Filter By Year

1945 2024


Found 841 documents
Search RADIOLOGI

EVALUASI STANDAR RUANGAN RADIOLOGI DI RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH BANTUL BERDASARKAN PERMENKES NO. 24 TAHUN 2020 Endari, Mareta Noor; Liscyaningsih, Ike Ade Nur; Utami, Asih Puji; Mahanani, Ayu
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.43826

Abstract

Menurut laporan Bapeten 2023, 282 fasilitas kesehatan telah menjalani inspeksi, dengan hasil penilaian IKK FRZR: 53,7% "Baik Sekali", 35,3% "Baik", 8,0% "Cukup", dan 3,0% "Kurang". Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul, standar ruang radiologi belum pernah dikaji. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui standar ruangan pelayanan radiologi dan prasarana pelayanan radiologi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif pendekatan obverasional deskriptif, Objek penelitian ruang dan sistem prasarana pelayanan radiologi. Teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi. Proses analisis data mencakup reduksi data, display data, dan penarikan kesimpulan. Di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul memiliki ruang administrasi, ruang tunggu, ruang X-ray, CT-Scan, panoramic-cephalometri, CR dan PACS, dan ruang konsultasi dokter yang digabung dengan ruang USG. Material lantai tidak menggunakan hospital plint, dinding berwarna cerah, pintu timbal dan plafon kuat. Alat proteksi radiasi ada 6 jenis. Sistem tata udara suhu rata-rata 23,9 °C dan kelembaban rata-rata 56,8%. Sistem pencahyaan memiliki rata-rata 89,7 lux. Sistem sanitasi, air berasal dari PDAM. Sistem kelistrikan, bersumber dari PLN. Sistem pembumian diterapkan di ruang DR dan ruang USG. Sistem gas medik dan vakum medik terdapat diruangan tertentu. Sistem proteksi kebakaran ada 3 APAR dan sistem detektor kebakaran. Sistem evakuasi, memiliki jalur evakuasi yang tidak terkunci, dengan titik kumpul di halaman luar rumah sakit. ruang dam sistem prasarana yang belum memenuhi standar ada, ruang penyinaran X-Ray, ruang Panoramic-cephalometri, ruang PACS, dan ruang konsultasi dokter, lantai, dan pencahayaan.
PROSEDUR PEMERIKSAAN LOPOGRAFI PADA PEDIATRIK DENGAN KLINIS MICROCOLON SIGMOID DI INSTALASI RADIOLOGI RSU ‘AISYIYAH PONOROGO Fitriana, Rizka Dhea; Za’im, Muhammad; Nasokha, Ildsa Maulidya Mar’atus
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.44838

Abstract

Microcolon sigmoid adalah kondisi penyempitan atau perkembangan yang tidak normal sehingga ukuran colon lebih kecil dari ukuran normal. Pemeriksaan lopografi menggunakan media kontras barium sulfat, menggunakan foto polos abdomen, Antero Posterior (AP), Postero Anterior (PA), Lateral, dan Oblique. Sedangkan di Instalasi Radiologi RSU ‘Aisyiyah Ponorogo menggunakan media kontras water soluble yang dicampur dengan aquades dimasukkan melalui anus, dengan proyeksi foto polos abdomen, Antero Posterior (AP), dan Lateral. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan lopografi, penggunaan media kontras water soluble, dan penggunaan proyeksi yang ada di RSU ‘Aisyiyah Ponorogo. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSU ’Aisyiyah Ponorogo. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan membandingkan hasil penelitian dengan teori yang ada. Hasil penelitian menunjukan prosedur pemeriksaan lopografi pada pediatrik dengan klinis microcolon sigmoid pasien tidak memerlukan persiapan khusus. Persiapan alat bahan steril dan non steril, media kontras water soluble yang dicampur dengan aquades dalam perbandingan 1:3. Pemasukan media kontras melalui anus karena tidak adanya lubang stoma ke colon distal. Teknik pemeriksaan yang digunakan yaitu foto polos abdomen, Anteroposterior (AP) post kontras dan Lateral post kontras. Pemeriksaan lopografi pada pediatrik dengan klinis microcolon sigmoid tidak memerlukan persiapan khusus. Media kontras water soluble dipilih karena mudah diserap, dikeluarkan, dan aman. Proyeksi Anteroposterior (AP) pada klinis microcolon sigmoid dapat menilai kaliber stoma lk. 0,40 cm, sementara proyeksi lateral menilai kaliber lumen rectum dan sigmoid yang kecil dengan kaliber terdekat dengan stoma lk. 0,36 cm.
STUDI KASUS TEKNIK PEMERIKSAAN CERVICAL ADENOID PADA PEDIATRIK DENGAN KLINIS OTITIS MEDIA EFUSI (OME) DI INSTALASI RADIOLOGI RSUP DR. SARDJITO YOGYAKARTA Desinta, Vina; Istiqomah, Anisa Nur; Nasokha, Ildsa Maulidya Mar’atus
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.44897

