Meril Valentine Manangkot
Universitas Udayana

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

GAMBARAN KESELAMATAN BERSELANCAR OLEH PEMANDU SURFING DI PANTAI KUTA BALI Aulia Zahra; I Gusti Ngurah Juniartha; I Kadek Saputra; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p13

Abstract

Pantai Kuta merupakan destinasi wisata surfing yang merupakan salah satu daya tarik para wisatawan berkunjung ke Bali. Namun di samping daya tariknya, tidak sedikit laporan mengenai adanya kecelakaan-kematian saat wisatawan melakukan surfing. Terjadinya kejadian kecelakaan surfing yang mengakibatkan cedera fisik bahkan sampai kematian di Pantai Kuta. Untuk mencegah hal tersebut, dibutuhkan keterlibatan bystander salah satunya pemandu surfing. Pemandu surfing wajib memiliki pengetahuan yang luas tentang olahraga berselancar, kondisi di lokasi berselancar, serta pengetahuan tentang pertolongan pertama saat terjadi kecelakaan. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran pengetahuan keselamatan berselancar oleh pemandu surfing di Pantai Kuta, Bali dan memang belum pernah ditemukan pada penelitian terdahulu. Pemandu selancar memiliki peran penting dalam memastikan keselamatan dan pengalaman yang menyenangkan bagi peselancar. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif deskriptif dan pendekatan cross-sectional dengan jumlah sampel 52 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Metode penelitian menggunakan teknik wawancara dan pengisian kuesioner. Skor hasil dikategorikan dalam tingkat rendah, cukup, dan tinggi. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan para pemandu surfing dalam kategori tinggi (100%). Peneliti selanjutnya yang ingin meneliti dengan topik yang serupa, dapat menambahkan komponen penelitian yang mengarah pada pengembangan intervensi yang dapat meningkatkan pengetahuan pemandu surfing atau bisa mengkaji faktor internal dengan indepth interview dalam penelitian kualitatif.
TANTANGAN LEGAL DAN ETIK DALAM ASUHAN KEPERAWATAN KRITIS UNTUK WISATAWAN ASING TANPA IDENTITAS JELAS: LITERATURE REVIEW Ni Putu Dewi Meliantini; Made Oka Ari Kamayani; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i01.p13

Abstract

Pelayanan keperawatan kritis, khususnya di unit perawatan intensif (ICU), menuntut respon cepat, akurat, dan empati, terutama saat pasien dalam kondisi tiba-tiba mengalami penurunan kesadaran yang membutuhkan perawatan intensif dan tidak memiliki dokumen identitas. Ketika pasien tersebut adalah wisatawan asing tanpa identitas jelas, muncul berbagai dilema legal dan etik. Penelitian ini bertujuan menganalisis tantangan hukum dan etika dalam asuhan keperawatan kritis pada pasien asing tak dikenal di ICU. Metode yang digunakan adalah systematic literature review dari jurnal yang sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil menunjukkan bahwa masalah utama meliputi informed consent darurat, perlindungan hukum terhadap tenaga kesehatan, ketiadaan protokol tetap, dan konflik antara prinsip etik dan aturan legal. Simpulan menunjukkan urgensi pembentukan pedoman nasional dan pelatihan etik-hukum khusus bagi perawat ICU.
PRE-TRAVEL HEALTH: SELF-MANAGEMENT PADA WISATAWAN DENGAN ASMA Ni Wayan Deva Diah Hariani; Made Oka Ari Kamayani; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 1 (2025): Februari 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i01.p09

Abstract

Wisata merupakan aktivitas, pelayanan, dan produk hasil industri pariwisata yang mampu menciptakan pengalaman perjalanan bagi wisatawan. Wisata yang paling banyak digemari oleh wisatawan adalah wisata alam / ekowisata. Salah satu lokasi wisata alam yang tinggi pengunjung / peminat adalah wisata dataran tinggi seperti pegunungan, bukit. Karakteristik dari dataran tinggi yaitu dataran yang terletak pada ketinggian di atas 200 mdpl, dengan suhu 23-28˚C dan beriklim lembab. Wisatawan yang berwisata ke dataran tinggi berisiko mengalami beberapa masalah kesehatan yaitu sesak nafas karena suhu yang dingin. Penderita asma berisiko mengalami kekambuhan ketika berwisata terutama berwisata ke dataran tinggi. Sebelum melakukan wisata hendaknya mempersiapkan diri sebelum melakukan perjalanan wisata atau disebut dengan pre-travel health consultation. Kegiatan ini merupakan proses penilaian berbasis risiko yang memberikan panduan untuk memprioritaskan dan menyesuaikan perawatan kesehatan pra-perjalanan dengan rencana perjalanan, risiko, dan kebutuhan wisatawan. Self-management merupakan suatu perilaku yang dilakukan secara mandiri oleh penderita untuk mengelola dan mengendalikan gejala asma untuk mencegah eksaserbasi. Komponen self-management pre-travel pada penderita asma terdiri dari Plan Before Trip, Packing for trip, During Trip.
PENGARUH PEMBERIAN EDUKASI PENCEGAHAN BUNUH DIRI (PBD) TERHADAP SELF-AWARENESS REMAJA DI SMAN 1 DAWAN Gusti Ayu Putu Mira Trisnayanthi; Ni Made Dian Sulistiowati; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 13 No. 2 (2025): April 2025
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2025.v13.i02.p01

