diambil gap bahwa pendekatan Bahasa yang diterima dan dipahami oleh Masyarakat, pemerintah, stakeholder, Masyarakat dan swasta melalui pendekatan Bahasa , Tingkat social dan budaya yang diterima oleh semua pihak. Tulisan ini menguraikan program Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang dilakukan oleh penulis dengan obyek para Linguistik dalam mengakomodasi tenaga pemandu wisata Sejarah. Model pendekatan Linguistik untuk mengkonsep bentuk Exploring Heritage Tourism Such as Herirage Colonial di Banyuwangi.Peran Bahasa secara sosial dan bufdaya dari Masyarakat, pemerintah, Asosiasi, ADM, Perkebunan, Sejarawan, pelaku wisata terhadap cagar budaya dan Kawasan bersejarah khususnya di Kawasan Banyuwangi. Juga mengenai fenomena symbol-simbol Bahasa yang didapat di Cagar Budaya Alam (CGB) dan Kawasan Sejarah khususnya Kawasan kolonial di Banyuwangi.
Pengembangan Pariwisata Melalui Pokdarwis dalam Persepektif Ethnolinguitik di Desa Tambong Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi Mukarromah, Inayatul; Rohmah, Habbibatur
Ngarsa: Journal of Dedication Based on Local Wisdom Vol. 3 No. 1 (2023): Ngarsa: Journal of Dedication Based on Local Wisdom
Publisher : LP2M UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/ngarsa.v3i1.313

Abstract

Fakta Secara Empiris bahwa rendahnya pengetahuan masyarakat tentang pariwisata sehingga mereka tidak tertarik untuk mengembangkan potensi wisata di desanya. Masyarakat belum bisa memahami bahwa dengan mengembangkan potensi wisata di desanya bisa memberikan dampak positif bagi perekonomian mereka. Tujuan dalam penelitian yaitu Pengembangan Pariwisata Melalui Pokdarwis Di Desa Tambong Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi Pendekatan Ethnolinguitik Di Masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pendekatan penelitian ini menggunakan pendekatan etnografi dengan model Ethnolinguitik. Pendekatan etnolinguistik adalah pendekatan yang dilakukan dimana peneliti juga terkadang tinggal di desa Tambong, berkumpul dengan warga, berdiskusi dengan bahasa oseng yang mereka gunakan dalam kesehariannya , mengikuti rutinitas warga dan lainnya. Terdapat tiga kesimpulan antara lain; 1) Langkah Pokdarwis desa Tambong dalam mengembangkan desa wisata yaitu mengadakan adannya pendampingan khusus baik dari Pokdarwis Desa Tambong, Asosiasi Pokdarwis Kabupaten, Disbudpar kabupaten yang membidangi ekonomi kreatif dan destinasi serta budaya, pendampingan dengan para akademisi dari dosen yang kompeten. Pendampingan akademisi dilaksanakan melalui MOU antara desa dan lembaga perguruan Tinggi yang dituju. 2) Hambatan Pokdarwis dalam pengembangan desa wisata di desa Tambong antara lain; a) belum terlaksana pembangunan destinasi wisata secara maksimal, b) kurang solidnya kepengurusan Pokdarwis itu sendiri, c) belum adanya kematangan dan kedewasaan dalam berorganisasi, d) terlalu banyak konsep yang diwacanakan untuk membangun desa wisata sehingga lokus utama untuk pembanguan destinasi wisata baik jangka pendek, menengah, panjang belum jelas, e) minimnya SDM masyarakat terhadap kesadaran wisata, f) belum adanya Perdes yang mengikat untuk menguatkan keorganisasian Pokdarwis, 3) Upaya yang dilakukan Pokdarwis dalam menghadapi hambatan pengembangan destinasi wisata adalah menjalin kolaborasi dengan para pengusaha-pengusaha kelompok ekonomi mikro, para petani, pengrajin yang berada di desa setempat, investor lainnya, pemerintah, masyarakat serta Perguruan Tinggi. Kata Kunci: Pengembangan Pariwista; Pokdarwis Ethnolinguistic The empirical fact is that the community has low knowledge about tourism, so they are not interested in developing tourism potential in their village. People have not been able to understand that developing tourism potential in their village can have a positive impact on their economy. The research aims to develop Tourism through Pokdarwis in Tambong Village Kabat District Banyuwangi Ethnolinguitik approach in the community. This study used qualitative methods. This research approach uses an ethnographic approach with an Ethnolinguistic model. The ethnolinguistic approach is an approach that is done where researchers also sometimes live in Tambong village, gather with residents, discuss using language they use in their daily lives, and follow the routine of residents and others. There are three conclusions among others: 1) step Pokdarwis Tambong Village in developing village tourism is to hold special assistance from Pokdarwis Tambong Village, Pokdarwis District Association, Disbudpar district in charge of creative economy and destinations as well as culture, assistance with academics from competent lecturers. Academic service is carried out through an MOU between the village and the intended higher education institution. 2) Pokdarwis obstacles in the development of tourist villages in Tambong village, among others; a) the development of tourist destinations has not been implemented to the maximum, b) the lack of solid management of the Pokdarwis itself, c) the lack of maturity and maturity in organization, d) too many concepts are discussed to build tourist villages so that the primary locus for the development of tourist destinations in the short, medium, long term is not precise, e) the lack of, 3) the efforts made by Pokdarwis in dealing with obstacles to the development of tourist destinations are to collaborate with entrepreneurs from microeconomic groups, farmers, artisans in local villages, other investors, governments, communities and universities. Keywords: Tourism Development; Pokdarwis; Ethnolinguistic
Linguistics for Tourism by the Concepts of Halal, Hygienic and Health through H2S Labelling in Banyuwangi Inayatul Mukarromah Mukarromah; Moch Chotib Chotib
SAWERIGADING Vol 30, No 2 (2024): Sawerigading, Edisi Desember 2024
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v30i2.1398

