Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

STRATEGI PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DALAM MEMBANGUN BRAND IMAGE (STUDI KASUS AKUN @VASAHOTEL) Noora Marchelyta; Dwi Prasetyo
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81364

Abstract

Instagram menjadi salah satu instrumen komunikasi pemasaran digital yang banyak dimanfaatkan industri perhotelan untuk membangun citra merek. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi pengelolaan akun Instagram dalam membangun brand image Vasa Hotel Surabaya sebagai luxury lifestyle hotel. Pendekatan deskriptif kualitatif dipilih dengan metode studi kasus, dan dianalisis melalui kerangka The Circular Model of SOME (Luttrell, 2015) yang terdiri atas empat elemen saling berkaitan, yaitu Share, Optimize, Manage, dan Engage, serta dikaitkan dengan teori brand image dari Keller (2013) dan Kotler dan Keller (2016). Data primer diperoleh melalui wawancara mendalam dengan informan yang mewakili level organisasi berbeda operasional dan strategis yang kemudian dilengkapi dengan dokumentasi konten Instagram serta data kuantitatif performa akun dari Meta Insights sebagai bentuk triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pengelolaan Instagram Vasa Hotel Surabaya secara konsisten berorientasi pada pemeliharaan citra kemewahan, bukan semata perluasan jangkauan yang tercermin dari segmentasi audiens yang cermat, kurasi visual dan tren yang selektif, kerangka evaluasi berbasis tujuan kampanye, serta strategi kolaborasi dengan brand premium sebagai mekanisme transfer citra. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian mengenai penerapan The Circular Model of SOME pada industri perhotelan segmen mewah, serta memberikan rekomendasi praktis bagi Vasa Hotel Surabaya dalam mengoptimalkan integrasi sistem evaluasi media sosialnya. Kata  
Analisis Perubahan Perilaku Pemasaran Pelaku UMKM Pasca Pelatihan Digital Marketing di Kabupaten Sidoarjo Sabrina Pinkky Utari; Dwi Prasetyo
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81365

Abstract

Abstrak Perkembangan teknologi digital mendorong pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) untuk memanfaatkan pemasaran digital sebagai strategi pemasaran. Namun, tidak seluruh pelaku UMKM yang mengikuti pelatihan digital marketing mampu menerapkan hasil pelatihan secara konsisten dalam aktivitas usahanya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan dan menganalisis proses perubahan perilaku pemasaran pelaku UMKM setelah mengikuti pelatihan digital marketing berdasarkan perspektif Stimulus-Organism-Response (SOR). Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Informan terdiri atas enam pelaku UMKM yang telah mengikuti pelatihan digital marketing sebanyak lima kali pada periode 2024-2025 dan satu informan pendukung dari Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Kabupaten Sidoarjo. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelatihan digital marketing berperan sebagai stimulus yang memberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai pemanfaatan media sosial, marketplace, WhatsApp Business, Google Business Profile, pembuatan konten digital, serta Artificial Intelligence (AI). Stimulus tersebut diproses melalui tahapan organisme, yang ditandai dengan meningkatnya pemahaman, persepsi, motivasi, dan kepercayaan diri pelaku UMKM terhadap pemasaran digital. Proses tersebut menghasilkan respons berupa perubahan perilaku pemasaran, seperti pemanfaatan platform digital secara lebih aktif, penyusunan konten yang lebih terencana, penggunaan AI, dan perluasan jangkauan pasar. Penelitian ini menunjukkan bahwa perubahan perilaku pemasaran tidak terjadi secara langsung setelah pelatihan, tetapi melalui proses internal yang berbeda-beda pada setiap pelaku UMKM.  
Uncertainty, Everyday Mobility, and Urban Citizenship: Civic Storytelling of Public Transport Use in Surabaya, Indonesia Dwi Prasetyo; Teguh Dwi Putranto; Ade Firmannandya
Jogjakarta Communication Conference (JCC) Vol. 4 No. 1 (2026): The 7th Jogjakarta Communication Conference (JCC)
Publisher : Jogjakarta Communication Conference (JCC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Public transportation is often evaluated through technical indicators such as punctuality, coverage, affordability, and integration. However, these approaches do not fully capture how mobility is experienced in everyday urban life. This article examines how users of the Suroboyo Bus and Wira-Wiri Feeder services in Surabaya interpret and narrate their daily journeys, and assesses civic storytelling as an analytical lens for revealing the gap between transportation modernization policy narratives and the realities of use. This study employs an interpretive qualitative case study that combines phenomenological sensitivity, narrative inquiry, and contextual observation. Eight active users were interviewed in depth regarding their entire travel chain, from accessing the service to arriving at their destination. The findings indicate that uncertainty constitutes a central condition shaping everyday mobility experiences. User evaluations are not limited to in-vehicle experiences, but encompass stages of access, waiting, boarding, intermodal transfer, and arrival. Participants’ narratives are structured around five interrelated themes: distributed security, everyday adaptation, experienced accessibility, emotional burden, and the construction of citizenship. The most positive assessments are directed toward the bus interiors, while negative experiences are concentrated at the periphery of the system, particularly along access routes, waiting points, and transfer processes. This article argues that public transportation functions as an infrastructure of experience, emotion, and urban citizenship, and underscores the importance of more human-centered transportation evaluations that incorporate users’ lived experiences and narrative evidence.
YOUTUBE KINDERFLIX SEBAGAI MEDIA PENDAMPINGAN ANAK: STUDI FENOMENOLOGI DIGITAL PARENTING PADA IBU MILLENNIAL DI KOTA SURABAYA Nafila Zahrotul Afifah; Dwi Prasetyo
The Commercium Vol 10 No 1 (2026): The Commercium - Januari 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i1.74871