Abstract

Bunuh diri adalah tindakan melukai diri sendiri dengan sengaja untuk mengakhiri hidup, dan sering terjadi di kalangan remaja. Salah satu cara mencegahnya adalah dengan meningkatkan kesadaran diri (self-awareness) remaja, yang merupakan kemampuan memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar. Peningkatan kesadaran diri dapat dicapai melalui edukasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh edukasi pencegahan bunuh diri terhadap kesadaran diri remaja di SMAN 1 Dawan, yang dilakukan dalam dua kali pertemuan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain quasi eksperimental one group pretest and posttest. Teknik pengambilan sampel adalah simple random sampling dengan 27 siswa SMAN 1 Dawan sebagai responden. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner SAOQ (Self-Awareness Outcome Questionnaire). Hasil uji paired t-test menunjukkan p = 0,364 (p > 0,05) yang berarti tidak signifikan. Simpulannya, tidak ada pengaruh edukasi pencegahan bunuh diri terhadap kesadaran diri remaja di SMAN 1 Dawan. Pihak sekolah disarankan untuk lebih menonjolkan program konseling dan memberikan edukasi tentang kesehatan mental kepada siswa.  
Analysis of Factors Causing Deterioration in Patients with Head Trauma I Made Suindrayasa; Hendry Irawan; Meril Valentine Manangkot
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 4 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i4.1015

Abstract

The incidence of head trauma continues to increase from year to year and causes death or disability in adults. Factors that cause deterioration in patients with head trauma are age, initial Glasgow Coma Scale (GCS), RTS (Revised Trauma Score), blood pressure, travel time to hospital (RS), and other organ trauma. Deterioration in head trauma patients can be seen from the Glasgow Outcome Scale (GOS). The problem formulation in this study is how the factors that cause deterioration in patients with head trauma are related. The purpose of this study is to describe the relationship between factors that cause deterioration in patients with head trauma and find the dominant factor. This research method is comparative analytic with a cross-sectional design. Respondents were selected using purposive sampling with a total of 48 respondents. Data on GOS, age, GCS, RTS, and blood pressure were collected from patient medical records. Data on travel time to hospital were collected from interviews with patients' families. The obtained data were subjected to multivariate analysis using logistic regression tests. The results showed that the variables of age, GCS, RTC, blood pressure, and travel time to hospital have a relationship with the GOS variable (p-value <0.005). The results of a multivariate logistic regression analysis showed that the most dominant factor influencing the worsening of severe head injury (GOS) was the RTC value (OR:16.18). In conclusion, a lower RTC value indicates a worse prognosis for head injury patients.
Analysis of Factors Causing Patient Waiting Time in the Emergency Department I Made Suindrayasa; Hendry Irawan; Meril Valentine Manangkot; I Kadek Saputra
Indonesian Journal of Global Health Research Vol. 8 No. 4 (2026): Indonesian Journal of Global Health Research
Publisher : GLOBAL HEALTH SCIENCE GROUP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/ijghr.v8i4.1707

