Claim Missing Document
Check
Articles

Found 34 Documents
Search

NALAR PLURALISME JOHN HICK DALAM KEBERAGAMAAN GLOBAL Said, Nur
FIKRAH Vol 3, No 2 (2015): FIKRAH: JURNAL ILMU AQIDAH DAN STUDI KEAGAMAAN
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.465 KB) | DOI: 10.21043/fikrah.v3i2.1806

Abstract

Paper ini secara khusus membahas paham pluralisme agama dalam nalar John Hick sebagai respon atas terjadinya berbagai aksi kekerasan bernuansa agama di berbagai negara terutama di Perancis baru-baru ini. Terjadinya kekerasan bernuansa agama tak lepas dari paham keberagamaan yang eksklusif. Maka perlu paridigma baru yang lebih humanis. Paham pluralisme agama bisa sebagai alternatif, meski tetap harus kritis tak menerima begitu saja. Melalui pendekatan filsafat kritis, topik ini dikaji. Simpulannya adalah bahwa Hick telah menawarkan suatu kerangka paradigmatis dalam melihat teologi agama sehingga mendorong terwujudnya dialog antar agama di tengah kemajmukaan. Menurut Hick, semua agama berasal dari the Real. Namun karena tidak adanya akses secara langsung kepada the Real, lahirlah conflicting conception of the Real. Semua persepsi terhadap the Real selalu melalui mediator yaitu tradisi keagmaan yang unik (unique religious tradition) yang disebut sebagai “konsep lensa “ (conceptional lens) sehingga melahirkan pluralitas agama sebagai awal paham pluralisme agama. Secara etik paham pluralisme Hick bisa menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan universal untuk saling bekerja-sama menanggulangi penderitaan manusia. Namun secara paradigmatis paham pluralisme Hick tetaplah problematik, karena Hick cenderung rasional murni. Padahal secara ontologis setiap manusia itu bergerak dengan tiga pertimbangan sekaligus yaitu; kualitas baik (potensi rasional), kualitas benar (potensi spiritual), dan kualitas nyaman (potensi emosional). Dalam tiga kualitas itulah mestinya paradigma pluralisme agama perlu dirumuskan ulang agar paham pluralisme yang berkembang lebih komprehensif.
TEOLOGI ISLAM KONTEKSTUAL- TRANSFORMATIF Said, Nur
FIKRAH Vol 1, No 1 (2013): Fikrah
Publisher : Prodi Aqidah dan Filsafat Islam, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/fikrah.v1i1.307

Abstract

A Religion has strong influence on humanity, morality, ethics, and aesthetics in the process of humankind development. This of course, will construct the worldview individually and socially as well. It may be said that nearly all the social life haven’t been ignored the role of religion in the making humanity as an expression of the whole of collective life. Therefore the religious spirit is also in constant change, which formulated in a certain theology in line with the historical progress contextually. In addition, theology is a discourse through which believers develop and express the content of their faith as they have confessed it. The notion of this article tries to elaborate the contextualization of Islamic Theology in Indonesia in respecting to the social phenomena such as colonialism, oppression, human right, and pluralism in Indonesia. It also gives paradigmatic contribution to interpret the Secret text on historical situation in order to determine public morality more than just individual morality. The main points are a searching of meaning between “text” and context in Indonesia society as manifestation of Islamic contextual theology. It means that Islam should be “translated” in particular way in order may “come down to earth” and meet in the contemporary demands. Keywords: Islam, contextual-transformative theology, human right, Indonesia
PENGARUSUTAMAAN SPIRITUAL DALAM PENDIDIKAN WAWASAN KEBANGSAAN (Studi Kasus GEMA NUSA di Pesantren Daarut Tauhiid Bandung) Said, Nur
QUALITY Vol 2, No 2 (2014): QUALITY
Publisher : Pascasarjana IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/quality.v2i2.2103