Abstract

Perkembangan media digital secara signifikan mendorong perubahan pola asuh anak, terutama di kalangan ibu millenial yang kini mengandalkan media digital seperti YouTube sebagai sarana edukatif sekaligus hiburan. Penelitian ini bertujuan mengungkap praktik digital parenting ibu millenial di Surabaya dalam pendampingan anak melalui kanal YouTube Kinderflix. Fokus utama penelitian adalah menjawab pertanyaan mengenai pengalaman ibu millenial dalam memaknai dan menerapkan pendampingan melalui Kinderflix. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan mengumpulkan data melalui wawancara mendalam terhadap enam informan ibu millenial yang terseleksi. Data kemudian dianalisis secara tematik untuk mengidentifikasi pola penggunaan media, persepsi terhadap konten, serta strategi pendampingan aktif orang tua. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kinderflix dipilih karena menyajikan konten edukatif, visual yang ramah anak, serta pesan moral yang relevan dengan usia dini. Kanal ini terbukti efektif membantu orang tua menanamkan nilai-nilai positif seperti berbagi, tolong-menolong, dan menjaga kebersihan. Kesimpulannya, dengan penerapan digital parenting yang bijak, YouTube Kinderflix berfungsi sebagai sarana pendampingan anak yang efektif bagi ibu millenial di Surabaya. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi keterlibatan peran ayah, membandingkan kanal sejenis, dan mengukur dampak jangka panjang konten digital terhadap perkembangan anak.
Persepsi Perempuan Lajang Kota Surabaya terkait Konten Feminine Energy Akun Tiktok @nmaliccaa Alifia Priyayitha Hapsari; Dwi Prasetyo
The Commercium Vol 10 No 1 (2026): The Commercium - Januari 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i1.75675