Abstract

Sistem pernapasan berperan penting dalam pertukaran gas, bagian penting dari sistem pernafasan adalah nasofaring, yang dapat mengalami pembesaran jaringan limfoid adenoid terutama pada anak. Pembesaran adenoid sering dikaitkan dengan Otitis Media Efusi (OME), yaitu penumpukan cairan di telinga tengah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pemeriksaan, alasan penggunaan proyeksi lateral, dan peran teknik open mouth dalam pemeriksaan cervical adenoid pada pediatrik dengan klinis OME di RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data dikumpulkan observasi, wawancara, dan dokumentasi terhadap tiga radiografer dan satu dokter radiologi di Instalasi Radiologi RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta pada bulan September 2024 hingga Februari 2025. Hasil menunjukkan pemeriksaan tidak memerlukan persiapan khusus hanya melepas benda logam. Pemeriksaan cervical proyeksi lateral open mouth posisi pasien berdiri, kepala sejajar kaset, dan open mouth. Kolimasi mencakup frontalis hingga sepertiga proksimal thorax, central point pada vertebrae C4. Prosedur pemeriksaan sudah sesuai dengan teori, namun terdapat perbedaan pada penentuan central point, batas atas dan bawah kolimasi. Lateral cervikal dipilih karena mampu menampilkan struktur adenoid lebih jelas, tanpa ada bayangan tulang tengkorak seperti tulang frontal dan oksipital. Sebaliknya lateral cranium, memperlihatkan bayangan tulang yang menutupi nasofaring, sehingga menghambat visualisasi adenoid. Open mouth menghindari superposisi mandibula, memudahkan penilaian ukuran adenoid. Proyeksi lateral dapat menegakkan diagnosa efektif mengevaluasi adenoid. Sebaiknya penerapan proteksi radiasi dioptimalkan melalui penyesuaian kolimasi sesuai dengan prinsip optimisasi dalam ALARA pengaturan kolimasi tepat efektif mengurangi dosis radiasi dan meningkatkan keselamatan pasien, evaluasi adenoid dapat dilakukan nasoendoskopi untuk menilai adanya obstruksi saluran napas akibat pembesaran adenoid.
ANALISIS PENGULANGAN (REPEAT) RADIOGRAF COMPUTED RADIOGRAPHY DI INSTALASI RADIOLOGI RUMAH SAKIT BHAKTI WIRA TAMTAMA SEMARANG fitri, amanda widia; Mahanani, Ayu; Fakhrurreza, Muhammad
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.45089

