Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Futurologi Bahasa Aceh: Kajian Arkais dan Ancaman Kepunahan dalam Perspektif Linguistik dan Budaya Istiqamah Istiqamah; Hayatul Muna; Naufa Rayluna; Nurfadilla Nurfadilla
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SPECIAL EDITION: LALONGET VI
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.vi.21666

Abstract

This study explores the future of the Acehnese language through a linguistic futurology lens, focusing on the existence of archaic vocabulary as both a linguistic heritage and an indicator of language endangerment. Rich in historical, cultural, and local identity values, the Acehnese language is experiencing decline due to weakened intergenerational transmission, the dominance of national and global languages, and the lack of preservation policies. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through observations, interviews, and questionnaires involving 25 native speakers. The findings identified 82 archaic words categorized into nouns, verbs, and adjectives, reflecting traditional activities, local culture, and human–nature relationships. Based on UNESCO’s language vitality indicators, Acehnese is classified as vulnerable. The threats include decreased usage in public and digital spaces, limited documentation and educational resources, and shifting language attitudes. This study highlights the urgency of revitalizing the Acehnese language through educational integration, comprehensive documentation, and sustainable preservation policies to maintain regional languages as an essential part of national cultural identity.
TOPONIMI KAMPUNG DI KABUPATEN ACEH UTARA: SEJARAH DAN STRUKTUR BAHASA Istiqamah; Hayatul Muna
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 20 No 1 (2024)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/w4e43208

Abstract

ABSTRAK: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan toponimi kampung di Kabupaten Aceh Utara yang ditinjau dari sejarah/asal usul dan struktur bahasa. Metode penelitian ini termasuk penelitian kualitatif dengan menggunakan jenis penelitian deskriptif. Dalam penelitian ini, menggunakan teknik pengumpulan data berupa wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah mereduksi data, menyajikan data, dan menarik simpulan. Uji keabsahan data dilakukan dengan uji kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Toponimi kampung di kabupaten Aceh Utara ditemukan beberapa kategori, yaitu 1) berdasarkan unsur air, artinya nama kampung yang maknanya berhubungan dengan air, yakni kampung Laga Baro, 2) unsur geografis, , artinya nama kampung yang maknanya berhubungan dengan rupabumi, yakni: Kampung Bluka Teubai, Meunasah Kulam, Ulee Barat, Cot Seumiyong, Lhok Jok, dan Cot U Sibak, 3) lingkungan alam, yang terdiri dari: a) tumbuhan, yakni; kampung Geulumpang Sulu Timu, Meuria, Uteuen Geulinggang, Bangka Jaya, Kuta Glumpang, Beuringen, Murong, Mancang, b) tempat atau bangunan, yakni: Lancang Barat, Meunasah Blang c) kondisi alam, yakni: Krueng Mate, Bintang Hu, dan d) letak arah mata angin, yakni: Lancang Barat, Geulumpang Sulu Timu, terakhir 4) unsur budaya, artinya nama kampung yang maknanya berhubungan dengan aspek kebudayaan dalam masyarakat, yakni Kampung Guha Uleu. Sebaliknya, pola pembentukan nama kampung banyak ditemukan dalam bentuk polimorfemik, seperti Bintang Hu, Meunasah Mancang, Cot U sibak dan lain sebagainya. Dengan perolehan data tersebut dapat disimpulkan bahwa toponimi beberapa kampung di aceh utara memiliki 4 kategori unsur dan memiliki pembentukan kata secara morfologis.
Futurologi Bahasa Aceh: Kajian Arkais dan Ancaman Kepunahan dalam Perspektif Linguistik dan Budaya Istiqamah Istiqamah; Hayatul Muna; Naufa Rayluna; Nurfadilla Nurfadilla
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia SPECIAL EDITION: LALONGET VI
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.vi.21666

Abstract

This study explores the future of the Acehnese language through a linguistic futurology lens, focusing on the existence of archaic vocabulary as both a linguistic heritage and an indicator of language endangerment. Rich in historical, cultural, and local identity values, the Acehnese language is experiencing decline due to weakened intergenerational transmission, the dominance of national and global languages, and the lack of preservation policies. Using a descriptive qualitative approach, data were collected through observations, interviews, and questionnaires involving 25 native speakers. The findings identified 82 archaic words categorized into nouns, verbs, and adjectives, reflecting traditional activities, local culture, and human–nature relationships. Based on UNESCO’s language vitality indicators, Acehnese is classified as vulnerable. The threats include decreased usage in public and digital spaces, limited documentation and educational resources, and shifting language attitudes. This study highlights the urgency of revitalizing the Acehnese language through educational integration, comprehensive documentation, and sustainable preservation policies to maintain regional languages as an essential part of national cultural identity.