cover
Contact Name
Sunny Wangko
Contact Email
sunnypatriciawangko@gmail.com
Phone
+628124455733
Journal Mail Official
sunnypatriciawangko@gmail.com
Editorial Address
eclinic.paai@gmail.com
Location
Kota manado,
Sulawesi utara
INDONESIA
e-CliniC
ISSN : 23375949     EISSN : -     DOI : -
Core Subject : Health,
Jurnal e-CliniC (eCl) diterbitkan oleh Perhimpunan Ahli Anatomi Indonesia bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado. Jurnal ini diterbitkan 3 (tiga) kali setahun (Maret, Juli, dan November). Sejak tahun 2016 Jurnal e-CliniC diterbitkan 2 (dua) kali setahun (Juni dan Desember). Jurnal e-CliniC memuat artikel penelitian, telaah ilmiah, dan laporan kasus di bidang ilmu kedokteran klinik.
Articles 1,074 Documents
Identification of Skull Base Fracture Complications Estie R.I. Putri; Eko Prasetyo; Angelica M. J. Wagiu
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37717

Abstract

Abstract: Fracture of skull base often occurs in traumatic brain injury (TBI) cases and is one of the leading causes of high morbidity and mortality. It can extend beyond the base of the front, middle, or back cranial fossa and cause various complications according to the location of the fractures. This study aimed to identify the complications in cases of fractures of the skull base. This was a literature review study using three databases, as follows: Google Scholar, ClinicalKey and PubMed. The results obtained 30 articles that met the inclusion and exclusion criteria. Complications of vascular injury, intraorbital injury, cerebrospinal fluid (CSF) rhinorrhea could lead to further complications such as meningitis and anosmia in fractures of the front part of skull base; vascular injury, CSF otorrhoea, vertigo, sensorineural or conductive deafness, injuries of II-VIII nerves, and Horner's syndrome in fractures of the middle part of skull base; and vascular injury, nerve injury IX-XII, and cervical injury to coma in fractures of the back part of the skull base. In conclusion, there are a variety of complications that could occur in skull base fractures depending on the location of the fractures.Keywords: complications; skull base fractures; traumatic brain injury (TBI) Abstrak: Patah tulang dasar kepala sering terjadi pada penderita cedera otak akibat trauma (COT), dan merupakan salah satu penyebab morbiditas dan mortalitas terbanyak. Patah tulang dasar kepala yang terjadi dapat meluas melewati dasar fossa kranial bagian depan, tengah atau belakang dan menyebabkan berbagai komplikasi sesuai dengan lokasi terjadinya fraktur. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi komplikasi yang dapat terjadi pada kasus patah tulang dasar kepala. Jenis penelitian ialah suatu literature review. Literatur diperoleh melalui tiga database yaitu Google Scholar, ClinicalKey, dan PubMed. Hasil penelitian mendapatkan 30 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Terdapat komplikasi cedera vaskuler, cedera intraorbita, rhinorrhea cerebrospinal fluid (CSF) hingga menyebabkan komplikasi lanjutan seperti meningitis dan anosmia pada patah tulang dasar kepala bagian depan; cedera vaskuler, otorrhea CSF, vertigo, ketulian konduktif/sensorineural, cedera nervus II-VIII dan sindrom Horner pada patah tulang dasar kepala bagian tengah; dan cedera vaskuler, cedera nervus IX-XII, cedera servikal hingga koma pada patah tulang dasar kepala bagian belakang. Simpulan penelitian ini ialah komplikasi yang terjadi pada kasus patah tulang dasar kepala berbeda-beda tergantung dengan lokasi terjadinya patah tulang.Kata kunci: komplikasi; patah tulang dasar kepala; cedera kepala akibat trauma
Relationship between Knowledge, Attitude, and Preventive Measures against Dengue Hemorrhagic Fever in Community Istiyarsih Sillia; Adrian Umboh; Novie H. Rampengan
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37741

