Filter By Year

1945 2024


Found 841 documents
Search RADIOLOGI

Karsinoma Serviks: Gambaran Radiologi dan Terapi Radiasi Arini Pramodavardhani Puteri
Cermin Dunia Kedokteran Vol 47 No 4 (2020): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v47i4.368

Abstract

Kanker serviks merupakan keganasan yang berasal dari serviks. Penyebab kanker serviks diketahui adalah virus HPV (Human Papilloma Virus) subtipe onkogenik, terutama subtipe 16 dan 18. Gambaran radiologi tumor terlihat setidaknya pada stadium IB. MRI adalah modalitas pencitraan pilihan untuk menggambarkan tumor primer dan menilai persebaran lokal, sedangkan penyebaran metastasis jauh terbaik dinilai dengan CT scan atau PET scan. Radioterapi terdiri atas kombinasi radiasi eksterna daerah pelvis dan brakiterapi. Kombinasi pembedahan dan radiasi ataupun kemoradiasi pada stadium I dan II merupakan tindakan radikal dan dapat memberikan hasil memuaskan. Cervical cancer is a malignancy originating from the cervix. The cause of cervical cancer is HPV (Human Papilloma Virus) oncogenic subtype, especially subtypes 16 and 18. Radiological features of the tumor are seen at least at stage IB. MRI is the imaging modality of choice for primary tumors description and assessing local distribution while distant metastatis is best assessed by CT scan or PET scan. Radiotherapy consists of a combination of external radiation for the pelvic region and brachytherapy. Combination of surgery and radiation as well as chemoradiation in stages I and II is a radical treatment and can provide satisfactory results.
Peran Radiologi untuk Mendiagnosis Lipoblastomatosis Biddulth
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 12 (2018): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i12.690

Abstract

Lipoblastomatosis merupakan kasus jarang, berupa tumor jinak jaringan lunak mengandung komponen embrionik lemak putih, terdiri atas selsel adiposit dan lipoblas (adiposa immatur) yang menginvasi jaringan sekitarnya. Predileksi tersering pada anak-anak, di subkutis atau jaringan lunak lebih dalam di regio ekstremitas atas atau bawah. Pemeriksaan radiologi konvensional berfungsi membedakan massa jaringan lunak dari keterlibatan tulang atau tumor primer tulang. Modalitas radiologi lain adalah CT scan ataupun MRI, yang membantu mengevaluasi massa, juga menilai ekstensi massa ke jaringan sekitarnya. Pemeriksaan histopatologi diperlukan sebagai standar baku emas untuk diagnosis. Lipoblastomatosis is a benign rare soft tissue mass containing embryonic white fat of adipocytes and lipoblasts that invade adjacent structures. It mostly occurs in children with predilection in subcutanous or deeper structure of upper or lower extrimities. Conventional radiographs serves to distinguish soft tissue mass with bone involvement or bone primary tumors. Other radiological modalities, such as CT scan or MRI, assess mass extension into the surrounding tissue. Histopathological examination is required as diagnosis gold standard
Gambaran Radiologi untuk Deteksi Prenatal Osteogenesis Imperfecta Inez Kartika; Dewa Gde Mahiswara Suadiatmika
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 6 (2018): Interna
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i6.771

Abstract

Osteogenesis imperfecta (OI) adalah kelainan heterogen genetik tulang dan jaringan ikat yang disebabkan mutasi dominan gen kolagen tipe I, COL1A1, dan COL1A2. Pemeriksaan radiologi masih menjadi alat skrining pertama untuk menentukan evaluasi genetik prenatal dini.   Osteogenesis imperfecta (OI) is a genetic heterogenous disorder of bone and connective tissue caused by dominant mutation in collagen type I genes, COL1A1, and COL1A2. Radiological examination remains to be the first screening tool for early prenatal genetic evaluation.
Pencegahan Efek Radiasi pada Pencitraan Radiologi Reginald Maleachi; Ricardo Tjakraatmadja
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 7 (2018): Onkologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i7.773