Abstract

Quality of service in the Emergency Department (ER) of a hospital is required to be fast, effective, and efficient. Overcrowding in the ER must be resolved as quickly as possible to ensure the workload is distributed effectively and the room is not overcrowded with healthcare workers, patients, and their families. Several methods used to alleviate overcrowding in the ER include speeding up/simplifying patient registration, triaging/sorting patients, and shortening patient waiting times by transferring patients to other rooms such as the ward, intensive care unit (ICU), inpatient wards, or other rooms. The purpose of this study was to analyze the factors contributing to patient waiting times in the ER of a hospital in the Bali Province. The factors influencing patient waiting times in the ER include registration time, triage time, consultation time for the attending physician, waiting time for laboratory results, waiting time for radiology results, and waiting time for transfer to the next room. This research method was comparative analytic with a cross-sectional design. The multivariate analysis used was logistic regression. Data collection involved observing factors affecting ER waiting times, with findings recorded on observation sheets. This study employed a purposive sampling technique, involving a total of 98 patients as respondents. Multivariate analysis revealed that the time of patient transfer to the next room was the most dominant factor associated with patient waiting times in the Emergency Department (ER), with an OR of 17.16 at a 95% confidence level. The conclusion of this study is that patient transfer time is a dominant factor affecting waiting times.
PEMANFAATAN HELICOPTER EMERGENCY MEDICAL SERVICES (HEMS) DAN GROUND EMERGENCY MEDICAL SERVICES (GEMS) DALAM SISTEM TRANSPORTASI PASIEN TRAUMA: TINJAUAN LITERATUR Putu Ayu Krisna Sutrisni; Made Oka Ari Kamayani; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p10

Abstract

Trauma merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan di seluruh dunia. Kecepatan dan ketepatan dalam transportasi medis darurat berpengaruh terhadap outcome pasien. Dua metode utama yang digunakan dalam transportasi pasien trauma adalah Helicopter Emergency Medical Services (HEMS) dan Ground Emergency Medical Services (GEMS). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas dan komplikasi antara HEMS dan GEMS dalam penanganan pasien trauma. Studi ini menggunakan metode literature review dengan menganalisis beberapa artikel penelitian retrospektif dari berbagai negara yang membandingkan penggunaan HEMS dan GEMS dalam konteks pasien trauma. HEMS terbukti memberikan waktu transportasi yang lebih singkat, terutama di daerah terpencil, dan dikaitkan dengan penurunan mortalitas dalam 30 hari pada pasien trauma berat. Namun, menunjukkan tingkat komplikasi yang lebih tinggi seperti henti jantung. Di sisi lain, GEMS lebih banyak digunakan untuk pasien dengan kondisi lebih stabil dan lebih ekonomis, namun memiliki keterbatasan dalam kecepatan. Penggunaan HEMS memberikan keuntungan signifikan dalam transportasi cepat dan peningkatan kelangsungan hidup, namun perlu diimbangi dengan pertimbangan risiko komplikasi dan faktor logistik. 
GAMBARAN TINGKAT KEPUASAN MAHASISWA KEPERAWATAN DALAM KEGIATAN PRAKTIKUM Ni Nyoman Candraningsih; Ni Putu Emy Darma Yanti; Ni Komang Ari Sawitri; Meril Valentine Manangkot
Community of Publishing in Nursing Vol. 14 No. 3 (2026): Juni 2026
Publisher : Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/coping.2026.v14.i03.p13

Abstract

Kegiatan praktikum laboratorium merupakan tahapan pembelajaran penting dalam mempersiapkan mahasiswa keperawatan sebelum menghadapi praktik klinik pada situasi nyata. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Tim Pelaksana Penjaminan Mutu (TPPM) salah satu Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners  mengenai tingkat kepuasan terhadap praktikum pada tahun 2021-2023, masih ditemukan adanya ketidakpuasan yang cukup signifikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kepuasan mahasiswa dalam kegiatan praktikum di Program Studi Sarjana Keperawatan dan Pendidikan Profesi Ners. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan teknik total sampling pada 260 mahasiswa. Data dikumpulkan menggunakan instrumen SERVQUAL dan dianalisis secara univariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa empat dimensi memiliki gap negatif, yaitu tangible (bukti fisik), reliability (kehandalan), responsiveness (daya tanggap), dan assurance (jaminan), yang mengindikasikan bahwa aspek fasilitas, pengelolaan kelas, responsivitas laboran, jumlah laboran yang tersedia, serta supervisi dosen masih perlu diperbaiki untuk meningkatkan kepuasan mahasiswa terhadap kegiatan praktikum. Sementara itu, dimensi empathy (perhatian) memiliki gap positif, menunjukkan bahwa perhatian dosen telah memenuhi ekspektasi mahasiswa dan berkontribusi dalam menciptakan lingkungan praktikum yang lebih kondusif dan efektif. Adapun saran penelitian ini diharapkan kepada institusi keperawatan dapat menjadi bahan evaluasi mengenai gambaran tingkat kepuasan mahasiswa keperawatan dalam kegiatan praktikum, guna meningkatkan kualitas pendidikan dalam membentuk calon tenaga keperawatan.