Abstract

Abstract: North Sulawesi Province is included in the category with the highest cases of dengue hemorrhagic fever (DHF) in Indonesia. This study aimed to evaluate the relationship between know-ledge, attitude, and preventive measures against DHF in the community. Thia was an analytical and descriptive study with a cross sectional design. Respondents were people who lived in Puskesmas (primary health center) Kelurahan Sario Kotabaru Kota Manado area. There were 89 respondents in this study obtained by using incidental sampling technique. The results showed that DHF occurred in 5 respondents (5.6%). The majority of respondents had moderate knowledge (52.8%), agreeable attitude (70.8%), and moderate preventive measures (55.1%). Bivariate analysis resulted in significant relationship between knowledge and the occurrence of DHF (p=0.020); attitude and the occurrence of DHF (p=0.001); and preventive measures and the occurrence of DHF (p=0.016). Multivariate analysis using linear regression showed that attitude was the most related factor to DHF occurrence (Exp B=-0.034, regression coefficient =-0.140, p= 0.002). In conclusion, there is a relationship between knowledge, attitude, and preventive measures with DHF occurrence. Attitude is the most related factor to the occurrence of DHF in the community at Puskesmas Kotabaru area. Keywords: dengue hemorrhagic fever (DHF); knowledge; attitude; preventive measures Abstrak: Sulawesi Utara termasuk dalam salah satu provinsi di Indonesia dengan kategori kasus demam berdarah dengue (DBD) tertinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pengetahuan, sikap, dan tindakan pencegahan masyarakat terhadap DBD. Jenis penelitian ialah analitik deskriptif dengan desain potong lintang. Responden penelitian ialah masyarakat di wilayah Puskesmas Kelurahan Sario Kotabaru Kota Manado sebanyak 89 orang diperoleh dengan menggunakan teknik sampling insidental. Hasil penelitian menunjukkan kejadian DBD terdapat pada 5 responden (5,6%). Responden paling banyak terdistribusi pada pengetahuan cukup (52,8%), sikap setuju (70,8%), tindakan pencegahan cukup (55,1%). Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara pengetahuan dengan kejadian DBD (p=0,020), sikap dengan kejadian DBD (p=0,001), dan tindakan pencegahan dengan kejadian DBD (p=0,016). Analisis multivariat menggunakan regresi liniear mendapatkan bahwa sikap merupakan faktor yang paling berhubungan dengan kejadian DBD (Exp B=-0,034, koefisien regresi=-0,140, dan nilai p=0,002). Simpulan penelitian ini ialah pada masyarakat di wilayah Puskesmas Kelurahan Sario Kotabaru terdapat hubungan antara pengetahuan, sikap, dan tindakan pencegahan dengan kejadian DBD. Sikap merupakan faktor yang paling berhubungan dengan kejadian DBD.Kata kunci: demam berdarah dengue (DBD); pengetahuan; sikap; tindakan pencegahan
Relationship between Hyperglycemia and Outcome of COVID-19 Patients Anna Andriana; Karel Pandelaki; Linda W. A. Rotty
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37813

Abstract

Abstract: Diabetes is one of the most common diseases found in COVID-19 patients. People with diabetes have a higher risk of developing a more severe form when infected with the SARS-CoV2 virus. This study aimed to determine the relationship of hyperglycemia and the outcome of COVID-19 patients. This was a literature review study using three databases, namely Pubmed, ClinicalKey, and Google Scholar. The outcomes studied were the degree of COVID-19 disease and the mortality rate of COVID-19 patients. The results obtained 10 articles that met the inclusion and exclusion criteria. COVID-19 patients suffering from hyperglycemia, both those with and without a history of diabetes, experienced more severe degree of illness and higher mortality rate compared to patients without hyperglycemia. In conclusion, there is a relationship between hyperglycemia and the severity of illness and mortality in COVID-19 patients.Keywords: hyperglycemia; COVID-19 Abstrak: Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit yang paling sering ditemukan pada pasien COVID-19. Penyandang DM berisiko lebih tinggi untuk berkembang menjadi bentuk yang lebih parah ketika terinfeksi virus SARS-CoV2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan hiperglikemia dengan luaran pasien COVID-19. Jenis penelitian berbentuk literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey,dan Google Scholar. Luaran yang diteliti yaitu derajat penyakit dan angka kematian pasien COVID-19 dengan DM. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel yang memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi. Pasien COVID-19 dengan hiperglikemia baik yang penyandang DM maupun tanpa riwayat DM mengalami keparahan penyakit yang lebih berat dengan angka kematian yang lebih tinggi dibanding pasien tanpa hiperglikemia. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara hiperglikemia dengan keparahan penyakit dan angka kematian pasien COVID-19.Kata kunci: hiperglikemia; COVID-19
Risk Factors of Non-Alcoholic Fatty Liver Disease in Adults Daniel D. Setiono; Frans E. N. Wantania; Efata B. I. Polii
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37814

