Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

BUDAYA BERHUNI KAUM SUFISTIK BORJUIS: Kontestasi Simbolik dalam Konstruksi Rumah Adat Kudus Said, Nur
El-HARAKAH (TERAKREDITASI) el-Harakah (Vol 12, No 3
Publisher : UIN Maliki Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/el.v0i0.455

Abstract

Omah, Javanese term for house, is not only as a place to protect from hot and cold weather, importantly, as a place for Javanese people to actualize themselves both personally and socially. This is interesting to expose as its existence represents the symbolic fight of negotiation process between cultures happened in its period. The relationship between the house and its occupant symbolizes the cultural apprenticeship which is expressed in the use of the room. The house also represents the substance and material aspect, even the first one still becomes the main concern. The substance aspect can be seen in the ornament which sometimes still has animal picture, as Sunan Kudus is someone who has high tolerance. The material aspect expresses the strategy to defense the existence and dignity. As a whole, the house represents the face of Islam which is substantive-esoteric, and still considers existentialist-symbolic aspect as another important aspect.
DIALOG LINTAS IMAN DALAM KOMUNITAS LINTAS BUDAYA (Telaah Diskursif Polemik Ahmadiah dalam Milis Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta) Said, Nur
Jurnal THEOLOGIA Vol 27, No 2 (2016): TEOLOGI ISLAM DAN ISU-ISU KEBANGSAAN
Publisher : Fakulta Ushuluddin dan Humaniora Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1072

Abstract

The development of social media has made the world like folded. The actual issues to be so fast and easy to synthetically discussed through a mailing list included in the polemic issue of Ahmadiyah. This paper discussed the genealogy and characteristics of CRCS UGM student mailing list in response to issues of Ahmadiyah in Indonesia and how far it reinforce the idea of archeology students in nurturing empathetic intelligence in internal conflicts of Islam. This study was a library research that relied on documents as objects of study then to do in contents analyzed. The conclusion is in polemics on Ahmadiyah in mailing CRCS indicate an attempt to find "objectivism" and "rationality" in the understanding that the issue be debated Ahmadiyah distintinkly and contextually. But among those showing different domination between objectivism and rationality that sometimes still have not found any common ground between the pro and anti Ahmadiyah although  they generally in inclusive way of life. However, the process of intense discussion through the mailing list is very helpful in understanding the sow intelligence building empathy among Muslims especially those who are experiencing conflict.Perkembangan media sosial telah menjadikan dunia bagai dilipat. Isu-isu aktual menjadi begitu cepat dan mudah untuk didiskusikan melului sarana mailinglist (milis) termasuk dalam polemik isu Ahmadiyah. Paper ini mendiskusikan genealogi dan karakteristik milis mahasiswa crcs UGM Yogyakarta dalam merespon isu-isu Ahmadiyah di Indonesia dan sejauhmana hal itu memperteguh arkeologi pemikiran mahasiswa dalam menyemai kecerdasan empatik di tengak konflik intern umat Islam. Penelitian ini merupakan library research yang mengandalkan dokumen sebagai obyek kajiannya kemudian dilakukan analisis isi. Kesimpulannya adalah dalam berbagai polemik tentang Ahmadiyah di milis crcs menunjukkan upaya menemukan  “obyektivisme” dan “rasionalitas” dalam memahami polemik Ahmadiyah sehingga isunya menjadi distintif dan kontekstual. Namun diantara mereka menunjukkan dominasi yang berbeda antara obyektivisme dan rasionalitas sehingga terkadang masih dijumpai belum adanya titik temu antara yang pro maupun yang kontra meskipun secara umum nalarnya inklusif. Namun proses diskusi yang intens melalui milis tersebut sangat membantu dalam membangun kesepahaman dalam menyemai kecerdasan empati antar umat Islam terutama yang sedang mengalami konflik.
DIALOG LINTAS IMAN DALAM KOMUNITAS LINTAS BUDAYA (Telaah Diskursif Polemik Ahmadiah dalam Milis Mahasiswa Pascasarjana Universitas Gajah Mada Yogyakarta) Nur Said
Jurnal Theologia Vol 27, No 2 (2016): TEOLOGI ISLAM DAN ISU-ISU KEBANGSAAN
Publisher : Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/teo.2016.27.2.1072