Abstract

Media sosial TikTok sebagai salah satu wadah baru dalam pembentukan makna dan identitas, khususnya bagi perempuan muda. Salah satu konten yang beredar adalah kampanye feminine energy yang dipopulerkan oleh influencer TikTok Nashatra Malicca. Penelitian ini bertujuan untuk untuk menganalisis bagaimana perempuan lajang di Kota Surabaya memersepsikan kampanye feminine energy yang dipopulerkan olehnya. Jenis penelitian ini kualitatif dengan metode fenomenologi, serta pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam terhadap perempuan lajang Kota Surabaya yang aktif sebagai pengguna TikTok dan terpapar konten Nashatra Malicca mengenai feminine energy. Informan dipilih menggunakan purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pemaknaan terhadap kampanye feminine energy di kalangan informan. Berdasarkan teori resepsi Stuart Hall, pemaknaan informan terbagi ke dalam tiga posisi, yaitu dominant reading, negotiated reading, dan oppositional reading. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa perempuan single di Kota Surabaya tidak bersifat pasif dalam menerima pesan media, melainkan aktif menafsirkan dan menegosiasikan makna kampanye feminine energy sesuai dengan pengalaman, nilai, dan konteks sosial budaya mereka.
STRATEGI KOMUNIKASI PUBLIC RELATIONS PT KERETA COMMUTER INDONESIA DALAM MENANGANI KELUHAN PELANGGAN MELALUI MEDIA SOSIAL Salsabilla Farabiyah; Dwi Prasetyo
The Commercium Vol 10 No 2 (2026): The Commercium - April 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i2.76781

Abstract

Sebagai perusahaan penyedia layanan transportasi massal yang selalu berinteraksi langsung dengan publik PT Kereta Commuter Indonesia dituntut untuk mampu menangani keluhan pelanggan secara tepat guna menjaga kualitas pelayanan. Peneleitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi komunikasi Public Relations PT Kereta Commuter Indonesia dalam menangani keluhan pelanggan melalui media sosial. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam secara online dan dokumentasi tangkapan layar (screenshot) dari media sosial Twitter @commuterline. Penelitian ini menggunakan Teori Excellence sebagai kerangka analisis untuk memahami strategi komunikasi yang diterapkan oleh Public Relations PT Kereta Commuter Indonesia dalam menangani keluhan pelanggan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang diterapkan Public Relations terdapat beberapa tahapan, yaitu media monitoring secara real time, verifikasi laporan dari unit terkait, melakukan klasifikasi keluhan berdasarkan Tingkat eskalasi (ringan, sedang, berat), koordinasi dengan unit yang berkepentingan, menyusun pesan atau informasi, dan melakukan peninjauan ulang informasi yang disampaikan.
PENERAPAN PROGRAM PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL DAN AKTIVASI EVENT UNTUK MEMBANGUN BRAND AWARENESS GALERI SENI (STUDI PADA NINE ART GALLERY SIDOARJO) Tsaltsa Reza Khalili; Miftahul Firmansyah; Ester Anggia Hutabarat; Galuh Dinda Natasya; Muhammad Khilmy Nafis; Dwi Prasetyo
The Commercium Vol 10 No 2 (2026): The Commercium - April 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i2.76913

Abstract

Penelitian ini dipicu oleh lemahnya brand awareness Nine Art Gallery sebagai galeri seni menengah yang belum maksimal dalam mengelola komunikasi publik melalui platform media sosial. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji implementasi program manajemen media sosial dan pembuatan konten kreatif dalam memperkuat brand awareness Nine Art Gallery. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif dengan fokus studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan pengelola galeri, tim media sosial, dan pengunjung; observasi aktif terhadap proses pembuatan konten; serta pengumpulan dokumen konten dan data analisis media sosial. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan program pengelolaan media sosial melalui pembuatan konten kreatif yang terencana berhasil meningkatkan indikator media sosial secara signifikan: jangkauan meningkat 1.900% (dari 50 menjadi 1.000), impresi meningkat 5.971% (dari 56 menjadi 3.400), dan interaksi meningkat 11.466% (dari 3 menjadi 347). Konten yang paling berhasil adalah behind the scene, wawancara seniman, dan konten yang interaktif. Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penerapan program pengelolaan media sosial serta pembuatan konten kreatif yang terstruktur, konsisten, dan menarik terbukti efektif dalam membangun brand awareness bagi galeri seni. Penelitian ini menyarankan agar galeri seni tetap menjaga konsistensi konten, memperkuat hubungan antara konten digital dan acara fisik, serta melakukan evaluasi secara teratur berdasarkan data analitik.
Pengalaman Pengelola Toko Kelontong Dalam Menggunakan Aplikasi Ayo Toko Sebagai Media Komunikasi Pemasaran SRC di Kecamatan Pabean Cantian Helina Zulmi; Dwi Prasetyo
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.82067