Abstract

Efek radiasi dalam bidang radiologi tidak dapat dihindari. Ahli radiologi perlu berhati-hati terhadap bahaya dan efek radiasi, mengetahui batasan dosis radiasi yang aman, cara meminimalkan paparan radiasi, dosis terkecil untuk visualisasi pencitraan yang baik. Keselamatan pasien dan petugas medis perlu mendapat perhatian khusus. Proteksi radiasi penting untuk pasien, staf, serta ahli radiologi sendiri dengan cara menaati indikasi pemeriksaan yang tepat, jumlah pemeriksaan seminimal mungkin, dan sedapat mungkin memilih modalitas pencitraan yang tidak memerlukan radiasi.   The effects of radiation in radiology can not be avoided. Radiologists need to be cautious of the radiation effects, know the limit of radiation dose, and minimize radiation exposure, to get the best visualization image with minimal dose. Safety of patients and medical staffs need special attention. Radiation protection is important for patients, staffs, and radiologists through proper indications, minimizing examinations, and to prioritize non-radiation imaging modalities.
Pemeriksaan Radiologi untuk Deteksi Kanker Ovarium Ni Made Putri Suastari
Cermin Dunia Kedokteran Vol 45 No 4 (2018): Neurologi
Publisher : PT Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55175/cdk.v45i4.804

Abstract

Kanker ovarium merupakan kanker ginekologi terbanyak kedua di dunia. Terdapat beberapa faktor risiko kanker ovarium, namun penyebab pastinya belum diketahui. Kombinasi berbagai modalitas pemeriksaan radiologi seperti USG, CT scan, PET scan, dan MRI dapat digunakan untuk deteksi dini yang akan meningkatkan harapan hidup penderita.   Ovarian cancer is the second most frequent gynecology cancer in the world. Several risk factors are associated with ovarian cancer, but the exact cause is still unknown. Combination of various medical imaging modalities such as USG, CT scan, PET scan, and MRI can be utilized for early detection that can improve survival.
Studi Kasus Tata Letak Ruang Radiologi terhadap Kinerja Pegawai di Instalasi Radologi RSI Siti Aisyah Madiun Tasya Tasya; Fisnandya Meita Astari; Retno Wati
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 4 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i4.2511

Abstract

Tata letak adalah elemen penting dalam perancangan fasilitas yang mendukung kelancaran proses pelayanan, termasuk di Instalasi Radiologi Siti Aisyah Madiun, yang menurut Permenkes Nomor 24 Tahun 2020 seharusnya memenuhi standar tertentu. Namun, tata letak ruang radiologi di tempat tersebut belum sesuai dengan ketentuan, seperti jaraknya yang jauh dari IGD, ICU, dan IBS, tidak adanya ruangan khusus untuk dokter dan radiografer, serta ukuran ruangan yang sempit yang mengganggu kinerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh tata letak terhadap kinerja pegawai di instalasi tersebut, menggunakan metode kualitatif dan pendekatan studi kasus dari Mei hingga Agustus 2024, dengan melibatkan satu dokter spesialis dan tiga radiografer. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui reduksi data dan transkrip. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja pegawai dipengaruhi oleh empat faktor: struktur organisasi, kurangnya sumber daya manusia, kondisi lingkungan kerja, dan komunikasi internal. Untuk meningkatkan kinerja, disarankan agar tata letak ruang radiologi diperbaiki dengan mendekatkannya ke layanan lain, memperluas ukuran ruangan, dan menyediakan ruang khusus untuk dokter serta radiografer.
PEMERIKSAAN RADIOGRAFI LOPOGRAFI KOMBINASI COLON IN LOOP PADA KASUS PRO TUTUP STOMA (STUDI KASUS DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT UNS) Kamila, Azzahra Arimbi; Wati, Retno; Dewi, Sofie Nornalita
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.43079