Abstract

The development of social media has made the world like folded. The actual issues to be so fast and easy to synthetically discussed through a mailing list included in the polemic issue of Ahmadiyah. This paper discussed the genealogy and characteristics of CRCS UGM student mailing list in response to issues of Ahmadiyah in Indonesia and how far it reinforce the idea of archeology students in nurturing empathetic intelligence in internal conflicts of Islam. This study was a library research that relied on documents as objects of study then to do in contents analyzed. The conclusion is in polemics on Ahmadiyah in mailing CRCS indicate an attempt to find "objectivism" and "rationality" in the understanding that the issue be debated Ahmadiyah distintinkly and contextually. But among those showing different domination between objectivism and rationality that sometimes still have not found any common ground between the pro and anti Ahmadiyah although  they generally in inclusive way of life. However, the process of intense discussion through the mailing list is very helpful in understanding the sow intelligence building empathy among Muslims especially those who are experiencing conflict.Perkembangan media sosial telah menjadikan dunia bagai dilipat. Isu-isu aktual menjadi begitu cepat dan mudah untuk didiskusikan melului sarana mailinglist (milis) termasuk dalam polemik isu Ahmadiyah. Paper ini mendiskusikan genealogi dan karakteristik milis mahasiswa crcs UGM Yogyakarta dalam merespon isu-isu Ahmadiyah di Indonesia dan sejauhmana hal itu memperteguh arkeologi pemikiran mahasiswa dalam menyemai kecerdasan empatik di tengak konflik intern umat Islam. Penelitian ini merupakan library research yang mengandalkan dokumen sebagai obyek kajiannya kemudian dilakukan analisis isi. Kesimpulannya adalah dalam berbagai polemik tentang Ahmadiyah di milis crcs menunjukkan upaya menemukan  “obyektivisme” dan “rasionalitas” dalam memahami polemik Ahmadiyah sehingga isunya menjadi distintif dan kontekstual. Namun diantara mereka menunjukkan dominasi yang berbeda antara obyektivisme dan rasionalitas sehingga terkadang masih dijumpai belum adanya titik temu antara yang pro maupun yang kontra meskipun secara umum nalarnya inklusif. Namun proses diskusi yang intens melalui milis tersebut sangat membantu dalam membangun kesepahaman dalam menyemai kecerdasan empati antar umat Islam terutama yang sedang mengalami konflik.
Saridinn dalam Perguluman Islam dan Tradisi: Relevansi "Islamisme" Saridin Bagi Pendidikan Karakter Masyrakat Pesisir Nur Said
Hikmah: Journal of Islamic Studies Vol 11, No 1 (2011): Islam dan Kearifan Lokal
Publisher : STAI ALHIKMAH Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (185.462 KB) | DOI: 10.47466/hikmah.v11i1.148