Abstract

Abstract: The concern of NAFLD is its complications which can progress to cirrhosis and liver failure. Therefore, it is necessary to understand the risk factors for NAFLD which could facilitate any efforts to reduce its prevalence. This study aimed to determine the risk factors for NAFLD, especially in adulthood. This was a literature review study using three databases, namely Clinical Key, Pubmed, and ScienceDirect. The keywords used were Risk Factors of NAFLD in adult. The results obtained 13 articles to be reviewed. Many risk factors for NAFLD in adulthood inter alia: increased score HOMA-IR, PNPLA3 GG gene, presence of serum antibodies, villagers with a family history of metabolism disorder, serum selenium level ≥130 g/L, sleep duration of more than 8 hours, high pre-pregnancy maternal body mass index, various types of gene including PNPLA3, GKCR, TM6SF2, HSD17B13, MBOAT7, PPP1R3B, IRGM and LPIN1, consumption of sugar-rich drinks, increased SUA levels, obesity, pre-diabetes, and excessive food intake during lactation. In conclusion, there is a wide variety of risk factors for NAFLD in adults.Keywords: non-alcoholic fatty liver disease; risk factors; adulthood Abstrak: Hal yang dikhawatirkan dari NAFLD ialah bila terjadi komplikasi yang dapat berlanjut menjadi sirosis dan kegagalan fungsi hati. Pemahaman terhadap faktor-faktor risiko NAFLD akan memudahkan usaha menurunkan prevalensi penyakit tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berbagai faktor risiko NAFLD, khususnya pada usia dewasa. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu ClinicalKey, Pubmed, dan ScienceDirect. Kata kunci yang digunakan ialah Risk Factors of NAFLD in adult. Hasil penelitian mendapatkan 13 artikel untuk di review setelah dilakukan penyesuaian berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Faktor-faktor risiko dari NAFLD pada usia dewasa, yaitu peningkatan skor  HOMA-IR, gen PNPLA3 GG, adanya serum antibodies, penduduk desa dengan riwayat keluarga gangguan metabolik, kadar serum selenium ≥130 μg/L, tidur dengan durasi lebih dari 8 jam, BMI ibu pra-kehamilan yang tinggi, berbagai macam gen seperti PNPLA3, GKCR, TM6SF2, HSD17B13, MBOAT7, PPP1R3B, IRGM dan LPIN1, mengonsumsi minuman kaya gula, peningkatan kadar SUA, obesitas, pre-diabetes dan pemberian asupan makanan yang berlebihan selama masa menyusui. Simpulan penelitian ini ialah terdapat berbagai faktor risiko NAFLD yang sangat bervariasi pada usia dewasa.Kata kunci: non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD); faktor risiko; usia dewasa
Association between Serum Uric Acid Level and Chronic Kidney Disease Maria C. Wariki; Bradley J. Waleleng; Karel Pandelaki
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37815

Abstract

Abstract: As already known, chronic kidney disease (CKD) could result in a change of serum uric acid (SUA) level which leads to hyperuricemia. However, many studies suggest that SUA level has an important role in CKD progression and independently associated with a new onset of CKD. This study aimed to find out the independent association between SUA level and CKD. This was a literature review study using databases of Google Scholar and Pubmed. The results obtained 10 articles that met the inclusion and exclusion criteria. All studies proved that there was an association between SUA level and CKD. An elevated SUA level, known as hyperuricemia, was a risk factor in renal impairment and CKD progression. In conclusion, there is an independent association between SUA level and CKD.Keywords: serum uric acid; chronic kidney disease Abstrak: Telah diketahui bahwa penyakit ginjal kronis (PGK) dapat memengaruhi kadar asam urat dan mengakibatkan hiperurisemia. Banyak penelitian yang telah dilakukan membuktikan bahwa kadar asam urat secara independen memengaruhi terjadinya PGK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar asam urat serum dengan PGK. Jenis penelitian ialah suatu literature review dengan menggunakan database Google Scholar dan Pubmed. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Kesepuluh artikel menun-jukkan adanya hubungan independen antara kadar asam urat serum dengan PGK. Peningkatan kadar asam urat serum yang dikenal dengan hiperurisemia dianggap sebagai salah satu faktor dalam progresifitas gangguan ginjal dan PGK. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan antara kadar asam urat serum dengan PGK.Kata kunci: asam urat serum; penyakit ginjal kronis
Relationship between Nutritional Status and Urinary Tract Infection in Children Siti F. Hidayati; Valentine Umboh; Shekina H. E. Rondonuwu
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37830

