Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Struktur Komunitas dan Tutupan Kanopi Mangrove di Teluk Staring Bagian Barat Laut, Sulawesi Tenggara Simeon Felix Simamora; Muhammad Ramli; Asmadin Asmadin; Mohammad Afdhal Adidharma
Journal of Marine Research Vol 15, No 3 (2026): Journal of Marine Research
Publisher : Departemen Ilmu Kelautan, Fakultas PerikanJurusan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jmr.v15i3.58486

Abstract

Ekosistem mangrove berperan penting secara ekologis dalam menjaga stabilitas daerah pesisir, penyedia habitat, pelindung garis pantai, dan penopang keanekaragaman hayati. Tekanan terhadap ekosistem mangrove di pesisir Teluk Staring menunjukkan perlu adanya informasi dasar mengenai kondisi ekosistem mangrove sebagai landasan ilmiah bagi pengelolaan mangrove berkelanjutan di wilayah ini.Studi ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas dan tutupan kanopi mangrove di bagian barat laut Teluk Staring, Sulawesi Tenggara. Survei lapangan dilakukan di tiga stasiun menggunakan petak vegetasi 10×10 m untuk menilai struktur komunitas mangrove, sedangkan tutupan kanopi diukur menggunakan metode hemispherical photography dan dianalisis dengan perangkat lunak ImageJ. Struktur komunitas dievaluasi menggunakan kerapatan, frekuensi, dominasi, dan Indeks Nilai Penting (INP), sedangkan tutupan kanopi diklasifikasikan menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Indonesia No. 201 Tahun 2004. Sebanyak lima spesies mangrove sejati teridentifikasi . Kerapatan pohon secara berkisar antara 3635-4552 individu/ha, yang menunjukkan tegakan mangrove yang sangat padat. Rhizophora apiculata menunjukkan kepadatan dan frekuensi tertinggi, sedangkan Avicennia lanata menunjukkan dominasi dan INP tertinggi di Stasiun A dan C, yang mengindikasikan kontribusi ekologisnya yang substansial meskipun bukan spesies yang paling melimpah. Rata-rata tutupan kanopi adalah 73,918%, berkisar antara 69,963% hingga 76,707%, yang sesuai dengan kondisi kanopi sedang hingga sangat padat. Tutupan kanopi yang tinggi dan tegakan mangrove yang padat menunjukkan bahwa ekosistem mangrove di bagian barat laut Teluk Staring masih dalam kondisi ekologis yang baik. Temuan ini memberikan informasi dasar untuk konservasi mangrove dan pengelolaan ekosistem pesisir berkelanjutan di Sulawesi Tenggara. 
Edukasi Partisipatif bagi Siswa dalam Upaya Perlindungan Ekosistem Pesisir di Desa Kampoh Cina, Kabupaten Konawe Utara Muhammad Ramli; La Ode Alirman Afu; Wa Nurgayah; Arwan Arif Rahman; Baru Sadarun; Salwiyah S; Suci Rahmadani
JUKEMAS : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 3 (2026): JUKEMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat, September 2026
Publisher : Lumbung Pare Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.60126/jukemas.v3i3.1827

Abstract

Ekosistem pesisir memiliki peranan penting dalam menjaga keseimbangan lingkungan, mendukung keanekaragaman hayati, dan menunjang kehidupan masyarakat pesisir. Tekanan berupa pencemaran, sampah plastik, serta keterbatasan pengetahuan lingkungan menjadi tantangan dalam perlindungan sumber daya pesisir. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, keterampilan, dan partisipasi siswa dalam perlindungan ekosistem pesisir di Desa Kampoh Cina, Kabupaten Konawe Utara. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukasi partisipatif melalui penyampaian materi, diskusi interaktif, pengamatan lingkungan, identifikasi masalah pesisir, pengenalan pemilahan sampah dan prinsip 3R, serta evaluasi menggunakan pre-test, post-test, dan observasi partisipasi. Sebanyak 24 siswa mengikuti evaluasi. Hasil menunjukkan rata-rata nilai meningkat dari 58,3 pada pre-test menjadi 82,5 pada post-test, dengan selisih 24,2 poin atau peningkatan sebesar 41,5%. Sebanyak 22 siswa (91,7%) mengalami peningkatan nilai, sedangkan 2 siswa (8,3%) belum menunjukkan peningkatan. Capaian tersebut melampaui target keberhasilan minimal 75% peserta. Kegiatan menunjukkan bahwa edukasi partisipatif dapat memperkuat pemahaman siswa mengenai fungsi ekosistem pesisir, ancaman pencemaran dan sampah laut, serta tindakan sederhana untuk menjaga lingkungan. Keberlanjutan program memerlukan kolaborasi sekolah, pemerintah desa, masyarakat, dan perguruan tinggi.