Abstract

Saridin’s popularity in the grassroots of the community is not only because of the strange attitudes and behavior in the era of kuwalen (Walisongo) especially when struggling and interacting with Sunan Kudus. Saridin left many teachings that are still inherent in the local community in Pati. Saridin’s existence with all existing images seems to have helped in constructing this public awareness, even in a particular group, it participates in constructing pattern of beliefs and value system that embodied in the “Religion of the People.” Story, legend and history of Saridin in the coastal community remain strong in the grassroots of the community because the cultural reproduction process is still ongoing whether through art, literature or local tradition. In connection with its relation with Islam, Saridin’s images and traditions can be identified at least into two: Firstly, in a struggle with tradition, Saridin is known by the innocence and spirit out of order (status quo) through a resistance with an attitude of “nggendeng” ie, pretending not to know, to know as it is shown through attitudes and behaviors of the community of Sedulur Sikep (sikepisme) in Sukolilo, Pati. Secondly, in a struggle within Islam, Saridin has created a kind of variant of sufistic-populist Islam namely Islam that is simple with attitudes and kasunyatan that are not rigid. Keywords: struggle, folk religion, local tradition. Kepopuleran Saridin dalam masyarakat bawah (grass root) bukan saja karena berbagai keanehan sikap dan perilakunya di zaman kuwalen ( walisongo) terutama ketika bergumul dan berinteraksi dengan Sunan Kudus. Saridin juga meninggalkan berbagai ajaran yang masih melekat dalam masyarakat lokal di Pati. Eksistensi Saridin dengan segala pencitraan yang ada ini agaknya telah turut mengkonstruksi kesadaran masyarakat, bahkan pada kelompok tertentu turut mengkonstitusi pola keyakinan dan sistem nilai sehingga terwujud dalam “ Agama Rakyat.” Cerita, kisah, legenda dan sejarah Saridin dalam mesyarakat pesisir masih bertahan kuat di masyarakat bawah karena proses reproduksi budaya masih terus berlangsung baik melalui seni, karya sastra maupun tradisi lokal. Berkaitan dengan persentuhannya dengan Islam, citra dan tradisi Saridin setidaknya dapat diidentifikasi menjadi dua; Pertama dalam bergumul dengan tradisi, Saridin dikenal dengan keluguan dan semangat keluar dari tatanan (status quo) melalui perlawanan dengan sikap “nggendeng” yakni berlagak tidak tahu, untuk tahu sebagaimana terejawantahkan dalam sikap dan perilaku komunitas Sedulur Sikep ( sikepisme) di Sukolilo, Pati. Kedua, Saridin dalam bergumul dalam Islam telah memunculkan semacam varian Islam sufistik-populis, yakni warna Islam yang sederhana dengan perilaku dan kasunyatan, tidak terlalu baku. Kata Kunci: pergumulan, agama rakyat, tradisi lokal
PENDIDIKAN GENDER HARMONI DALAM KONSTRUKSI RUMAH ADAT KUDUS Nur Said
Yinyang: Jurnal Studi Islam Gender dan Anak Vol 8 No 2 (2013)
Publisher : Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) IAIN Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.093 KB)

Abstract

Abstrak: Tulisan ini membahas tiga hal: (1) Bagaimana memahami hunian dalam rumah adat Kudus sebagai proses pendidikan harmoni gender? (2) Apa konteks sosial dari rumah adat Kudus? (3) Apa nilai-nilai pendidikan harmoni gender dalam pembangunan rumah adat Kudus? Makalah ini menggunakan pendekatan sosiologis terutama sosiologi post-strukturalisme yang dikombinasikan dengan interpretasi budaya. Kesimpulan dari makalah ini adalah: (1) Rumah adalah lingkungan terdekat manusia di mana di dalamnya ide-ide utama budaya diproduksi dan direproduksi untuk membentuk sistem makna. Kehadiran rumah adat yang sarat dengan ornamen-ornamen mencerminkan nilai-nilai moral yang dipegangi dan harus diwujudkan dan diimplementasikan. Nilai-nilai moral tersebut dipegangi dalam rangka membangun keharmonisan gender, hal ini penting karena dalam system hubungan antara penghuni rumah tidak dapat dipisahkan adanya hubungan antara laki-laki dan perempuan, (2) Nilai-nilai pendidikan karakter harmoni gender dalam keluarga yang tercermin pada simbol/makna dalam rumah adat (tradisional) dapat digunakan sebagai referensi (alternatif) praktek terbaik dalam harmoni gender dan sekaligus bisa menjadi acuan untuk pendidikan keluarga, karena di situ ada semangat kesetaraan gender, baik dalam hubungannya dengan Tuhan, dengan manusia, dan juga dengan lingkungannya. This paper discusses three things: (1) How to understand that the occupancy in the traditional house of Kudus as an educational process of gender harmony? (2) What are the social context of the traditional house of Kudus? (3) What are the values of gender harmony education in the construction of the traditional house of Kudus? This paper uses sociological approach especially on post-structuralism sociology in combined with cultural interpretation. The conclusions of this paper are: (1) The house is the most familiar human environment within the domestic sphere as in the home are the main ideas of culture are produced and reproduced to form a system of meaning. The presence of the traditional house is loaded with ornaments wrapped with the meaning of the existence of the system reflects the moral values ​​which way of life in occupied must be actualized and implemented. Then occupied in this case is as apprenticeships in building cultural harmony gender could not be separated because of the presence of occupants in the system of relations between men and women; (2) The Values ​​of character education in term of gender harmony in the family is reflected in the networks of meaning in the traditional house can be used as an alternative reference of best practices in a habitable and could well be a reference to float the family education because it also shows the spirit of gender equality both in relation to God, to human beings, to him/herself and also to interact with its environment. Despite these efforts would require appropriate adaptation and adjustment needs of the times and the context in which it was done family education. Kata Kunci: Pendidikan Harmoni Gender, Rumah Adat Kudus, Nilai-nilai Moral.
Spiritualisme Ratu Kalinyamat: Kontroversi Tapa Wuda Sinjang Rambut Kanjeng Ratu di Jepara Jawa Tengah Nur Said
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 15, No 2 (2013): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.495 KB) | DOI: 10.18860/el.v15i2.2761