Abstract

Abstract: Urinary tract infection (UTI) is one of the most common urinary tract diseases in children of all ages. Risk factors for UTI include age, sex, poor nutrition/nutritional status, uncircumcised boys, personal hygiene, urinary emptying dysfunction, and genitourinary tract abnormalities. It is already known that infection can worsen the nutritional status. This study aimed to evaluate the relationship between nutritional status and UTI in children, the incidence of UTI in children with under nutrition, poor nutrition, and over nutrition, and to compare the incidence of UTI in children with normal nutrition, undernutrition, poor nutrition, and over nutrition. This was a literature review study. The results showed that nutritional status and UTI had a significant relationship. Malnutrition or over nutrition could increase the incidence of UTI. Differences in the incidence of UTI in 12 articles were caused by a variety of factors, such as numbers of boys and girls in the studies, age, environment, and the ways to collect urine samples. In conclusion, there is a significant relationship between nutritional status and the incidence of UTI. Poor nutritional status especially malnutrition and over nutrition could increase the incidence of UTI.Keywords: urinary tract infection (UTI); nutritional status; malnutrition; obesity Abstrak: Infeksi saluran kemih (ISK) merupakan salah satu penyakit saluran kemih yang sering terjadi pada anak dalam semua usia. Faktor risiko ISK antara lain usia, jenis kelamin, gizi buruk/status gizi, anak laki-laki yang belum disirkumsisi, kebersihan diri, disfungsi pengosongan urin, dan abnormalitas saluran genitourinaria. Telah diketahui bahwa infeksi dapat memperburuk status gizi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara status gizi dan ISK pada anak, angka kejadian ISK pada anak dengan gizi kurang, gizi buruk, dan gizi lebih, serta mengetahui perbandingan kejadian ISK pada anak dengan gizi normal, gizi kurang, gizi buruk, dan gizi lebih. Penelitian ini merupakan suatu literature review. Hasil penelitian mendapatkan adanya hubungan bermakna antara status gizi dan ISK. Malnutrisi maupun gizi lebih dapat meningkatkan angka kejadian ISK. Perbedaan kejadian ISK pada 12 literatur yang diteliti disebabkan karena berbagai faktor, seperti rasio jumlah anak laki-laki dan perempuan dalam penelitian, umur, lingkungan tempat tinggal, dan cara pengambilan sampel urin. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara status gizi dan kejadian ISK. Status gizi kurang terutama malnutrisi maupun gizi lebih dapat meningkatkan angka kejadian ISK.Kata kunci: infeksi saluran kemih (ISK); status gizi; malnutrisi; obesitas 
Effect of Blood Pressure Control on the Severity of COVID-19 Patients Nirwana E. Mangopo; Frans E. Wantania; Octavianus R. H. Umboh
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37857