Abstract

AbstrakPariwisata H2S merupakan perwujudan dari kompilasi pariwisata ramah Muslim atau pariwisata halal dengan CHSE (Cleanliness, Health, Safety and Environmental Sustainability) , Serta Saptapesoan . Fenomena baru dalam dunia pariwisata halal mulai dikembangkan di beberapa wilayah di dunia bahkan di beberapa negara. Wisata halal yang mengandung bersih, sehat, aman merupakan wisata yang pada pelaksanaannya mengacu pada syariat Islam, baik itu berupa akomodasi, atraksi wisata, dan objek wisata itu sendiri. Sehingga dari fenomena isu tersebut maka pemerintah kabupaten Banyuwangi membangun kembali yang awalnya pariwisata Syariah di tahun 2017 di tahun 2023 ini menjadi pariwisata H2S.  Tahapan-tahapannya meliputi persiapan, perumusan, pengembangan, perhatian dan kepedulian terhadap wisata H2S di kota Banyuwangi.Diperlukan sebuah strategi pendekatan ilmu bahasa sosiopragmatik dan semiotik karena ketiga pendekatan tersebut mampu membangun perhatian dan kepedulian di kalangan para pemangku kepentingan termasuk masyarakat, pelaku wisata dan wisatawan.  Tujuan penelitian ini; pertama, merumuskan kalimat yang sesuai dalam merumuskan kata, perasa bahkan kalimat kedalam  bentuk bahasa cek list atas ketersediaan fasilitas H2S, kedua   merumuskan Simbol- simbol labelling H2S pada hotel, restaurant dan destinasi wisata yang ada di Banyuwangi.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif melalui pendekatan kualitatif empiris dan bermakna. Desain penelitian ini adalah pengumpulan data berasal dari dua sumber, yaitu data lapangan dan data dokumen; data internal diperoleh dari hasil penelitian dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, Lembaga Penjamin Halal UIN Khas Jember, Halal Center UIN KHAS Jember, dan Fatwa Majlis Ulama Indonesia. Sedangkan data eksternal diperoleh dari hotel, restoran, warung, dan destinasi wisata di Banyuwangi. Waktu pelaksanaan dibagi menjadi cross-sectional dan kombinasi time series.Novelty dari penelitian ini pariwisata H2S ini diharapkan bisa menjadi role model atau pilot project dengan tujuan untuk meningkatkan sektor ekonomi di Banyuwangi khususnya dan bisa menjadi ikon percontohan di wilayah lainnya bahkan dalam skala nasional 
Analysis The Factors Affecting The Use English of Week in The Islamic Boarding School Environment; Social Phenomena at Baitul Arqom Islamic Boarding School Jember Vera Setyawati, Anik; Mukarromah, Inayatul; Qomariyah, Dewi Nurul
IJIE International Journal of Islamic Education Vol. 4 No. 2 (2025): List of Contents
Publisher : Pascasarjana UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/ijie.v4i2.2450

Abstract

The use of English in Islamic boarding schools has become a crucial aspect of contemporary language education, as these schools aim to combine religious teachings with global communication skills. In this framework, English learning is interwoven with moral and spiritual values, shaping students who are both proficient in the language and ethically responsible. One key initiative is the English Week Program (EWP), which provides an immersive environment for practicing English. Despite this, students often struggle to maintain consistent use of English due to linguistic, psychological, and environmental barriers. This study explored the factors hindering the EWP at Baitul Arqom Islamic Boarding School, Balung, Jember, and examined strategies to improve students’ English practice. Employing a qualitative descriptive method, data were gathered through observations, interviews, and documentation involving six English coordinators and ten female students. Analysis was conducted through data reduction, display, and conclusion drawing, with validity ensured via source and technique triangulation. Findings identified obstacles such as limited vocabulary, pronunciation difficulties, low confidence, fear of errors, dominance of Arabic, insufficient exposure to English, inconsistent supervision, few mentors, and a punitive system causing psychological stress. Recommended strategies included structured weekly activities, role modeling by teachers and senior students, integration of moral and linguistic lessons, supportive monitoring, positive reinforcement, and diary-writing exercises to enhance engagement in both spoken and written English.