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengalaman pengelola toko kelontong dalam memproses berbagai bentuk komunikasi pemasaran terpadu (IMC) dan program informasi yang disampaikan oleh SRC. Penelitian ini menggunakan teori komunikasi pemasaran terintegrasi (IMC) untuk melihat bentuk komunikasi pemasaran yang digunakan oleh SRC dan model pemrosesan informasi MC Guire untuk melihat bagaimana pesan pemasaran tersebut diproses secara kognitif oleh pengelola toko. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan menggunakan metode fenomenologi. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keseluruhan strategi komunikasi pemasaran terpadu (IMC) belum bisa berjalan efektif apabila hanya mengandalkan saluran digitalnya (aplikasi Ayo Toko). Namun, efektivitas komunikasi pemasaran terpadu ini terwujud ketika media digital didukung oleh komunikasi langsung melalui sales SRC dan media interaktif digital (grup WhattsApp).
STRATEGI PROMOSI WAROENG JOGLO MERAH PUTIH DALAM MENINGKATKAN JUMLAH PENGUNJUNG MELALUI INSTAGRAM Hisyam Abdurrohman; Dwi Prasetyo
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.82283

Abstract

Perkembangan teknologi digital mendorong perubahan strategi komunikasi pemasaran, khususnya pada sektor bisnis kuliner yang menghadapi persaingan semakin ketat. Media sosial Instagram menjadi salah satu sarana promosi yang efektif karena mampu menyajikan konten visual dan menjangkau audiens secara luas. Waroeng Joglo Merah Putih sebagai usaha kuliner yang mengusung konsep budaya Jawa tempo dulu memanfaatkan Instagram untuk memperkenalkan keunikan tempat, produk, serta nilai budaya yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana strategi promosi digital Waroeng Joglo Merah Putih melalui Instagram dalam meningkatkan jumlah pengunjung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi. Informan penelitian meliputi pemilik, pihak pengelola, serta pengunjung Waroeng Joglo Merah Putih. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Koordinasi SPPG Sekolah dalam Program Makan Siang Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia: Studi Kasus di Bojonegoro, Jawa Timur Dwi Prasetyo; Oni Dwi Arianto; Ade Firmannandya; Teguh Dwi Putranto
Jurnal Bina Praja Vol 18 No 1 (2026)
Publisher : Research and Development Agency Ministry of Home Affairs

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21787/jbp.18.2026.2955

Abstract

This study examines coordination between schools and the Nutrition Food Production Center (SPPG) in implementing Indonesia’s Free Nutritious Meal Program (MBG) in Bojonegoro Regency, East Java, across schools with diverse operational capacities. This study uses integrated qualitative methods by highlighting governance processes—role allocation, communication flows, decision-making, and reporting—rather than impact indicators. Data were generated through purposive focus group discussions with school principals, teacher MBG coordinators, SPPG managers and operational staff, and school committee representatives or parents, and triangulated with relevant program documents. Transcripts were analyzed thematically using iterative coding. Findings show coordination is mainly operational and weakly institutionalized: schools act as passive recipients, while SPPG controls menu selection, production, and logistics, yielding asymmetric, largely one way information exchange. Communication and problem reporting rely on informal messaging and brief delivery-time interactions, with limited documentation, unclear pathways, and inconsistent feedback. These governance gaps contribute to recurring delivery delays, unannounced menu changes, inadequate accommodation for dietary restrictions, and increased administrative workload for schools. They also intensify parental concerns regarding food quality and safety and influence student acceptance, thereby undermining program legitimacy. The study concludes that implementation quality depends on strengthening local coordination capacity through regular coordination forums, standardized reporting and feedback protocols, clearer role and accountability structures, and ongoing technical support aligning centralized standards with context-sensitive adaptation. Institutionalizing coordination would enable the school SPPG network to transition from reactive delivery to continuous improvement, supporting transparent learning, effective risk management, and sustained community buy-in over time.