Abstract

Repeat analisis adalah proses yang sistematis untuk mengkategorisasikan citra yang diulang dan mencari tahu penyebabnya sehingga repeat dapat dikurangi atau dihindari. Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang belum pernah dilakukan penelitian repeat analisis dimana hal tersebut dapat menurunkan mutu dan kualitas pelayanan di Instalasi Radiologi. Tujuan analisis repeat radiograf untuk mengetahui persentase dan  indikator penyebab repeat  radiograf. Metode penelitian ini observasi langsung melalui pengumpulan data dari database sistem computed radiography (CR) yang dianalisis bersama dua radiografer, dilaksanakan selama September–November 2024. Populasi dalam penelitian ini mencakup seluruh data pemeriksaan radiografi yang dilakukan menggunakan sistem CR selama periode penelitian. Sampel yang digunakan adalah seluruh citra radiograf yang mengalami pengulangan (repeat) selama waktu pengamatan. Alat pengumpulan data menggunakan alat tulis Metode pengumpulan data yaitu observasi secara langsung. Analisis data meliputi pengumpulan data, penyajian data, dan penarik kesimpulan. Hasil penelitian menyatakan pengulangan radiograf pada bulan September sebesar 1,87%, bulan Oktober sebesar 1,82%, dan bulan November sebesar 1,75%. Hasil tersebut tidak melebihi batas yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Nomor: 129/Menkes/SK/II/2008 yang menyatakan tingkat penolakan pada repeat sebesar ≤ 2%. Faktor penyebab pengulangan radiograf  terdiri dari pergerakan pasien 31,82%, posisi pasien 6,82%, peralatan 56,82%, officer/ human error 4,54%, dan artefak 0%. Dapat disimpulkan bahwa Instalasi Radiologi Rumah Sakit Bhakti Wira Tamtama Semarang tidak melebihi kententuan yang telah ditetapkan. Meskipun demikian, tindak lanjut tetap perlu dilakukan, seperti mempertahankan prosedur operasional standar (SOP) yang telah berjalan efektif, melakukan monitoring secara berskala, serta terus meningkatkan kualitas pelayanan.
TEKNIK PEMERIKSAAN OESOPHAGUS MAAG DUODENUM DENGAN KLINIS GERIATRIC SYNDROME DI INSTALASI RADIOLOGI DR.SARDJITO Yurizqy, Syafira Dwi; Yusnida, Arnefia Mei; Mahanani, Ayu
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.45334

Abstract

Pemeriksaan radiografi OMD merupakan metode pencitraan saluran cerna bagian atas dengan bantuan media kontras positif untuk mendeteksi kelainan anatomi maupun fungsi dari organ-organ tersebut (Lampignano & Kendrick, 2018). Salah satu kondisi klinis yang terkait dengan OMD adalah geriatric syndrome, yaitu suatu syndrome yang umum dijumpai pada lansia, namun tidak diklasifikasikan sebagai penyakit spesifik. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan prosedur pemeriksaan OMD pada pasien dengan geriatric syndrome di Instalasi Radiologi RSUP Dr. Sardjito. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi kasus yang dilakukan di Instalasi Radiologi RSUP Dr. Sardjito pada September 2024 - Maret 2025. Data dikumpulkan melalui observasi, dokumentasi, serta wawancara, kemudian dianalisis melalui tahap reduksi data, transkripsi, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Prosedur pemeriksaan OMD pada pasien dengan geriatric syndrome diawali dengan puasa 6–8 jam untuk mencegah aspirasi dan mengosongkan bagian lambung kemudian pasien diminta melepas benda logam yang dapat menyebabkan artefak. Pemeriksaan dilakukan bertahap mulai dari foto polos AP, dilanjutkan pemasukkan media kontras water soluble 130 volume zat kontras dari spuit melalui NGT hingga ke lambung dengan pengenceran 1:3 dilanjutkan foto dengan proyeksi AP dan , serta proyeksi AP dan LPO untuk esophagus diberikan per oral dengan pengenceran 1:3, guna memperoleh visualisasi optimal dari struktur anatomi yang diperiksa. Prosedur ini memerlukan persiapan khusus, teknik proyeksi yang tepat, serta penggunaan fluoroskopi untuk mendukung diagnosis yang akurat pada pasien lansia dengan gangguan saluran cerna atas.
PROSEDUR PEMERIKSAAN OS FEMUR PEDIATRIK DENGAN INDIKASI INTOEING FOOT DI INSTALASI RADIOLOGI RSUD SIDOARJO BARAT Ningsih, Dwi Syukuriah; Mahanani, Ayu; Anggraeni, Ari
Jurnal Kesehatan Tambusai Vol. 6 No. 2 (2025): JUNI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jkt.v6i2.45523

