Filter By Year

1945 2024


Found 841 documents
Search RADIOLOGI

Evaluasi tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Gadjah Mada pada ilmu penyakit mulut dan radiologi kedokteran gigi Herwita, Alifah Nasywa Nur; Yanuaryska, Ryna Dwi; Naritasari, Fimma
MKGK (Majalah Kedokteran Gigi Klinik) (Clinical Dental Journal) UGM Vol 10, No 3 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/mkgk.100571

Abstract

Dokter gigi memerlukan pengetahuan yang memadai untuk merawat pasien. Pendidikan jenjang sarjana merupakan bagian dari proses belajar yang tidak terpisahkan bagi dokter gigi. Ilmu Penyakit Mulut (IPM) dan Radiologi Kedokteran Gigi (RKG) merupakan dua bidang ilmu yang membutuhkan pengetahuan mendalam dan berperan penting dalam hal diagnosis dan manajemen penyakit pada pasien. Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Gigi Indonesia,terdapat kompetensi minimal yang harus dicapai oleh mahasiswa. Terdapat lima jenis kompetensi pada bidang IPM dan dua jenis kompetensi pada bidang RKG. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat pengetahuan mahasiswa dan perbandingannya antar jenis kompetensi pada masing-masing bidang ilmu, yaitu IPM dan RKG. Penelitian dilakukan pada mahasiswa angkatan 2021 program studi S1 Kedokteran Gigi FKG UGM. Terdapat 142responden yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Enam pertanyaan IPM dan sepuluh pertanyaan RKG yang memenuhi syarat valid dan reliabel digunakan untuk mengukur pengetahuan responden terhadap dua kompetensi IPM yaitu ‘anamnesis’ dan ‘Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE)’, serta dua kompetensi RKG yaitu ‘kemampuan interpretasi’ dan ‘keterampilan prosedural’. Hasil uji Mann-Whitney U pada bidang IPM dan RKG menunjukkannilai p<0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara statistik terdapat variasi tingkat pengetahuan mahasiswa pada bidang IPM dan RKG. Selain itu, juga terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antar jenis kompetensi pada bidang ilmu yang sama. Pada bidang IPM, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antara kompetensi ‘anamnesis’ dengan ‘KIE’. Pada bidang RKG, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan antara ‘kemampuan interpretasi’ dengan ‘keterampilan prosedural’.
TEKNIK PEMERIKSAAN RADIOGRAFI CLAVICULA PADA KASUS FRAKTUR DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD KOTA SALATIGA Rolly Nenomnanu; Ixshan Budi Ramadhan; Siti Nur Asiah; Herlina Puspitasari; Fatwa Salsabila
JURNAL MULTIDISIPLIN ILMU AKADEMIK Vol. 1 No. 5 (2024): Oktober
Publisher : CV. KAMPUS AKADEMIK PUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jmia.v1i5.2686

Abstract

Menurut Bontrager (2018), prosedur pemeriksaan clavicula menggunakan proyeksi AP dan AP Axial dengan penyudutan 15°-30°chepalad. Menurut Frank (2016), teknik pemeriksaan radiografi pada clavicula secara umum menggunakan proyeksi AP, AP Axial, PA, PA Axial. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan review studi literatur tentang prosedur pemeriksaan clavicula dengan kasus fraktur. Tujuan dilakukan penelitian ini untuk mengetahui prosedur pemeriksaan clavicula dengan kasus fraktur.Jenis penelitian yang dilakukan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus, waktu pengambilan data bulan Juli 2023. subyek dari penelitian ini adalah satu dokter pengirim, satu dokter spesialis radiologi, dua radiografer, dan satu pasien. Obyek dari penelitian adalah teknik radiografi clavicula dekstra dengan indikasi fraktur clavicula. Metode pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Setelah semua terkumpul kemudian penulis mengkaji dengan literatur yang ada.Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknik pemeriksaan radiografi clavicula dengan kasus fraktur di Instalasi Radiologi RSUD Kota Salatiga dilakukan dengan posisi AP supine, kaset yang digunakan berukuran 24 cm x 30 cm, arah sinar vertikal tegak lurus, titik bidiknya pada pertengahan clavicula, FFD 100 cm, eksposi dilakukan saat pasien tidak bergerak.
Hubungan Pertambahan Berat Tubuh Ibu Hamil Terhadap Berat Janin Melalui Fetal Biometri Ultrasonografi: USG-Radiologi Hidayat, Wahyu; Edy Widiatmoko, Mahfud
JURNAL TERAS KESEHATAN Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Teras Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Politeknik Al Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38215/jtkes.v8i1.160