Abstract

Pemeriksaan Lopografi dan Colon In Loop (CIL) merupakan prosedur radiologi untuk mengevaluasi bagian usus besar dengan memanfaatkan zat kontras yang dimasukkan lewat stoma atau anal. Pemeriksaan Lopografi dan CIL biasanya dilakukan untuk mendeteksi kanker colorectal, radang usus, serta saluran abnormal. Kanker usus menjadi penyebab utama tindakan pembuatan stoma. Stoma merupakan lubang yang diciptakan melalui prosedur bedah pada dinding abdomen untuk mengalihkan jalannya feses. Pada umumnya, pemeriksaan radiografi yang digunakan pada pasien dengan stoma adalah Lopografi atau CIL, sedangkan pada Tn D dengan kasus pro tutup stoma di Instalasi Radiologi Rumah Sakit UNS dilakukan pemeriksaan Lopografi terlebih dahulu dan dilanjutkan dengan CIL. Penelitian bertujuan mengetahui prosedur kombinasi dan peranan ditambahkannya pemeriksaan CIL pada kasus pro tutup stoma. Metode penelitian ini bersifat kualitatif dan berbasis studi kasus. Subjek penelitian 1 dokter pengirim, 1 dokter spesialis radiologi, dan 3 radiografer. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses analisis data dilakukan melalui langkah-langkah reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menggunakan kombinasi Lopografi dan CIL metode double contrast dengan pemasukan lewat stoma dan anus. Pemeriksaan CIL berperan penting dalam mengevaluasi keseluruhan colon karena pasien hanya memiliki stoma proksimal dibagian ileum terminal. Kesimpulannya pemeriksaan ini berguna untuk menilai ileum dan colon secara keseluruhan  hingga mampu memperlihatkan jika terdapat kelainan di area lumen usus pasien sebelum tindakan penutupan stoma.
PROSEDUR PEMERIKSAAN KEGAWATDARURATAN PADA PEMERIKSAAN CT SCAN KEPALA KASUS STROKE HEMORAGIK DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD TIDAR MAGELANG Dari, Putri Wulan; Fa’ik, Muhamad; Mahanani, Ayu
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.46364

Abstract

Pemeriksaan CT Scan kepala pada stroke hemoragik dapat dilakukan dengan single atau dual range dan menghasilkan irisan axial, sagital, serta coronal. Di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Magelang, pemeriksaan dilakukan dengan single range dan hanya menggunakan irisan axial karena dianggap cukup menampakkan lokasi perdarahan. Volume perdarahan diukur secara otomatis menggunakan perangkat lunak berbasis nilai Hounsfield Unit (HU).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan CT Scan kepala pada kasus stroke hemoragik, alasan penggunaan irisan axial saja, metode pengukuran volume perdarahan, serta sistem pelaporan hasil kritis di RSUD Tidar Magelang. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi pada Januari–Mei 2025, kemudian dianalisis secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan axial saja dinilai cukup untuk diagnosis awal stroke hemoragik. Hasil kritis dilaporkan melalui sistem PACS, dengan batas waktu pelaporan maksimal 30 menit setelah diverifikasi oleh Profesional Pemberi Asuhan (PPA). Sistem ini mendukung percepatan diagnosis dan pengambilan keputusan klinis. Peneliti merekomendasikan penggunaan tambahan irisan sagital dan coronal untuk memberikan visualisasi yang lebih lengkap dari berbagai sudut pandang.
EVALUASI PROYEKSI AP DAN LATERAL CRANIUM PADA KASUS FRAKTUR ZYGOMATICUM DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD TIDAR KOTA MAGELANG Parhantari, Zalwizri; Mufida, Widya; Astari, Fisnandya Meita
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.46496