Abstract

Intoeing foot adalah kondisi rotasi medial ekstremitas bawah yang umum terjadi pada anak-anak dan dapat bersifat unilateral maupun bilateral. Evaluasi klinis menggunakan Foot Progression Angle (FPA). Penyebabnya meliputi peningkatan anteversi femoralis, torsi tibialis internal, adduktus metatarsus, atau kombinasi ketiganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur serta peran pemeriksaan os femur pediatrik dengan indikasi intoeing foot di Instalasi Radiologi RSUD Sidoarjo Barat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka terhadap tiga radiografer, satu dokter radiologi, dan satu dokter ortopedi selama periode September 2024 hingga April 2025. Analisa data dibentuk secara naratif, diverifikasi dengan teori dan ditarik  kesimpulan. Pemeriksaan os femur pediatrik dilakukan dengan melepas benda logam dan alas kaki yang dapat mengganggu citra radiograf. Teknik yang digunakan adalah proyeksi anteroposterior (AP) dengan posisi pasien erect, kaki sejajar dan lurus. Batas atas ditentukan pada spina iliaca anterior superior dan batas bawah hingga pertengahan cruris, dengan titik bidik pada distal femur. Proyeksi lateral tidak digunakan karena proyeksi AP dinilai cukup untuk evaluasi panjang, simetri, dan derajat kedua femur. Peran pemeriksaan ini mendukung analisis ortopedi terhadap gangguan pertumbuhan tulang, saraf, otot, atau struktur lain. Prosedur pemeriksaan memiliki perbedaan dengan teori, adanya variasi pada proyeksi serta batas anatomi. Peran pemeriksaan telah sesuai dengan penelitian sebelumnya. Disarankan agar pemeriksaan dilakukan sesuai teori yang mencakup os femur hingga ankle joint untuk hasil evaluasi yang lebih komprehensif.
STUDI KASUS PERAN PENGGUNAAN QR CODE SEBAGAI PENGGANTI FILM HASIL RADIOGRAF DI INSTALASI RADIOLOGI RS ISLAM SUNAN KUDUS Sylvia
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 10 No 1 (2025): Vol. 10 No. 1 Juni 2025
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v10i1.2007

Abstract

Technological developments encourage changes in the field of radiology. Radiograph results given to patients generally use film but in the Radiology Installation of Sunan Kudus RSI uses a QR Code. The research objectives discuss the advantages and disadvantages of the QR Code. The type of research used is descriptive qualitative research with a case study method. The place of research was at the Radiology Installation of RSI Sunan Kudus. The research time was September 2024 to January 2025. Data collection includes observation, interviews, documentation and literature study. The population includes all medical personnel and patients in the radiology installation. The sample included 1 Head of the Radiology Room and 6 patients with age categories of adolescents, adults, and elderly with purposive sampling technique. Data analysis includes data collection, data presentation and conclusion drawing. The results of the study show that changes in the flow of services are digitized by computerization with SIMRS and ERM connected to RIS and PACS. The results of the interview show that the application of the QR Code in the Radiology Installation of RSI Sunan Kudus can increase the efficiency of service time, save film expenditure costs and save storage shelves. However, there are still obstacles such as difficulty accessing images, waiting time for CT-Scan image results, use of printed ultrasound films and certain patient categories. The suggestion in this study is that the application of this QR Code can be updated later, the service flow can be extended, printed films are available for patients with special needs, so that the application of this technology can be more optimal.
Teknik Pemeriksaan Kontras Colon In Loop Dengan Klinis Colitis Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah Jombang Maysaroh melda; Apriannisa, Andica
Strada Journal of Radiography Vol. 6 No. 1 (2025): June
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/sjr.v6i1.50