Abstract

In Javanese tradition, patriarchal culture is hold strongly though it cannot be generalized as a necessity. The emergence of Queen Kalinyamat as the representation of Javanese woman apparently indicates a contrary to the mainstream Javanese tradition. This article is a semiotical analysis on the spiritualism of Queen Kalinyamat who lived in the 16th century and protested against injustice in that time. She sent the military forces to Malacca to repel the Portuguese so that she was known as a wealthy and very powerful woman. Meanwhile, when her husband and brother were killed by Arya Penangsang, she also demanded justice by living as a naked ascetic (tapa wuda sinjang rambut) which resulted in multiple spiritual interpretations for grass root society. This is mostly interpreted as the spirit of sex drive, but the sufis interpreted it as meaningful metaphor to leave all sorts of worldly power material and position, then it is symbolized by the Arabic letter of Alif. Naked in this case is as a symbol of self-emptying and then filled with repentance, love and taqorrub to God. Queen Kalinyamat’s spiritualism counters the Javanese tradition toward different perspective reflecting eco-feminism trend in post-colonial era. Dalam tradisi Jawa, budaya patriarki masih sangat kuat meskipun tidak bisa digeneralisasi sebagai suatu keniscayaan. Munculnya Ratu Kalinyamat sebagai representasi perempuan di Jawa, ternyata menunjukkan kondisi bertentangan dengan tradisi Jawa secara umum. Artikel ini melalui analisis semiotik membahas spiritualisme Ratu Kalinyamat di Jepara, Jawa Tengah yang hidup di abad ke16 dan berani protes terhadap ketidakadilan pada waktu itu. Dia mengirimkan armada pasukan militer ke Malaka untuk mengusir penjajah Portugis hingga dikenal sebagai wanita kaya dan sangat kuat. Sementara itu, ketika suami dan kakaknya dibunuh Arya Penangsang, dia juga menuntut keadilan dengan bertapa telanjang (tapa wuda sinjang rambut) yang telah melahirkan multi-makna spiritual di masyarakat akar rumput. Meskipun sebagian memaknainya sebagai semangat gairah seksual, kalangan sufistik memandangnya sebagai perilaku simbolik yang bermakna meninggalkan segala macam kekuasaan duniawi baik material dan jabatan sehingga dilambangkan dengan huruf Arab Alif. Telanjang dalam hal ini sebagai simbol pengosongan diri dan kemudian diisi dengan pertobatan, kasih dan taqorrub kepada Allah. Spiritualisme Ratu Kalinyamat menentang tradisi Jawa yang cenderung patriarki menuju perspektif yang berbeda yang mencerminkan trend ecofeminisme di era poskolonial
Budaya Berhuni Kaum Sufistik Borjuis: Kontestasi Simbolik dalam Konstruksi Rumah Adat Kudus Nur Said
el Harakah: Jurnal Budaya Islam Vol 10, No 3 (2008): EL HARAKAH
Publisher : UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.754 KB) | DOI: 10.18860/el.v10i3.4759