Abstract

Abstract: Hypertension is one of the chronic conditions that cause the most mortality worldwide. As a comorbid disease, it is often found in hospitalized patients with coronavirus disease 2019 (COVID-19). Uncontrolled blood pressure was found to be independently associated with a higher risk for more adverse clinical outcomes in COVID-19 patients. This study aimed to evaluate the effect of blood pressure control on the severity of COVID-19 sufferers. This was a literature review study using three databases, namely PubMed, ClinicalKey, and Google Scholar according to the inclusion and exclusion criteria of the study. The results obtained 10 articles. Most showed the effect of blood pressure control on the severity of COVID-19 sufferers. In conclusion, uncontrolled blood pressure in COVID-19 patients with hypertension during hospitalization has an effect on mortality.Keywords: blood pressure control; hypertension; COVID-19  Abstrak: Hipertensi merupakan salah satu kondisi kronis penyebab mortalitas terbanyak di dunia dan menjadi penyakit penyerta yang banyak ditemukan pada pasien rawat inap dengan Coronavirus Disease 2019 (COVID-19). Tekanan darah yang tidak terkontrol ditemukan secara independen terkait dengan risiko yang lebih tinggi untuk hasil klinis yang lebih merugikan pada pasien COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kontrol tekanan darah terhadap tingkat keparahan penderita COVID-19. Jenis penelitian ialah literature review. Pencarian data menggunakan tiga database yaitu PubMed, ClinicalKey, dan Google Scholar sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel. Sebagian besar menunjukkan adanya pengaruh kontrol tekanan darah terhadap tingkat keparahan penderita COVID-19. Simpulan penelitian ini ialah tekanan darah yang tidak terkontrol pada pasien COVID-19 dengan hipertensi selama rawat inap di rumah sakit memiliki pengaruh terhadap mortalitas.Kata kunci: kontrol tekanan darah; hipertensi; COVID-19
Effect of Raw Food Consumption on Incidence of Hepatitis A Insyirah N. Fadhilah; Bradley J. Waleleng; Bisuk P. S. Nainggolan
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.37860

Abstract

Abstract: Hepatitis A is an acute infection of the liver caused by hepatitis A virus (VHA). The hepatitis A virus can be transmitted by fecal-oral route from person to person or through consumption of contaminated raw food. This study aimed to determine the effect of raw food consumption on the incidence of hepatitis A. This was a literature review study using three databases, namely Pubmed, ClinicalKey and Google Scholar. The results obtained 10 articles about several types of raw food previously contaminated that could cause hepatitis A inter alia shrimp, fish, meat, vegetables, frozen berries, dates, strawberries, and fresh vegetables. The route of contamination in raw food was most likely in the place of production before harvest as well as during harvest, packaging process, and food processing before serving. It was found that the number of cases exposed to raw food consumption was more than half of the population in almost all literature. Based on the type of raw food, the highest percentage of cases was 96.77% for dates and the lowest percentage of cases was 4.1% for meat. In conclusion, there is an effect of raw food consumption on the incidence of hepatitis AKeywords: raw food; viral contamination; hepatitis A Abstrak: Hepatitis A adalah infeksi akut pada hati yang disebabkan oleh virus hepatitis A (VHA).  Virus hepatitis A dapat ditularkan melaui rute fecal-oral dari individu ke individu atau melalui konsumsi makanan mentah yang terkontaminasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh konsumsi makanan mentah terhadap kejadian hepatitis A. Jenis penelitian ialah literature review dengan pencarian data menggunakan tiga database yaitu Pubmed, ClinicalKey dan Google Scholar. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel untuk dikaji mengenai jenis makanan mentah yang sebelumnya sudah terkontaminasi dan menyebabkan hepatitis A. Jenis makanan mentah yang ditemukan yaitu udang, ikan, daging, sayuran, buah beri beku, kurma, stroberi dan lalapan. Rute kontaminasi pada makanan mentah kemungkinan besar berasal dari tempat produksi baik sebelum panen maupun saat panen, proses pengepakan, dan pada proses pengolahan makanan sebelum disajikan. Jumlah kasus terpapar karena konsumsi makanan mentah lebih dari setengah jumlah populasi pada hampir semua literatur. Berdasarkan jenis makanan mentah, persentase kasus tertinggi ialah 96,77 % untuk kurma dan persentase kasus terendah ialah 4,1 % untuk daging. Simpulan penelitian ini ialah terdapat pengaruh konsumsi makanan mentah terhadap kejadian hepatitis A.Kata kunci: makanan mentah; kontaminasi virus; hepatitis A
Outcome of pregnancies with Covid-19 at Prof. Dr. R. D. Kandou Hospital Manado from March 2020 to August 2021 Adelina M. Lintang; Freddy W. Wagey; Suzanna P. Mongan
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.38054

