Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PERBEDAAN EFEKTIFITAS PEMBERIAN SELIMUT TEBAL DAN BLANKET WARMER PADA KEJADIAN POST ANAESTHETIC SHIVERING (PAS) PADA PASIEN DENGAN REGIONAL ANESTESI DI RECOVERY ROOM RSI IBNU SINA PADANG Fitrina, Yossi; Bungsu, Pera Putra; Illahi, Putri Rahma
Jurnal Kesehatan Saintika Meditory Vol 7, No 1 (2024): Mei 2024
Publisher : STIKES Syedza Saintika Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30633/jsm.v7i1.2543

Abstract

Shivering (menggigil) merupakan keadaan yang ditandai dengan adanya peningkatan aktifitas post Regional Anestesi. Intervensi untuk mengatasi menggigil salah satunya adalah penggunaan selimut. Beberapa yang sering digunakan adalah selimut tebal dan Blanket Warmer. Untuk mengetahui Perbedaan efektivitas pemberian selimut tebal dan Blanket Warmer pada kejadian Post Anaesthetic Shivering (PAS) pada pasien dengan Regional Anestesi di Recoverry Room Rsi Ibnu Sina Padang. Design Penelitian Quasy eksperimental design dengan teknik sampling Lameshow. Sampel sebanyak 34 orang responden yang terdiri dari 17 orang kelompok eksperimen yang diberikan intervensi Selimut Tebal dan 17 orang kelompok kontrol yang diberikan intervensi Blanket Warmer di Recoverry Room RSi Ibnu Sina Padang. Berdasarkan analisis statistik uji Wilcoxon Signed Rank Test menunjukkan bahwa nilai signifikansi 0,000 (p 0,005), yang menunjukkan bahwa selimut tebal dan selimut hangat efektif terhadap penanganan Post Anesthetic Shivering (PAS). Berdasarkan uji Mann Whitney terhadap Perbedaan efektifitas penanganan menggigil antara selimut biasa dan Blanket Warmer diperoleh nilai signifikansi 0,000 (p 0,005). Adanya perbedaan efektifitas pemberian selimut tebal dan Blanket Warmer terhadap kejadian Post Anesthetic Shivering (PAS) pada pasien dengan Regional Anestesi di Recovery room Rsi Ibnu Sina Padang.Kata kunci        : Regional Anestesi, Shivering, Selimut Tebal, Blanket Warmer
Edukasi Kesehatan dan Skrining Mandiri Berbasis Digital untuk Masyarakat dalam Peringatan Hari Kesehatan Nasional Tahun 2025 Junios, Junios; Kariman, Delsi; Yunere, Falerisiska; Fitrina, Yossi; Askina, Meutia; Rizkina, Arfezsa Ulfa
JKM: Jurnal Kemitraan Masyarakat Volume 4 Number 2 Desember 2025 artikel in press
Publisher : Program Studi Pendidikan IPA Fakultas MIPA Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35580/jkm.v4i2.79874

Abstract

This community service initiative aims to enhance understanding of non-communicable disease (NCD) prevention, promote healthy lifestyles, and offer digital screening services. The implementation method included health education sessions, demonstrations of self-screening apps, and basic health checkups for 127 participants from various sub-districts. The results showed that 89% of participants gained a better understanding of NCD risk factors, 76% successfully used the digital screening app independently, and 52 participants (41%) were identified as being at moderate to high risk for hypertension and referred for follow-up at a health facility. This initiative demonstrated that a direct educational approach and digital technologies can empower the community to identify health risks independently. It is recommended that this action be integrated into the regular agenda of local authorities to strengthen community-level promotion and prevention efforts.
Senam Kaki Diabetik terhadap Penurunan Neuropati Sensorik Pada Penderita Diabetes Melitus Fitrina, Yossi; Chaidir, Reny; Fadhila, Nailatul
JURNAL KESEHATAN PERINTIS Vol. 12 No. 2 (2025): Jurnal Kesehatan Perintis
Publisher : LPPM UNIVERSITAS PERINTIS INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33653/cx13cn38

Abstract

Neuropati sensorik merupakan komplikasi mikrovaskular yang sering dialami penderita diabetes melitus, yang dapat menurunkan kualitas hidup dan meningkatkan risiko luka kaki. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh senam kaki diabetik terhadap penurunan neuropati sensorik. Penelitian ini menggunakan desain quasi eksperimental dengan jumlah populasi 301 kasus dan teknik pengambilan sampel yang digunakan dengan purposive sampling didapatkan 46 pasien yang menderita diabetes melitus dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol. Intervensi dilakukan selama satu minggu, lima kali sehari, masing-masing 20 menit. Dalam penelitian ini menggunakan uji wilcoxon untuk menilai perubahan skor neuropati sensorik sebelum dan sesudah intervensi pada masing - masing kelompok. Selain itu, Uji Mann - Whitney U digunakan untuk membandingkan skor neuropati sensorik antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Hasil uji Wilcoxon pada kelompok intervensi menunjukkan penurunan skor neuropati sensorik dengan Negative Rank 21. Nilai asymp. Sig 0,000 (< 0,05) menandakan senam kaki diabetik berpengaruh signifikan menurunkan neuropati sensorik pada penderita diabetes melitus di kelompok intervensi. Uji Mann Whitney dengan nilai asymp. Sig 0,001 (< 0,05) menunjukkan perbedaan signifikan dalam penurunan neuropati sensorik antara kelompok intervensi dan kontrol, menegaskan bahwa senam kaki diabetik lebih efektif dibanding tanpa intervensi. Kesimpulannya, senam kaki diabetik efektif menurunkan gejala neuropati sensorik pada pasien diabetes melitus dan disarankan sebagai bagian dari intervensi keperawatan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.
Factors Related to Diabetic Distress in Diabetes Mellitus Patients Fitrina, yossi; Srywahyuni, Ade; Putra, Abdi Setia; Yani, Zahra Fitri; J, Junios
Jurnal Kesehatan - STIKes Prima Nusantara Vol 16 No 1 (2025): Jurnal Kesehatan Volume 16 Nomor 1 Tahun 2025
Publisher : LPPM Universitas Prima Nusantara Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35730/jk.v16i1.1270

Abstract

Diabetes distress if left untreated will often persist and develop into more severe conditions such as depression, sleep disturbances and increased risk of suicide. The study aims to identify factors related to diabetes distress in people with diabetes melitus in work area of the Kampung Teleng Health Centre, Sawahlunto City in 2024. The study used a quantitative method with correlative descriptive research design and a sampel size of 126 respondents. The sampling technique use was purpossive sampling and quota sampling technique. The variable studied were powerlessness, negative social perceptions, family distress, hypoglicaemia distress, management distress, eating distress as dependent variables and diabetes distress as independent variables. Data collection using the DDS-17, PAT, GAD-7, HDFSS, HFS-II, PAID, dan DEPS-R questionnaires. Data processing using the spearman rank test. The result of the study showed the factors related to diabetes distress were negative social perceptions with p value (a) = 0,007 and correlation (r) = 0,241 and hypoglicemia distress with p value (a) = 0,049 and correlation (r) = 0,176. The conclusion of this study shows that factors related to diabetes distress are negative social perceptions and hypoglicemia distress. It is expected that the Kampung Teleng Health Center in Sawahlunto City can develop a program to preverent diabetes distress with health service, espicially doctors, so that they can provide direction, advice, respond to concerns from diabets melitus suffers and provide education about the impact of diabetes distress