Abstract

Omah, Javanese term for house, is not only as a place to protect from hot and cold weather, importantly, as a place for Javanese people to actualize themselves both personally and socially. This is interesting to expose as its existence represents the symbolic fight of negotiation process between cultures happened in its period. The relationship between the house and its occupant symbolizes the cultural apprenticeship which is expressed in the use of the room. The house also represents the substance and material aspect, even, the first one still becomes the main concern. The substance aspect can be seen in the ornament which sometimes still has animal picture, as Sunan Kudus is someone who has high tolerance. The material aspect expresses the strategy to defend the existence and dignity. As a whole, the house represents the face of Islam which is substantive-esoteric, and still considers existentialist-symbolic aspect as another important aspect Omah, istilah Jawa untuk rumah, tidak hanya sebagai tempat untuk melindungi dari cuaca panas dan dingin, yang penting, sebagai tempat bagi orang Jawa untuk mengaktualisasikan diri mereka baik secara pribadi maupun sosial. Hal ini menarik untuk diungkapkan karena keberadaannya merupakan pertarungan simbolis dalam proses negosiasi antara budaya yang terjadi pada periode tersebut. Hubungan antara rumah dan penghuninya melambangkan magang budaya yang diungkapkan dalam penggunaan ruangan. Rumah juga mewakili substansi dan aspek material, bahkan yang pertama tetap menjadi perhatian utama. Aspek substansi bisa dilihat pada ornamen yang terkadang masih memiliki gambar binatang, karena Sunan Kudus adalah seseorang yang memiliki toleransi tinggi. Aspek material mengekspresikan strategi untuk mempertahankan eksistensi dan martabat. Secara keseluruhan, rumah tersebut mewakili wajah Islam yang bersifat substantif-esoteris, dan masih menganggap aspek eksistensialis-simbolis sebagai aspek penting lainnya.
Jalan Tasawuf dalam Naskah Layang Ijo Koleksi Kyai Mohammad Thohari Sidoarjo, Jawa Timur Nur Said
Jurnal Lektur Keagamaan Vol 13 No 2 (2015)
Publisher : Center for Research and Development of Religious Literature and Heritage, Agency for Research and Development and Training, Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (909.278 KB) | DOI: 10.31291/jlk.v13i2.230