Abstract

Os zygomaticum merupakan tulang kecil berbentuk segi empat yang terletak di bagian atas lateral wajah dan berperan membentuk dinding lateral orbita serta penonjolan pipi. Pada kasus fraktur zygomaticum, proyeksi radiografi yang umum digunakan menurut literatur adalah AP Axial (Towne Method), Submentovertex, dan Tangential. Namun, di Instalasi Radiologi RSUD Tidar Kota Magelang, pemeriksaan dilakukan menggunakan proyeksi AP dan Lateral Cranium. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan serta peran proyeksi AP dan Lateral Cranium dalam mendeteksi fraktur zygomaticum. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus, melibatkan tiga radiografer, satu dokter spesialis radiologi, dan satu pasien dengan fraktur zygomaticum. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui transkripsi, reduksi, kategorisasi, koding terbuka, dan penarikan kesimpulan. Hasil menunjukkan bahwa tidak terdapat persiapan khusus pada pasien selain melepas benda logam di area kepala. Proyeksi AP dan Lateral Cranium digunakan sebagai pemeriksaan awal (screening) untuk menilai struktur umum tengkorak dan mendeteksi adanya fraktur linier atau sekunder pada tulang zygomaticum. Proyeksi AP memberikan visualisasi dari aspek frontal, sedangkan proyeksi Lateral menampilkan struktur dari sisi lateral. Dapat disimpulkan bahwa proyeksi AP dan Lateral Cranium berperan penting sebagai pemeriksaan awal dalam mendeteksi fraktur zygomaticum di RSUD Tidar Kota Magelang.
STUDI KASUS TEKNIK PEMERIKSAAN OS COCCYGEUS DENGAN KLINIS TRAUMA DI INSTALASI RADIOLOGI RSI SUNAN KUDUS Widyastuti, Latifah; Mar’athus, Ildsa Maulidya; Astari, Fisnandya Meita
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 2 (2025): AGUSTUS 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i2.46582

Abstract

Tulang ekor (coccygeus) rentan mengalami cedera akibat jatuh dengan posisi terduduk. Menurut Lampignano & Kendrick (2018)dan Bruce W.Long, et all (2016) pemeriksaan radiografi coccygeus kasus trauma menggunakan proyeksi AnteroPosterior Axialdengan penyudutan arah sinar 10° kearah caudad dan proyeksi Lateral. Menurut Bruce W. Long et al (2016) pemeriksaan coccygeus menggunakan penyudutan 10° dan 15° caudad pada proyeksi AnteroPosterior Axial coccygeus. Di Instalasi Radiologi RSI Sunan Kudus pemeriksaan coccygeus menggunakan proyeksi AP dan Lateral pelvis. Penelitian ini bertujuan mengetahui teknik pemeriksaan coccygeus dengan klinis trauma dan alasan penggunaan proyeksi di Instalasi Radiologi RSI Sunan Kudus. Metode yang digunakan yaitu kualitatif deskriptif jenis pendekatan studi kasus. Pada November 2024 - Mei 2025. Teknik pengumpulan data adalah observasi partisipatif, wawancara, dan dokumentasi. Subjek penelitian terdiri dari tiga radiografer, satu dokter spesialis radiologi, dan satu dokter pengirim. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeriksaan coccygeus dilakukan tanpa persiapan khusus, hanya melepas benda logam. Alat yang digunakan pesawat sinar-x, meja pemeriksaan, detector, dan computed radiography. Proyeksi yang digunakan AP dan Lateral pelvis dengan arah sinar vertikal tegak lurus. Penggunaan proyeksi AP dan Lateral pelvis bertujuan untuk memperlihatkan gambaran secara luas didaerah sekitar coccygeus dan mendeteksi adanya fraktur atau dislokasi pada daerah selain coccygeus. Kesimpulannya pemeriksaan coccygeus klinis trauma menggunakan proyeksi AP dan Lateral pelvis. Proyeksi ini untuk memperlihatkan gambaran secara luas sekitar coccygeus dan mendeteksi adanya fraktur atau dislokasi pada area sekitar. Sebaiknya menggunakan proyeksi AP Axial dengan sudut 10° ke caudad untuk menghindari superposisi pada symphysis pubis, sehingga gambaran coccyegus yang dihasilkan lebih jelas dan detail.

Page 63 of 85 | Total Record : 841