Abstract

Ultrasound examination is one of the main modalities to be an important tool used to determine fetal growth and development in pregnant women such as fetal weight in order to prevent stunting, complications and other abnormalities so that they can be treated early, quickly and accurately for the health of the mother and fetus. Purpose :to determine the role of ultrasound in relation to weight gain of pregnant women and fetuses through Fetal Biometry. Method used a descriptive qualitative design, with a sample of 37 pregnant. Results: most fetuses over 30 weeks old weigh between 2500-3500 grams (normal). and there are some fetuses with lower weight (below 2500 grams), which may require further monitoring regarding the possibility of intrauterine growth restriction (IUGR). Conclusion: most pregnant women experienced weight gain in accordance with pregnancy standards, and there were several cases of low-weight mothers who needed more attention in terms of nutrition.
Korelasi Nilai Laju Endap Darah dengan Gambaran Luas Lesi Radiologi Toraks Pada Pasien Tuberkulosis Paru Di Rumah Sakit Atma Jaya Regina Pebriana; Steffanus, Mario; Budiman, Yanto
The Indonesian Journal of Infectious Diseases Vol. 10 No. 2 (2024): The Indonesian Journal of Infectious Diseases
Publisher : Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof Dr. Sulianti Saroso

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32667/ijid.v10i2.189

Abstract

Latar belakang: Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia, sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi kuman TB. Dalam upaya menanggulangi penyakit TB, dibutuhkan diagnosis yang dapat ditegakkan melalui pemeriksaan bakteriologi, radiologi, dan pemeriksaan penunjang lain, seperti pemeriksaan nilai laju endap darah (LED). Infeksi TB berpengaruh terhadap peningkatan nilai LED dan pembentukan lesi radiologi pada TB Paru. Tujuan: untuk mengetahui korelasi nilai LED dengan gambaran luas lesi radiologi toraks pada pasien TB Paru di RS Atma Jaya Jakarta. Metode: Desain dalam penelitian ini adalah korelatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini yaitu pasien TB paru dewasa baru aktif yang melakukan pengobatan di RS Atma Jaya sebanyak 68 pasien yang diambil dengan teknik consecutive sampling. Pengolahan data menggunakan metode korelasi Pearson dengan interval kepercayaan 95%, dilanjutkan dengan metode analisis regresi linear. Hasil: Penelitian menunjukan hubungan yang bermakna antara nilai laju endap darah (LED) dengan luas lesi radiologi toraks dengan koefisien korelasi 0,452  (p = 0,0001), artinya mempunyai kekuatan korelasi sedang. Hasil dari faktor perancu usia (p=0,906), jenis kelamin (p=0,887), dan gula darah sewaktu (p=0,056) tidak bermakna terhadap hubungan nilai LED dengan luas lesi radiologi toraks. Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan adanya hubungan bermakna antara nilai LED dengan luas lesi radiologi toraks pada pasien TB paru di RS Atma Jaya.
Perbedaan Derajat Osteoartritis Sendi Lutut pada Hasil Radiografi Posisi AP Supine dan AP Erect di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Akademis Jaury Jusuf Putera Makassar Iskandar, A.AR.Rakhmansya; Achmad, Rusman; Amin, Imran
Lontara Journal of Health Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2020): Ilmu dan Teknologi Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/lontarariset.v1i1.27

Abstract

Osteoarthritis is a degenerative joint disease that is associated with damage to joint cartilage. One way to diagnose mild pain or the onset of OA early is to do a rontgen examination. The aim of the study was to determine the differences in the degree of osteoarthritis of the knee joint AP position erect with the AP supine position. This research was conducted in the hospital. Academic Jaury Jusuf Putera Makassar April - June 2019. This type of research is descriptive analytical, data collection techniques using questionnaires, sampling techniques carried out by accidental sampling analysis. Data analysis using statistics Presentation of data is presented in the form of graph tables accompanied by narration. Based on the results of the study it can be concluded that the Erect Position has an assessment score with an average of 7.20 while the Supine position with an average of 8.00. From the results of the statistical test obtained p value (0.455)> 0.05 means that there is no statistically significant difference in scores between Erect and Supine positions. It is expected that the radiology officer chooses the right projection that is in accordance with the patient's general condition. If it is possible for the patient to be examined with the projection of AP Weight-Bearing Standing, the officer uses the projection, otherwise the officer can use the AP Supine or AP Erect position because the two positions have no significant differences based on the results of the existing research.
Efektivitas Rancang Bangun Alat Fiksasi Pada Pemeriksaan Os Femur Di Instalasi Radiologi RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Takalar Iskandar, A.AR.Rakhmansya; Salam, Nurbeti; Basra, Yusran
Lontara Journal of Health Science and Technology Vol. 1 No. 1 (2020): Ilmu dan Teknologi Kesehatan
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/lontarariset.v1i1.33