Abstract

Penelitian ini mengkaji empat hal: 1) dari mana asal-usul naskah Layang Ijo diperoleh?, 2) Apa deskripsi naskah Layang Ijo, mulai dari kondisi fisik sampai karakteristik ajarannya?, 3) Bagaimana sejarah naskah Layang Ijo dikumpulkan dan diajarkan?, 4) Apa nilai-nilai tasawuf apa yang dipetik dari ajaran Layang Ijo untuk kehidupan masyarakat Islam saat ini? Penelitian ini menggunakan prosedur filologis diikuti dengan analisis interpretatif untuk mengungkapkan jalan tasawuf dalam ajaran Layang Ijo. Kesimpulan dari penelitian menunjukkan bahwa tradisi menulis dalam periode Wali Sanga bukan hanya terkait ungkapan batin (qalb), tetapi juga sebagai respon terhadap masalah kemanusiaan dalam kehidupan nyata seperti perilaku (lelaku) Wali Sanga. Di dalamnya juga dijelaskan pentingnya pengetahuan yang benar (ilmu sejati), hubungan harmonis antara tarikat, syari’at, dan hakikat, serta misteri kematian Syekh Siti Djenar. Di bagian akhir juga dibahas jalan ma'rifatullah sebagai warisan para Nabi, Rasul, dan kekasih Allah (Waliyyullah).Kata Kunci: Sufisme, manuskrip, Layang Ijo, filologi, konflik dan harmoniThis research examines four things: 1) Where do the origins of the manuscript Layang Ijo obtained by the collector?, 2) What is the description of the manuscript Layang Ijo ranging from physical conditions until characteristics of teaching?, 3) What the history of the manuscript Layang Ijo was collected dan taught?, 4) What are the values of Sufism anything that can be drawn from the Layang Ijo for the needs of the Islamic community life today? This research uses the philological procedures followed by interpretative analysis to find the path of Sufism in the Layang Ijo teaching. The conclusion of research shows that the tradition of writing in the time period of Wali Sanga is not just an expression of inner-sense (qalb) but also as response to the humanitarian concerns in the real life such as the mission and behavior (lelaku) of Wali Sanga, the importance of true knowledge (ilmu sejati), the Sufism, the harmony between tharikat, shari'ah and hakekat, as well as the mystery of the death of Sheikh Siti Djenar also reviewed in this manuscript. In the end it also discussed the way of ma'rifatullah as a legacy of the prophets, apostles and the lover of God (Waliyyullah).Keywords: Sufism, Layang Ijo manuscript, philology, conflict and harmony
SARIDIN IN THE STRUGGLE BETWEEN ISLAM AND TRADITION: The Relevance of Islamism of Saridin for Character Education of Coastal Communities Nur Said
Asia-Pacific Journal on Religion and Society Vol 6, No 2 (2022): APJRS
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/apjrs.v6i2.21646

Abstract

This article is a research on the "people religion" that the Sedulur Sikep community of Pati, Central Java, considers as a belief pattern and value system that in fact constitute the unique identity of Islam. It starts with the existence of Sariddin, who later changed his identity to Sheikh Jangkung, and his struggle between Islam and local culture as an effort to actualize local cultural values in character-building education. The affirmation of Islamic teachings developed by Saridin with popular local cultural symbols and systems makes character education easy to digest and live with cultural awareness and cultural intelligence
Pemberdayaan Komunitas Pemulung Dalam Mengembalikan Fungsi Madrasah di Kompleks Perumahan Sosial Pecinan, Hadipolo, Jekulo, Kudus Melalui Pendekatan Partisipatory Action Reseach (par) Dewi, Siti Malaiha; Said, Nur
Community Development: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol 1, No 1 (2016): Community Development Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/cdjpmi.v1i1.2581

Abstract

Tulisan ini merupakan catatan atas proses pemberdayaan yang dilakukanoleh peneliti dalam memberdayakan komunitas pemulung yang adadi kompleks Perumahan Sosial Pecinan, Hadipolo, Jekulo, KabupatenKudus dalam mengembalikan kuasa mereka terhadap madrasah diniyyahAl Muhajirin dengan menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR). Dengan pedekatan PAR ini diketahui core problem yang menjadi penyebab stagnasi pembelajaran di Madin Al Muhajirin yaitu: 1) Ketergantungan guru/ustadz dari luar perumahan sehingga kuasa kelolaatas madrasah justru tak sepenuhnya dimiliki oleh warga perumahan;2) Tidak adanya struktur kepengurusan  madrasah yang jelas; 3)Kuatnya stigma negatif yang menghambat komunikasi antar kelompokdi masyarakat Perumahan Pecinan; 4) Terbatasnya dana operasional.Adapun hasil proses PAR diketahui bahwa komunitas pemulung,terutama pemudanya sesungguhnya memiliki potensi-potensi strategissebab sebagian sudah memiliki keilmuan yang mumpuni namun mereka kurang percaya diri. Setelah mengikuti berbagai program pelatihan, anak-anak muda pecinan menampakkan antusiasme dalam menggerakkanmadrasah Al Muhajirin.