Abstract

Colon In Loop adalah Teknik pemeriksaan radiologi dengan cara memasukkan kontras secara Retrograde (dimasukkan dari anus)(Long, Rollins, and Barbara J. Smith 2016) , yang bertujuan untuk mengevakuasi keseluruhan colon. colon terdiri atas caecum, appendix , colon ascendens, fleksura hepatica, colon transversum, fleksura lienalis, colon desendens, sigmoid, rectum dan canalis analis(Drake, Vogl 2018). Indikasi pada pemeriksaan colon in loop yaitu carcinoma, polip, hisprung dan salah satunya colitis. Colitis adalah peradangan pada colon yang disebabkan oleh beberapa faktor seperti infeksi bakteri ataupun kondisi lingkungan lainnya(Andryani, Sumedi, and Akbari 2018). Sebelum melakukan pemeriksaan tentunya pasien akan ada persiapan khusus terlebih dahulu. Proyeksi yang digunakan dalam permeriksaan kontras colon in loop di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum Daerah Jombang menggunakan proyeksi AP plain, lateral kiri, LPO, RPO dan AP post evakuasi tanpa adanya 5 fase namun menurut merrils pada Teknik pemeriksaan colon in loop menggunakan 5 fase.
Teknik Pemeriksaan Radiografi Vertebra Cervical Dengan Klinis Cervical Root Syndrome (Crs) Di Instalasi Radiologi Rsud Kabupaten Kediri Didik Kusramadana; Djuli Pontjowijono; Ardhi Syamsarifin
Strada Journal of Radiography Vol. 6 No. 1 (2025): June
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/sjr.v6i1.51

Abstract

Radiologi adalah cabang ilmu kedokteran yang berhubungan dengan penggunaan semua modalitas yang menggunakan radiaasi untuk diagnosis dan prosedur terapi dengan menggunakan panduan radiologi termasuk teknik pencitraan dan penggunaan radiasi dengan sinar-X dan zat radioaktif. Cervical root syndrome adalah kumpulan gejala yang disebabkan oleh iritasi atau kompresi dari akar saraf cervical yang akan menimbulkan nyeri, ngilu, kesemutan, kram-kram serta rasa tidak enak pada leher bagian belakang dan bisa menjalar ke bahu, lengan atas dan lengan bawah tergantung dari akar mana yang terkena. Dari hasil pemeriksaan vertebra cervical bacaan dokter spesialis RSUD Kabupaten Kediri menunjukkan bahwa pemeriksaan vertebra cervical yang dilakukan oleh Ny, Sixx adalah Tampak Degenerative disk disease VC4-5,5-6 Spondylosis cervicalis Paracervical muscle spasme. Spondilosis cervicalis adalah kerusakan pada tulang leher dan bantalannya yang umumnya terjadi pada orang usia lanjut. Spondilosis servikal atau dikenal juga sebagai radang sendi leher akan menimbulkan gejala berupa nyeri di leher, bahu, dan kepala.
Penerapan Teknik Pemeriksaan Vertebra Lumbosacral Dengan Klinis Spondylosis Di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kota Kediri Alyza Novia Ramadhana; Mira Anjani; Sentot Alibasah
Strada Journal of Radiography Vol. 6 No. 1 (2025): June
Publisher : Universitas STRADA Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30994/sjr.v6i1.52

Abstract

Pada vertebra lumbosacral sering terjadi beberapa klonis yang mengakibatkan fisiologi dari tulang belakang menjadi terganggu. Penderita spondylosis kemungkinan memiliki pemyalit diskus degenerative atau dapat berkembangnya stenosis tulang belakang. Untuk mengetahui teknik pemeriksaan vertebra lumbosacral dengan klinis spondylosis di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Muhammadiyah Ahmad Dahlan Kota Kediri penulis melakukan penelitian dengan pasien bernama Ny. M berusia 63 tahun yang dimana didiagnosis spondylosis dengan hasil Rontgen menunjukkan tidak adanya pergeseran abnormal (aligment tidak terdapat lithesis) dan kuvra tulang belakang normal. Terdapan osteofit pada seluruh corpus vertebra, namun struktur tulang lainnya seperti trabekulasi, pedikel, dan processus tranversus utuh tanpa kelainan. Ruang antar vertebra normal tanpa pengecilan yang mengindikasikan tekanan pada diskus intervertebralis. Terdapat batu radiopaque pada L5 dextra dalam jaringan lunak, menandakan adanya batu di tubuh. Kesimpulan adalah spondylosis thoracalumbalis, dengan dugaan nefrolothiasis dextra dan appendicolith sebagai diagnosis banding.

Page 65 of 85 | Total Record : 841