Abstract

Radiology Fixation Tool is a tool made from a specially designed iron plate which is expected to be able to function which contains a report that can be used by the radiologist who handles patients with a femur pryection examination table for non-cooperative patients. This study was designed to obtain information about os femur fixation design assistance in the Radiology Installation of H. Padjonga Regional Hospital, Ngalle Takalar, to obtain information about fixation devices that are made very effective or effective for tool design, patient care, and required radiographic results. This research was conducted in April - May 2019. The type of this research is Deskritiptif where the population and samples that are the object of this research come from radiology radiographers at RSUD H. Padjonga Dg. Ngalle Takalar as many as 8 respondents Based on the results of data collection using a questionnaire in the Radiology Installation of H. Padjonga Hospital in Ngalle Takalar in terms of the Design Tools Obtained results of 100 percent or according to the excellent category of this tool, it is very easy, easy and easy to use for users. For aspects of the Patient Acceptance aspect, the results are 95 percent or in a very good category. While for the Radiographic Results aspect, the results obtained are 75 percent or in the Good category. Preferably the procurement of radiological fixation devices is a necessity. With a fixation tool, it can reduce image sharpness due to movement / thus helping radiographers to produce high quality photos.
Implementasi Penggunaan Alat Pelindung Diri pada Sinar-X Sesuai Standar Operasional Prosedur Instalasi Radiologi Mahdania, Helinda; Novita, Rati Dwi; Darmawan, Zulkifli Tri; Arman, Zulkifli; Musdalifah, Indah; Normawati, Sitti
Lontara Journal of Health Science and Technology Vol. 6 No. 1 (2025): Januari-Juni 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53861/lontarariset.v6i1.510

Abstract

Implementation of the use of personal protective equipment against X-rays in accordance with the Standard Operational Procedures for Radiological Installations, which has a very important role in reducing the risk of work accidents due to radiation which impact radiographers and patients during radiological examinations. This research was carried out with the aim of finding out how to implement the use of personal protective equipment for X-rays according to standard operating procedures (SOP) for the radiology installation at Ibnu Sina Hospital YW-UMI. This research used quantitative methods using questionnaires given to 8 radiographers. The research results showed that radiology workers were not yet optimal in using Personal Protective Equipment for X-rays in accordance with the Standard Operating Procedures at Ibnu Sina YW-UMI Hospital.
Perbandingan Kinerja Dosimeter TLD dan OSL pada Pengukuran Dosis di Radiologi Diagnostik Ridho, Muhammad; Viana, Retno Nur Okta; Pata'dungan, Natalia; Putri, Erlinda Ratnasari
Progressive Physics Journal Vol. 5 No. 2 (2024): Progressive Physics Journal
Publisher : Program Studi Fisika, Jurusan Fisika, FMIPA, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/ppj.v5i2.1445

Abstract

Radiation dose measurement is crucial for ensuring the safety and optimization of radiology practices. Dose measurement in diagnostic radiology involves a systematic process aimed at accurately quantifying the radiation doses used during radiological procedures, ensuring compliance with safety guidelines. This study aims to evaluate and compare the performance of Optically Stimulated Luminescence (OSL) dosimeters and Thermoluminescent Dosimeters (TLD) in measuring radiation doses during diagnostic radiology procedures. The study utilized a polymethyl methacrylate (PMMA) phantom to simulate the human body. Both OSL and TLD dosimeters were employed to measure radiation doses under clinical exposure conditions. The data collected from both dosimeter types were compared to assess their accuracy, efficiency, and effectiveness in different radiological settings. The results show that OSL dosimeters offer higher sensitivity and faster reading times compared to TLDs. OSL dosimeters also demonstrate a higher level of precision, which is crucial for optimizing radiological procedures. While TLDs still provide reliable results, they require more preparation time and a longer reading process. OSL dosimeters are superior to TLDs in terms of efficiency, sensitivity, and speed, making them a preferred choice for radiation dose measurement in diagnostic radiology and contributing to safer and more accurate radiology practices.
Analisis Akurasi Perhitungan Nilai Ejeksi Fraksi Cardiac Magnetic Resonance untuk Meningkatkan Mutu Layanan Kesehatan di Radiologi Widiatmoko, Mahfud Edy; Tarigan, Asumsie; Kuswoyo, Heri; Nurhidayati, Tri
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 4 No 4 (2024): JUPIN November 2024
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.982