Abstract

AbstractThe article’s main focus is on exploring the character educational model for nationalism in pesantren (Islamic boarding school)  Daarut Tauhid (DT) Bandung  through Gerakan Nurani Membangun Bangsa (GEMA NUSA).  The article based on qualitative research through case study and phenomenological method. The results are; (1) The presence of GEMA NUSA aims to build a moral nation towards "dignified Indonesia” by making the conscience as a foundation, a way of thinking and acting, (2) The concept of nationalism which was developed by GEMA NUSA tend to be oriented to three things: (a ) religious nationalism, (b) universal humanism, (c) synergistic multiculturalism;  (3) Character educational model of nationalism that was developed by GEMA NUSA are looking forward to the problems facing the informal education based on the real issues at that time.   AbstrakPaper ini menfokskan pada model pengarusutamaan spiritual sebagai strategi pendidikan wawasan kebangsaan dengan studi kasus di Gerakan Nurani Membangun Bangsa (GEMA NUSA) Pesantren Daarut Tauhiid Bandung. Paper ini merupakan hasil penelitian kualitatif dengan  metode studi kasus dan fenomenologis. Paper ini menyimpulkan; (1) kehadiran GEMA NUSA yang menjadikan kesadaran hati nurani (spiritualitas) sebagai landasan dalam pendidikan karakter telah melahirkan ratusan bahkan ribuan relawan untuk aksi solidaritas sosial; (2) Konsep kebangsaan yang dikembangkan GEMA NUSA memiliki karakter nasionalisme religius, humanisme universal dan multikulturalimse sinergis; (3) Model pengarusutaan spiritual dalam pendidikan wawasan kebangsaan yang dikembangkan oleh GEMA NUSA lebih mengedepankan model pendidikan hadap masalah (berbasis realitas) sehingga nilai-nilai moral yang diinternalisasikan melalui proses pengkaderan diintegrasikan juga dengan aksi nyata solidaritas sosial atas masalah yang dihadapi pada saat itu.
PENDIDIKAN AKHLAK MUSLIMAT MELALUISYA’IR : ANALISIS GENDER ATAS AJARAN SYI’IR MUSLIMAT KARYA NYAI WANIFAH KUDUS Said, Nur
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 2 (2015): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i2.970

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada tiga hal: (1) Apakah karakteristik lingkup isi Syi’ir Muslimat?, (2) Bagai-manakah kondisi sosial budaya pada saat naskah ditulis oleh penulis?, (3) Apa nilai-nilai pendidikan moral bagi perempuan Muslim di isi Syi’ir Muslimat dalam perspektif gender?. Penelitian ini menggunakan pendekatan filologi dengan meningkatkan penggunaan analisis gender. Hasil dari penelitian ini adalah: Pertama, Syi’ir Muslimat ditulis oleh Nyai Wanifah, seorang wanita yang hidup pada zaman kolonial Belanda dipesantren tradisi di Kudus, Jawa Tengah. Kedua, beberapa nilai pendidikan moral di Syi’ir Muslimatantara lain: (1) Pentingnya pendidikan moral, (2) Bahaya perempuan bodoh; (3) Pentingnya belajar bagi perempuan di usia dini, (4) Etika menghias diri; (5) Bahaya materialisme, (6) Etika hubungan keluarga; (7) Dari rumah untuk mencapai surga; (8) Berhati-hatilah dengan tipu iblis; (9) Hindari perzinahan; (10) yang penting dari penutupan aurot; (11) yang ditujukan kepada orang tua. Ketiga, meskipun ada beberapa senyawa yang bias gender dalam Syi’ir Muslimat misalnya: (a) Ada penjelasan yang menunjukkan bahwa perempuan lebih rendah dibandingkan laki-laki dalam derajat, (2) Pernyataan bahwa wanita bicara dibandingkan laki-laki, (3) wanita hanya cocok di wilayah domestik; Namun secara umum nasihat di syi’ir masih sangat relafen dalam konteks sekarang, terutama untuk memberikan solusi alternatif dalam merespon krisis moral bangsa terutama pada wanita generasi muda.Kata kunci: Syi’ir Muslimat, Pendidikan Karakter, Analisis Gender.This study focused on three things: (1) What is the characteristics of the scope of contents of Syi’ir Muslimat?, (2) What is the socio-cultural conditions at the time the manuscript was written by the author?, (3) What are the moral education values for Muslim women in the content of Syi’ir Muslimat in the perspective of gender?. This research uses a philological approach with enhanced use of gender analysis. The result of this study are: Firstly, Syi’ir Muslimat is written by Nyai Wanifah, a woman who lived during the Dutch colonial era in Islamic boarding schools (pesantren) tradition in Kudus, Central Java. Secondly, some of the moral education values in Syi’ir Muslimat among others: (1) The importance of moral education, (2) The danger of stupid women; (3) The importance of learning for women at early age, (4) Ethics decorated themselves; (5) The danger of materialism, (6) The ethics of relation the family; (7) From the house to reach heaven; (8) Beware the devil trickery; (9) Avoid adultery; (10) the important of closing aurot; (11) devoted to parents. Third, although there are some compounds that gender bias in Syi’ir Muslimat for example: (a) There is an explanation that shows that women lower than men in degree, (2) The claim that women are talkative than men, (3) Women only fit in the domestic sphere; however in general the advices in syi’ir is still very relafen in the present context, particularly to give alternative solution in responding the nation moral crisis especially in women young generation.Keywords:Syi’ir Muslimat, Character Education, Gender Analysis.
POLITIK ETIS KEPAHLAWANAN RA KARTINI: MENGUAK SPIRITUALISME KARTINI YANG DIGELAPKAN Said, Nur
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 7, No 2 (2014): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v7i2.1022