Abstract

Abstract: COVID-19 is spreading very quickly worldwide with a high mortality rate. Pregnant women are a vulnerable population exposed to COVID-19. There was an increase in pregnant women's deaths about 10-fold during this pandemic. This study aimed to obtain the outcome of pregnancy with COVID-19 at Prof. Dr. R. D. Kandou Manado Hospital from March 2020 to August 2021. This was a descriptive and retrospective study with a cross sectional design. The results showed 53 pregnant women confirmed with COVID-19 and 55 babies were born with two twin births. Pregnant women confirmed COVID-19 were dominated at the age of 20-35 years (66%), symptomatic fever (38%), alive (91%), and had caesarea section (70%). Babies were predominantly fullterm (84%), alive (89%), normal body weight (71%), moderate APGAR score (AS) 1 (47%), and good AS 5 (76%). In conclusion, the outcome of pregnancy with COVID-19 is relatively good.Keywords: pregnancy outcome; COVID-19 Abstrak: COVID-19 menyebar sangat cepat secara luas dengan angka mortalitas yang tinggi. Ibu hamil merupakan populasi rentan terpapar COVID-19. Terjadi peningkatan kematian ibu hamil sekitar 10 kali lipat selama pandemi ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui luaran kehamilan dengan COVID-19 di RSUP Prof. Dr. R. D. Kandou Manado periode Maret 2020–Agustus 2021. Jenis penelitian ialah deskriptif retrospektif dengan desain potong lintang. Hasil penelitian mendapatkan 53 ibu hamil terkonfirmasi COVID-19 dan 55 bayi lahir dengan dua kelahiran kembar. Ibu hamil terkonfirmasi COVID-19 didominasi pada usia 20-35 tahun (66%), bergejala demam (38%), kondisi hidup (91%), dan persalinan sectio caesarea (70%). Bayi yang lahir didominasi pada usia cukup bulan (84%), lahir hidup (89%), BBL normal (71%) dan APGAR score (AS) 1 sedang (47%), AS 5 baik (76%). Simpulan penelitian ini ialah luaran kehamilan dengan COVID-19 relatif baik.Kata kunci: luaran kehamilan; COVID-19
Effects of Food on Acne Vulgaris Marelda I. C. Wilar; Marlyn G. Kapantow; Pieter L. Suling
e-CliniC Vol. 10 No. 2 (2022): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v10i2.38105

Abstract

Abstract: Acne vulgaris is one of the skin problems characterized by chronic inflammation of pilosebaceous follicles which leads to the present of pleomorphic array of lesions, consisting of comedones, papules, pustules, nodules, cysts with varying extent and severity, which may associated by pain and itchiness. This study aimed to identify the effects of dietary intake on acne vulgaris. This was a literature review study using three databases namely Pubmed, Google Scholar, and British Journal of Dermatology. The results obtained 10 articles that met the inclusion and exclusion criteria. Foods with high glycemic load, high in fat, milk, cheese, yoghurt, candies, cakes, ice cream, and alcohol could exacerbate acne vulgaris. Consuming fish, fruits, and vegetables was protective against acne vulgaris. In conclusion, certain foods affect the development of acne vulgaris.Keywords: acne vulgaris; diet Abstrak: Akne vulgaris merupakan salah satu masalah kulit yang ditandai dengan adanya peradangan kronis pada folikel pilosebasea sehingga muncul lesi polimorfik dengan tingkat dan keparahan bervariasi seperti komedo, papul, pustul, nodus, kista, yang dapat disertai nyeri dan gatal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh makanan terhadap akne vulgaris. Penelitian ini berbentuk suatu literature review yang menggunakan database Pubmed, Google Scholar, dan British Journal of Dermatology. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Makanan dengan indeks glikemik tinggi, tinggi lemak, susu, keju, yogurt, permen, kue, es krim, cokelat, dan alkohol dapat memperburuk perkembangan akne vulgaris. Mengonsumsi ikan, buah, dan sayur merupakan faktor protektif dari akne vulgaris. Simpulan penelitian ini ialah makanan tertentu memengaruhi perkembangan akne vulgaris.Kata kunci: akne vulgaris; makanan

Page 87 of 108 | Total Record : 1074