Abstract

Ejeksi Fraksi (EF) merupakan parameter untuk menilai kemampuan jantung dalam memompa darah ke seluruh tubuh. Saat ini modalitas yang sering digunakan untuk mendeteksi nilai EF adalah USG, tetapi memiliki keterbatasan yaitu poor acoustic window atau kualitas gambaran kurang optimal dan tergantung kemampuan teknologis. Ahli MRI Bellenger dan Friedrich menyatakan bahwa pemeriksaan Cardiac Magnetic Resonance memiliki keunggulan dalam memberikan akurasi nilai EF dan memiliki 2 metode pengukuran View Short Axis dan Long Axis. Tujuan:i untuk mengetahui akurasi nilai ejeksi fraksi ventrikel kiri pada pemeriksaan Cardiac Magnetic Resonance dengan metode view short axis dan long axis terhadap echocardiography. Metode: desain penelitian deskriptif kuantitatif tentang perhitungan EF dan dilakukan di instalasi radiologi rumah sakit di Jakarta pada bulan Juli–Oktober 2022 dengan sampel 33 pasien. Data diperoleh dengan cara observasi dan pengukuran menggunakan software CVI 42 yang terdapat pada perangkat MRI 1,5T Merk GE Signa Voyager. Data dianalisis menggunakan perangkat lunak Microsoft Excel dan SPSS untuk menghitung rata-rata EF dan selisih rata-rata EC-SA serta EC-LA terhadap hasil echocardiography. Hasil: Nilai rata-rata presentase EF pada metode pengukuran LVEF-EC sebesar 41%, LVEF-SA sebesar 40% dan LVEF-LA sebesar 43%. Ketepatan nilai fraksi ejeksi didapatkan nilai rata-rata selisih EC-SA sebesar 0,939 dengan presentase 3% dan nilai rata-rata selisih EC-LA sebesar 1,812 dengan presentase 5%. Simpulan: Hasil pengukuran perhitungan ejeksi fraksi dengan metode short axis lebih akurat di bandingkan long axis sehingga dapat dijadikan standar prosedur pemeriksaan Cardiac Magnetic Resonance. Standar ini akan memberikan kualitas mutu layanan diagnostik yang tepat dalam tindakan layanan kesehatan.
Integrasi Picture Archiving and Communication System dengan Modality Radiologi Digital Lama Menggunakan Protokol Digital Imaging and Communications in Medicine Sender dan Mirth Connect Maruf, Khoirul; Pertiwi, Atit
Jurnal Pendidikan dan Teknologi Indonesia Vol 5 No 1 (2025): JPTI - Januari 2025
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpti.633

Abstract

Radiologi merupakan cabang ilmu kedokteran yang menggunakan teknologi pencitraan untuk mendiagnosis penyakit. Pada era digital, sebagian besar rumah sakit telah menerapkan teknologi digital dengan format DICOM untuk menyimpan hasil pencitraan radiologi dalam sistem PACS. Namun, modalitas digital lama tanpa fitur protokol DICOM Sender menghadapi kendala dalam mengirimkan gambar ke PACS. Penelitian ini bertujuan untuk mengintegrasikan PACS dengan modalitas digital lama menggunakan fitur protokol DICOM Sender melalui Mirth Connect. Metode penelitian melibatkan konfigurasi Mirth Connect untuk mengubah data format non-DICOM menjadi format DICOM yang kompatibel dengan PACS. Hasilnya menunjukkan bahwa sistem yang dikembangkan berhasil mengintegrasikan gambar dari modalitas lama dengan PACS dengan tingkat keberhasilan 98% dan mengurangi waktu pengiriman gambar hingga 50%. Dampaknya, integrasi ini meningkatkan efisiensi proses diagnosis dokter radiologi serta mendukung penggunaan sistem informasi radiologi secara optimal.

Page 54 of 85 | Total Record : 841