Abstract

Artikel ini membahas tiga isu utama terkait kepahlawanan RA Kartini di Indonesia: (1) Apa saja pertimbangan politikpemerintah dalam menetapkan Kartini sebagai pahlawanannasional?; (2) Bagaimana arkeologi pemikiran Kartiniterbentuk sehingga dikenal sebagai tokoh emansipasiwanita di Indonesia?, (3) Mengapa spiritualisme Kartinicenderung tersembunyi?, Makalah ini ditulis berdasarkanpenelitian perpustakaan dengan pendekatan filosofis.Kesimpulan dari artikel ini adalah: (1) Penentuan Kartinisebagai pahlawan tak lepas dari kepentingan politik. (2)Telah terjadi intervensi dari orientalis yang mengesankanKartini sebagai seorang sekuler dan penganut feminis Barat.(3) Kartini adalah seorang Muslim yang kritis bahkan diatidak ragu-ragu untuk memberikan gugatan dan kritik tajamdari fenomena keagamaan yang kurang mendidik, termasukdalam pembelajaran dari Al-Qur’an. Hal ini telah benar benar mencapai tingkat tertinggi kesadaran Kartini sebagai “hambaAllah” yang anti-feodalisme dan kolonialisme.kata kunci: Kepahlawanan Kartini, Spiritualisme, kolonialisme, politik etis This article discusses three focus issues: (1) What kindsof political interest in deciding behind the heroism ofKartini?; (2) What is the archaeological thought of  Kartinidespite his heroic figure?, (3) Why does the spiritualismof Kartini inclined hidden behind the frenzied heroismKartini that tends to make it as an object of ethical politics of dutch colonialism? This paper was writtenbased on library research with philosophical approaches.Conclusions of this article are: (1) the determinationof Kartini as an hero could not be separated from thepolitical intrigues. (2) Due to the intervention of theOrientalist writer has impressed Kartini be secular andWestern feminist adherents. (3) Kartini is a Muslimcritical even she did not hesitate to give the lawsuit andsharp criticism of the religious phenomenon which doesnot educate, including the learning of the Qur’an. It hasactually reached the highest degree of Kartini’s awareness as a servant of God that anti-feudalism and colonialism.Keywords: Heroism of Kartini, Spiritualism, Colonnialism, Ethics Political
INTEGRASI NILAI HARMONI DALAM PENDIDIKAN ISLAM MELALUI KELUARGA DAN SEKOLAH Said, Nur
PALASTREN: Jurnal Studi Gender Vol 8, No 1 (2015): PALASTREN
Publisher : UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/palastren.v8i1.934

Abstract

Inti dari ajaran Islam adalah tauhid dan nilai harmoni (Islam). Tulisan ini fokus pada kajian terkait teori pendidikan harmoni melalui pendidikan Islam di sekolahdan keluarga. artikel ini dimulai dari konsep pendidikan harmoni yang meliputi harmoni dari dalam, harmonisosial, dan harmoni alam. Selanjutnya mengkaji terkait pandangan Islam  terkait harmoni yang meliputi 4 dimensiyaitu (1) harmoni kaitanya hubungan manusia dengan Tuhan; (2) harmoni dengan diri sendiri; (3) harmonidengan masyarakat; dan (4) harmoni dengan lingkungan.Dengan memperkenalkan teori pendidikan harmoni baikIslam maupun non-Islam, diharapkan dapat memberikan sumbangan pada design kurikulum pembelajaran melalui pendidikan Islam dan menjadi salah satu materi pelajarandi sekolah Indonesia dan pendidikan keluarga.kata kunci: Integrasi, Pendidikan Harmoni, Sekolah,Keluarga.
Implikasi Perenial Kekayaan dalam Sunnah Nabi Said, Nur
RIWAYAH Vol 3, No 1 (2017): Riwayah : Jurnal Studi Hadis
Publisher : Ilmu Hadis, Fakultas Ushuluddin, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/riwayah.v3i1.3437

Abstract

Pandangan dunia (world view) umat Islam banyak dipengaruhi oleh Sunnah Nabi disamping tentu Al Qur’an sebagai sumber utama dalam Islam. Demikian juga dalam menyikapi kekayaan dan kemiskinan dalam orientasi hidup umat Islam. Artikel ini akan melakukaan telaah kritis atas doktrin hadis sebagai produk sunnah Nabi terkait implikasi kekayaan (harta) antara kelompok miskin/fakir dan kaya yang termaktub dalam sejumlah hadis terkait. Sebagai bagian dari proses takhrij, maka di dalamnya menganalisis kebersambungan sanad, kualitas individu perawi, hingga telaah matan. Kesimpulannya menunjukkan hadis terkait implikasi perenial dalam tahapan hisab ditemukan semua sanad yang muttas}il dan terhindar dari syaz| dan ’illat, sehingga sanad hadis ini adalah muttas}il-marfu‘, artinya sifat-sifat yang ada pada sanad dan cara periwatannya bersambung sampai kepada Nabi SAW. Dalam telaah perbandingan atas hadis yang hampir serupa dan memiliki informasi keadaan sosio-historis menunjukkan penegasan bahwa tahapan hisab (hari perhitungan) adalah suatu proses eskatologis yang dilewati setiap hamba. Bukan faktor fakir atau kaya yang menentukan seseorang masuk surga, tetapi untuk apa kekayaan tersebut dimanfaatkan bagi kehidupan yang bersifat perenialis.
Filsafat Terapan Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Akomodatif Bagi Penyandang Disabilitas Soleh, Akhmad; Said, Nur
Jurnal Penelitian Vol 15, No 2 (2021): JURNAL PENELITIAN
Publisher : LP2M IAIN kUDUS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/jp.v15i2.12965

Abstract

At the end of 2021, the President of the Republic of Indonesia has signed the formation of the National Commission for Disabilities (KND). They certainly need research data to support research-based policies. This article formulates the applied philosophy of disability-responsive Islamic higher education in Indonesia with a case study at IAIN Alaudin Makassar. This study uses a philosophical, phenomenological and educational policy approach. The data collected by observation, interviews and documentation were then analyzed with a philosophical and phenomenological perspective within the framework of education policy. This study concludes that the most important thing and is the main capital in building an inclusive campus is the issue of world view, namely the philosophical foundation that gives birth to the attitudes, behavior and culture of the campus community and society as a whole to build an inclusive campus for students with disabilities. With a philosophical vision of becoming a center for enlightenment and transformation of science and technology based on Islamic civilization, this is a curriculum idea that has the potential to be reconstructed into a curriculum document as a reference in curriculum implementation in achieving disability-responsive educational goals. This framework of thinking is part of an applied Islamic paradigm that is in line with the reasoning of the religion of peace or as a form of prophetic thinking paradigm based on theo-anthropocentric existentialist philosophy of  Islamic Religious Higher Education in Indonesia
URGENSITAS CULTURAL SPHERE DALAM PENDIDIKAN MULTIKULTURAL: Rekonstruksi Semangat Multikulturalisme Sunan Kudus bagi Pendidikan Multikultural di STAIN Kudus Said, Nur
ADDIN Vol 7, No 1 (2013): ADDIN
Publisher : LPPM IAIN Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/addin.v7i1.568

Abstract

HERMENEUTIKA AMINA WADUD SEBAGAI BASIS TAFSIR HARMONI ADIL GENDER DI INDONESIA Said, Nur
HERMENEUTIK : Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir Vol 11, No 1 (2017): Hermeneutik: Jurnal Ilmu al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Program Studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin, UIN Sunan Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/hermeneutik.v11i1.4508

Abstract

The domination of the interpretation of the Koran that tends to gender bias has been continued until now. Therefore the presence of Wadud as a feminist thinker to be interesting discussed. This article is to track the social and intellectual background that affect her points of views in term of tafsir and its relevance for developing feminist tafsir in Indonesia. This paper used the philosophical and hermeneutical approach. The data were collected by the method of documentation and discussed with the content analysis. The conclusions among others that Wadud has given a contribution in breaking down the traditional interpretation of the Koran by offering a critical approach to interpret  the Koran based on the awareness of  tauhid and analyse the preor-text in the interpretive process. This model of tafsir can be developed in Indonesian tafsir that still be dominated by male commentators, therefore in a certain level still become gender biased. It can be reproduced becoming an alternative feminist tafsir   to build harmony sociaty in Indonesia.